Rangkaian tulisan ini merupakan rangkuman tulisan teman-teman dihalloPIM: M. Ilyas Ahkab, Figli Bombach, Idaris Danaharta & Wimpie).
Ketika sebagai trainee PIM di Petrokimia Gresik, saya mendengarkan curhat karyawan Petro tentang pak Djarot ketika menjadi Direktur Produksi disana. Sebelumnya kondisi pabrik dan perusahaan Petro kurang baik. Pabrik sering mati dan kondisi keuangan perusahaan memprihatinkan. Lalu Direksi baru ditunjuk, antara lain pak Sidharta (dirut) dan pak Djarot (dirprod). Sejak itu kondisi Petrokimia berubah. Operasi pabrik lancar, perusahaan untung dan karyawan mulai terima bonus. “Pak Djarot yang menyebabkan kami bisa makan daging,” begitu dikatakan seorang karyawan Petrokimia. Saya menangkap kesan bahwa karyawan Petro mencintai pak Djarot.
Kesan yang sama juga di rasakan selama kepemimpinan pak Djarot di PIM. Karyawan juga mencintainya. Beliau pimpinan yang ramah dan santun pada siapapun. Dari beliau saya beroleh pelajaran luar biasa tentang bagaimana menghargai orang lain, membangun visi jauh kedepan, walaupun saat itu kita belum mampu membacanya. Saya juga belajar dari almarhum bagaimana berkomunikasi dengan lingkungan dengan senyum, salam, sapa, sopan dan santun.
Pak Djarot punya gaya sendiri dalam memberikan reward dan funishment. Reward diberikan salah satunya seperti kenaikan jabatan/golongan diumumkan dilapangan upacara. Momen menggembirakan dan ditunggu-tunggu pada saat upacara adalah pengumuman dari Bagian Personalia yang dibacakan oleh (alm) bapak Muchtar Rozi. Biasanya diumumkan siapa saja yang dipromosikan, yang dimutasikan, yang naik pangkat, termasuk juga yang naik pangkat percepatan karena prestasi.
Sungguh, upacara adalah saat yang di nantikan karena dengan informasi yang diberikan di upacara tersebut akan menghapus semua isu yang beredar sebelumnya. Karyawan yang diumumkan tersebut dipanggil dan berjejer di hadapan IRUP untuk menerima SK, sungguh mengharukan dan bahagia bagi karyawan bersangkutan. Yah itulah suatu bentuk hiburan bathin sebagai karyawan yang butuh juga dihargai oleh perusahaan.
Pak Djarot juga tidak segan menghukum mereka yang lakukan pelanggaran, antara lain dengan memberikan peringatan tertulis (warning slip) pada karyawan yang berbuat salah.
Salah satu kenangan dengan beliau adalah suasana saat briefing, bisanya briefing diadakan secara berjenjang, apakah Kabag ke atas, Kasi Keatas atau Karu Keatas. Sudah barang tentu yang paling ramai kalau Karu ke atas. Ada hal-hal yang ditunggu pada saat briefing tersebut, rumor, isu akan menjadi sesuatu yang terang setelah beliau menyampaikan briefing. Kadang-kadang beliau mengawali briefing dengan nyanyi sedikit..."sue ora jamu...."
Selaian seorang motivator, Pak Djarot juga sangat memperhatikan masalah pembinaan mental. Trainees angkatan pertama, sebelum mengikuti training keahlian tehnis di pabrik-pabrik pupuk, terlebih dahulu dikumpulkan selama sebulan di Jakarta untuk mengikuti pelatihan P4 dan Dinamika Kelompok. Tujuannya menyatukan persepsi untuk menghadapi tantangan berikutnya yang tak mudah.
Lalu sesampai di Lhokseumawe seluruh karyawan mengikuti pelatihan Gugus Kendali Mutu (GKM/TQC). Pak Djarot sendiri yang mengajarkan basic mentality-nya. Melalu kegiatan GKM diharapkan seluruh karyawan terbiasa bekerja dengan pola PDCA (Plan-Do-Check-Action). Kegiatan GKM berlanjut sampai sekitar 5 tahun pabrik beroperasi dan secara rutin diadakan konvensi tahunan. GKM PIM juga dikirim untuk mengikuti even nasional dan beberapa kali memperoleh penghargaan nasional. Bahkan pernah mewakili Indonesia di even internasional di Yokohama, Jepang. Setelah kepergian pak Djarot kegiatan GKM mulai meredup perlahan, tak semeriah tahap-tahap awal, sebelum akhirnya terhenti sama sekali.
Lalu ada program Susbintal untuk setiap penerimaan karyawan (pelaksana) baru. PIM itu Prime-Mover dalam hal sistem penerimaan karyawan berbasis "Korsa" yaitu Semangat Cinta & Bela Negara. Walaupun bintal sudah diawali di Petrokimia Gresik, tetapi Pak Djarot-lah yang membuatnya menjadi "Standar" dalam Penerimaan Karyawan PIM. Bahkan belakangan Menperind Ir. Hartarto menginstruksikan seluruh Dirut BUMN-Deperind untuk mencontoh PIM dalam hal Susbintal tersebut. Lamanya Susbintal PIM: 2 bulan untuk karyawan; sementara bagi Karyawati lamanya 1 bulan.
Menurut evaluasi saya, salah satu dampak positif utamanya Susbintal (hingga pensiun saat ini) adalah "Loyalitas" dan "Persaudaraan". Policy Susbintal PIM (istilah ABRI lebih keren, yaitu: LATSAR Keprajuritan) digagas Pak Djarot sebagai up-graded bintal-Petrokimia. Bedanya, di PIM lebih unik karena ada alasan strategis dalam mempersiapkan pengelolaan pabrik yang high tech. dengan SDM yang high-loyal.
Berawal dari ketidak-seimbangan "Potensi vs Prestasi" calon-calon karyawan untuk pabrik, yang direkrut dari lulusan SMA se-DI Aceh; didukung hasil Psikotes dari Tim IRADAT (lembaga psikologi alumni-UI yang membantu PIM dalam penerimaan karyawan), pak Djarot menggagas Sus-Bintal sebagai way-out dalam menutupi kekurangan tersebut sekaligus menjadi "tahap-lanjutan" seleksi.
Dalam acara pembukaan Susbintal Angkatan I di Mata-Ie Banda-Aceh diserahkan 400-an orang karyawan pabrik yang diterima oleh Kol. Infantri Teuku Djohan selaku Kasdam I Iskandar Muda. (Catatan: beliau meninggal sebagai Wakil Gubernur Aceh; ditembak saat pulang shalat maghrib).
Nah, setelah pabrik kita beroperasi dimana jumlah karyawan bertambah pesat; pak Djarot menginstruksikan Pusdiklat melanjutkan program Susbintal bagi seluruh karyawan non pabrik; terutama tingkat pelaksana. Beliau memberi alasan supaya seluruh karyawan PIM mempunyai jiwa-korsa dan loyalitas yang menyatu dan seimbang antar karyawan pabrik dengan non-pabrik. Karyawati juga harus ikut program.
Seperti kita ketahui tahun 1985 Kodam Iskandar Muda dibekukan; maka Susbintal Angkatan berikutnya di Kodam Bukit Barisan-Sumut di kota Pematang Siantar (Rinifdam BB). Beruntunglah bagi karyawati; mereka susbintal di Pematang Siantar bersama karyawan walaupun hanya 1 bulan saja.
Untuk memberi motivasi bagi karyawan/ti kita tersebut; Direksi mengunjungi mereka bergiliran ke Siantar, selain meninjau pelaksanaan; berlatih "menembak" bersama pamen-pamen di Kodam BB.
Tindak lanjut Pola-Susbintal ini dipakai Dirut memprogramkan "Sekolah Calon Karu/Kasi/Kabag/Karo" bagi karyawan pimpinan; bekerjasama dengan Seskoad-Bandung.
Selain pembinaan mental, Pak Djarot juga sangat memperhatikan masalah kesejahteraan karyawan. Antara lain soal hiburan. Sejak awal pada even-even seperti malam tahun baru, ulang tahun PIM, proklamasi kemerdekaan dan halal bi halal setiap lebaran secara rutin diadakan acara malam kesenian. Biasanya mendatangkan rombongan artis ibukota lengkap dengan grup lawaknya. Di hari-hari besar itu seluruh karyawan dan keluarga larut dalam kegembiraan bersama.
Dengan kata lain esensi manajemen yang diterapkan selain memacu produktivitas kerja, kita memetik banyak ilmu tentang bagaimana membangun semangat persaudaraan sesama keluarga besar PIM, semangat mencari solusi terhadap apapun masalah yang dihadapi PIM, dan mendorong pencapaian prestasi perusahaan sebagai sukses bersama.
(Nanti dilanjutkan lagi, silakan bagi teman-teman yang ingin melengkapi).
Burung yang lahir dalam sangkar akan berpikir bahwa terbang merupakan kejahatan.
From: Wimpie [mailto:wim...@centrin.net.id]
Sent: Sunday, March 01, 2015 3:34 PM
To: 'Wimpie'
Subject: RE: PIM Dalam Kenangan - Pak Djarot (2)
Saya lanjutkan dengan harapan tambahan tulisan teman-teman dari daya ingat kolektif kita bersama.
Mimpi-Mimpi Sang Perintis
Tak semua impian bisajadi kenyataan, tapi perubahan yang besar selalu dimulai dari sebuah mimpi. Revolusi dan perubahan-perubahan besar biasanya lahir dari tangan para Pemimpi Besar.
Menurut saya Pak Djarot seorang pemimpin yang punya banyak mimpi-mimpi besar untuk kejayaan PIM. Beberapa dari impian itu menjadi kenyataan, sebagian lainnya tidak diteruskan karena berbagai kendala diluar kemampuan beliau atau tidak diperhitungkan sebelumnya.
Setelah bersama-sama pak Nur Hidayat dan Rochadi Prayitno sukses menyelesaikan pembangunan pabrik PIM1 lebih cepat dari jadwal dan lebih murah dari biaya yang direncanakan, Pak Djarot sudah mulai melangkah dengan mimpi-mimpi berikutnya.
Segera setelah pabrik PIM1 beroperasi dan berbekal janji pemerintah akan adanya pabrik berikutnya, persiapan proyek PIM2 pun dimulai. Beberapa mantan karyawan kontraktor REK (kontraktor lokal Proyek PIM1) di rekrut sebagai karyawan PIM. Sayang kalau tenaga kerja berpengalaman itu harus bekerja di tempat lain. Untuk tenaga ahlinya di rekrut sarjana-sarjana baru, terutama insinyur-insinyur muda yang akan dilatih sebagai tenaga inti PIM2 nantinya. Jumlah karyawan PIM waktu itu mencapai 1300 orang dan semua siap bertarung.
Tapi lawan tak segera tiba, sementara karyawan tak boleh dibiarkan menganggur terlalu lama. Pada saat itu Pak Djarot punya fikiran membentuk anak-anak perusahaan. Tujuan utamanya jelas untuk mengoptimalkan potensi kelebihan karyawan, fasilitas pendukung pabrik dan peralatan/alat-alat berat eks konstruksi. Direktorat Litbangpun dibentuk. Dari biro-biro yang ada di direktorat itu (banghatek, liduksar dan lahakom) kita bisa mengetahui kemana pak Djarot ingin mengembangkan perusahaan.
Pada saat itu berdiri PT. Imabritama yang bergerak di bidang Fabrikasi Peralatan Pabrik, PT. Imakon Kesuma di bidang Rancang Bangun & Perekayasaan, PT. Imako Wirasatya yang memasarkan Alat-alat Berat eks Konstruksi, PT. Imakarya yang mengoperasikan peralatan Batching Plant dan Stone Crusher, PT. Imamulya untuk mengelola guest house yang berubah jadi hotel, serta PT. Imarungga yang mengelola jasa Perawatan & Pelayanan Kantor.
Selain itu Pak Djarot juga sempat membentuk beberapa anak perusahaan lain, mulai bergerak keluar lingkup PIM, mengembangkan potensi lingkungan sekitar dan menggerakkan dunia usaha. Diantaranya yang bertujuan memanfaatkan sumber daya alam setempat (dolomit/bentonit ?), mengembangkan perkebunan (nilam), industri lokal (genteng, perabot kayu) dan bisnis lainnya (apotik, percetakan, penyamakan kulit, dsb).
Selain Hotel Meutia, Gedung Serbaguna dan Ruang Rapat Teuku Umar yang dikelola oleh PT. Imamulya, ketika itu PIM punya kolam renang ukuran olympiade, lapangan sepakbola lengkap dengan stadionnya, masjid yang megah, supermarket dan sekolah-sekolah sejak TK sampai SMA. Kita bahkan punya klub sepak bola Liga Utama sendiri, Aceh Putera. Beliau juga berencana membangun gedung olahraga Bowling dan Taman Ria dikawsan perumahan PIM. Semua dikelola secara komersil terbuka untuk umum.
Terjadi perubahan yang dramatis pada perusahaan dari tadinya hanya sebuah pabrik pupuk menjadi usaha konglemerasi yang punya banyak usaha. Lalu bagaimana anak-anak perusahaan itu bisa beroperasi? Siapa saja klien mereka? Selain berharap bisa melayani industri-industri besar yang ada di Lhokseumawe (ARUN, AAF, KKA dan Mobil Oil), ketika itu PIM mendapat tugas dari pemerintah untuk melakukan rehabilitasi Pabrik Gula Mini Silihnara di Takengon. Dengan segera sebagian potensi yang ada tersalurkan ke proyek itu. Proyek yang tadinya hanya sekadar perbaikan kecil-kecilan sekonyong-konyong jadi pekerjaan besar, sama seperti membangun pabrik gula mini yang baru. Kita punya “mainan” selama 2 tahun kedepan. Sebagian besar Anak Perusahaan, terutama yang berkaitan dengan perekayasaan, fabrikasi dan konstruksi pabrik terlibat disana.
Proyek pabrik gula itu tak pernah benar-benar selesai dan anak-anak perusahaan itu mungkin tak mencapai tujuan awal berdirinya, karena pada tahun 1988, pak Djarot dipindah-tugaskan meninggalkan PIM. Bersama denga kepergian beliau, surut pula semua mimpi-mimpi besar itu. Kita tak pernah tahu penyebab sesungguhnya redupnya impian itu. Mungkin karena mimpi-mimpi itu terlalu besar untuk PIM, mungkin juga karena tak ada lagi pemimpi lain yang punya energi besar melanjutkan dan menjadikan kenyataan. Banyak analisa kemudian dilakukan, tapi saya selalu berpendapat bahwa pak Djarot punya impian besar, bermaksud baik, hanya saja beliau tidak punya kesempatan untuk menyelesaikan sampai tuntas.
(nanti dilanjutkan, mohon dilengkapi oleh teman-teman)
From: Wimpie [mailto:wim...@centrin.net.id]
Sent: Sunday, March 01, 2015 9:42 AM
To: hall...@googlegroups.com
Subject: PIM Dalam Kenangan - Pak Djarot
Mungkin figur pak Djarot bisa dimasukkan kedalam buku PIM Dalam Kenangan yang sedang disusun. Beliau dirut pertama PIM dan kini telah almarhum. Beliau juga figur yang di hormati dan dihargai karyawan PIM. Saya mulai dengan hal-hal kecil yang bisa saya kenang dari beliau. Saya percaya teman-teman juga punya banyak cerita menarik tentang beliau. Silakan ditambahkan agar figure yang kita hormati bisa terlihat lebih utuh. Salam.
Pak Djarot, Sang Perintis.
Pada bulan Maret tahun 2008 menjadi salah satu saat bersejarah ketika salah seorang pimpinan pertama sekaligus direktur utama pertama PIM, Bapak Ir, Djarot Djojokusumo kembali menginjakkan kaki di pabrik PIM. Pertama kali sejak 20 tahun meninggalkan PIM pada pada tahun 1988. Disebut bersejarah karena kita semua memaklumi peranan beliau, bersama-sama pak Nur Hidayat dan Rochadi Prayitno, dalam membangun PIM sejak dari hamparan rawa/tambak ikan, menjadi kawasan pabrik yang membanggakan kita semua.
Saya tak mengikuti perjalanan “pulang” pak Djarot itu. Tapi dapat merasakan getaran didada beliau ketika mulai menjejakan kaki di bumi Lhokseumawe. Getaran yang segera berubah menjadi gemuruh ketika melihat menara-menara pabrik yang bergerak dari kejauhan sebelum kemudian menelan pak Djarot untuk kembali menyatu didalamnya. Saya seakan dapat melihat kerutan samar dikening beliaua ketika melihat kompleks perumahan yang kini rindang dan menghijau. Saya masuk rombongan trainees angkatan pertama yang juga sama terpesonanya ketika tiba di kawasan perumahan yang sama pertengahan tahun 1983. Takjub karena yang terlihat hanya pasir yang terbentang luas, sambil dalam hati bertanya-tanya apakah putusan menjadi pegawai PIM merupakan pilihan yang bijaksana.
Saya juga seakan dapat melihat linangan dimata beliau ketika masuk kawasan pabrik dan berdialog dengan teman-teman disana. Linangan itu kemudian menjadi sesegukan ketika beliau kembali berada di lingkungan masjid yang dibangun dimasa kepemimpinannya dan oleh beliau diberi nama al-Muntaha, jalan menuju kehadiratNya.
Perjalanan itu seakan sudah diatur menjadi perjalanan terakhir pak Djarot kesana karena tak lama setelah itu beliau berpulang kerahmataullah. Meninggalkan kita semua dalam kepuasan tak terkira karena semua yang diupayakannya tak pernah sia-sia. Menjadi tempat bagi ribuan orang mencari nafkah kehidupan, tempat menemukan pasangan, membesarkan anak-anak yang kini telah menjadi manusia-manusia yang berguna untuk bangsanya.
Pak Djarot adalah sosok fenomenal. Teman-teman halloPIM pernah membahasnya dan kita sepakat bahwa beliau adalah pimpinan yang dihormati dan dicintai karyawan. Saya kutip beberapa kisah teman-teman tentang beliau.
Pada waktu kepemimpinan beliau, saya masih seorang staf pemula sehingga sangat jarang berinteraksi dengan pak Djarot. Akan tetapi saya selalu merasa takjub karena disetiap berpapasan beliau selalu menyapa dan menyebut nama saya dengan benar. Seorang kopral akan merasa sangat dihargai ketika sang jenderal tidak melupakan namanya.
Pelajaran berharga lain tentang kepemimpinan Pak Djarot. Pada awal tahun 1986, setahun setelah pabrik PIM-1 beroperasi, saya diangkat sebagai Kabag Perbengkelan. Pada waktu itu tantangan pertama kami dibidang fabrikasi adalah membuat CO2 tank untuk pabrik. Setelah selesai fabrikasi, sebelum dipasang, timbul perdebatan mengenai kualitas hasil fabrikasi tersebut yang menimbulkan kekuatiran akan membahayakan pabrik PIM yang masih baru. Saya paham bahwa yang diragukan adalah kemampuan dan kekurangan pengalaman kami.
Suatu hari saya dipanggil dan ditanya oleh Pak Djarot, apakah sudah melaksanakan prosedur fabrikasi dengan benar dan telah dilakukan pemeriksaan sesuai prosedur standar? Ketika saya jelaskan bahwa kami sudah melakukan segala sesuat sebagaimana seharusnya, beliau kemudian memerintahkan agar peralatan itu dipasang. Kata Pak Djarot” “Ok, silakan pasang, aku yang tanggung jawab.” Saya tidak akan pernah pernah melupakan kata-kata it karena merupakan pelajaran sangat berharga bagi saya. Pada akhirnya, hakikat kepemimpinan adalah keberanian untuk mengambil alih tanggung jawab.
Karena itu pak Djarot akan selalu mendapat tempat terhormat dihati saya. Menyebabkan saya memahami mengapa beliau dihormati oleh banyak karyawan lainnya. Cukup sekali, tapi dia telah menunjukan kualitas seorang pemimpin yang akan mempengaruhi kualitas berpikir dan kepemimpinan saya setelahnya.
Nanti dilanjutkan.

--
"BERPIKIR POSITIF, BERBUAT IKHLAS, BERTUTUR BIJAK"
HalloPIM versi facebook untuk berbagi koleksi foto di: http://www.facebook.com/groups/513695411978246/
My Blog: http://ibelievecanfly.blogspot.com/
Tabungan Sosial PMPIM di Bank MANDIRI No. Rekening: 130 00 12356567 an ALAN DJUHERLAN.
CP: Alan Djuherlan: 0813 2071 7187 dan Syaharuddin Noorhan: 0812 655 2580
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "HalloPIM" di Google Grup.
Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/hallopim.