Orang Minang Tahu Marketing Modern
Tanpa menafikan keunggulan suku-suku lain, banyak orang mengakui bahwa orang Minang mempunyai bakat dan keahlian berdagang . Buktinya, mereka bertebaran di seluruh nusantara bahkan di mancanegara, mulai dari tingkat pedagang kaki lima sampai menjadi pengusaha dengan atau tanpa embel-ember gelar SE, Ph.D.dll Bahkan Neil Amstrong dalam misi pendaratan pertama Apollo 11 di Bulan tahun 1969 kaget melihat kepulan asap di bulan dan ternyata Restoran Padang sudah duluan ada di sana...ha...ha..
Kenapa bisa demikian? Sebenarnya orang Minang dengan belajar dari falsafah “kato pusako Minang” sejak dulu mereka sudah menguasai prinsip-prinsip ekonomi dan pemasaran modern. Nggak percaya? Mari kita lihat beberapa “kato pusako” dalam khasazah budaya Minang.
Pertama, biasanya pesan mandeh (ibu) melepas anaknya pergi merantau yang umumnya tanpa dibekali modal (istilahnya hanya dengan”tulang delapan potong”), yakni berpedoman kepada falsafah yang dibawiskan nenek moyang Minangkabau: “Jika anak pergi merantau, ibu cari dunsanak cari, induk semang cari dahulu.” Artinya pergi ke rantau terlebih dahulu harus mencari bapak angkat ( toke, boss) untuk mendapatkan pasokan barang dagangan.
Kedua, dalam urusan mencari rezeki selanjutnya , terdapat beberapa kato pusako seperti : mangggaleh, badagang, baniago, bakadai dan bajua -bali dengan penjelasan makna filosofis sbb:
1. MANGGALEH .
Manggaleh berasal dari kata galeh , yang dalam bahasa Indonesia berarti gelas. Ia terbuat dari kaca, ia mudah pecak, sehingga perlu cara yang tepat penuh kehati-hatian dalam memegangnya supaya jangan pecah dan tidak melukai diri sendiri atau orang lain.
Bahkan anak-anak sejak kecil di kampung saat mengadu layang-layang sudah mengenal banang bagaleh (benang dilumeri bubuk kaca utk memutus tali layang-layang lawan).
Falsafah manggaleh ini mengajarkan bahwa orang Minangkabau dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan harus penuh perhitungan yakni dengan perencanaan yang matang agar dapat memperoleh laba atau hasil yang baik. Ini disebut “PLANNING” dalam ilmu marketing modern.
2. BADAGANG.
Badagang berasal dari kata dagang, yang dalam bahasa Indonesaia berarti pikul. Badagang artinya memikul dibahu dua buah barang yang berat menggunakan bambu yang masing-masing barang tsb digantungkan diujung bambu dimuka dan dibelakang orang yang memikul tsb.
Prinsipnya beban barang yang berat tsb tidak boleh dijinjing tapi harus disandang di bahu karena besar dan berat. Meletakkan barang tsb harus sama berat di muka dan dibelakang agar tidak terjungkal. Dan membawa barang tersebut harus melenggang agar terasa ringan dan pinggang tidak patah.
Falsafah badagang ini mengajarkan orang Minang agar dalam mengerjakan sesuatu atau menghadapi sesuatu masalah harus dapat menggunakan TAKTIK DAN STRATEGI untuk menjalankan cara-cara yang tepat dan jitu. Sekaligus harus pandai memilih cara yang bisa meringankan biaya sehingga usahanya berhasil atau memperoleh untung . Ini dikenal sebagai PRINSIP EKONOMI.
3. BANIAGO.
Baniago artinya pandai maago., artinya pintar menawar. Untuk bisa menawar seseorang harus pandai mengumpulkan informasi/data pasar sebanyak-banyaknya. Prinsip ini dikenal dalam istilah perang pemasaran sebagai MARKET SURVEY dan MARKETING INTELLIGENT. Mereka harus menguasai keduanya sebelum mengambil keputusan. Artinya mereka harus tahu kondisi orang lain (pesaing).
4. BAKADAI.
Bakadai artinya memperlihatkan lahir-batin. Ia pandai memperagakan yaitu menyusun dan meletakkan barang dengan baik sehingga kelihatan menarik dikenal dalam ilmu marketing dengan DISPLAY.
Ia harus pandai melayani, pandai memikat orang lain dengan tegur sapa yang sopan sehingga orang menjadi tertarik membeli. Ia harus jujur kepada pembeli tentang kondisi atau kualitas barang, Dikenal dalam ilmu marketing dengan istilah HONEST atau jujur , sehingga pembeli tidak merasa ditipu dan menjadi puas. Ini lah yang disebut dengan tujuan CUSTOMER SATISFACTION atau mengutamakan kepuasan pelanggan.
5. BAJUA-BALI
Bajua-bali artinya dijual dulu baru dibeli. Strategi ini berorientasi kepada pasar atau pembeli dikenal sebagai MARKET ORIENTED atau CONSUMER ORIENTED, bukan berorientasi kepada produksi. Artinya memproduksi atau menyediakan barang harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar, trend kebutuhan dan kesenangan konsumen. Baru kemudian barang tsb diproduksi atau dijual. Di sini juga berlaku prinsip perlunya prinsip bagaimana menentukan MARKET SEGMENT (pangsa pasar).
Bukan sebaliknya, barang diproduksi dulu sesuai keinginan produsen baru dijual. Akibatnya bisa-barang tidak laku karena tidak diminati pembeli sehingga menyisakan stok yang tidak laku.
Disini ada perhitungan atau pertimbangan perlunya menjaga IRON STOCK (stok besi) yakni menjaga keseimbangan barang nan dibali dan nan tak tabali terhadap nan dijua dan nan tak tajua. (barang yang dibeli dan tak terbeli terhadap barang yang terjual dan tak terjual).
Demikian sekelumit khasah budaya Minang tentang wirausaha.
Semoga bermanfaat
Salam
Muslim Atin
--
"BERPIKIR POSITIF, BERBUAT IKHLAS, BERTUTUR BIJAK"
HalloPIM versi facebook untuk berbagi koleksi foto di: http://www.facebook.com/groups/513695411978246/
My Blog: http://ibelievecanfly.blogspot.com/
Tabungan Sosial PMPIM di Bank MANDIRI No. Rekening: 130 00 12356567 an ALAN DJUHERLAN.
CP: Alan Djuherlan: 0813 2071 7187 dan Syaharuddin Noorhan: 0812 655 2580
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "HalloPIM" di Google Grup.
Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/hallopim.
Betul sekali , tanda yang dapat kita saksikan di penjuru tanah air bahwa budaya merantau orang Minang terkait dengan falsafah adatnya. Dalam disiplin ilmu semiotik (ilmu tentang tanda), hal-hal tersebut bisa dijadikan ‘kacamata’ untuk menilik berbagai fenomena budaya suku-suku lain di sekitar kita. Lain padang lain ilalang, demikian kiranya ungkapan yang pantas untuk menyatakan hal tsb.