Ada Kesalahan Saintifik Al-Quran?

258 views
Skip to first unread message

Muslim Atin

unread,
Nov 16, 2013, 6:07:42 PM11/16/13
to hall...@googlegroups.com

ADA KESALAHAN SAINTIFIK ALQURAN?

  Alquran sudah diragukan oleh berbagai kalangan sejak dulu sampai kini, khususnya  dari sisi eksternal mereka yang tidak setuju dan tidak menyukai  Alquran terutama dari kelompok Freemason dan Illuminati Yahudi untuk melemahkan aqidah kaum muslimin. Dari sisi internal, timbulnya banyak  keraguan  pengertian tentang ayat-ayat Alquran karena berbagai pemikiran dari kelompok yang  disebut sebagai “pembaharu”  atau para mufassir yang belum sepenuhnya memahami bahasa Alquran itu sendiri. Sehingga maknanya terdistorsi. Bahkan tidak jarang salah total.

 Sdr Wimpie mengingatkan bahwa  kita harus hati-hati menyeleksi  informasi dan terjemahan para mufassir  karena tidak sedikit pula yang punya maksud kurang lurus disana. Misalnya dengan memilah, menonjolkan atau membelokkan tafsir ayat-ayat tertentu guna mendukung pendapatnya tentang sesuatu hal.  

M.Quraish Shihab, dalam Tafsir al-Misbah, menjelaskan  mengenai substansi iman. Pada tahap-tahap pertama, selalu diliputi oleh aneka tanda tanya. Keadaan orang yang baru beriman ketika itu bagaikan seorang yang sedang mendayung di lautan Iepas yang sedang dilanda ombak dan gelombang. Di hadapannya yang jauh terlihat olehnya sebuah pulau harapan. Serta merta bergejolak dalam hatinya kecemasan, apakah gelombang itu akan menelannya dan mampu mendayung sehingga selamat. Pada saat yang sama jiwanya dipenuhi oleh harapan yang mencapai pulau idaman. Demikian iman pada tahap-tahap pertama, dan karena itu, aneka pertanyaan seringkali muncul dalam benak seseorang, baik karena keterbatasan pengetahuan, maupun oleh godaan setan.

 Subhanallah ! Segala macam tudingan ditujukan kepada Alquran, misalnya Alquran sebagai karya tulis Muhammad, jiplakan dari kitab-kitab sebelumnya. Di era modern ini masih terus ada yang meragukan kesucian dan kebenarannya  , tudingan-tudingan itu sepintas kelihatan ilmiah bahkan memvonisnya sebagai kitab yang memiliki banyak kesalahan bersifat saintifik  alias ilmiah.

 Tapi , Masya Allah, luar biasanya, jawaban terhadap segala tudingan dan keraguan itu bukan muncul dari sang nabi, melainkan dari dalam Alquran itu sendiri. Bahwa ini, adalah kitab suci yang tidak mungkin salah, karena ia datang dari Allah Sang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

 Kebenaran  Alquran akan terus terbukti di masa depan, Seluruh penemuan ilmiah dan perkembangan peradaban manusia, tidak lebih, hanya akan menjadi bukti kebenaran kitab suci Alquran ini.  Bahasa Alquran memiliki spektrum yang sangat luas. Mulai dari orang awam sampai pada para ilmuwan.

Allah SWT berfirman, “Alquran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungghnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Alquran setelah beberapa waktu lagi (ke masa depan).:

(QS Shaad [38]: 87-88).

Agus Mustofa , seorang inspirator Tasawuf Modern, menyebutkan , ada empat kelemahan mereka yang paling mendasar . Pertama, mereka memahami Alquran tidak dari bahasa aslinya. Sehingga banyak interpretasi yang meleset dari apa yang dimaksudkanoleh Alquran.

Kedua, mereka lupa atau pura-pura bahwa Alquran memiliki gaya bahasa yang sangat tinggi nilai sastranya, sehingga tidak bisa diperlakukan seperti jurnal-jurnal  ilmiah yang berisi data-data kaku dan mati.

Ketiga, pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Alquran sangat parsial. Sehingga, seringkali kesimpulannya menjadi dangkal dan keluar dari konteks. Mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, bahwa ayat-ayat Alquran bersifat holistik dan harus dipahami sebagai sebuah keterkaitan yang utuh antar ayat dengan ayat lainnya.

Keempat, mereka kurang paham atau pura-pura tidak paham, bahwa informasi dalam Alquran mewadahi segmen pembaca yang sangat luas. Sehingga ayat-ayatnya pun  memiliki range dan spectrum yang luas pula.  Kadang-kadang disampaikan dengan gaya bahasa yang sangat jelas, sehingga bisa dipahami oleh orang awam, dan itulah yang disebut sebagai ayat-ayat muhkamat. Dan sebagian lainnya, bersifat samar dan tersirat dalam bentuk ibarat , yang membutuhkan  penelusuran lebih lanjut. Itulah yang dikenal sebagai  ayat-ayat mutasyabihat.

Menurut  Nurul Murtadho  ( doktor pada Program Study Ilmu Linguistik Universitas Indonesia ) segala metafora yang ada dalam Al qur'an bersifat universal artinya mempunyai pengertian yang sama dalam budaya manapun.

Menurut  T Sabgah ( sarjana Arab modern) , ada sekitar 400 ( empat ratus)  kata yang digunakan secara metaforik dalam Alquran  yang   mengangkat Kitab Suci ini menjadi Kitab Suci yang bernuansa sastra tak tertandingi.

Karena itu, penting mengklarifikasi berbagai  tudingan dan setiap keraguan yang timbul tsb.   Bukan hanya dengan menggunakan ayat-ayat Alquran yang dengan tegas telah menolak tudingan itu , juga secara saintifik (ilmiah)menunjukkan bukti-bukti atau argumentasi yang diharapkan mereka untuk menjawab hal ini, sekaligus membuka tabir keragu-raguan karena pengetahuan  kita yang sangat terbatas (awam) atau dari kelompok tertentu yang telah dengan sengaja mengaburkan pengertian ayat-ayat Alquran.   

Agus Mustofa dalam bukunya “Menjawab Tudingan Kesalahan Saintifik  Al-Qur’an”  menyebutkan  adanya  tudingan kepada Al Quran, sebagai kesalahan ilmiah yang sangat mendasar mengenai masalah seputar penciptaan manusia  sebagai kesalahan ilmiah soal evolusi.  Demikian pula terhadap kesalahan informasi tentang  benda-benda langit , tentang biologi, geologi dan meteorologi serta ilmu tentang hewan.

Salah satu tudingan mereka tertuju kepada Al-Quran , para pengeritik mengutip   ayat 26 Surat Al Hijr  sebagai bukti kesalahan mendasar dalam memahami teori evolusi makhluk hidup di muka bumi.

Kutipan ayat tsb berbunyi  dan yang artinya:

ô s)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 9@»|Áù=|¹ ô`ÏiB :*uHxq 5bqãZó¡¨B ÇËÏÈ  

“ dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia  dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”

         Menurut mereka, manusia tidaklah diciptakan dari tanah liat. Dari sisi mana pun dilihat, adalah kesalahan ilmiah yang sangat mendasar ketika Al_Qur’an menyatakan tanah liat sebagai asal usul atau asal usul penciptaan manusia.

         Apalagi, lantas dikaitkan dengan ayat-ayat penciptaan yang mengisahkan Tuhan menciptakan manusia secara sim salabim, seketika tanpa ada proses sebagaimana mereka pahami dari ayat berikut ini:

ßì Ï t/ ÅVºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö F{$#ur ( #s Î)ur #Ó|Ós% #X öDr& $yJ¯RÎ*sù ãAqà)t ¼ã&s! `ä. ãbqä3u sù ÇÊÊÐÈ  

“ Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" lalu jadilah ia.” (QS Al Baqarah [2]: 117).

Apa yang mereka bayangkan tentang penciptaan manusia dari tanah liat itu sangat mirip dengan pemahaman kalangan tradisonal di dalam Islam sendiri, yang menggambarkan Adam diciptakan dari tanah liat yang dibentuk seperti patung manusia, bahkan banyak para ustadz yang menambahkan tanah tsb disuruh Tuhan diambil dari 7 gunung di bumi, lantas diucapi ‘kun’ maka jadilah ia manusia yang hidup.

Penafsiran ayat Al-Qur’an ini sangat absurd. Baik oleh umat Islam sendiri maupun oleh orang di luar Islam. Karena sesungguhnya, jika kita telusuri firman-firman Allah secara holistic, penciptaan manusia itu justru menggiring  kita kepada pemahaman yang saintifik.

Untuk memahami proses penciptaan manusia dari dalam AL-Qur’an, semestinya kita mengumpulkan terlebih dahulu ayat-ayat yang terkait dengannya secara utuh. Bahwa, ayat-ayat yang menceritakan hal itu bukan hanya yg dikutipkan di atas. Melainkan  berjumlah puluhan.

Tentang asal-usul penciptaan manusia, Allah tidak hanya menyebutkan berasal dari tanah liat (shalshaal) dan lumpur hitam (hamain), melainkan ada sejumlah tanah yang beragam jenisnya. Misalnya, dari saripati tanah (sulaalatin min thiin)- QS 23:12 , dari tanah gembur (turob)- QS 3: 59, dari tanah tembikar (shalshaalin kalfakhar)- QS 55:14, dari tanah keras yang melapuk (thiinil laazib)-QS 37:11, dan sebagainya.

Karena itu menyimpulkan penciptaan manusia sebagai berasal dari tanah liat dengan mengacu kepada satu ayat saja, QS 15:26, adalah terlalu tergesa-gesa. Kalau tidak boleh dibilang sebagai kecerobohan, atau malah kesengajaan utk mengaburkan makna yang sesungguhnya dari informasi Al Qur’an.

Apaalgi, lantas memahami proses penciptaan tersebut lewat kun fayakun  yang dipahami sebagai tanpa proses. Tentu saja itu adalah sebuah kesalahan yang sangat mendasar. Marilah kita lihat kesalahan-kesalahan mendasar yang mereka lakukan.

Yang pertama, tentang ‘kun fayakun’.  Kalimat ini adalah kalimat yg dipakai oleh Allah utk memberikan pemahaman bagaimana proses Allah menciptakan segala makhluk-Nya. Dia menginformasikan, setiap kali berkehendak menciptakan makhluk, Allah cukup mengucapkan ‘kun’ (jadilah), fayakun (maka jadilah ia). Lihat QS Yaa Sin (36): 82.

Frase kalimat kun fayakun ini seringkali ditafsiri sebagai penciptaan tanpa proses. Padahal secara bahasa maupun saintifik, frase ini justru menunjukkan penciptaan yang meliwati proses. Kata penghubung ‘fa’ sebelum ‘yakun’  adalah bermakna ‘maka’, atau ‘kemudian’ atau ‘lantas’, yang justru menunjukkan adanya sebab-akibat yang berproses. Dikarenakan ada kata perintah ‘kun’ di depannya, maka muncullah akibatnya, ‘yakun’ (menjadi sesuatu). Kata penghubung ‘fa’ di sini menunjukkan adanya perbedaan fase antara keadaan pertaqma saat diucapi ‘kun’ dengan keadaan kedua saat terjadi, ‘yakun”.

Selain itu, jika cermati lebih lanjut makna kun fayakun ini justru akan memperoleh pemahaman saintifiknya, bahwa semua proses penciptaan di alam semesta ini membutuhkan waktu untuk berubah dari keadaan sebelum tercipta menjadi keadaan setelah tercipta.  Meskipun itu hanya berlangsung sepersekian detik, ataupun sebaliknya dalam kurun waktu miliaran tahun, sebagaimana penciptaan alam semesta.

Ketika Allah menciptakan alam semesta, Dia juga mengucapkan ‘kun’ (jadilah), maka jadilah ia (fayakun). Cobalah kita pahami secara saintifik, bahwa penciptaan awal alam semesta dari ketiadaan itu hanya membutuhkan waktu sepersekian-triliun detik belaka. Dari ketiadaan menjadi alam semesta kuno yanga disebut sebagai sup kosmos. Dan kemudian memunculkan segala ciptaan yang lain selama belasan milyaran tahun, seperti bintang-matahari, planet, galaksi, dan beragam benda langit lainnya. Termasuk kehidupan di muka bumi.

Penjelasan yang lebih sederhananya , cobalah lihat bagaimana Allah menciptakan buah mangga. Secara bahasa diceritakan diucapi ‘kun’ lantas menjadi buah mangga. Tetapi, marilah kita lihat realitas sebagai penjelasan informasi dalam al Qur’an. Bahwa, sebelum buah itu tercipta, Allah mendahuluinya dengan proses pertumbuhan pohon mangga. Mulai dari bibit, menjadi pohon selama bertahun-tahun, kemudian berbunga, dan akhirnya berbuah. (bersambung) 

Jadi, yang dimaksud penciptaan mangga dengan ‘kun’ itu sebenarnya adalah sebuah proses yang panjang. Bukan tiba-tiba ada, tanpa membutuhkan waktu untuk berproses. Pemahaman seperti itu, tentu saja menyalahi sunnatullah. Alias hukum alam yang juga ciptaan Allah. Nah, hukum alam itulah yang mesti kita pahami secara saintifik, karena informasi yang terkandung di dalamnya menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur’an.   (bersambung)  

  Salam. Muslim Atin

ukun suryana

unread,
Nov 17, 2013, 12:08:07 AM11/17/13
to hall...@googlegroups.com

As Ww.
Pak MA yth.
Dua ayat yg Bapak kutip saya terima tulisannya aneh, bukan huruf Al Qur'an, kenapa yach pak MA

--
"BERPIKIR POSITIF, BERBUAT IKHLAS, BERTUTUR BIJAK"

HalloPIM versi facebook untuk berbagi koleksi foto di: http://www.facebook.com/groups/513695411978246/
My Blog: http://ibelievecanfly.blogspot.com/
Tabungan Sosial PMPIM di Bank MANDIRI No. Rekening: 130 00 12356567 an ALAN DJUHERLAN.
CP: Alan Djuherlan: 0813 2071 7187 dan Syaharuddin Noorhan: 0812 655 2580
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "HalloPIM" dari Grup Google.
Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/hallopim.

Januar Jalil

unread,
Nov 17, 2013, 12:13:33 AM11/17/13
to hall...@googlegroups.com
Terima kasih Uda.Muslim atas tulisannya menambah wawasan
saya, benar kita harus hati-hati tentang pendapat/ahli terutama
yang membahas tentang Al.Qur an , jangan kita terima saja
pendapat mereka terutama yang mempelajari Agama di 
Barat sebagai contoh. Nurkholis Majid dll harus kita sikapi
pendapat itu benar atau bertentangan Al.Quran ?. Salam


Muslim Atin

unread,
Nov 17, 2013, 12:21:51 AM11/17/13
to hall...@googlegroups.com

O ya, kalau dibuka di laptop atau PC ayatnya akan jelas. Tapi kalau dibuka di HP bisa gitu krn aplikasi di HP tdk mendukung. Cara yg bisa dgn melihat langsung di Alquran sesuai petunjuk ayat di millis. Sorry , jadi agak repot. Salam

suha...@pim.co.id

unread,
Nov 17, 2013, 12:34:15 AM11/17/13
to hall...@googlegroups.com
Terima kasih Pak Muslim Atin atas pencerahannya.

Semoga kita tdk terjebak pada level tafsir sampai mengalahkan "Iman".

Kalau barat sdh sampai ke "bulan" kenapa mereka tdk mengajarkan para cendekiawan Islam ut bisa ke bulan, mengapa mereka justru mengajarkan tafsir dg penguasaan bahasa induknya yg terbatas.

Kami di Al Muntaha juga selalu diingatkan oleh Ustad dr. Zuher yg lahir dan besar di Arab Saudi dan saat ini tlh menjadi karyawan dan Imam Mesjid Al Muntaha ut hati hati dg tafsir.

Kalau ada keraguan beliau mengingatkan ut bertanya kpd alim ulama yg sungguh sungguh paham tentangnya.

Salam dg rendah hati,
Suhatsyah

Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: ukun suryana <ukuns...@gmail.com>
Subject: Re: [HalloPIM] Ada Kesalahan Saintifik Al-Quran?

Muslim Atin

unread,
Nov 17, 2013, 3:01:27 AM11/17/13
to hall...@googlegroups.com

Saya setuju dgn pendapat Ustadz dr Zuber utk mengkaji Alquran bersama ahlinya. Namun karena kita dianugerahi akal oleh Tuhan  minimal kita berupaya mempelajari  bbrp tafsir yg ada kmd diolah melalui akal dan menilainya apakah sdh tepat mnrt hati nurani kita. Ddlm banyak ayat Allah memerintahkan hambaNya dgn kalimat tanya "Mengapa kamu tdk menggunakan akalmu membaca ayat-ayat Ku? Salam

Wimpie

unread,
Nov 17, 2013, 7:14:07 PM11/17/13
to hall...@googlegroups.com

Saya juga setuju dengan pendapat Uda Muslim. Keutamaan kita manusia adalah ketika menggunakan akal dan mendengarkan hati nurani kita. Kalau tidak ingin hanya sebatas “follower.”

Saya pernah memperoleh penjelasan bahwa pada kajian usul fiqh terdapat pemahaman bahwa sumber ajaran Islam yang terdapat pada al-Qur’an maupun Hadis pada dasarnya terdapat suatu tunjukan yang mengemukakan secara jelas yang tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Namun demikian terdapat pula suatu dalalah (petunjuk) yang sifatnya masih memerlukan penegasan serta penjelasan lebih jelas, sehingga bila tidak dipahami menjadi samar-samar maksudnya.

Bila di kelompokan: Pertama, bersifat absolut, universal dan parmanen (qath’i). Kedua, bersifat relatif, tidak universal, dinamis dan dapat berubah dan diubah (zhanni). Seringkali yang “zhanni” ini ulama sering berbeda pendapat/penafsiran. Pada saat itu kita sehausnya menggunakan pertimbangan akal dan mendengarkan bisikan hati nurani, setelah mempelajari beberapa tafsir/ pendapat ulama. Seperti dikatakan ustadz M. Quraish Shihab: pilihlah fatwa ulama yang membuat hati kita tenang. Salam.

 

Syiar itu membuat orang lain mendekat, bukan menjauhkan. "Waman yu'azzhim sya'ã'ira 'l-Lãh fainnahã min taqwa 'l-qulūb.

Wimpie

unread,
Nov 17, 2013, 8:51:02 PM11/17/13
to hall...@googlegroups.com

Uda Muslim & All, 

Pada awalnya sebagian besar kita memeluk agama Islam karena faktor keturunan. Kita terlahir dilingkungan keluarga muslim, sementara yang lainnya berbeda-beda. Berarti ada campur tangan Tuhan dalam hal ini, ketika menempatkan setiap manusia ditempat yang berbeda-beda. Campur tangan yang belum sepenuhnya saya pahami maksudnya. Ketika kita memasuki usia pendidikan, kita belajar umumnya dari lingkungan masyarakat yang homogen dan tak jauh berbeda dari lingkungan keluarga sebelumnya.

Semakin dewasa kita sampai mencapai usia sekarang, seharusnya pengalaman hidup cukup panjang membuat kita telah memahami banyak hal dan sudah tak lagi meragukan hal-hal mendasar. Seperti misalnya kepercayaan akan keberadaan Tuhan, Nabi utusan-Nya, Kitab Suci yang diturunkan Nya, dll. Kita sudah menerima bahwa al-Quran itu benar dan mutlak. Tinggal kini bagaimana belajar memahami sehingga bisa mendekati kebenaran Nya. Diperlukan proses belajar seumur hidup. Keberagaman dan keterbatasan manusia menyebabkan pemahaman itu kadangkala berbeda satu sama lain. Itu sebabnya, diperlukan memakai akal sehat dan mendengarkan suara hati untuk menemukan yang terbaik untuk diri sendiri. Walau banyak membaca, saya sungguh menyadari keterbatasan pemahaman saya mengenai al-Quran dan karenanya masih perlu belajar lebih banyak. Terima kasih atas penjelasannya mengenai pedoman memahami al-Quran. Salam.

 

Syiar itu membuat orang lain mendekat, bukan menjauhkan. "Waman yu'azzhim sya'ã'ira 'l-Lãh fainnahã min taqwa 'l-qulūb.

 

--

ahmad bahagia -

unread,
Nov 19, 2013, 4:35:22 AM11/19/13
to hall...@googlegroups.com

Ass.Wr.Wb. Uda Muslim Atin, Uda Wimpie, Uda Januar & All


Saya sangat tertarik dengan judul atau subject yang lagi dibahas oleh Pak Muslim Atin, Pak Wimpie, Pak Januar Jalil dan teman teman lainnya tentang proses penciptaan manusia menurut Alquran dan adanya beberapa tanggapan dari beberapa pihak tentang tudingan "Alquran memberikan pernyataan yang berbeda-beda tentang penciptaan manusia" dan menurut yang saya ketahui bahwa proses penciptaan manusia oleh Allah Subahanawataala adalah dalam beberapa tingkatan sebagaimana firman Allah “ Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian) Nuh 71:14 yang mana pada awalnya adalah berasal dari tanah  “Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka   dari tanah liat “ (As Shaffat 37:11), kemudian tanah itu didiamkan hingga mengeras, dan dikeringkan lagi hingga seperti tembikar “ Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar (Al Rahman 55:14) dan tembikar ini berubah aromanya seperti lumpur “Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam  yang diberi bentuk (Al Hijr 15:26, Kemudian tembikar yang telah diberi bentuk itu ditiupkan ruh oleh Allah kedalamnya hingga menjadi manusia yang sempurna, yaitu Nabi Adam AS, kemudian darinya terlahirlah semua keturunan manusia dari “air yang hina (mani) “Al Mursalat 77:20.


Hasil temuan pakar ilmuan modern juga telah membuktikan bahwa didalam tubuh manusia terdapat unsur unsur tanah seperti zat besi, magnesium, kalium, sodium, kalsium dan sebagainya, sedangkan proses penciptaan manusia  di perut seorang ibu sebagaimana firman Allah “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim), Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, Kemudian Kami jadikan dia mahluk yang (berbentuk) lain, Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Sempurna (Al Mukminun 23:12-14)


Setelah manusia meninggal dunia, mereka akan kembali keasal penciptaannya, karena awal mula penciptaan manusia adalah dari tanah lalu di akhiri dengan peniupan ruh kedalam jasadnya, maka ketika manusia telah meninggal dunia, ruhnya akan keluar terlebih dahulu, dan jasadnya menjadi keras dan kaku seperti tembikar, lalu mengeluarkan aroma yang tak sedap seperti aroma lumpur hitam, kemudian tubuhnya hancur secara perlahan menjadi kepingan-kepingan kecil dan meleleh seperti tanah liat.


Inilah proses penciptaan manusia menurut Alquran yang pernah saya ketahui  Pak Muslim, Pak Wim dan Pak Januar dan adapun pandangan kesalahan Saintifik Alquran oleh beberapa kalangan adalah sebagai salah satu upaya untuk melemahkan kita ummat Islam.


Fakta-fakta ilmiah Alquran telah terbukti seperti fakta tentang besi, penciptaan berpasang-pasangan, tentang garis edar tata surya, tentang penciptaan manusia, tentang jenis kelamin bayi, tentang sidik jari manusia, tentang relativitas waktu, tentang gunung, dan banyak lagi fakta fakta ilmiah lainnya yang telah diungkapkan oleh Alquran dengan jelas, tetapi mereka yang kurang memahami isi alquran yang sesungguhnya.


Sesuai dengan saran dari teman-teman milis PIM  kita seperti  Pak T.Suhatsyah, Pak Alan Djuherlan,Pak Aziz Pazsa, Pak Mia dan teman-teman milis PIM lainnya mari kita bumikan Alquran dan semoga disisa usia kita yang sudah semakin senja ini kita masih diberikan kesehatan, kemudahan-kemudahan oleh Allah Subahanawataala agar kita dapat saling mengingatkan, saling berdiskusi untuk hal-hal yang baik sebagai persiapan bekal kita untuk pulang kampung nantinya yaitu pulang ke “Kampung Akhirat”


Pak Aziz Pazsa, Pak Alan Djuherlan, Pak Dewo yang baru berulang tahun (Selamat Ultah) ya Pak Dewo) dan lain-lain tentunya akan memberikan tausiah yang lebih mantap di milis PIM ini dan walaupun kita tidak bisa bertemu muka Pak Muslim tetapi Alhamdulillah dengan adanya sarana komunikasi yang telah dibentuk oleh teman-teman kita Pak Wimpie, Ibu Nining dan teman-teman lainnya telah memberikan konstribusi yang sangat banyak dan positif terhadap kita karyawan MP PIM.


Dan semoga milis PIM kita yang telah dibangun oleh teman-teman kita ini harapan kita bersama semoga tetap jaya diudara maya ini, dan sebagai sarana pelepas rindu kepada teman-teman MPIM yang sebelumnya telah ikut berkonstribusi terhadap penyedian pupuk untuk petani kita sesuai dengan bidang dan tanggung jawab kita masing-masing 


Salam kami sekeluarga dari Cilegon, buat Pak Muslim Atin sekeluarga dan semoga Allah Subahanawataala memberikan kita kesehatan, dan semoga milis "Hallo PIM" ini tetap berkiprah didunia maya dan semoga pabrik PIM dapat berkembang lebih baik lagi.


Salam persaudaraan,



2013/11/18 Wimpie <wim...@centrin.net.id>

Wimpie

unread,
Nov 19, 2013, 7:37:41 PM11/19/13
to hall...@googlegroups.com

Uda Muslim, saya kirimkan kembali email terakhir dari topik tersebut yang ditulis Bang Ahmad Bahagia. Salam.

 

Syiar itu membuat orang lain mendekat, bukan menjauhkan. "Waman yu'azzhim sya'ã'ira 'l-Lãh fainnahã min taqwa 'l-qulūb.

 

From: hall...@googlegroups.com [mailto:hall...@googlegroups.com] On Behalf Of ahmad bahagia -


Sent: Tuesday, November 19, 2013 4:35 PM
To: hall...@googlegroups.com

Muslim Atin

unread,
Nov 19, 2013, 9:25:41 PM11/19/13
to hall...@googlegroups.com

OK trims nanti  dp kita lanjut, kini sdg ada job  mandorin tukang di rmh Dewi. Turun pangkat dari Dirut prshn real estate......LOL   Salam

Muslim Atin

unread,
Nov 20, 2013, 12:42:10 PM11/20/13
to hall...@googlegroups.com

Sdr Ahmad Bahagia , Wimpie & All

 Pertama saya mencoba menyimpulkan pemahaman Sdr Ahmad Bahagia,  bahwa  (1) proses penciptaan manusia oleh Allah adalah dalam beberapa tingkatan kejadian. (2) yang awalnya berasal dari tanah (3) kemudian tanah itu dikeringkan hingga mengeras (4) dan dikeringkan lagi hingga seperti tembikar, (5) dan tembikar itu berubah aromanya menjadi lumpur, (6) kemudian dibentuk, (7) Kemudian tembikar yang telah diberi bentuk itu ditiupkan ruh oleh Allah kedalamnya hingga menjadi manusia yang sempurna, yaitu Nabi Adam AS, kemudian darinya terlahirlah semua keturunan manusia dari “air yang hina” (mani).

Mengenai surat Nuh ayat 14, saya berpendapat bahwa Allah menciptakan manusia (tentu termasuk Adam) dalam beberapa tingkatan (kejadian). Karena lafal athwaaran bentuk jamak dari lafal thaurun, artinya tahap; Dengan demikian menurut saya Adam itu tidak dijadikan dari tembikar yg berasal dari tanah lalu dibentuk semacam patung manusia dan ditiupkan roh hingga langsung menjadi manusia, tetapi melalui proses kehamilan dan kelahiran seperti manusia umumnya.

Tahapan tsb ditegaskan dalam Surat Al-Mukminun ayat 12-14 yakni berturut-turut artinya:                                              12.  Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain, yaitu manusia.

Proses ini  tentu berbeda dengan pemahaman Sdr bahwa  Adam  diciptakan sebagai manusia   pertama  melalui  tujuh tahapan yang Sdr sebutkan  diatas, lalu kemudian dari Adam  terlahir semua keturunan manusia.

Jika kita teliti Surat Al Baqarah ayat 30 terdapat rencana utama Allah hendak menjadikan seorang  khalifah  di muka bumi. Pengertiannya tentu mengangkat seorang manusia dari makhluk  manusia yg sudah ada saat itu.   Tentu saja hal ini diinginkan setelah menciptakan bumi dan segala isinya, langit dengan segala isinya, dan malaikat melalui proses evolusi “kun fayakun” seperti disebutkan terdahulu, maka tibalah kehendak Allah utk mengangkat seorang khalifah di antara manusia di bumi yaitu Adam utk memelihara dan mengelola bumi ciptaanNya. Sekaligus menjawan kekhawatiran malaikat:

øŒÎ)ur tA$s% š /u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ

30.  Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS Al-Baqarah [2]:30)


Sebagai sambungan dari proses penciptaan  dengan melalui tahap-tahapan seperti dijelasakan pada milis pertama, bagi seorang muslim ayat-ayat Al Qur’an dan ayat-ayat alam semesta adalah realitas yang tidak bisa dipisahkan. Karena kedua-duanya adalah ayat-ayat Allah. Yang termaktub di Al-Qur’an disebut ayat qauliyah berupa teks, sedangkan yang di alam semesta disebut ayat kauniyah berupa realita empiris.

Maka terkait dengan penciptaan manusia, kita juga harus melakukan pemahaman yang demikian. Bahwa ucapan ‘kun’ saat penciptaan manusia itu bukan berarti manusia mewujud tanpa proses. Itu menyalahi pemahaman holistic Al Qur’an secara bahasa, maupun pemahaman Al-Quran secara saintifik terhadap ayat-ayat kauniyah.

Jadi secara bahasa, frase ‘kun fayakun’ itu justru menunjukkan adanya proses yang terbentuk secara sebab akibat. Sedangkan secara saintifik, kita bisa melakukan cross- check dengan ayat-ayat kauniyah yang terus berkembang seiring dengan pengetahuan manusia terhadap sejarah kemanusiaan itu sendiri, yang sampai sekarang masih terus berusaha untuk memperoleh bukti-bukti.

Diaantaranya adalah pemahaman asal usul kehidupan di muka bumi yang menjadi cikal bakal munculnya manusia sebagai makhluk paling kompleks, sebagai proses selama miliaran tahun. Jika ada yang menyebut Islam tidak mengakui proses evolusi, menurut saya itu kuranglah tepat. Karena secara eksplisit Al Qur’an mengakui adanya proses perubahan bertahap dari makhluk-makluk sederhana menjadi makhluk yang memilki kompleksitas semakin tinggi.

Manusia yang dulunya berasal dari tanah itu diistilahkan Allah sebagai ‘ditumbuhkan’ dari bumi. (QS. Nuh [71] 17-18 sbb:

ª!$#ur /ä3tFu;/Rr& z`ÏiB ÇÚöF{$# $Y?$t7tR ÇÊÐÈ   §NèO ö/ä.ߊÏèム$pkŽÏù öNà6ã_Ì øƒäur %[`#t ÷zÎ) ÇÊÑÈ  

17. dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya,

18. kemudian Dia mengambalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.

Ini sebuah penggambaran yang sangat eksplisit tentang adanya proses yang panjang. Baik yang terjadi did alam rahim, maupun yang terjadi di alam bebas. Keduanya memiliki kemiripan, yakni bertumbuh secara berangsur-angsur. Dimulai dari saripati tanah yang berasal dari makanan yang kita konsumsi, kemudian berproses di dalam rahim ibunya, kemudian bertumbuh selama sekitar 9 bulan dari fase makhluk bersel satu, ke fase embrional yang mirip tumbuhan, meningkat ke fase mirip hewan, dan fase janin yang semakin bersifat manusia.

Sedangkan di alam terbuka, manusia bertumbuh dalam kurun waktu miliaran tahun sepanjang usia planet bumi. Juga dari saripati tanah, menjadi makhluk bersel satu, mengalami fase tumbuhan, fase hewan dan fase manusia. Inilah yang dikenal sebagai evolusi itu. Meskipun, ada perbedaan yang mendasar antara evolusi Darwinian dengan evolusi yang digambarkan oleh Islam. Secara terminology Barat, evolusi dalam Islam disebut sebagai Godly Evolution. Yakni evolusi yang melibatkan Tuhan sebagai Sang Pencipta.

Allah telah memulai penciptaan segala jenis hewan dari air secara evolusi. Begitulah memang data fosil-fosil makhluk hidup di muka bumi, yang menyimpulkan kehidupan daratan ini ternyata dari perairan. Dari perairan itulah hewan-hewan di daratan berasal.

Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa kalimat kun fayakun itu sama sekali tidak bisa dimaknai sebagai peristiwa penciptaan tanpa proses. Kita suci telah menjelaskan realitas penciptaan makhluk hidup di muka bumi sebagai sesuatu yang ilmiah dan gambling secara filosofis.  Salam



2013/11/20 Muslim Atin <muslim.at...@gmail.com>

ahmad bahagia -

unread,
Nov 21, 2013, 4:53:04 AM11/21/13
to hall...@googlegroups.com
Dear Pak Muslim Atin, Pak Wimpie and All

Terimakasih atas tanggapan Uda Muslim dan menurut keyakinan dan pemahaman saya pribadi bahwa Adam adalah manusia pertama di bumi dan sebagaimana kita ketahui bersama bahwa manusia tidak diciptakan di bumi, tetapi manusia dijadikan khalifah dibumi sebagai mahluk pengganti yang tentunya ada makhluk lain yang diganti dengan kata lain Adam bukanlah mahluk pertama di bumi tetapi Adam adalah manusia pertama.

Allah tidak mengatakan untuk mengganti manusia sebelumnya, tetapi pengganti mahluk yang telah berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi dan sebelum kehadiran manusia telah ada mahluk seperti Malaikat, Jin, binatang, dan tumbuh-tumbuhan (Al An'aam 32)
" Dan Kami telah menciptakan Jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas (Al Hijr 27).

Allah berfirman (Al Baqarah 2:36)  " Turunlah kamu (dari surga) sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan"

"Sesungguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu diciptakan dari tanah (HR.Bukhari)

Pendapat yang mengatakan bahwa ada manusia purba yang merupakan hasil evolusi dari kera sebagaimana teori Darwin, maka teori ini telah dibantah oleh pakar-pakar ilmuwan muslim walaupun ada beberapa temuan fosil dan kalau memang teori tersebut bahwa kera berevolusi, kenapa sampai sekarang kera masih ada dan kenapa mereka tidak ikut berevolusi ?

Mahluk sebelum Nabi Adam memang telah ada, tetapi Adam adalah tetap sebagai manusia pertama di bumi dan Allah menyebutkan didalam Alquran bahwa mahluk yang disebut manusia adalah yang berakal.

Dalam dialog antara Malaikat dan Allah dimana Malaikat mengatakan mengapa Allah menciptakan manusia yang akan membuat kerusuhan dan pertumpahan darah dimuka bumi. dari konteks dialog tersebut terlihat bahwa Malaikat tidak setuju jika Allah menjadikan mahluk itu sebagai khalifah dimuka bumi, tetapi mahluk yang disebut Malaikat itu bukanlah manusia Adam melainkan mahluk yang lain yang tabiatnya selalu membuat kerusuhan dan pertumpahan darah tetapi bukan manusia.

Hanya ini yang saya ketahui Pak Muslim, Pak Wimpie dan mudah-mudahan diskusi kita ini dapat ditambahkan oleh teman-teman lainnya

Salam persaudaraan






2013/11/21 Muslim Atin <muslim.at...@gmail.com>

Muslim Atin

unread,
Nov 21, 2013, 1:29:15 PM11/21/13
to hall...@googlegroups.com

Sdr  Ahmad Bahagia & All

      Terima kasih atas tanggapan dan pemahamannya tentang kisah Adam & Hawa.  Saya tidak ingin menyatakan pemahaman Sdr   benar atau salah. Tapi melalui alur tulisan-tulisan bersambung dalam milis ini, siapapun dapat menarik kesimpulan sendiri-sendiri sesuai dengan tingkat pemahaman , akal dan hati nurani masing-masing. Carannya , pertama dengan merunut pemahaman umum yang ada dikalangan umat Islam, kemudian baru pembahasan lebih lanjut.  Pemahaman ini saya dapat dari sumber Al Quran, sumber-sumber lain terutama  pemikiran-pemikiran yang saya kutip dari seorang  penulis Tasawuf Modern, Agus Mustofa, sbb:

      Kisah  Adam dan Hawa sudah sedemikian melegenda. Sehingga hampir semua kita menerima begitu saja. Meskipun,  banyak di antara cerita itu yang tidak masuk di akal. Ya, legenda memang tidak harus masuk akal. Cukup kita terima saja.

Di antara yang paling sering kita dengar adalah bahwa Adam diciptakan Tuhan dari tanah liat yang dibentuk seperti boneka. Kemudian ditiupkan kepadanya Ruh, sambil diucapkan  Kun fayakun. Maka jadilah Adam manusia dewasa yang hidup seketika itu juga.

Selanjutnya Adam di tempatkan di dalam surga. Ia hidup sendirian di dalam taman dan istana yang indah. Tapi ia merasa kesepian karena tidak ada kawannya. Maka, Tuhan pun menjadikan calon istrinya – Hawa. Caranya, Tuhan mengambil salah satu tulang rusuk Adam. Kepada tulang rusuk itu Tuhan mengucapkan  kata yang sama – Kun – maka jadilah Hawa sebagai manusia dewasa yang hidup.  Hawa menemani Adam di dalam surga  yang indah. Surga itu berada di langit. Atau, di alam yang entah berada di mana. Tak ada yang tahu. Bahkan, tak perlu tahu.

      Di surga itu Adam dan hawa hidup berbahagia serba berkecukupan. Sampai suatu saat datang lah iblis menggoda mereka. Iblis masuk ke dalam surga menyamar sebagai ular. Dan membisiki Adam serta istrinya untuk memakan buah dari sebuah pohon terlarang.

Sebenarnya Tuhan telah melarang mereka untuk mendekatinya. Apalagi memakan buahnya. MAka, benarlah, ketika mereka berdua memakan buah itu, tiba-tiba secara ajaib pakaian yang mereka kenakan menghilang. Adam & Hawa berada dalam keadaan telanjang. Terlihat auratnya. Maka mereka berlarian ke balik semak-semak. Memetiki daun-daunnya untuk menutupi tubuh mereka. Adam dan Hawa pun mengenakan pakaian daun-daun surga.

Tuhan marah. Dan mengutuk mereka, kenapa melanggar larangan yang telah ditetapkan. Maka suami-istri itu diusir  Tuhan dari Surga . Mereka diturunkan dari langit menuju Bumi secara terpisah. Adam diturunkan di sekitar India, sedangkan Hawa diturunkan di Timur Tengah. Sekian ratus tahun kemudian mereka bertemu di sebuah bukit tandus, di dekat Mekkah, di Jabal Rahmah.

Di dalam agama Nasrani, dosa-dosa Adam itu diturunkan kepada anak cucunya. Kita semua sebagai keturunannya ikut menanggung  beban dosanya. Dan karena itu, harus ditebus selama hidup kita.

Sedangkan di kalangan Islam tidak dikenal dosa turunan. Namun tak sedikit yang meyakini bahka kita sengsara hidup di dunia ini juga disebabkan oleh kesalahan Adam memakan buah larangan. Sehingga dikeluarkan dari surga yang penuh kenikmatan. Dengan kata lain, seandainya Adam dan Hawa tidak termakan bujukan iblis memakan buah larangan, Adam & Hawa beserta kita semua tidak akan pernah hidup di Bumi. Kita semua bakal tetap hidup di dalam surga di atas langit sana.

Cerita legenda itu sudah saya dengar sejak kecil. Dan sekarang pun masih diceritakan seperti itu, dengan segala variasinya. Sumbernya beragam. Sebagian dari kitab-kitab suci. Sebagian lagi dari hadits, sebagian yang lain dari mulut ke mulut, sehingga sulit dipertanggung-jawabkan.

       Tidak sedikit yang ingin melakukan klarifikasi terhadap cerita-cerita itu. Akan tetapi selalu terbentur dinding yang sulit ditembus. Cerita legenda itu seperti tertutup kabut tebal yang sulit terkuak kebenarannya.

Selama ribuah tahun legenda  tetap saja legenda. Tak ada yang berhasil menguak secara memuaskan. Sumber-sumber cerita yang selama ini dipakai, ya tetap dari itu ke itu. Kita berputar-putar tak pernah bisa keluar dari kegelapan misteri yang meliputinya.

Ada beberapa pertanyaan yang selama ini menjadi perdebatan atas legenda Adam & Hawa. Terutama di kalangan Islam.

1.    Sebenarnya, dimanakah Adam dan Hawa diciptakan? Di surga ataukah di Bumi?

2.    Kalau di surga, surga yang mana? Apa bedanya dengan surga akhirat kelak?

3.    Atau surga yang dimaksudkan dengan surge Nabi Adam itu adalah sebuah taman yang indah di muka Bumi? Sehingga, bahan dasar penciptaannya pun dari tanah bumi.

4.    Lantas, bagaimana proses penciptaannya Adam dari tanah itu? Benarkah dibentuk seperti boneka, ditiupkan ruh, kun fayakun, kemudian menjadi manusia dewasa?

5.    Benar jugakah Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam? Diucapkan kun lantas menjadi manusia dewasa seperti Adam?

6.    Bagaimana pula setan atau iblis bisa masuk ke dalam surga untuk mengganggu Adam? Ya, bagaimana mungkin setan bisa masuk ke surge, bukankah surga mestinya tidak bisa dimasuki setan? Benarkah karena mereka menyamar sebagai ular, sehingga tidak ketahuan Tuhan?

7.    Benarkah Adam & Hawa terusir dari surga karena perbuatan dosa memakan buah itu? Sehingga seandainya memakan buah itu, kita semua – keturunan Adam – mestinya masih hidup di surge selamanya. Kalau begitu apakah Tuhan tidak berniat untuk menjadikan Adam sebagai penduduk Bumi sejak awal? Hanya kebetulan?

8.    Dan, benarkah Adam adalah manusia pertama yang menurunkan kita semua? Apakah sebelum Adam tak ada kehidupan manusia?

     Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang memerlukan jawaban tuntas. Sayangnya, karena dianggap sudah melegenda, seringkali tidak merasa perlu untuk mencari jawaban lebih lanjut. Kita lantas menerima begitu saja.

      Akan tetapi, seiring dengan berkembangnya kekritisan umat dalam beragama, banyak yang kemudian merasa perlu untuk menanyakan kejelasan  tentang cerita  seputar penciptaan Adam & Hawa itu. Apalagi, ternyata Allah sangat sering menyinggungnya di dalam Al-Qur’an, kitab Suci yang menjadi rujukan utama umat Islam.

Dan rasanya memang tidak berlebihan, serta cukup pantas bagi kita untuk mengetahuinya asal-usul sejarah kita sendiri…..

      Tetapi anehnya, dalam kitab al-Qur’an, Allah seperti memancing kita semua untuk memahami lebih jauh tentang proses munculnya peradaban manusia di planet ini. Berulangkali Allah bercerita tentang makhluk yang namanya Adam itu. Puluhan kali. Apalagi tentang munculnya manusia keturunan Adam, jumlahnya ratusan kali.

      Karena itu, tidak heran perdebatan tentang sejarah kemunculan manusia di Bumi ini menjadi cerita dan diskusi panjang yang tiada habisnya. Di satu sisi, kita memang ingin tahu bagaimana asal muasalnya. Sedangkan di sisi lain kitab suci agama kita tidak memberikan penjelasan secara rinci, kecualihanya ‘sinyal-sinyal’ yang semakin membuat kita penasaran.

     Maka agaknya, agaknya kita disuruh untuk merunut dan mencari sendiri informasi tetang asal-muasal penciptaan manusia. Dan yang menarik, perkembangan ilmu pengetahuan manusia semakin lama semakin mnedekati  ‘tirai pembatas’ kaburnya sejarah kita sendiri. Yang di balik itu kita bakal  bertemu dengan sebuah surprise tentang sejarah  ‘drama superkolosal’ di planet istimewa ini

Allah rupanya sedang ‘menunggu’ manusia di suatu ‘terminal ilmu’ yang kita sendiri bakal terbelalak menyaksikan kecanggihan kerja dan keagungan Sang Pencipta. Dia bakal memamerkan kepada kita bagaimana rumit dan canggihnya proses penciptaan spesies intimewa bernama manusia, yang tak lain adalah kita sendiri….     – (Bersambung). 



2013/11/21 ahmad bahagia - <abaha...@gmail.com>

Muslim Atin

unread,
Nov 22, 2013, 10:40:08 AM11/22/13
to hall...@googlegroups.com

ADA KESALAHAN SAINTIFIK ALQURAN? (4)

Kebanyakan umat Islam memisahkan antara al Qur’an dengan Ilmu Pengetahuan. BAhkan lebih jauh, antara ‘agama’ dengan ilmu pengetahuan. Tetapi, sebenarnya al Qur’an  dan agama Islam justru mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan. Agama Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmuwan , bahkan memuliakannya . (QS 35:28). Seringkali Allah mengatakan bahwa orang yang bisa memahami firman-firmanNya secara baik justru adalah orang yg berilmu pengetahuan. (QS 29:43).  Islam tidak bisa dipisahkan dari ilmu pengetahuan. Dalam segala bidang kehidupan. Imu pengetahuan sosial maupun pengetahuanalam. Dunia maupun akhirat.

Maka, dalam memahami asal usul manusia pun kita harus memahami berbagai teks-teks al Qur’an dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Hasilnya sungguh berbeda denganpemahaman yang bersifat doktrinal atau legenda-legenda sebagaimana disebut pada  pembahasan ke-3 terdahulu. Kita memperlakukan al Qur’an sebagai sumber petunjuk yang harus di cross-check atau dipahami lewat data-ddata keilmuan yang sedang berkembang. Dengan cara itu, bakal terjadi penafsiran yang sangat dinamis seiring perkembangan ilmu pengetahuan yang bersangkutan.

Bagi saya, memahami isi al Qur’an ibarat pekerjaan seorang detektif yang merekonstruksi sebuah peristiwa  yang telah berlalu. Kita hanya punya jejak-jejak pelaku, bekas-bekas kejadian, dan sejumlah barang bukti yang harus disusun untuk menduga terjadinya peristiwa itu di masa lampau.

Tentu saja tidak bisa persis seperti peristiwa sesungguhnya. Peristiwa itu sendiri sudah berlalu. Dan itulah ‘kebenaran’ yang sesungguhnya. Sedangkanyang kita lakukan kini, tak lebihhanyalah sebuahrekonstruksi.

Maka, yang harus kita lakukan adalah mengumpulkan data dan bukti sebanyak-banyaknya agar bisa melakukan rekonstruksi mendekati sempurna. Dengan kata lain Allah sedang mendorong kita untuk  berilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya agar kita bisa memahami petunjuk-petunjukNya di dalam Al Qur’an. Semakin banyak ilmu pengetahuanyang kita miliki, semakin bagus penafsiran yang kita lakukan.

Rekonstruksi Penciptaan Manusia

      Informasi penciptaan manusia pertama di dalam al Qur’an menjadi kontroversi sepanjang sejarah. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya informasi yang eksplisit tentangnya. Ayat-ayat yang bercerita tentang penciptaan manusia tersebar dalam ratusan ayat. Dan membutuhkan kepiawaian tertentu untuk menginterpretasikannya secara utuh. Kondisi ini diperparah oleh kecenderungan sebagian kita untuk menafsiri ayat-ayat tsb secara parsial alias sebagian-sebagian..

 Demikian banyak misteri yang disamarkan oleh Allah di seputar penciptaan manusia. Mulai dari dimanakah manusia pertama diciptakan, dari bahan apa badannya terbentuk, sekali jadi ataukah lewat proses yang panjang, kenapa ia turun dari surga, dsbnya.

Berikut ini misteri-misteri seputar penciptaan manusia pertama dalam informasi al Qur’an kita coba bahas. Pertama, kita coba untuk membuka dan merekonstruksi ayat-ayat seputar tempat dimana ia diciptakan. Benarkah diciptakan di surga? Surga yang mana? Di Bumi atau di langit?

Selama ini, cerita-cerita yang berkembang mengarahkan kita kepada suatu pengertian bahwa Adam dan Hawa diciptakan di surga. Surga itu digambarkan terletak di suatu alam gaib, di langit sana. Di sebuah ‘negeri atas awan’ yang tidak ada lagi penjelasannya.

Sebenarnya, pendapat ini terimbas oleh cerita-cerita tradisional bahwa ‘alam Tuhan “ itu berada di langit. Seiring dengan ‘alam dewa-dewi’ dalam cerita-cerita pewayangan yang diadaptasi dari agama di luar Islam.

Alam dewa dan alam Tuhan selalu dikaitkan denganalam tinggi, yang dipersepsi berada di langit. Dalam arti ruang yang sesungguhnya. Sehingga kita sering mendengar cerita-cerita tentang ‘turunnya’ para dewa dewi, bidadari atau bahkan ‘Tuhan sendiri’ dari langit nun jauh di sana menuju ke bumi.

Sebenarnya, konsep seperti ini bukan konsep Islam. Melainkan konsep agama-agama pagan yang justru diluruskan  oleh datangnya Islam yang di bawa Nabi Ibrahim termasuk keturunan terakhirnya, Rasulullah Muhammad SAW.

Banyak di antara kita, yang menganggap Allah adalah Tuhan yang bertempat di dalam surga.  Atau di alam akhirat. Atau di langit ke tujuh, di Sidratul Muntaha. Atau di alam yang tinggi, di atas awan sana. Sebuah negeri dongeng jaman dahulu kala, yang tidak akan pernah akan ditemui ketika seseorang naik pesawat ruang angkasa sekalipun.

Karena itu, banyak di antara kita berpendapat, untuk menemui Allah kita harus mengarungi jarak ke langit, ke luar angkasa sana. Termasuk ketika Rasulullah SAW Mi’raj. Beliau dating ke Sidratul Muntaha itu di persepsi untuk bertemu Allah. Sebab, dalam persepsi mereka Allah itu tidak berada di Bumi. Allah itu berada di langit. Jauh dari kita.

Sungguh ini bukan konsep Islam. Ini adalah konsep agama-agama pagan. Karena di dalam Islam dan al Qur’an, Allah digambarkan sebagai Dzat Maha Besar yang tidak menempati ruang. Justru meliputi ruang. Sebesar apa pun ruang itu. Termasuk ruang alam semesta yang tidak diketahui tepinya hingga kini.

Allah adalah dzat yang digambarkan al Qur’an ‘sangat dekat’   dengan kita. Bahkan lebih dekat daripada urat leher kita sendiri. Di dalam berbagai ayat, justru Allah digambarkan menempati seluruh ruang. Bahkan ruang itu sendiri tidak muat untuk mewadahi DzatNya yang Maha Besar. Justru ruang itu yang berada di dalamNya. Maka di dalam Islam digambarkan bahwa Allah berada ‘dimana-mana’ sekaligus, dalam ketunggalannya. Dan, kata al Qur’an kemana pun kita menghadap kita akan berhadapan  dengan Dzat Allah itu.

Allah berfirman: 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami  lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” - QS Qaaf [50]:16.

“dan kepunyaan Allahlah  timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah  kamu berhadapan dengan wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.

QS  al Baqarah [2]: 115.

Salah satu kepahaman agama pagan yang sangat melekat kepada kepahaman umat Islam adalah tentang keberadaan surga. Kebanyakan kita mempersepsi surga sebagai suatu istana yang indah yang berada di atas langit. Jauh dari Bumi. Sebagaimana konsep dewa-dewi dalam agama pagan itu.

Sampai-sampai ada juga yang berpendapat bahwa Allah itu berada di surga. Yang ini adalah konsep agama Nasrani, yang berpendapat Tuhannya berada di surga.

Islam sebenarnya tidak pernah mengajarkan begitu. Akan tetapi, banyak di antara kita  yang berpendapat bahwa untuk bisa bertemu Allah kita harus berada di surga. Selama masih di Bumi, pertemuan itu tidak akan pernah bisa terjadi.

Coba cari ayat-ayat al Qur’an yang bercerita tentang Allah berada di surga, maka kita tidak akan pernah menemuinya. Cerita–cerita seperti itu hanya akan dijumpai di dalam hadits-hadits yang tentu saja harus di cross check  dulu kebenarannya dengan al Qur’an.

Al Qur’an justru mengatakan kepada kita bahwa untuk bertemu Allah kita tidak perlu harus ke surga dulu. Semenjak hidup di dunia ini kita sudah bisa bertemu Allah di mana-mana. Kemana pun kita menghadap kita akan bertemu dengan Allah.

Di dalam shalat bertemu Allah. Di dalam dzikir bertemu Allah. Saat haji pun bertemu Allah. Bahkan dalam seluruh aktifitas kita sehari-hari kita bisa bertemu Allah. Asal kita tahu caranya , seperti yang diajarkan oleh al Qur’an dan disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada kita.

Salam – Muslim Atin   ….   (Bersambung)

 



2013/11/22 Muslim Atin <muslim.at...@gmail.com>

Iskandar Mt

unread,
Nov 22, 2013, 8:11:38 PM11/22/13
to hall...@googlegroups.com
Dear all
Tulisan analisis seperti Pak Muslim Atin ini pernah juga kita kupas bersama tahun yl dan selalu saya info sumbernya.
Berikut salah satu tulisan tentang DIMANAKAN SURGA dari puluhan topik ilmiah dalam blog yang sama, yang perlu dibaca dengan hati-hati karena merupakan pandangan beberapa ahli yg coba-coba menganalisa tentang kebesaran ciptaan Allah sesuai kemampuan manusia yang adalah ciptaan Allah.

http://quran-et-sains.blogspot.com/2007/03/dimanakah-surga.html

Silahkan dibuka dan di down load, termasuk topik berikut ini :
  • Disurga manakah Adam di ciptakan,
  • Penciptaan Adam mirip Isa
Hampir Seluruh tulisan Quran-et-sains sudah saya print out dan jadikan buku saku yang dibaca ketika sedang diperjalanan ke proyek proyek. Sebagai teman berdebat terkadang saya ajak pak Arief Permana yg pemahaman Al Qur'annya sudah mumpuni, he.he.
Saya sampai pada satu kesimpulan bahwa menerapkan Ilmu Tauhid yang sudah kita tahu saja yaitu beribadah dengan penjiwaan sesungguhnya sholatku, hidupku dan matiku untuk Allah, Tuhan Semesta alam ( QS 6: 162 ), yang berupa Sholat tepat waktu dan khusuk, ber-etika baik, tidak pemarah, sedaqoh tanpa berhitung termasuk menjauhi zina mata saja sudah sangat sulit dilaksanakan mengingat kita masih bekerja dan hidup diwilayah abu abu sehingga itu dulu prioritas yang sangat perlu saya benahi diusia senja ini.

Wassalam.




2013/11/22 Muslim Atin <muslim.at...@gmail.com>

Wimpie

unread,
Nov 22, 2013, 10:25:25 PM11/22/13
to hall...@googlegroups.com

Dear all,

Menarik membaca tulisan uda Muslim tentang topik ini. Pemahaman yang dalam dan dilengkapi dengan penulisan yang jelas dan mudah diikuti. Menambah referensi untuk khasanah berpikir saya. Terima kasih. Uda Muslim ternyata tidak hanya mencangkul cukup dalam di bidang pertanian, tapi juga pemahaman keagamaan. Tentu saja kita bisa setuju atau tidak terhadap sebuah pemikiran, tetapi selau ada manfaat atau hikmah yang bisa dipetik darinya.

Kita diciptakan berbeda-beda, tak ada satu manusiapun yang memiliki pemikiran persis sama. Seperti pernah saya tulis sebelumnya, kita lahir dan dibesarkan dilingkungan tertentu. Ketika dewasa dan menjadi tua, sebagian besar kemudian punya pola pikir yang masih sama seperti yang diajarkan oleh lingkungan masa kecilnya. Terkurung didalam tempurungnya masing-masing. Sebagian kecil berhasil keluar dan menyadari bahwa dunia begitu luas dan kehidupan jauh melebihi yang dipahami sebelumnya. Tentu saja tak ada yang benar atau salah dari kedua pilihan hidup diatas, karena kita tak memiliki kapasitas untuk menghakimi. Kebenaran sejati hanya milik Allah Swt. Kapasitas yang tak sama menyebabkan kita tumbuh menjadi manusia yang berbeda satu sama lain. Kalaupun pemahaman seseorang terbatas, bukan salahnya, karena memang sebatas itulah yang diberikan padanya.

Dalam beberapa hal saya sepakat dengan uda Muslim. Qur’an dan ilmu pengetahuan seharusnya saling melengkapi, karena semua berasal dari sumber yang sama. Tak harus saling bertentangan atau dipertentangkan satu sama lain. Kalau ada ketidak-samaan, berarti pemahaman atau pengetahuan kita yang mungkin masih terbatas pada salah satu atau malah kedua-duanya. Saya juga percaya, perlahan tapi pasti, pengetahuan manusia akan semakin mengungkap kebenaran dan kebesaran Tuhan.

Sesungguhnya masih banyak hal yang belum benar-benar kita pahami dan ketahui secara pasti saat ini. Manusia masih berdebat tentang proses penciptaan alam semesta, dimana bumi hanya butiran debu dibanding luas keseluruhan semesta. Proses penciptaan manusia pertama juga masih di diskusikan. Begitu pula tentang jalan keselamatan dan konsep tentang surga-neraka. Apalagi kalau harus membicarakan tentang Tuhan Sang Pencipta itu sendiri.

Kita memikirkan semua itu sesuai dengan nalar dan kapasitas berpikir manusia. Kalau tak ditemukan di bumi, tentu ada dilangit sana. Batas pemahaman manusia saat ini hanya tentang bumi dan langit. Kita belum bisa membayangkan dimensi lain selain ruang dan waktu, dan belum mengetahui seberapa banyak dimensi yang terdapat di alam ini.

Tentu saja kita bisa menjadikannya sederhana. Kosentrasi pada yang ada didepan mata dan yang di pahami saja. Tak perlu terlalu dipusingkan dengan apa yang terjadi diluar sana. Fokus pada akidah, syariah, dan akhlak, dimana dua yang pertama harus terwujud dalam yang ketiga.

Pendapat yang tak salah, walau belum tentu sepenuhnya benar. Salam.

 

Syiar itu membuat orang lain mendekat, bukan menjauhkan. "Waman yu'azzhim sya'ã'ira 'l-Lãh fainnahã min taqwa 'l-qulūb.

 

Muslim Atin

unread,
Nov 24, 2013, 8:12:14 AM11/24/13
to hall...@googlegroups.com

pIskandar , Wimpie & All

TQ atas  info  ttg http://quran-et-sains.blogspot.com yang dapat dijadikan pembanding atas milis  bersambung saya “Ada Kesalahan Saintifik Al-Qur’an?”.

Mengenai penerapan ilmu tauhid dalam kehidupan sehari-hari di dunia kelabu saat ini, memang berat, tapi saya yakin , bahwa niat baik seseorang sudah dicatat Tuhan sebagai suatu kebaikan, sebaliknya suatu niat jahat belum akan dicatat sebagai keburukan sebelum dia kerjakan.  Mudah2an kita semua dilindungi-Nya dari segala keburukan, sekaligus dibukakan pintu ilmu dan hidayah seluas-luasnya kepada kita semua, Amin!   Salam



2013/11/23 Wimpie <wim...@centrin.net.id>

Muslim Atin

unread,
Nov 24, 2013, 10:58:06 AM11/24/13
to hall...@googlegroups.com

ADA KESALAHAN SAINTIFIK ALQURAN? (5)

Allah memilih planet Bumi yang tak ubahnya  seperti  ‘debu angkasa’ sebagai panggung drama kehidupan manusia di antara  bertriliun-triliun benda langit ciptaanNya

Allah berfirman,” Di Bumi itu kamu hidup dan di Bumi itu kamu mati, dan dari Bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.”  (QS  Al A’raaf [7]:25).

Ayat ini dengan sempurnanya menjelaskan bahwa sejak awal kehidupannya manusia memang diciptakan di planet ini, selama hidup juga di sini, dan akhirnya mati serta kebangkitannya juga bakal terjadi di Bumi. Dan segala proses penciptaan Bumi  oleh Allah SWT yang berlangsung  sejak miliaran tahun lalu ternyata mengarah kepada suatu tujuan utama: menyongsong kehadiran manusia! Sebagai bentuk kasih sayangnya kepada hamba ciptaanNYa. Makhluk manusia yang diperkirakan  telah menghuni Bumi  ini jutaan tahun lalu –hanya Tuhan yang tahu- sebelum  Adam diangkat menjadi khalifah di muka Bumi. Hal ini telah dibuktikan dengan penemuan fosil-fosil manusia purba yang disebut  homo erectus (manusia yg berdiri tegak) yg dikelompokkan sebagai homo sapiens  karena ukuran otaknya sangat mirip dgn otakmanusia modern , yang ditemui di Afrika, Eropa, China bahkan Indonesia seperti: seperti , Homo Rhodesiensis, Homo Neanderthalensis, Homo Heidelbergensis. Homo Chinensis bahkan di Indonesia  ditemukan 7 jenis manusia purba,  seperti , Meganthropus Paleojavanicus, Pithecanthropus Eerectus, Phitecanthropus  Robustus,  Phitecanthropus Mojokensis, Homo Soloensi, Homo Wajakensis   dan  Homo Floresiensis.

Semua makhluk manusia purba tsb  dari satu masa ke masa selanjutnya telah punah karena pertumpahan darah di antara mereka. Sampai muncul  generasi   Adam pada periode sejarah  5872 – 4942 SM. Maka tibalah kehendak Allah utk mengangkat seorang khalifah di antara manusia di bumi yaitu Adam utk memelihara dan mengelola bumi ciptaanNya. Sekaligus menjawan kekhawatiran malaikat dari sejarah kehidupan makhluk manusia yang telah berlalu:

Allah berfirman, “ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS Al-Baqarah [2]:30)

Berdasarkan ayat yang tegas dan lugas tsb, dapat menumbuhkan keyakinan bahwa Adam itu dilahirkan di Bumi. Hidup bersama keturunannya di Bumi. Dan, berarti sejak awal memang ia diciptakan di Bumi pula. Denganbahan dasar penciptaan dari tanah Bumi.

Allah berfirman:

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah keras (thiin)” (QS as Sajdah [32]:7

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu  berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia (semuanya) dari tanah keras(thiin)”

“Maka bila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepada  ruhKu, maka hendaklah kamu tersungkur bersujud kepadanya.”(QS  Shaad [38):71-72)

Jika dicermati ayat tsb, Allah menegaskan  bahwa dari tanah keras itu Allah melakukan proses penyempurnaannya. Dan jika sudah sempurna kejadiannya, barulah Allah meniupkan ruhNya. Maka jadilah ia manusia.

Kembali kepada pertanyaan semula, Adam ataukah manusia , yang diciptakan dari tanah keras itu? Jawabnya tetap saja : dua-duanya.

Ayat-ayat tentang pembentukan tubuh manusia sangat banyak dalam Al Qur’an . Berpuluh ayat. Sehingga kalau tidak jeli kita akan bingung sendiri. Bahan dasar pembentukan manusia  digambarkan dengan sangat beragam oleh al Qur’an. Ada bermacam tanah yang disebut di dalam al Qur’an seperti tanah keras yg melunak (tanah liat), tanah liat kering, tanah gembur & berdebu, saripati tanah,  dari lumpur hitam, tanah liat (hasil pelapukan), tanah kering seperti tembikar, dll


Masih menjadi misteri,  mengenai berbagai jenis ras manusia. Ada yang berkulit hitam, berkulit putih, kuning, dan sawo matang seperti kita. Apakah ada hubungan penciptaan manusia dengan beragam jenis bahan baku tanah di atas. Yang pasti bukti-bukti arkeologi dari fosil-fosil manusia purba  bisa ditemukan di Afrika yang mayoritas berkulit hitam, di Eropah yang mayoritas berkulit putih, di China yang mayoritas berkulit kuning dan di Indonesia yang mayoritas berkulit sawo matang.

 

Bumi dan Manusia

Bumi adalah planet istimewa yang dipilih Allah sebagai panggung drama kehidupan. Tidak ada planet sesempurna ini yg bisa digunakan sebagai tempat hidup makhluk seperti manusia ini, selama jutaan tahun.  Bahkan sampai rusaknya atau kiamatnya Bumi ini. Kemudian masih diteruskan sampai datangnya hari berbangkit.

Di dalam Al Qur’an Allah bercerita, bahwa Bumi yang sudah rusak pun diperbaiki kembali olehNya agar masih bisa digunakan kembali untuk kehidupan manusia di fase akhirat. Bahwa , di kiamat yang pertama, Bumi  bakal mengalami kerusakan fatal disebabkan oleh serbuan batu angkasa.

Allah berfirman, “Apakah kamu merasa aman terhadap yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan Bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba Bumi itu bergoncang?  Atau apakah kamu merasa aman terhadap yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan megetahui bagaimana peringanKu?” (QS Al Mulk[67]: 16-17)

Begitulah Allah akan menghancurkan Bumi ini dengan cara mengirimkan badai berbatu dari luar angkasa yang akan menyebabkan musnahnya kehidupan di atasnya. Termasuk manusia. Ini lah kerusakah terparah yang akan dialami Bumi sepanjanga sejarahnya yang sudah sekitar 5 miliar tahun.

Namun bumi tidak hancur total. Ia masih berbentuk. Bahkan bertambah dengan material dari angkasa luar, yang berasal dari bebatuan angkasa tsb. Cuma, penghuninya binasa bersama lingkungan hidup yang rusak fatal . Sekian juta tahun kemudian Allah akan mengembalikan fungsi Bumi. Bahkan lebih baik dari sebelumnya. Dan, manusia dibangkitkan kembali utk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya hidup di dunia.

Allah berfirman, “ (Yaitu) pada hari (ketika)  Bumi diganti dengan Bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya berkumpul menghadap kehadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS Ibrahim [14]: 48).   (Bersambung) 



2013/11/24 Muslim Atin <muslim.at...@gmail.com>

nhiday...@gmail.com

unread,
Nov 24, 2013, 11:30:14 PM11/24/13
to hall...@googlegroups.com
Pak Muslim, saya suka akan tulisan tsb, membahas dan mengurai arti ayat-ayat Al-Qu'an serta mamahaminya untuk lebih membumikan Al-Qur'an. Trimakasih. Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Muslim Atin <muslim.at...@gmail.com>
Date: Sun, 24 Nov 2013 22:58:06 +0700

Muslim Atin

unread,
Nov 25, 2013, 7:11:48 AM11/25/13
to hall...@googlegroups.com
pNur & All
Terima kasih respons bapak, , mohon pengkayaan & pendalaman materi bahasan dari bapak. Salam


2013/11/25 <nhiday...@gmail.com>

Muslim Atin

unread,
Nov 26, 2013, 11:12:00 AM11/26/13
to hall...@googlegroups.com

ADA KESALAHAN SAINTIFIK ALQURAN? (6)

Mari kita lanjut pembahasan tentang kisah Adam dan Hawa serta keberadannya di Surga.

Buah Khuldi

Buah Khuldi dianggap sebagai biang keladi turunnya Adam dan Hawa dari Surga. Seandainya, Adam dan Hawa tak makan buah khuldi, niscaya mereka tidak akan terusir dari surga. Dan kita, semua keturunan Adam, masih tetap tinggal di surga dengan segala kenikmatannya. Sampai kini.

Begitulah keyakinan sebagian besar kita tentang peristiwa turunnya Adam dan Hawa dari Surga.. Setan menggunakan buah khuldi itu untuk menyesatkan Adam dan Hawa, agar membangkang perintah Allah…

Ada beberapa kontroversi yang muncul seputar turunnya Adam dan Hawa dari surga itu.  Di antaranya, adalah tentang buah khuldi yang ternyata tidak disebut secara eksplisit oleh Allah. Allah hanya menyebut pohon itu secaar sepintas lalu, tanpa menyebut nama. Nama ‘buah khuldi’ justru muncul dari istilah setan ketika merayu Adam dan Hawa untuk memakannya. Itu pun tidak secara eksplisit menyebut buah. Melainkan menyebut syajaratul khuldi alias ‘pohon keabadian’.

Buah khuldi menjadi salah satu cerita sentral dalam surga Adam. Karena buah khuldi itulah yg dituding sebagai penyebab ‘diusirnya’ Adam dan Hawa dari Surga yang penuh kenikmatan. Dan kemudian harus hidup bersusah payah utk memenuhi kebutuhan hidup di permukaan bumi.

Akan tetapi jika kita mencari di dalam al Qur’an secara lebih teliti, tidak akan pernah menemukan Allah menyebut nama buah khuldi tsb. Karena itu kita harus mengklarifikasinya, agar pemahaman kita tidak simpang siur atau terpengaruh informasi dari agama lain.

Dalam berbagai ayat Allah hanya menyebutnya sebagai “pohon ini”. Di antaranya, Allah berfirman:

  “ Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah olah kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang zalim.” (QS al Baqarah [2]: 35)

(Dan Allah berfirman: “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga  serta makanlah olehmu berdua (buah buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini.” (QS al A’raaf [7]: 19)

Penamaan pohon khludi itu muncul justru dikarenakan setan yang menyebutnya. Syajaratul khuldi bermakna ‘pohon keabadian’. Setan merayu Adam dan Hawa  untuk memakannya dengan alasan Adam dan Hawa bakal hidup abadi karenanya. Dan menjadi penguasa  kerajaan yang tidak akan binasa.

QS. Thaahaa [20] 120

“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon keabadian (syajaratul khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

           Pohon keabadiaan itulah yang memunculkan istilah buah khuldi. Padahal kata ‘buah’ pun secara eksplisit tidak disebut di dalam al Qur’an.  Allah hanya mengatakan, Adam dan Hawa memakan bagian dari pohon itu. Cuma karena biasanya yanag dimakan adalah buah, maka kebanyakan kita mempersepsinya sebagai buah khuldi.  Di kalangan kawan-kawan yang beragama Nasrani digambarkan sebagai buah Apel.

          Sebenarnya kalau kita mencermati substansi ayat-ayat yang terkait dengan pohon khuldi, bentuk fisiknya tidaklah menjadi masalah penting. Yang lebih penting adalah ‘larangan’ Allah untuk mendekati pohon itu. Terbukti Allah, tidak menyebut nama pohon, kecuali hanya menyinggung sepintas dengan sebutan ‘pohon ini’ (haazhihis syajarat). Dan itu bukan hanya sekali, melainkan beberapa kali. Termasuk setan pun hanya menyebutnya dengan ‘pohon ini’.

         QS. Al A’raaf [7]: 20

“Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangnya dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidakmenjadi orang yang kekal!”

Muncullah istilah pohon khuldi itu, sekali lagi, karena kita sendiri yang menamakannya. Berdasar pada ‘rayuan setan’ kepada Adam. Yang menarik, larangan Allah kepada Adam untuk tidak mendekati pohon itu adalah karena Allah tidak menginginkan Adam menjadi orang yang zalim. Pada kedua ayat tsb Allah menegaskan hal itu.

Jadi kunci pemahaman atas pohon  khuldi itu sebenarnya adalah pada kata ‘zalim’.  Kata zalim di dalam al Qur’an  diulang-ulang oleh Allah dalam ratusan ayat. Tak kurang dari 200 ayat, dengan segala variasinya. Makna yang paling dominan adalah ‘melanggar perintah Allah’. Kemudian diikuti dengan arti yang hampir sama seperti ‘menyekutukan Allah’ , ‘mengikuti yang selain Allah’,  ‘berbuat tanpa petunjuk Allah’, ‘menentang himbauan Allah’ , ‘mendustakan Allah’   dan sebagainya. Berikut ini cuplikan sebagian ayat-ayatnya.

“Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS Al An’aam [6]:33)

 

“Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.” (QS al Baqarah [2]: 59)

“Dan di antar mansia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintai nya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah sangat berat siksaanNya (niscaya mereka menyesal.” (QS al Baqarah [2]:165)

          Di ayat lain Allah memberikan gambaran bahwa orang-orang zalim itu adalah mereka yang mengikuti hawa nafsunya tanpa memiliki ilmu pengetahuan tentangnya. Mereka adfalah termasuk orang-orang yang tersesat dan tidak memperoleh petunjuk dari Allah. Apalagi jika perbuatan itu dikarenakan kesengajaan, sehingga dikatakan sebagai kesombongan dan mendustakan Allah.

        QS Ruum [30]: 29

“Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.”

        QS Al An’aam [6]:93

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat kedustaan terhadap Allah

 Atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang-orang yang berkata: “Saya akan menurunkanseperti yang diturunkan Allah”.

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam  tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena ) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat –Nya

        Ketika Adam dan Hawa melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah itu, mereka pun tergolong kepada orang-orang zalim . Allah mengisyaratkan itu pada ayat-ayat QS 2:35 dan QS 7:19. Dan di ayat berikut ini, Allah mengatakan Adam dan Hawa menjadi durhaka dan tersesat karenanya.

       QS Thaahaa [20]: 121

“Maka  keduanya memakan dari pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) di surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.”

       Jadi substansi  pohon larangan itu sebenarnya adalah uji ketaatan Adam dan Hawa. Fisik benda yang dilarang tidaklah menjadi hal yang penting, sebagaimana tersirat dari cara Allah bercerita, yang tanpa menyinggung secara langsung materinya. Yang lebih penting adalah bahwa Allah menguji dengannya, apakah Adam dan Hawa termasuk orang-orang yang taat kepada-Nya.

       Dan ternyata, meskipun sudah dilarang oleh Allah, Adam dan Hawa melanggar juga. Meskipun semua itu dikarenakan oleh lemahnya kemauan mereka, dan lupa atas larangan itu.

      QS Thaahaa [20]: 115

“Dan sesungguhnya telah kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu) dan tidak  Kami dapati padanya kemauan yang kuat.

     Secara umum Allah mengatakan, rugilah orang-orang yang dikuasai oleh setan sehingga lupa mengingat Allah.

      QS Mujaadilah [58]: 19

Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itu golongan yang merugi.

(Bersambung)



2013/11/25 Muslim Atin <muslim.at...@gmail.com>

osmar....@gmail.com

unread,
Nov 27, 2013, 6:55:24 PM11/27/13
to hall...@googlegroups.com
Dear uda Muslim,
Maaf uda ada yg saya harus koreksi tentang buah khuldi. Dalam Alkitab tidak ada disebutkan tentang kesamaannya dgn buah apel. Sama spt dalam Alquran jg tidak disebut namanya dg jelas, tapi dalam Perjanjian Lama,kitab Taurat Nabi Musa, Kejadian 2:17 disebutkan demikian :
ayat 17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."
Mati jangan diartikan secara jasmani tp Adam dan Hawa sudah mati secara rohani ketika mereka makan buah tsb, tapi secara jasmani Adam masih hidup 900 an tahun lagi setelah dia makan buah itu dan jatuh kedalam dunia ini.
Sebenarnya inilah yg disebut dosa warisan, dimana kita seharusnya ada di surga, tp kemudian kita semua keturunan Adam harus mewarisi utk hidup didunia untuk bersusah payah mencari makan, hidup secara daging (hawa nafsu duniawi) dan menghadapi tantangan lain.
Pertanyaannya bagaimanakah kita dapat hidup lepas bebas dari kutukan semua dosa-dosa kita ?
Kemudian setelah akhir zaman (dunia sudah musnah) serta tiba hari penghakiman apakah kita pasti masuk kekal didalam kerajaan Allah ? Demikian semoga dapat bermanfaat.
Salam !
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Muslim Atin <muslim.at...@gmail.com>
Date: Tue, 26 Nov 2013 23:12:00 +0700

aziz_...@yahoo.com

unread,
Nov 27, 2013, 7:54:21 PM11/27/13
to PIMGroup
Greates dOsmar GS. Bagus dengan saling share akan tambah semarak milis ini dengan saling menghormati masing2 keyakinan. Bagaimana menurut Al kitab (kalau bisa disebutkan juga sumber) mis;
Tentang kisah Adam didalam alkitab (injil)maka kita bisa memperhatikan di Kejadian

Kejadian 2:7- kejadian 3:24 (kejadian Nabi Adam);

2.2:7 Kemudian TUHAN Allah mengambil sedikit tanah, membentuknya menjadi seorang manusia, lalu menghembuskan napas yang memberi hidup ke dalam lubang hidungnya; maka hiduplah manusia itu.

2:8 Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur, dan ditempatkan-Nya di situ manusia yang sudah dibentuk-Nya itu.

2:9 TUHAN Allah menumbuhkan segala macam pohon yang indah, yang menghasilkan buah-buahan yang baik. Di tengah-tengah taman tumbuhlah pohon yang memberi hidup, dan pohon yang memberi pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Dstnya

Sorry dOGS, kalau ada tidak benar....... koreksi. Salam
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Wed, 27 Nov 2013 23:55:24 +0000

Wimpie

unread,
Nov 27, 2013, 7:59:55 PM11/27/13
to hall...@googlegroups.com
Pak Osmar, terima kasih atas penjelasan. Teruslah berkontribusi di milis halloPIM yang plural ini. Salam.
 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, November 28, 2013 7:54 AM
Subject: Re: [HalloPIM] Ada Kesalahan Saintifik Al-Quran?

Greates dOsmar GS. Bagus dengan saling share akan tambah semarak milis ini dengan saling menghormati masing2 keyakinan. Bagaimana menurut Al kitab (kalau bisa disebutkan juga sumber) mis;
Tentang kisah Adam didalam alkitab (injil)maka kita bisa memperhatikan di Kejadian

Kejadian 2:7- kejadian 3:24 (kejadian Nabi Adam);

2.2:7 Kemudian TUHAN Allah mengambil sedikit tanah, membentuknya menjadi seorang manusia, lalu menghembuskan napas yang memberi hidup ke dalam lubang hidungnya; maka hiduplah manusia itu.

2:8 Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur, dan ditempatkan-Nya di situ manusia yang sudah dibentuk-Nya itu.

2:9 TUHAN Allah menumbuhkan segala macam pohon yang indah, yang menghasilkan buah-buahan yang baik. Di tengah-tengah taman tumbuhlah pohon yang memberi hidup, dan pohon yang memberi pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Dstnya

Sorry dOGS, kalau ada tidak benar....... koreksi. Salam
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Wed, 27 Nov 2013 23:55:24 +0000

Muslim Atin

unread,
Nov 28, 2013, 8:01:36 AM11/28/13
to hall...@googlegroups.com

Dear pAAP & Osmar & All

TQ atas tambahan informasinya dankoreksi tentang perumpamaan  buah khuldi dan apel antara kaum Kristiani vs Islam. Untuk memastikannya, tidak seperti dalam Islam yang mempunyai hanya satu Kitab Suci Al Quran, perlu dilihat dulu kitab-kitab mereka lainnya   seperti  Injil Johanes, Injil, Mathius, Injil Lucas, Injil Barnabas, Perjanjian Lama,  Perjanjian Baru , Taurat dan Zabur.  Kalau tidak ketemu kata “apel” disemua kitab itu maka benarlah pendapat add Osmar.

Tapi sebetulnya yang penting dalam pembahasan terdahulu adalah pemahaman  substansi “pohon ini” (hadzihis syajarat). 

Kalau pernah nonton film-film ttg kebudayaan Yunani kuno, Imperium Byzantium , seperti  Ben Hur, Spartacus, Helen of Troy, Gladiators dll, maka dalam pesta di kalangan para bangsawan mereka  pasti terlihat buah apel sebagai makanan buah yang paling tinggi nilainya. Jadi apel inilah yang dipersepsi mereka di dalam kitab-kitab yang mereka tulis sebagai buah dari surga.

Kalau setuju, tidak perlu susah-susah  mencari apel tsb,  repot & pusing……….!!

 

Sebaliknya pernyataan add Osmar : “Inilah yang disebut dosa warisan. Kita semua keturunan adam harus mewarisinya utk hidup bersusah payah di dunia” perlu Uda dikoreksi pula.

Pemahaman  “dosa warisan” demikian hanya ada dalam agama Nasrani. Dimana kita semua sebagai keturunan Adam ikut menanggung beban dosanya. Dan karenanya harus ditebus selama hidup di dunia.

 

Sedangkan di kalangan Islam tidak dikenal dosa turunan, seperti ditegaskan Allah dalam Surat QS. Al Israa ayat  15 : “Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain”, dst
 Namun,  tak sedikit yg masih meyakini bhw kita sengsara hidup di dunia ini juga disebabkan oleh kesalahan Adam  memakan buah larangan.  Salam



2013/11/28 Wimpie <wim...@centrin.net.id>

Muslim Atin

unread,
Nov 29, 2013, 11:22:18 AM11/29/13
to hall...@googlegroups.com
ADA KESALAHAN SAINTIFIK ALQURAN? (7)
Diciptakan Dari Satu Makhluk
Tudingan kedua yang diarahkan kepada Al Qur’an adalah tentang penciptaan bangsa manusia yanga berasal dari satu diri. DImana mereka menunjuk Surat Al A’raaf [7]: 189 sbb:
“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya,
 agar dia merasa senang kepadanya.”
Jika dilihat sepintas lalu kita membaca ayat tsb, memang seakan-akan ayat itu menceritakan kisah penciptaan Adam dan Hawa, dilanjutkan dengan keturunan. Tetapi sebenarnya kalau kita mau bersabar sedikit, tidak tergesa-gesa dan bersikap lebih cermat, maka kita akan tahu bahwa yat itu bukan bercerita tentang Adam dan Hawa.
Bagaimna cara mengetahuinya?  Tentu saja dengan tidak mengambil ayat tsb hanya sepotong. Melainkan mengumpulkan ayat-ayat yang terkait dengannya. Misalnya melihat ayat berikut dalam sebuah rangkaian yang lengkap dan lebih holistic, dengan mengambil ayat sesudahnya.
QS. Al A’raaf [7]: 189-190
(189)  “Dialah yang menciptakan kalian dari diri yang satu dan darinya  Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia mersa ringan (sampai) beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau member kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”
 (190) “Tatkala Allah memberi m ereka keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya. Maka Maha Tiinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
Jika kita memahami ayat tsb dari terjemahannya, maka kita akan cenderung untuk menyimpulkan bahwa itu adalah kisah Adam dan Hawa. Tetapi marilah kita lihat kejanggalannya kalau kita menafsirkannya sebagai Adam dan Hawa
Pertama, istilah  nafsin waahidatin  yang dimaknai sebagai  ‘diri yang satu’ itu sebenarnya tidak menunjuk kepada Adam. Karena tidak ada penjelasan yang spesifik yang mengarah kepada Adam. Sehingga istilah ‘diri yang satu’ itu bisa bermakna  ‘asal-usul yang sama’, atau ‘komunitas yang sama’ , atau makhluk universal yang menjadi asal-usul bagi seorang lelaki maupun perempuan.
Ayat yang mirip dengan ayat tsb , yakni sama-sama menggunakan kata  nafs , tetapi dalam bentuk jamak: anfus.
QS. Ar Ruum [30]: 21
“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan0-Nya adalah Dia ciptakan pasangan-pasangan untuk kalian dari anfusikum (golongan/ komunitas kalian sendiri), agar kalian merasa tenteram bersamanya. Dan dijadikan-Nya diantara  kalian cinta dan kasih saying.  Sesungguhnya pada yg demikian ini terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
           Penggunaan kata nafs  atau anfus ini juga digambarkan di ayat lain, yang memperkuat pendapat bahwa yang dimaksudkan itu bukan berupa makhluk manusia yang satu, melainan ‘cikal bakal’ manusia ketika masih berada di rahim. Ayat berikut ini menggambarkan adanya nafs yang diminta Allah untuk bersyahadat di awal-awal penciptaannya.
QS Al A’raaf [7]:172
“Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari tulang punggung mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa (nafs) mereka:
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?”  Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Yang demikian itu) agar di hari kiamat  kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”
Karena itu, istilah nafsin wahidin alias ‘diri yang satu’  yang terdapat dalam QS 7: 189 itu bisa dimaknai sebagai cikal bakal yang sama antara seorang laki-laki dan perempuan. Dalam terminology modern dikenal sebagai  stem cell, yang memang menjadi cikal-bakal manusia, baik yang berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Itulah sebabnya, ayat itu tidak menyebut pasangannya berasal dari pasangan yang lain. Melainkan kedua-duanya berasal dari ‘diri yang satu’.
Jadi kedudukannya sederajat, sama-sama berasal dari diri yang satu. Bukan misalnya, seorang wanita diciptakan dari seorang lelaki. Hawa dari tulang rusuk Adam, ataupun lelaki diciptakan dari seorang wanita, yang dikenalsebagai  mitokondria eve.
Jadi ringkas kata, dalam sudut pandangan bahasa, penggunaan istilah nafs tersebut tidak mengacu kepada Adam sebagai makhluk tunggal  asal-usul seluruh manusia. Nafs terswebut menunjuk kpd sel tunggal yang menjadi cikal-bakal manusia (lk-pr), yg oleh ayat itu diinformasikan berasal dari tulang punggung, alias sumsum tulang belakang.
Hal ini sangat menarik, karena penelitian mutakhir menunjukkan korelasi yang semakin dekat antara stem sel yang terbentuk di sumsum tulang belakang tsb dengan sel spermatagonial.  Penelitian ilmuan Jerman, Prof Karim Nayernia bersama timnya, telah berhasil membuat sperma primitive dari bahan sumsum tulang belakang. Penemuan yang diujikan pada tikus di tahun 2006 itu, ternyata juga bisa dibuat pada manusia dan dipublikasikan pada 2010-2011.
Yang lebih menarik lagi, dari sumsum tulang belakang itu bisa dibuat sperma laki-laki maupun ‘sperma perempuan’. Istilah ‘sperma perempuan’ ini memang terasa asing. Tetapi , dia memberikan gambaran, ada kemungkinan kelak pasangan lesbi pun bisa memiliki anak,karena sperma perempuan bisa dihasilkan dari sumsum tulang belakang seorang wanita, dengan cara menstimulasi sel-sel induk dari sumsum itu di fase embrionalnya sehingga menjadi sel spermatagonial.
Terlepasa dari masalah etika, penemuan ini memberikan argument asi yang menarik atas informasi-informasi AL Qur’an yang dulu diragukan. Diantaranya adalah tentang asal-usul sperma yang berasal dari sumsum tulang belakang  itu. Karena, selama ini pengetahuan biologi memang menyimpulkan sperma terbentuk di  dalam kelenjar testis. Tetapi penemuan yg lebih mutakhir ternyata mendapatkan bukti baru bahwa sel-sel spermatagonial yang lazimnya berada di kelenjar testis itu berasal dari stem sel yang bersumber dari sumsum tulang belakang.
Argumentasi kedua, ayat yang digunakan sebagai dasar untuk menuding terjadinya kesalahan pada penciptaan manusia dari satu diri itu, sebenarnya memang tidak bercerita tentang Adam dan Hawa. Hal itu ditunjukkan pada  ayat 190 Surat Al A’raaf :
“Tatkala Allah memberi  kepada keduanya seorang anak yang sempurna,  maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
        Perhatikanlah ayat ini. Disitu diterangkan pasangan suami istri, lantas dikaruniai seorang anak. Tetapi, anak itu menjadikan mereka berbuat kemusyrikan kepada Allah. Tentu saja , ini bukan cerita Adam dan Hawa. Karena beliau berdua tidak pernah berbuat kemusyrikan sebagaimana diceritakan ayat tersebut.
       Ayat tsb bukan bercerita tentang penciptaan Adam dan Hawa, melainkan penciptaan manusia pada umumnya.  Bahwa manusia laki-laki maupun perempuan sebenarnya berasal dari bahan yanga sama, yaitu  stem cell . Dan ketika mereka memeiliki anak yang banyak, kemudian melupakan Tuhannya. Lebih mencintai anak keturunannya, sampai lupa beribadah kepada Allah sebagai Tuhan yang telah menciptakan dirinya maupun anak cucunya.            (Bersambung)



2013/11/28 Muslim Atin <muslim.at...@gmail.com>
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages