MENGENAL SEJARAH KOMIK INDONESIA
Membaca tulisan pak Wimpie tentang 2 pelukis komik Indonesia yg menjadi illustrator pada komik superhero Amerika, menurut hemat kami dengan jumlah penduduk Indonesia yg lebih dari 230 juta orang dan merupakan peringkat ke 4 dunia seharusnya lebih banyak lagi yang mampu menjadi pelukis komik hebat di jaman digital dengan segala kemudahan dan fasilitas fiturnya.
Saya suka bicara tentang komik karena dunia melukis dan membaca komik termasuk hoby berat saya.
Sekarang komik Indonesia kelihatannya mengalami ‘mati suri’, dan belum lahir lagi komikus-komikus seperti pada 25 tahun silam.
Lihat saja di toko buku-toko buku, rak-rak dipenuhi manga (komik Jepang), terjemahan komik Mandarin (Hong Kong-Singapura) serta alih basa komik superhero Amerika.
Saat ini kita sedikit menemui komik indonesia yang bernuansa indonesia dengan ilustrasi/gambar dan gaya cerita yang sangat indonesia sekali.
Saya masih ingat pada era 1970 banyak kita jumpai “taman bacaan” yang menyewakan komik kepada para pembaca untuk di baca dirumah atau sekedar di baca di taman bacaan tersebut.
Rasanya jaman keemasan komik sebagai tuan rumah dinegeri sendiri hanya didapat dalam 3 dekade utama yaitu:
Komik Indonesia era 1940-50an
Sekitar akhir tahun 1940an, banyak komik-komik dari Amerika yang disisipkan sebagai suplemen mingguan suratkabar. Diantaranya adalah komik seperti Tarzan, Rip Kirby, Phantom and Johnny Hazard.
Kemudian penerbit seperti Gapura dan Keng po dari Jakarta, dan Perfects dari Malang, mengumpulkannya menjadi sebuah buku komik.
Ditengah-tengah membanjirnya komik-komik asing, hadir Siaw Tik Kwei, salah seorang komikus terdepan, yang memiliki teknik dan ketrampilan tinggi dalam menggambar. Beliau mendapatkan kesempatan untuk menampilkan komik adapatasinya dari legenda pahlawan Tiongkok ‘Sie Djin Koei’. Komik ini berhasil melampaui popularitas Tarzan di kalangan pembaca lokal.
Popularitas tokoh-tokoh komik asing mendorong upaya mentransformasikan beberapa karakter pahlawan super itu ke dalam selera lokal. R.A. Kosasih, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Komik Indonesia, memulai karirnya dengan mengimitasi Wonder Woman menjadi pahlawan wanita bernama Sri Asih. Terdapat banyak lagi karakter pahlawan super yang diciptakan oleh komikus lainnya,diantaranya adalah Siti Gahara, Puteri Bintang, Garuda Putih and Kapten Comet, yang mendapatkan inspirasi dari Superman dan petualangan Flash Gordon.
Komik Indonesia era 1950- 60an
Pada era ini Adapatasi dari khazanah kebudayaan nasional serta cerita-cerita dari wayang Sunda dan Jawa menjadi tema-tema prioritas ke dalam media buku komik.
R.A. Kosasih adalah salah seorang komikus yang terkenal keberhasilannya membawa epik Maha Bharata (40 jilid) dan Ramayana (10) yang merupakan sepasang komik wayang terbaik sepanjang masa. Pelukis komik lainnya yang saya ingat adalah Delsy Syamsumar.
Sementara dari Sumatra, terutamanya di kota Medan, terdapat pionir-pionir komikus berketrampilan tinggi seperti Taguan Hardjo, Bahzar, Seriam TS, Djas dan M Ali.S yang menyumbangkan estetika dan nilai filosofi ke dalam seni komik. Di bawah penerbitan Casso and Harris, artis-artis komik ini mengeksplorasi cerita rakyat Sumatra yang kemudian menjadi tema komik yang sangat digemari dari tahun 1960an hingga 1970an.
Ada beberapa komik spektakuler saat itu yaitu; Morina, Panglima Denai, musang berjanggut, Batas firdaus, Panglima Nayan dan Kapten Yani. ( saya beberapa waktu yl dapat mengkoleksi musang berjanggut dan setangkai daun surga karya Taguan hardjo ).
Komik Indonesia era 1970- 80an
Pada masa itu, tersohor nama Lima Pendekar Komik Nomor Satu dari ibukota. Mereka adalah lima serangkai; Ganes Th., Jan Mintaraga, Zaldy, Sim dan Hans.
GANES TH:Legenda dunia komik Indonesia dengan karya legendarisnya, Si Buta dari Goa Hantu. Idenya mirip seperti film Zato Ichi, si pendekar pemijat buta dari Jepang, tetapi lebih mendekati film koboi buta Italia yang dibintangi Cameron Mitchell, The Blind Gunfighter. Sebagian besar karyanya berlatar belakang Betawi tempo doeloe seperti: Tuan Tanah Kedawung, Jampang, Taufan, dan Reo Anak Serigala (murid si Buta). Ganes bukan cuma berkiprah di dunia komik tapi juga menerobos dunia film dengan menulis skenario merangkap penata kostum. Hampir semua komiknya telah difilmkan. Bahkan sebelum tutup usia masih mendukung pembuatan serial sinetron Si Buta dari Goa Hantu dan Reo Anak Serigala untuk teve.
JAN:Komikus yang paling western style. Memakai nama lengkap Jan Mintaraga. Coretannya selevel komikus-komikus kelas satu Amerika. Karya monumentalnya, Sebuah Noda Hitam. Hakekatnya lebih tepat disebut Novel-Komik karena kebagusan cerita dan coretannya. Ketika komik roman menyurut, Jan beralih bikin komik silat seperti Pendekar Kelelawar dan serial superhero Halilintar. Menjelang meninggal masih bekerja di Dunia Fantasi, Ancol, memimpin pelukisan wahana Rama dan Shinta era futuristic.
ZALDY: Lengkapnya memakai nama Zaldy Armendaris. Coretannya sangat disukai muda-mudi zamannya karena gambar cowonya ganteng-ganteng dan cewenya cantik-cantik. Kebetulan abang kandungnya, Hadi Purwanta, adalah seorang penerbit. Komiknya, Setitik Air Mata Buat Peter difilmkan Rapi Film (produksi perdananya) dengan judul Air Mata Kekasih (1971) yang dibintangi pasangan Suzzanna-Budi Schwarzkrone.
SIM:Sim adalah she (marga) dari komikus bernama Sim Kim Toh ini. Ganti nama jadi Simon Iskandar. Pernah menjadi guru menggambar di SMA kawasan Kebun Jeruk, Mangga Besar, sebelum bikin komik-komik samurai Jepang (pengaruh Akira Kurosawa?!). Kemudian beralih jadi komikus spesialis roman remaja. Karyanya paling terkenal, Buku Harian Monita, diangkat dari film drama Hong Kong laris. Kiblatnya memang pada film-film Mandarin, tak heran kalau gambar tokoh-tokohnya mirip profil Lily Ho, Li Ching, Ching Li dan Ling Yun. Setelah masa keemasan komik memudar, Sim beralih menjadi illustrator untuk sejumlah majalah dan wartawan film sampai tarikan nafas terakhirnya.
HANS: Menuliskan nama lengkapnya Hans Djaladara. Komik silat monumentalnya, Pandji Tengkorak. Berlanjut ke Walet Merah dan Si Rase Terbang. Terus terang kisah Pandu Wilantara alias pendekar Pandji Tengkorak kelihatan diilhami cersilnya Liang Yu-hen, Perjodohan Busur Kumala (tokohnya si pendekar gembel Kim Si-ih), dipadukan dengan Django-nya Franco Nero (koboi spaghetti Italia) yang berkelana sambil menyeret peti mati istrinya. Ketika kejayaan komik menyurut, Hans memboyong keluarganya meninggalkan Jakarta untuk mukim di Kebumen, Jawa Tengah. Baru belakangan kembali ke Jakarta. Sekarang Hans menjadi pelukis kanvas, antara karyanya yang apik adalah lukisan Pasar Pisang.
Selain Lima Besar di atas, komikus lainnya:Leo (alias Oen Tiong Ho yang kemudian ganti nama jadi Untung Purwono) dengan komik-komik lucunya seperti Dul Cepot, Tong Gembrot dll. Djoni Andrean, Fashen, Anda Suhendra, , Jeffry, Riy, Floren.
Man (Mansyur Daman) cukup terkenal dengan tokoh Mandalanya.
Dari Bandung: Gerdi WK, U. Sjahbudin (serial Pendekar Bambu Kuning), Har (Harnaeni Hamdan) dan Bram (Bramantyo) (serial Laba-Laba Merah).
Semarang: Indri Soedono (Dagelan Petruk-Gareng)
Jogjakarta: Wid NS (serial Godam) dan HASMI (serial Gundala cs).
Cirebon: Djair Warni (serial Jaka Sembung)
Purwokerto: Budiyanto (Angling Darma)
Surabaya: Teguh Santosa (serial Sandhora, Mat Pelor, Mat Romeo)
Saya kurang tahu apakah selain cerita wayang RA Kosasih, teman2 dari Milis kita
ini ada yang menyukai cerita komik Indonesia lainnya seperti yang saya sarikan
diatas.
Mohon maaf sebelumnya bila kurang berkenan.
Iskandar
Pak Syahril Moenir sudah saya daftarkan di halloPIM. Selamat bergabung bersama lebih dari 170 teman PIM disini. Semoga betah dan rajin mengisi lapaknya. Salam
Ujian yang sesungguhnya terhadap kepemimpinan bukanlah dari mana anda mulai. Melainkan dimana anda berakhir. -- E.F. Hutton
Cerita Pak Iskandar tentang Komik Indonesia sungguh menggugah kenangan masa lalu saya. Hampir semua penulis komik tersebut saya kenali dan saya sudah membaca hampir semua karya mereka. Bahkan komikus era 1940-50 an yang karyanya terbit ketika saya belum lahir masih sempat saya baca. Maklum, dimasa lalu komik cukup panjang usianya. Buku-buku lama selalu bisa di temukan ditaman bacaan.
Sama seperti Pak Ilyas, didekat rumah saya juga terdapat 2-3 taman bacaan. Hanya mungkin sikap orang tua kami yang berbeda. Minat baca saya justru muncul pertama kali ketika ayah saya membelikan komik “Si Kancil yang Cerdik.” Saya bahkan masih ingat serialnya ada 6 jilid. Setelah itu saya dibelikan komik Dolores (lupa nama pengarangnya). Sejak itu minat membaca saya tak lagi terbendung. Saya melahap hampir semua komik yang ada. Dimulai dengan cerita wayang Kosasih, lalu era cerita silat dan super hero seperti yang diceritakan pak Is. Lalu ada era komik saduran seperti karya HC Andersen. Pelukis komik yang paling saya kagumi ketika itu adalah Jan Mintaraga. Dimata saya ilustrasinya tak tertandingi.
Orang tua saya mendukung minat baca saya ini dan selalu ada uang saku tambahan untuk ke taman bacaan. Dalam hal ini saya sungguh berterima kasih pada mereka. Mungkin tak sepenuhnya disadari, tapi mereka telah membuka luas cakrawala dan cara pandang saya terhadap kehidupan.
Tapi kecanduan membaca komik berakhir disekitar SMP. Ketika itu komik menjadi terlalu sederhana bagi saya dan saya mulai membaca novel. Misalnya Wiro Sableng karya Bastian Tito. Tapi saya cukup lama kecanduan serial cerita silat Kho Ping Hoo. Pada masanya, hampir tak ada hari tanpa KPH. Bahkan ketika duduk di kloset sekalipun. Saya rasa saya sudah membaca semua karya penulis tersebut, bahkan karya beliau ketika saya masih balita sekalipun.
Setelah periode KPH, saya mulai membaca beberapa karya penulis lokal seperti Marga-T dan Ashadi Siregar. Tapi tak lama kemudian penulis lokal menjadi terlalu sederhana bagi saya. Saya mulai mengalihkan minat baca saya pada karya novelis asing. Deretan nama Agatha Christie, Alistair McClain, Harold Robin, Eric Segal, Tom Clansy, Sidney Sheldon, Michael Crichton, Dan Bown, John Grisham, dll, mengisi kehidupan saya hingga kini. Dirumah saya punya selemari novel-novel tersebut, koleksi sejak 30 tahun yang lalu. Selalu menarik membaca ilang buku-buku lama, seringkali malah saya sudah lupa jalan cerotanya.
Uniknya belakangan ini saya kembali membaca novel karya penulis lokal, terutama novelis perempuan yang banyak bermunculan belakangan ini. Antara lain Ayu Utami (Bilangan Fu), Laksmi Pamuncak (Amba), Leila S. Chudori (Pulang), dll. Tulisan mereka merupakan karya sastra yang luar biasa. Acungan jempol untuk mereka yang berhasil membawa saya pulang kandang.
Wah jadi kepanjangan. Terima kasih Pak Is. Salam.
Ujian yang sesungguhnya terhadap kepemimpinan bukanlah dari mana anda mulai. Melainkan dimana anda berakhir. -- E.F. Hutton
From: hall...@googlegroups.com [mailto:hall...@googlegroups.com] On Behalf Of Ilyas Ahkab
Sent: Wednesday, April 24, 2013 6:41 AM
To: hall...@googlegroups.com
Subject: Bls: [HalloPIM] KOMIK INDONESIA
Pak Iskandar yth,
Nah ketemu juga. Komik Dolores, Komik Medan lawas ternyata karya komikus legendaris, Taguan Hardjo. Ini adalah komik kedua yang saya baca setelah serial Kancil yang Cerdik. Luar biasa, lebih dari 50 tahun yang lalu, nyaris seusia saya. Dan saya masih ingat komik tersebut. Salam.

Ujian yang sesungguhnya terhadap kepemimpinan bukanlah dari mana anda mulai. Melainkan dimana anda berakhir. -- E.F. Hutton
Entah mengapa cerita komik Dolores berkesan sekali bagi saya waktu itu sehingga masih teringat sampai sekarang. Padahal kisahnya sederhana saja. Apakah karena komik pertama saya baca yang berkisah tentang roman percintaan? Atau karena Dolores-nya tampak cantik?
Dolores, cerita tentang seorang perempuan cantik yang diculik seorang laki-laki (pangeran atau bajak laut lupa), dan ingin Dolores menjadi istrinya. Namun si lelaki tidak memaksanya dan membiarkan Dolores melihat bahwa si lelaki memang mencintainya sepenuh hati. Setelah bertahun-tahun tinggal disana, akhirnya Dolores menerima pinangan si lelaki. Mereka hidup bahagia. Bahkan sampai saat seorang kenalan lama, atau utusan ayah Dolores (lupa) ingin mengajaknya pulang, ia mengurungkan niat karena melihat Dolores hidup bahagia. Salam.
Ujian yang sesungguhnya terhadap kepemimpinan bukanlah dari mana anda mulai. Melainkan dimana anda berakhir. -- E.F. Hutton
From: hall...@googlegroups.com [mailto:hall...@googlegroups.com] On Behalf Of Wimpie
Sent: Wednesday, April 24, 2013 9:38 AM
To: hall...@googlegroups.com
Subject: RE: [HalloPIM] KOMIK INDONESIA
Nah ketemu juga. Komik Dolores, Komik Medan lawas ternyata karya komikus legendaris, Taguan Hardjo. Ini adalah komik kedua yang saya baca setelah serial Kancil yang Cerdik. Luar biasa, lebih dari 50 tahun yang lalu, nyaris seusia saya. Dan saya masih ingat komik tersebut. Salam.

Pak Rohiman.
Karena pertanyaan bapak belum dijawab pak Syahril Moenir, mungkin saya bisa share informasi dari seorang keponakan saya yang kuliah di Seni Rupa ITB. Sewaktu SMA (Jakarta), dia ikut bimbingan di Vila Merah di bilangan Gandaria Jakarta. Bimbingan Vila Merah Jakarta itu adalah cabang dari Vila Merah Bandung yang juga punya kegiatan serupa yaitu Pra Universitas Seni Rupa, Desain, dan Arsitektur.
Coba hubungi mereka di:
VILLA MERAH
Pra Univesity / Art / Desain / Architecture
Bimbingan Persiapan Ujian Seleksi Masuk FSRD & Arsitek
Jak-Tim 021-47863191
Jak-Sel 021-7246725
Semoga bermanfaat. Salam.
Hallo bapak2 pencinta komik, sayapun dulunya pembaca komik, sama dng sy perokok dulu dan sekarang sudah tidak sy sentuh lagi.
Saya baca tulisan bapak-bapak, maka sy dpt simpulkan bahwa bapak adalah pencinta dan ahli membaca komik, bahkan bisa menggambar, tau nama pengarangnya, ingat judul ciritanya dan sebagian masih punya koleksi malah sempat terwaris kepada ketutunan.…. Brafo, brafo utk bapak.
Sangat bertolak belakang dng sy. Bapak adalah benar adanya dan sy adalah “pacu goni” boleh dibilang begitu. “pacu goni”.adalah istilah yg sy simbulkan sebagai kalau yg A jalan kekanan, yg B jalan kekiri, sementara yg benar adalah A, maka kepada B sy sebut “pacu goni”.
Di Mdn dulu kira thn 1953-4 berkecamuklah lotre dipasar mlm di PON 3 Medan dan film Lampu Aladin di bioskop2., sy- mendengar dari cerita gerombolan ibu2 pagi2 yg sdh nonton- berkeinginan sekali mau jadi Aladin, anak muda serba bisa, mendadak punya istana dan kaya raya.
Dlm kerinduan itu sy kembali ke Bukittinggi dan pendek cerita komik lampu aladin,- yg besarnya sebesar kwitansi kecil sekarang, dijilid pada sisi yg pendek- sdh dpt sy beli.. Komik itu sy baca berkali-kali dan akhirnya dirampas seorang pemuda yg lebih besar dari sy karena kuatir dia, sy akan menjadi aladin punya segala yg dpt tinggi status darinya.
Sy pun tak berhenti cari komik, walaupun utk membeli lagi komik aladinpun sy tak mau karena sudah hapal ciritanya, cuma yg tak ada diceritakan adalah bagaimana aladin mendapatkan ilumunya, sebenarnya inilah yg sy cari, sampai sekarang pun belum ketemu.
Sampai disini. Bolehkah Sobat pembaca komik: pak Iskandar, Pak Wimpie, pak Syahriel, pak Iqbal, pak Roy, pak Noorhan dan banyak lagi termasuk Cek MIA para pencinta komik, kirimi sy mana tau kalau selama membaca komik ketemu cara aladin mendapatkan ilmunya itu. Ha. ha. ha. ha. itung2 kalau berair sawah diatas sawah dibawah pasti basah.. Uhui…..
Dlm pencarian komik, Sy dpt kan komik dari Koran bekas singapur , sy tak pandai membacanya. Sementara sy masih ingin membacanya. Maka sy mulai membaca gambar. Dari situlah inti perbedaan sy dengan bapak2 sy hanya membaca gambarnya saja, kerena membaca komik berbahasa ingeris itulah sy jadi tak pernah membaca teks yg ditulis, sampai kepada masa sy sdh sanggup membeli komik yg berbhs Indonesia sekalipun.
Dulu kalau sy beli komik mka yg sy pilih: Tokoh anak mudanya,karakternya sy bisa lihat dari gambarnya, judul dan tebalnya, yg ini sy pilih sedang. Dng latihan membaca gambarnya saja, lama2 sy cepat mengerti dan cepat membaca, biasanya satu hari satu komik.
Gambar-gambar komik yg dinamis itu, mejadi kesenangan sy membacanya tanpa teks. Biasanya anak muda adalah sipenolong dan akhir cerita pasti menang. Disini sy ingat pesan bapak sy dikala sy pertama kali mau merantau sendiri. Dengan air mata yg ditahan, beliau berkata, sambil memagut sy, “jangan kuatir sesempit-sempit jalan anak raja pasti duduk”.
Anak sy laki ataupun perempuan tak begitu tertarik dng komik. Sy bilang terserahlah dan toh mana ada sejarah bapaknya yg sama dng anaknya dan pada dasarnya menurut keyakinan sy pula, sejarah hidup setiap orang merupakan takdir pemberian dari Tuhan setelah diperjuangkan memberikan bentuk yg berbeda-beda. Uhui…..
Utk sekedar iseng2
Salam hormat
Darwin
From:
hall...@googlegroups.com [mailto:hall...@googlegroups.com] On Behalf Of Ilyas Ahkab
Sent: 25 April 2013 6:57
To: hall...@googlegroups.com
Subject: Bls: [HalloPIM] KOMIK INDONESIA
Pak Iskandaryth,