Mitos Seputar Biografi Nabi Muhammad SAW (2)

92 views
Skip to first unread message

Wimpie

unread,
Dec 30, 2014, 8:59:21 PM12/30/14
to hall...@googlegroups.com

Mitos Seputar Biografi Nabi Muhammad SAW (2)

Ini lanjutan dari tulisan saya tentang riwayat hidup junjungan Nabi kita, Muhammad saw.

Di bagian pertama, saya menyimpulkan, penetapan kelahiran Nabi pada tahun gajah itu mitos belaka; apalagi tanggal detailnya, 12 Rabi'ul Awal. Fase penting lain dalam kehidupan Nabi Muhammad saw ialah penerimaan wahyu pertama sebagai tanda pengangkatannya sebagai Nabi.

Kitab-kitab sirah nabawiyah (biografi Nabi) menceritakan kisah penerimaan wahyu pertama secara detail, dan tak perlu diulang di sini. Yang saya ingin diskusikan singkat ialah "kesepakatan" para sejarawan Muslim bahwa Nabi saw menerima wahyu ketika berumur 40 tahun.

Tampaknya buku-buku sejarah Islam tidak memberi ruang bagi munculnya perbedaan pendapat soal umur Nabi saat menerima wahyu pertama. Padahal, sebagaimana penetapan tahun kelahiran Muhammad saw bersifat mitos belaka, juga penetapan tahun pengangkatannya sebagai Nabi.

Lalu, kenapa mereka menetapkan 40 tahun sebagai umur Nabi saat menerima wahyu dan diangkat sebagai Nabi?. Dalam tradisi Arab, juga tradisi banyak peradaban lain, angka 40 tahun dianggap sebagai usia kematangan seseorang untuk mengemban tugas besar. Anggapan umum adalah bahwa seorang laki-laki mencapai puncak kematangan fisik dan intelektual ketika ia mencapai usia 40 tahun. Orang Inggris bilang, "Life begins at 40."

Di usia muda, seseorang kurang bijak dan tidak punya disiplin untuk mengendalikan diri dan emosinya. Demikian juga ketika seorang sudah berusia lanjut, sifat-sifat bijak mulai digerogoti kekuatan fisik yang mulai melemah. Di antara kedua kutub usia tersebut, keseimbangan kekuatan fisik dan kematangan emosional terjadi ketika seseorang berusia 40 tahun. Keyakinan umum ini juga yang direkam oleh al-Quran surat al-Ahqaf (46) ayat 15: "mencapai kematangan saat berusia 40 tahun."

Sepertinya, keyakinan tentang pentingnya angka/usia 40 tahun itu cukup luas, termasuk juga di India. Dalam Muruj al-dzahab, Mas’udi mengatakan, orang-orang India tidak membolehkan seorang raja menggunakan topi kerajaan sebelum berusia 40 tahun.

Angka 40 tahun juga punya nilai penting dalam tradisi kenabian yang direkam dalam kitab suci Taurat. Dalam kitab Kejadian 7:7, Musa diutus menghadap Fir’un, raja Mesir, dalam usia 80 tahun, dan meninggal pada usia 120 tahun (Ulangan 31:2). Artinya, Nabi Musa mengemban misi (kenabiannya) selama 40 tahun. Saya kira, dalam kerangka ini, angka/umur 40 tahun usia Nabi perlu dibaca, dan tidak harus dimaknai secara historis.

Dalam tulisan berikutnya, saya akan diskusikan lebih detail problem-problem serius dari narasi kitab-kitab sirah (biografi Nabi). Berbagai narasi tentang episode kehidupan Nabi saw memang bermasalah apabila dilihat dari lensa kesarjanaan modern. Salam.

Catatan:

-        Perlu diingat bahwa kita tidak sedang membicarakan figur Nabi Muhammad itu sendiri, hanya sebatas sudut pandang sejarah, agar kita tak masuk kedalam ‘perdebatan’ ajaran agama.

-        Mun'im Sirry adalah teman diskusi saya dalam memahami banyak hal, terutama soal keagamaan).

 

 

Mun'im Sirry

Department of Theology and Kroc Institute for International Peace Studies, University of Notre Dame, USA

Assistant professor, theology Interests: Modern Islamic thought; interreligious relations; Qur’anic studies; political theology

Recent positionl/institution: Postdoctoral research associate, Notre Dame.

Education: Ph.D.. University of Chicago; M.A., University of California, Los Angeles; LL.B.I, LL.M., International Islamic University, Pakistan

 

The aim of argument, or of discussion, should not be victory, but progress - Joseph Joubert

 

aapa...@gmail.com

unread,
Dec 30, 2014, 11:23:06 PM12/30/14
to Hallo PIMGroup
"Mengenal Mun'im A Sirry Penulis Tafsir Surat Al-Ikhlas (1,2,3) & Mitos Seputar Biografi Nabi Muhammad SAW"

Ass. WW dan selamat pagi seluruh Rekan2 Milis PIM. Semoga kita semuanya bahagia terus didunia dan juga di akhirat kelak dengan Hidayah Allah SWT.

Tulisan seseorang sangat erat dengan latar belakang kehidupannya, keyakinan dan misi yang diembannya.
Demikian juga dengan sdr. Mun'im Sirry yang berpendidikan (education) : Ph.D.. University of Chicago; M.A., University of California, Los Angeles; LL.B.I, LL.M., International Islamic University, Pakistan.

Yang bersangkutan adalah membawa misi Jaringan Islam Liberal (JIL) Kelompok "Penerus Perjuangan" yang memang bertujuan menggoyahkan aqidah Umat Islam dengan Ilmu Pengetahuan yang dimilikinya melalui tulisan2 dan dakwah mereka.
Sdr. Mun'I'm Sirry selalu mengedepankan sudut pandang antagonistik dari Sejarah Islam maupun pemahaman Tafsir Al Quran.
Yang bersangkutan berupaya dan ingin menempatkan konsep Fiqih yang "mensetarakan semua agama" penganut agama lain sama dengan umat Islam dan membuka lanskal keberagamaan serta toleransi" dari umat islam, namun tidak mempermasalahkan dari sisi agama lain.
Bagi "MU'MIN", kelahiran Rasulullah Muhammad SAW bukan mitos, namun sudah final dengan firman Allah SWT serta Hadits Rasulullah sbb;

1). Kelahiran Nabi Muhammad sebagai
rahmatan lil-’alamin, sesuai firman Allah SWT dari salah satu ayat Al Qur’an;
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِين
“Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-’aalamiin (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam)”. (QS Al Anbiya’ : 107).

Dalam ayat tsb, “rahmatan lil ’alamin”,  secara tegas dikaitkan dengan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Artinya, Allah tidaklah menjadikan Nabi SAW sebagai rasul, kecuali karena kerasulan beliau menjadi rahmat bagi semesta alam. Karena rahmat yang diberikan Allah kepada semesta alam ini dikaitkan dengan kerasulannya, maka umat manusia dalam menerima bagian dari rahmat tersebut berbeda-beda.
Ada yang menerima rahmat tersebut dgn sempurna & ada pula yg menerima rahmat tersebut tidak sempurna.

Semoga kita menerima rahmat Allah SWT dg sempurna & mencontoh akhlaq Rasulullah SAW, sesuai firrman Allah (yang artinya); “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al Ahzab: 21). Dan firman-Nya (yang artinya), “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.
(QS. Al Qalam : ayat 4)

Bahkan mencontohkan & mempraktikkan adab dan akhlak mulia adalah salah satu tugas utama sebagai rasul, sebagaimana beliau bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”. (HR Bukhari dalam Al Adabul Mufrad).

2). Kelahiran Rasulullah Muhammad SAW pada hari Senin, walaupun tanggal dan bulannya dipermasalahkan karena tidak ada catatan akurat.
Hadits sahih;
Dari Abu Qotadah Al Anshori ra, Rasulullah saw pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

“Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162)

Sedangkan tahun kelahiran beliau adalah pada tahun Gajah. Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad berkata,

لا خلاف أنه ولد صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بجوف مكّة ، وأن مولده كان عامَ الفيل .

“Tidak ada khilaf di antara para ulama bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir di kota Mekkah. Dan kelahirannya adalah di tahun gajah”.
Jadi, yang terpenting tidak membahas mitos kajian manusia, apalagi sumbernya tidak dari para perawi dan penafsir Al Quran yang shahih & mufassiririn.

Karena sdr. Mun'im A Sirry bebas meng-ungkapkan pemikirannya termasuk Surat Al Ikhlas dan Mitos Biografi Nabi SAW, maka berikut ini saya sajikan tulisan latar belakang sdr. Mun'im Sirry salah seorang kelompok JIL, untuk memaknai misinya.

A. Biografi "Mun'im A. Sirry"

Mun'im A. Sirry; adalah peneliti pada Yayasan Wakaf Paramadina. Ia pernah nyantri di Pondok Pesantren TMI al-Amien Prenduan Sumenep Madura (1983-1990) di bawah asuhan KH. Moh. Idris Jauhari.
Ia menyelesaikan S1 dan S2 pada Faculty of Saria'a and Law International Islamic Univercity, Islamabad, Pakistan (1990-1996) dan menerima beasiswa Fullbright untuk melanjutkan studinya ke Amerika Serikat.

Beberapa karya tulisnya adalah :
1). Membendung Militansi Agama (Jakarta: Penerbit Erlangga, September 2003),
2). Dilema Islam Dilema Demokrasi: Pengalaman Baru Muslim dalam Transisi Indonesia (Jakarta: Gugus Media, Mei 2002),
3). Sejarah Fiqih Islam: Sebuah Pengantar (Jakarta: Risalah Gusti, Juli 1995) ci-author Mutiara Terpendam: Perempuan Dalam Literatur Islam Klasik (Jakarta: Gramedia, 2002), Melawan Hegemoni Barat (Jakarta: Penerbit Lentera, 1999),
4). Editor dan penerjemah buku Islam Liberalisme Demokrasi (Jakarta: Paramadina, 2002).
5). Menerjemahkan beberapa buku antara lain Islam Ditelanjangi.

"Prestasi" Mun'im dalam mengembang-kan paham pluralisme di tanah air terukir dengan dikeluarkannya buku berjudul Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif- Pluralis yang diterbitkan Yayasan Wakaf Paramadina bekerja sama dengan The Asia Foundation pada 2003.
Buku ini cukup menghebohkan dan menuai banyak kritikan. Berbagai debat, diskusi, dan seminar diadakan membahas buku tersebut. Bahkan ada beberapa buku terbit khusus men-counter keberadaan buku tersebut.

Walhasil, hanya dalam waktu 1,5 tahun buku Fiqih Lintas Agama sudah naik cetak sampai 7 kali cetak.
Buku tersebut ditulis bareng-bareng oleh sebuah tim yang terdiri dari Zainun Kamal, Nurcholish Majid, Masdar F. Mas'udi, Komaruddin Hidayat, Budhy Munawar-Rahman, Kautsar Azhari Noer, Zuhairi Misrawi, dan Ahmad Gaus AF.

Dalam kata pengantarnya Mun'im menyatakan maksud dikeluarkannya buku tersebut; "Sejauh yang kita amati, Fiqih klasik cenderung mengedepankan sudut pandang antagonistik bahkan penolakan terhadap komunitas agama lain. Banyak konsep Fiqih menempatkan penganut agama lain lebih rendah ketimbang umat Islam sehingga berimplikasi meng-exlude atau mendiskreditkan mereka.
Buku ini lahir dari keprihatinan itu sembari bermaksud membuka lanskal keberagamaan yang lebih jauh terbuka dan toleran". (kata pengantar editor, hal. X)
Buku tersebut terdiri dari empat bagian; Bagian pertama tentang Pijakan Keislaman bagi Fiqih Lintas Agama (berisi Ajakan Titik Temu Antar Agama, Semua Agama adalah Kepasrahan kepada Tuhan, Konsep Ahli Kitab, Kesamaan Agama),

Bagian kedua tentang Fiqih yang Peka Keragaman Ritual Meneguhkan Inklusivisme Islam (berisi Mengucapkan Salam Kepada Non Muslim, Mengucapkan Selamat Natal dan Hari Raya Agama Lain, Menghadiri Perayaan Hari Besar Agama Lain, Do'a Bersama dan Mengijinkan Non Muslim Masuk Masjid),

Bagian ketiga tentang Menerima Agama Lain Membangun Sinergi Agama-Agama (berisi Fiqih Teosentris, Konsep Ahlu Dzimmah, Konsep Jizyah, Kawin Beda Agama, Waris Beda Agama, Budaya Menerima yang Lain).

Bagian ke-empat sebagai bagian terakhir tentang Meretas Kerjasama Lintas Agama (berisi Bentuk-bentuk Dialog Agama dan Bentuk-bentuk Kerjasama).
Dalam buku tersebut, tanggapan paling banyak adalah soal nikah beda agama.

Dalam buku tersebut dikemukakan, "Soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihadi dan terikat dengan konteks tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antar agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena kedudukannya sebagai hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apa pun agama dan aliran kepercayaannya." (hal. 164).........???!.

Penutup
Kalau melihat apa yg pernah ditulisnya, nampaknya sdr. Mun'im Sirry memang betul-betul menganut paham liberal dalam beragama, merupakan tokoh JIL urutan no. 39 (Kelompok Para Penerus Perjuangan) dari Daftar 50 TOKOH JIL INDONESIA.


B. MENJUAL ISLAM DEMI DOLAR

Wawancara Prof Dr Hj Huzaemah Tahido Yanggo, MA , Pakar Perbandingan Mazhab Hukum Islam dengan "Majalah Sabili"

Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof Dr Huzaemah Tahido Yanggo, lantang mengemukakan hal tersebut.

Peraih gelar doktor bidang fiqih dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir ini, tanpa beban, menyatakan ada kepentingan materi di balik munculnya berbagai paham liberal di masyarakat. Demi dolar, itu kata-kata yang tepat untuk sebuah paham yang mengusung liberalisme.

Setelah laporan dari wartawan-wartawan Sabili yang ditugasi mewawancarai sejumlah narasumber terkait paham liberal, masuk ke meja redaksi. Sejumlah fakta dan data dari nara sumber terkait soal dana menjadi jawaban kenapa para pengusung paham liberal acap kali melontarkan pemikiran-pemikiran nyeleneh.

Menurut penerima penghargaan atas prestasi kepemimpinan dan manajemen peningkatan peranan wanita dari menteri negara peranan wanita RI tahun 1999 ini, tangan-tangan asing menyokong para pengusung paham liberal itu di Indonesia untuk kepentingan mereka.

Berdasar pengamatan mantan anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu, selama ini dukungan pihak asing dilakukan melalui berbagai proyek, seperti pengadaan buku-buku, seminar, lokakarya dan penelitian-penelitian, terutama yang mengusung pemikiran liberal.

Menurut Prof Huzaemah, Ketua KISDI Adian Husaini. Cendekiawan Muslim yang baru saja meraih gelar doktor di salah satu universitas di Malaysia ini mengakui, umat Islam kadang terlambat merespon munculnya paham liberal karena kaum Muslimin menganggap pemikiran dan kajian ilmiah tidak lebih penting dari politik, ekonomi dan lainnya.

“Politik, ekonomi dan lainnya penting, tapi ilmu lebih penting sebab ilmu adalah landasan tegaknya iman. Jika ilmu rusak, akan lahir ulama rusak yang akan lebih berbahaya daripada orang kafir yang rusak”, tandasnya.

Soal menjamurnya paham liberal, Adian mempunyai pandangan sendiri. Menurut Anggota Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini, paham bebas yang cenderung kebablasan ini akan terus muncul sepanjang masa, sebab ada pihak-pihak yang menjadi produsen, distributor, pengecer dan pengasongnya.
Khusus di Indonesia, paham liberal ini mulai hidup sejak tiga puluh tahun lalu. Kalau saat ini paham liberal marak, sangat dapat dimaklumi sebab mereka sedang menuai hasilnya. “Para pendukung pemikiran nyeleneh ini bisa saja dari perorangan, lembaga, bahkan negara”.
Pendapat dua orang cendekiawan Muslim tersebut bisa jadi mewakili sebagian pandangan umat Islam Indonesia. Perihal kepentingan uang di balik munculnya pemikiran-pemikiran liberal di Indonesia, dapat dicocokkan dengan sejumlah fakta di lapangan.

Pada kata pengantar Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD KHI) misalnya, secara gamblang, Tim Pengarusutamaan Gender (TPG) Pimpinan Musdah Mulia mengucapkan terima kasih pada The Asia Foundation (TAF), sebuah LSM internasional yang acap kali memberikan bantuan dana kepada para NGO lokal. Menurut sejumlah kalangan, sudah barang tentu ucapan terima kasih TPG kepada TAF itu bukan sekadar basa-basi, namun benar-benar ada maksudnya.

Hal ini diperkuat oleh pendapat salah seorang pejabat Departemen Agama yang tidak mau disebutkan namanya. Kepada SABILI, pejabat ini menyatakan, untuk me-ngegolkan CLD KHI, The Asia Foundation mengucurkan dana sebanyak enam miliar rupiah. Dana sebesar itu digunakan untuk melakukan penelitian lapangan ke sejumlah daerah. “Dana itu tidak ada yang gratisan,” tandas sumber SABILI itu.

Soal kucuran dana pihak asing tersebut juga diakui sendiri oleh Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla. Saat diwawancarai Majalah Hidayatullah Desember 2004 lalu, Ketua Lakpesdam NU ini mengaku dapat kucuran dana sebesar 1,4 miliar rupiah per tahun dari TAF untuk tujuan mendorong politik sekular di Indonesia.

Sayangnya SABILI tidak memperoleh tanggapan soal ini dari Ulil. Saat SABILI mengonfirmasi soal kebenaran dana di atas, pentolan kelompok JIL ini menolak diwawancara. Bahkan saat wartawan SABILI meminta waktu untuk wawancara, Ulil malah menjawab “Saya tidak bersedia diwawancarai SABILI”. Ketika SABILI balik bertanya kenapa ia tidak bersedia diwawancarai, Ulil balik menjawab serupa, “Begini, saya nggak mau diwawancarai SABILI.” Setelah Ulil menjawab itu, telepon pun terputus. Setelah itu, Ulil tidak pernah menjawab meski sekali pun telepon dan sms dari SABILI.

Seorang profesor hukum yang tidak bersedia namanya disebut memaparkan pengalamannya. Saat diundang anggota DPR memberikan masukan soal hukum Islam di DPR beberapa waktu lalu, ia merasakan adanya kepentingan asing di balik paham liberal. Menurut ceritanya, saat kasus revisi Kompilasi Hukum Islam (KHI) mencuat ke permukaan, sejumlah orang dari LSM asing tertentu mendatangi kediamannya. Mereka meminta sang profesor menulis pembaruan KHI dengan imbalan puluhan juta rupiah.

Namun dengan nada halus, sang profesor menolaknya. Tak berhenti sampai di situ. Besoknya, mereka kembali mendatangi sang profesor dan memintanya kembali menulis pembaruan KHI dg menyediakan imbalan yang lebih besar lagi. Namun profesor itu kembali menolaknya. Padahal, mereka sudah menyediakan sebuah secarik kertas sebagai kontrak penulisan. “Saya menolaknya karena mencium ada kepentingan tidak baik dalam kontrak tersebut,” katanya.

Kepada SABILI, pria yang pernah menikahkan pasangan beda agama Dedi Corbuzier dan Karlina ini menolak bila disebut sebagai anggota JIL pimpinan Ulil Abshar Abdalla. Saat diwawancarai SABILI, ia berkali-kali menolak disebut aktivis JIL. “Saya harus tegaskan dulu bahwa saya bukan aktivis JIL, tapi kalau saya diminta mengisi oleh JIL, sesuai latar belakang, saya akan mengisi,” kata Dosen UIN Syarif Hidayatullah ini.

Zainun juga menolak dianggap sektarian. Sebagai seorang akademisi, ia mengaku bisa saja berada di mana-mana, baik di DDII, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) dan lainnya. Bahkan jika para aktivis Ahmadiyah atau Syiah mengundangnya, ia bersedia menghadirinya. “Bukan berarti saya masuk kelompok mereka,” katanya.

Untuk menangkal serangan kelompok liberal tersebut, Adian Husaini mengatakan, yang menjadi prioritas utama adalah melahirkan sebanyak-banyaknya cendekiawan Muslim yang mampu menjawab tantangan pemikiran tersebut, mampu memahami Islam dengan baik dan memahami pemikiran Barat, Kristen, Yahudi dan pemikiran sesat lainnya.

Adian mengutip kisah Sayyidina Umar bin Khaththab ra. Umar menangis bahagia saat seseorang mengritiknya. Adian belum melihat budaya kritik mengritik ini tumbuh di internal umat Islam. Kritik kepada seseorang, menurutnya, masih dinilai sama dengan menjatuhkan. “Ini yang tidak benar. Tradisi kritik ini sulit berkembang jika budaya ilmu tidak berkembang,” tegasnya.

Adian boleh jadi benar. Kehancuran Islam bukan disebabkan kuatnya musuh-musuh Islam, tapi lebih disebabkan lemahnya ketahanan internal umat Islam sendiri. Jika umat Islam kokoh, serangan sedahsyat apapun yang datang dari musuh-musuh Islam, tidak akan mudah menjungkirbalikkan posisi umat.

Jadi, sudah semestinya, umat Islam terus membentengi diri dengan akidah dan pemahaman Islam yang benar.
Insya Allah.

Sumber:
1). Cahaya Akhir Zaman: Mun'im A. Sirry salah satu Tokoh Liberal (JIL) 
http://www.google.com/url?q=http://cahaya-akhir-zaman.blogspot.com/2011/11/tokoh-liberal-munim-sirry.html%3Fm%3D1&sa=U&ei=9NeYVNemMdCAuwT_nYGADQ&ved=0CA4QFjAB&sig2=1Rpt2uNoFLJLScG2EPDdTQ&usg=AFQjCNEAUb9wlKMUCpGuf4dKgawuj9CDUQ

2). Daftar 50 Tokoh JIL (Mun'im Sirry no. 39).
http://www.google.com/url?q=http://m.forum.detik.com/daftar-50-tokoh-jil-indonesia-t42703.html&sa=U&ei=l92YVPDSCsnbuQT_oYIQ&ved=0CA0QFjAA&sig2=rQQAUR0uNDsz350qJqn89w&usg=AFQjCNGSjOOuFv6CJNi8znR3PCejmRD5Tw

3). JIL - Menjual Islam Demi Dolar
http://yakinku.wordpress.com/2008/05/18/jil-menjual-islam-demi-dolar/

Wallahu A'lam bis Shawab,

Sekedar info. Wassalam
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: "Wimpie" <wim...@centrin.net.id>
Date: Wed, 31 Dec 2014 08:59:16 +0700
Subject: [HalloPIM] Mitos Seputar Biografi Nabi Muhammad SAW (2)

--
"BERPIKIR POSITIF, BERBUAT IKHLAS, BERTUTUR BIJAK"

HalloPIM versi facebook untuk berbagi koleksi foto di: http://www.facebook.com/groups/513695411978246/
My Blog: http://ibelievecanfly.blogspot.com/
Tabungan Sosial PMPIM di Bank MANDIRI No. Rekening: 130 00 12356567 an ALAN DJUHERLAN.
CP: Alan Djuherlan: 0813 2071 7187 dan Syaharuddin Noorhan: 0812 655 2580
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "HalloPIM" di Google Grup.
Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/hallopim.

Wimpie

unread,
Dec 31, 2014, 12:44:33 AM12/31/14
to hall...@googlegroups.com

Seringkali membingungkan kalau pendapat bahwa secara historikal waktu kelahiran Nabi Muhammad tidak dapat diketahui persisnya karena biografi nabi Muhammad baru disusun seabad setelah beliau wafat, menjadi serangan terhadap personal penulisnya secara panjang lebar. Dan seperti biasa selalu ada pengelompokkan orang-orang, seperti liberal, plural, antek barat, dll, terhadap mereka yang punya pendapat berbeda. Seringkali saya bertanya-tanya dalam hati, dari mana kita mengetahui bahwa pendapat kita sudah benar dan karena itu mereka yang berbeda sudah pasti salah? Padahal semua pendapat sama-sama berdasarkan tafsir/kajian masing-masing yang bisa benar atau salah. Kadangkala terbersit di fikiran saya, apa jadinya kalau mereka yang ternyata benar ya?.

Tapi oke-lah, benar-salah merupakan hak preoregatif Allah SWT. Bukan kita hakimnya. Hanya ada hal menarik setelah membaca tulisan dari mereka yang menolak, seperti yang disampaikan pak Aziz, ternyata ada pernyataan bahwa tanggal dan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW masih dipermasalahkan karena tidak ada catatan akurat. Pendapat yang sejalan dengan yang di tulis Munim Sirry. Dan kebetulan hanya itu topik yang sedang dibahas, tentang waktu tepatnya kelahiran Nabi.

Sedangkan mengenai personal Munim Sirry yang juga dibahas panjang lebar, saya tak ada komentar karena sangat subyektif. Saya kuatir salah dan menjadi fitnah. Salam.

 

Dont judge my choices if you dont understand my reasons.

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages