“Wahai anak Adam!Aku heran bagaimana orang yang yakin akan kematian
masih bisa bergembira. Aku heran bagaimana orang yang yakin akan hari
perhitungan masih bernafsu mengumpulkan harta. Aku heran bagaimana
orang yang yakin akan dikubur masih bisa tertawa terbahak. Aku heran
bagaimana orang yang yakin akan Akhirat masih bisa berleha-leha santai.
Aku heran bagaimana orang yang yakin akan fananya dunia malah
terjerumus mencintainya. Aku heran pada orang yang pintar mulutnya tapi
bodoh hatinya. Aku heran pada orang yang membersihkan diri dengan air
tapi hatinya tidak bersih. Aku heran akan orang yang sibuk dengan cela
orang lain, namum lupa akan cela dirinya sendiri. Atau pada orang yang
tahu bahwa Allah swt senantiasa mengawasinya, tapi bagaimana ia bisa
bermaksiat kepada-Nya. Atau lagi pada orang yang sudah tahu bahwa kelak
ia akan mati sendirian, masuk kubur sendirian dan dihisab sendirian,
bagaimana mungkin ia masih bisa merasa gembira dengan manusia banyak.
Tiada Tuhan selain Aku dengan segala kebenaran, dan sesungguhnya
Muhammad saw adalah hamba dan utusanku.”(irman Allah dalam hadist Qudsi
sebagaimana yang dikutip dalam kitab al Mawa’iz al-aHadits al-Qudsiyyah
karya Imam al-Ghazali)
“Katakanlah:”Inilah jalanku, aku dan
orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah
yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang
musyrik.”(QS. Yusuf, 12:108)
“Aku hanya bermaksud mendatangkan
perbaikan selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yanga aku ikuti hanya
dari Allah. kepadaNya aku bertawakkal dan kepadaNya aku
kembali.”(QS.Hud : 88)
“Sesungguhnya setiap umat atau
kelompok yang ingin membentuk dan membina dirinya, mewujudkan
cita-citanya, dan membela prinsip-prinsipnya, sangt membutuhkan
kekuatan jiwa yang terekspresikan dalam beberapa hal, yaitu: tekad
membaja yang tidak pernah melemah, kesetiaan teguh yang tidak disusupi
oleh kemunafikan dan penghianatan, pengorbanan besar yang tidak
terhalangi oleh ketamakan dan kebakhilan, serta pengenalan, keimanan,
dan penghargaan kepada prinsip yang dapat menghindarkan dari kesalahan,
penyimpangan, sikap tawar menawar dalam masalah prinsip, serta tidak
tertipu dengan prinsip lainnya.”(Mamu’atur Rasail – Ila Ayyi Syaiin
Nad’un Naas. Hal:45)
“Dan di antara manusia ada orang yang
ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya
kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya. Padahal ia adalah penantang
yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di
bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman
dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kerusakan.”
(Al-Baqarah:204-205)
“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah
kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan perbuatlah kebajikan supaya
kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan
jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali
tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah)
agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian
orang-orang Muslim dari dahulu, dan begitu pula dalam (Al-Qur’an) ini,
supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua
menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah
zakat dan berpeganglah kamu kepada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu
maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”
(Al-Hajj:77-78)
“Allah adalah Pelindung orang-orang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.” (Ali Imran:257)
“Tetapi (ikutilah Allah) Allahlah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Pelindung.” (Ali Imran:150)
“Sesungguhnya
penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman,
yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk
(kepada Allah).” (Al-Maidah:55)
“Sesungguhnya pelindungku ialah
Allah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Dia melindungi
orang-orang yang saleh.” (Al-A’raf:196)
Katakanlah, “Sekali-kali
tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah
bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah,
orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (At-Taubah:51)
“Ingatlah,
sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Yunus:62)
“Yang
demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang-orang
yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada
mempunyai pelindung.” (Muhammad:11)
“Padahal kekuatan itu
hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi
orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (Al-Munafiqun:8)
“(Yaitu)
orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada
orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan
pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,’ maka
perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah
Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”
(Ali Imran:173)
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang
beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran
yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti
orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya,
kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka
menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang
fasik.” (AI-Hadid:16)