Mgkin benar tuhan dimana2. Dan krnnya layak ditumpah2kan.
Untk apa saja.
Termasuk unk mary jane.
Mary yg tak jadi mati. Kurang “sakidus”. Matinya batal di
saat2 terakhir. Pdhal, maut sudah terlanjur memanggil2. Tp mary tak datang. Ia berhasil
di”enggog”kan
dari syahwat maut.
Lalu tuhan ditumpah2kan. Haleluya bekerja. Mary terhindar dari
mati.
Tp ada juga kerja yg lain. Kerja akalsehat hukum. Ketika
human trafficking di-inguk2, dijadikan pertimbangan & diperkenankan jadi
fakta hukum: bhw mary hanyalah korban di human trafficking itu.
Konon itu yg hendak dijadikan novum baru unk menghitung “nasib”
mary atasnama hukum. Hukum yg – semalam, di nusakambangan – nyata2 bisa menstop maut yg hendak njemput
mary.
Tp sayangnya, unk mary & terpidana mati lainnya – maut nyata2
terlanjur punya syahwat. Syahwat yg disahkan negara atasnama “extra ordinary
crime”, yg nunggu mary dkk unk berkencan.
Sekarang luput, ya ntar bisa kapan2. Ato, sekiranya bukan
mary dkk, ntar bisa yg lain lagi. Siapa bisa menstop syahwat maut yg dilegalkan?
Konon itu legalitas syahwat jaman batu yg disana/sini, di adab baru bumi – kini
mulai ditinggalkan.