Keputusan sulit prabu salya (1)

30 views
Skip to first unread message

lorens hardi pranoto

unread,
Oct 21, 2013, 12:29:09 AM10/21/13
to grup...@googlegroups.com

 

[Mahabharata] Keputusan sulit Prabu Salya (1) 

Diceritakan kembali dari "Mahabharata" (R.A. Kosasih) 

Berita ini sungguh membuat bimbang Prabu Salya. Keinginannya untuk berpihak pada Pandawa pada pertempuran yang kelak bernama Bharatayudha itu, terhalang oleh berita dari Hastina. Prabu Duryudana mengirim utusannya ke perkemahannya, membawa berita tentang sakitnya Banowati, anaknya yang bungsu yang menjadi permaisuri Prabu Duryudana. 

Hatinya sungguh berpihak kepada Pandawa dan tentu saja kepada mendiang ayah mereka  Pandu Dewanata yang  tetap dikaguminya.  Prabu Salya adalah kesatria yang cakap dan jujur. Dulu ia rela adiknya Dewi Madrim mendapatkan Pandu sebagai suaminya walau dia sendiri gagal mendapatkan Kunti Nalibrata (Dewi Kunti) karena dikalahkan Pandu, saat diadakan sayembara di Negara Mandura untuk memperebutkan Dewi Kunti. Walau kalah, ia senang Pandu menjadi suami adiknya, yang ia jadikan taruhan bila dia kalah dari Pandu. 

Kecintaannya pada Pandawa bertambah saat Madrim melahirkan Nakula-Sadewa, dua anak kembar yang kelak menjadi kesatria-kesatria cakap dan berbudi seperti kakak-kakaknya. Prabu Salya pun bersimpati pada perjalanan hidup Pandawa, yang seringkali menderita karena kecurangan saudara-saudara misannya sendiri, para Kurawa. Direbut haknya atas tahta Hastina sebagai penerus ayahnya Pandu, sampai harus mendirikan kerajaan sendiri (Indraprasta) di tanah yang dulunya hutan belantara (hutan Kandawa), dan toh akhirnya tetap harus kehilangan Indraprasta karena permainan dadu oleh Kurawa, berkat olah pikiran licik Sangkuni. 

Salya menyadari ia bukanlah seorang yang rendah hati, bahkan banyak yang mengatkan sebagai orang sombong (apalagi sewaktu masih muda). Walau demikian dia mencintai kebenaran dan kejujuran. Kecintaannya pada kebenaran dan kejujuran inilah yang membuat hatinya berpihak pada Pandawa. 

Maka ketika ia mendengar berita tentang kesepakatan Pandawa dan Kurawa untuk berhadapan di padang Kurusetra, dan setelah ia mendapat surat permintaan bantuan dari Prabu Yudhistira, ia pun tak berpikir panjang lagi, mempersiapkan pasukannya dan berangkat ke Wirata, tempat para Pandawa berdiam saat ini. 

Namun kedatangan utusan Prabu Duryudana di tengah perjalanannya ke Wirata yang membawa berita sakitnya Banowati, tentu saja membuat ia bimbang; apakah akan meneruskan perjalanannya ke Wirata bersama pasukannya, atau harus membatalkan rencana ini dan pergi ke Hastina untuk menengok Banowati. Ia harus mengambil keputusan malam ini, sebelum esok hari harus kembali melanjutkan perjalanan. 

Maka malam itu, saat ia menimbang-nimbang keputusannya, pikirannya pun melayang ke masa lalu.

Narasoma ( nama waktu muda) adalah putra mahkota di Kerajaan Mandaraka. Orang bilang dia pemuda yang angkuh, sombong, percaya diri tinggi dan tentu saja ganteng.  Dia menolak waktu akan dijodhkan dengan gadis pihan ayahnya, Prabu Artayana. Maka diusirlah ia karena dianggap melawan orang tua. Berjalan seorang diri tanpa tahu arah yang dituju. Melewati gunung, hutan, dan ngarai. Sampai dia melewati sebuah padang. 

Tanpa ia sadari ada sesosok tubuh besar melayang-layang di udara, mendekatinya. Sesosok tubuh raksasa, namun berpakaian brahma (resi). Sekonyong-konyong resi inipun mendarat dan menghadang Narasoma. Sang resi raksasa ini pun memperkenalkan dirinya, Resi Bagaspati namanya. Dia pun tanya identitas Narasoma. Narasoma pun terus terang saja membuka identitasnya. 

Tak disangka sang resi mengatakan bahwa dia ingin menikahkan Narasoma dengan putrinya. Tentu saja Narasoma kaget, tak percaya apa yang didengarnya.

Apa? Menikah dengan seorang anak raksasa? Siapa yang mau? Aku, anak seorang raja, yang diingini setiap wanita, menikah dengan seorang raksesi? Mimpi buruk pun tak pernah.

Maka keluarlah semua kata-kata makian Narasoma, yang merasa dirinya dilecehkan sebagai seorang putra mahkota. 

Tersinggung sang resi. Tapi ternyata dia orang sabar.

Bagaspati bilang, janganlah kamu menilai anakku seperti ayahnya. Lihatlah dulu, baru boleh menilai. Anakku adalah seorang putri cantik”.

Tapi mana Narasoma mau percaya. Anak raksasa ya pasti raksasa juga, katanya. 

Maka kemudian sang resi menceritakan tentang anaknya. Katanya, anaknya suatu malam bermimpi, bertemu dengan seorang kesatria sangat tampan, dan menikah dengannya. Sang anak minta agar bapaknya berusaha menemukan kesatira impiannya itu.  Maka berbulan-bulan Bagaspati mencari sang pemuda, sampai bertemu dengan Narasoma sekarang dan ia punya firasat Narasoma-lah yang telah hadir dalam mimpi sang anak. 

Mendengar cerita ini, dasar pemuda sombong, Narasoma tetap tak mau percaya. Dia malah menantang tanding dengan sang resi. Maka tak ada pilihan bagi Bagaspati meladeni pemuda sombong ini. 

Mereka bertanding, maksudnya berkelahi. Semua ajian Narasoma dapat dengan mudah dipatahkan Bagaspati, dan akhirnya Narasoma pun dilumpuhkan dan pingsan. Bagaspati pun kemudian membawanya terbang ke tempat tinggalnya, sebuah padepokan bernama Padepokan Argabelah. 

Tiba di padepokan, Narasoma siuman dan dia mendengar suara seorang wanita yang menjawab panggilan ayahnya yang baru datang. Sang ayah menyuruh si anak melihat ke luar, apakah pemuda yang ia bawa ini cocok dengan yang diimpikan sang anak. Dan ternyata benarlah. Kata si anak, dialah pemuda tampan yang telah hadir di mimpinya.

Narasoma yang semula sama sekali tak ingin melihat, pelan-pelan membuka matanya begitu mendengar suara yang merdu. Ketika ia melihat si gadis, tak percaya dia dengan apa yang dilihatnya. Sesosok wanita yang sangat jelita. Tak pernah ia melihat wanita secantik itu. Pakaiannya sederhana sebagaimana gadis desa, tanpa `make-up' pula, namun sungguh cantik. Benarlah kata Bagaspati, anaknya adalah seorang wanita sempurna, cantik pula. 

Narasoma langsung jatuh hati pada pandangan pertama kepada gadis itu. Pujawati namanya. Tak perlu ditanya dua kali oleh sang resi, Narasoma langsung berubah pikiran dan bersedia menikah dengan Pujawati. 

Maka dinikahkanlah Narasoma dengan Pujawati oleh Resi Bagaspati di padepokan Argabelah. Sebuah pernikahan yang sangat sederhana, namun sungguh indah dan agung terasa oleh keduanya. Mereka mengikrarkan cinta sehidup semati. Sang resi pun mencatat janji Narasoma bahwa hanya Pujawati-lah satu- satunya wanita dalam hidupnya. 

Berbulan-bulan Narasoma tinggal di Argabelah. Suatu hari, ketika mereka memadu kasih, Pujawati berkata bahwa, cintanya pada Narasoma bagai kuku. Setiap kali dipotong, selalu tumbuh lagi.  Demikianlah cinta Pujawati, tak akan pernah mati, dan ia akan setia menemani Narasoma dalam hidupnya. Sungguh perumpamaan yang indah, kata Narasoma. 

Narasoma pun tak kekurangan kata cinta. Dia katakan, cinta yang ia rasakan pada Pujawati sangatlah murni sekaligus lezat, bagai sepiring nasi putih yang hangat dan harum. Namun sayang, kata Narasoma, ada sebiji gabah terselip di antara nasi itu, yang mengganggu kenikmatan makan nasi tersebut.  Hmm, sebuah perumpamaan yang membuat penasaran Pujawati. 

Apakah gerangan hakikat `gabah' itu, kakanda? Beritahukanlah pada adinda agar adinda dapat menghilangkannya, sehingga tak lagi mengganggu cinta kita”, demikian kata Pujawati. 

Semula Narasoma enggan menjawab pertanyaan istrinya, namun setelah didesak berkali-kali akhirnya Narasoma menyuruh Pujawati menanyakan pada ayahnya, karena pasti sang resi memahami apa yang ia maksud. 

Maka esok paginya, Pujawati pun menghadap ayahandanya, dan dengan polosnya menceritakan pembicaraannya dengan suaminya, khususnya perumpamaan yang dibuat suaminya. Setelah mendengar semua cerita Pujawati, Bagaspati terlihat murung, berkat kebijakannya diapun memahami semua arti perumpamaan menantunya itu.   


--
Salam,
Lorens Hardi Pranoto

lorens hardi pranoto

unread,
Oct 31, 2013, 4:31:02 AM10/31/13
to grup...@googlegroups.com

[Mahabharata] Keputusan sulit Prabu Salya (2) 

Setelah mendengar cerita Pujawati; tentang perumpamaan cinta Narasoma pada Pujawati bagai sepiring nasi putih yang hangat dan harum, sayang ada sebiji gabah terselip di antara nasi itu, yang mengganggu kenikmatan makan nasi tersebut; Bagaspati terlihat murung.

Setelah menyimak cerita anaknya, Resi Bagaspati pun bertanya kepada Pujawati:  "Anakku, aku ingin bertanya padamu dan kau harus menjawab dengan jujur.  Siapakah yang lebih kau cintai, aku ayahmu atau suamimu?" 

Mendapat pertanyaan ini tentu saja Pujawati kaget dan bingung. Alih-alih mendapatkan jawaban atas perumpamaan cinta Narasoma, kini malah harus menjawab pertanyaan dari ayahnya. Lama ia berfikir, namun akhirnya iapun mencoba menjawab dengan hati-hati.  "Ayah, aku sangat mencintai Ayah dan juga Kanda Narasoma. Hidupku terasa lengkap dan bahagia bersama kalian berdua. Seandainya Ayah tiada, maka niscaya remuklah hatiku. Dan seandainya Kanda Narasoma tiada, maka kiranya aku tak kuasa lagi hidup di dunia." 

Mendengar jawaban anaknya Bagaspati pun berkata,  "Anakku Pujawati, sungguh engkau wanita yang berbudi. Aku bangga mendapat jawaban seperti itu darimu. Memang sudah sepatutnya demikianlah jawaban dari seorang istri yang berbakti dan mencintai suaminya. Sekarang, coba kau panggil suamimu Narasoma. " 

Pujawati pun memanggil suaminya dan tak lama kemudian mereka berdua menghadap Resi Bagaspati.  Kemudian sang resi berkata pada menantunya Narasoma,  "Anakku Narasoma, aku telah mendengar cerita Pujawati tentang pembicaraannya denganmu dan aku sepenuhnya memahami arti perumpamaan yang kau sebutkan itu."  Sejenak Bagaspati terdiam, dan Narasoma pun merasa tak enak serta khawatir mertuanya akan memarahinya.  "Aku paham hakikat gabah yang kau maksud itu, dan aku tak menyalahkanmu. Akulah gabah itu, benar kan Narasoma?"

Narasoma hanya dapat terdiam, ada sedikit perasaan menyesal dalam hatinya, namun ia juga sadar sepenuhnya bahwa ia telah berkata jujur pada istrinya, mengungkapkan apa yang ia rasakan.

"Anakku, sebagai anak raja kau merasa malu memiliki mertua sepertiku, seorang raksasa. Apalagi kelak kau akan pulang dan menjadi raja menggantikan ayahmu.  Tak pantas seorang raja memiliki mertua seorang raksasa. Demikian yang kau pikirkan Narasoma?" tanya Resi Bagaspati. 

Kembali Narasoma hanya dapat terdiam.

 "Dengarlah Narasoma. Aku menyayangimu seperti anakku, namun aku sadar kau tak dapat menerima sepenuhnya sayangku sebagai ayah kepadamu. Kiranya sudah waktunya kita untuk berpisah. Sudah waktunya kau kembali ke tempatmu di Mandraka membawa istrimu Pujawati. " 

"Namun sebelum berpisah…" lanjut Bagaspati, "aku ingin membekalimu sebuah kesaktian, sebagai tanda sayangku padamu dan sebagai bekalmu menghadapi berbagai tantangan di masa depan, dan juga untuk melindungi Pujawati istrimu. Aku mempunyai ajian, berupa seorang raksasa bernama Candrabirawa. Dia bersemayam dalam tubuhku. Dia adalah seorang raksasa sakti. Dia dapat dipanggil kapan saja olehku, dan melakukan apa saja yang diperintahkan olehku. Kesaktiannya adalah, apabila ia dilukai, maka setiap tetes darahnya akan menjelma menjadi Chandrabirawa yang baru. Demikian seterusnya sampai jumlahnya bisa ratusan bahkan ribuan, sebelum ia dapat menunaikan tugasnya. Nah aku ingin menurunkan ajian Candrabirawa ini padamu untuk kau gunakan sebagai bekal bagimu di masa depan. Bersediakah kau anakku?" 

Lama Narasoma terdiam. Dia tak pernah meminta apapun dari mertuanya, termasuk ajian seperti ini. Namun ia pun tak ingin menolaknya. Ia sadar sebagai seorang raja tentunya ia membutuhkan kesaktian untuk menghadapi berbagai kemungkinan ancaman terhadap negaranya. 

"Saya bersedia, Rama." jawab Narasoma pada akhirnya. 

Maka Resi Bagaspati pun menyuruh Narasoma bersemedi memusatkan segala pikirannya, dan ia pun duduk bersemedi di samping Narasoma.  Lama mereka bersemedi, sampai kemudian sebuah bayangan berbentuk raksasa keluar dari tubuh Resi Bagaspati dan masuk ke tubuh Narasoma.  Namun setelah itu Resi Bagaspati tak bangun dari semedinya, ia tetap memusatkan perhatiannya.  Tanpa disadari oleh Narasoma, tubuh Resi Bagaspati perlahan lenyap. Narasoma baru menyadari raibnya sang resi ketika Pujawati menubruknya sambil menangis tersedu. Dia mengatakan pada suaminya bahwa ayahnya telah menghilang. 

Tiba-tiba terdengar oleh mereka berdua suara Resi Bagaspati dari atas mereka. 

"Wahai anakku Pujawati dan Narasoma. Inilah saat perpisahan aku dengan kalian.  Aku tak akan bertemu lagi dengan kalian selama-lamanya.  Narasoma, rupanya sayangku padamu hanya bertepuk sebelah tangan. Aku tahu bahwa cintamu pada Pujawati terganggu, karena akulah gabah yang kau maksudkan ada di sepiring nasi itu. Engkau merasa malu memiliki mertua seorang raksasa.  Ketahuilah anakku Narasoma, aku adalah titisan Betara Dharma. Dulu Betara Dharma menitis pada seorang raksasa juga, namanya Sukrasana, seorang yang berbudi. Dia punya seorang kakak yang tampan bernama Sumantri. Mereka berdua saling menyayangi, tapi sayang sang kakak merasa malu memiliki adik seorang raksasa, dan ia pun tanpa sengaja membunuh adiknya itu karena Sukrasana selalu ingin berada di dekat Sumantri. 

Dulu aku ingin kembali dekat dengan titisan Sumantri, karena itu aku berdoa agar diberi anak perempuan cantik agar dapat kunikahkan dengan titisan Sumantri, dan doaku terkabul hingga mendapat Pujawati yang sekarang menjadi istrimu, dan engkaulah titisan Sumantri itu.  Namun seperti Sumantri terhadap Sukrasana, engkau pun tak ingin dekat denganku.  Engkau malu sebagai anak raja dan kelak menjadi seorang raja memiliki mertua seorang raksasa sepertiku. Maka kuputuskan bahwa sudah saatnya kita berpisah sekarang. 

Narasoma, aku telah membekalimu dengan ajian Chandrabirawa. Terimalah ia sebagai rasa sayangku padamu, dan gunakanlah ia untuk melindungi Pujawati.  Jagalah dan cintailah Pujawati sepenuh hatimu.  Anakku, sejak saat ini berhati-hatilah engkau dengan titisan Betara Dharma, karena boleh jadi kematianmu akan terjadi melalui perantaraannya.  Dan Pujawati, anakku tersayang. Cintailah suamimu segenap hatimu, dan sejak saat ini namamu kuganti menjadi Setiawati, karena kesetiaanmu pada suamimu.  Selamat tinggal anak-anakku." 

Demikianlah kata-kata dan wejangan terakhir Resi Bagaspati, dan iapun tak pernah kembali. Pujawati pun menangis sedih ditinggal ayahnya secara tiba-tiba seperti ini. Narasoma tak dapat berkata apa-apa, ia sadar semua telah menjadi takdir yang tak dapat diubah. 

Sesuai perintah ayahnya mereka pun kemudian meninggalkan padepokan Argabelah menuju Mandraka. Beberapa tahun kemudian Prabu Artayana ayah Narasoma meninggal dan Narasoma pun diangkat menjadi raja Mandraka dengan nama Prabu Salya, bersama Setiawati permaisurinya yang setia. 

----- 

Lamunan Prabu Salya pun buyar, dan waktu menjelang pagi hari. Di saat mengingat masa lalunya seperti sekarang selalu terlintas dalam fikirannya siapakah gerangan titisan Betara Darma, dan kapankah akan ia temui? Apakah ia akan menemuinya di peperangan yang segera terjadi ini?  Iapun ingat Banowati, anak yang dikasihinya, saat ini katanya sakit. 

Cinta Prabu Salya sebagai orang tua kepada anaknya mengalahkan segalanya, apalagi setelah ia ingat masa lalunya tentang cintanya pada istrinya. Maka ia pun menggagalkan rencananya untuk pergi ke Wirata membela Pandawa, berubah arah menuju Hastina diiringi beberapa ponggawa, dan memerintahkan pasukannya untuk kembali ke Mandraka. 

Sebuah keputusan yang kelak ia sesali, manakala ia tahu bahwa berita itu adalah jebakan belaka dari Prabu Duryudana dan Patih Sangkuni, yang tak rela raja yang sakti itu memihak Pandawa. Banowati tidaklah sakit seperti diberitakan. Namun Prabu Salya tak dapat lagi keluar dari Hastina karena bujuk rayu Kurawa dan rasa kesatrianya. 

Kelak ia pun harus terjun ke kancah perang Bharatayudha, terpaksa menghadapi keponakan-keponakannya Pandawa yang ia cintai.

 


2013/10/21 lorens hardi pranoto <lhpr...@gmail.com>

Lord of the Rings

unread,
Oct 31, 2013, 4:41:16 AM10/31/13
to grup...@googlegroups.com
Prabu Salya kok ribet tenan to ? Nek Alya ora ribet je, malah nyenengke, ngerti2 ngemut, ngono

Sent from my Blackberry12

From: lorens hardi pranoto <lhpr...@gmail.com>
Date: Thu, 31 Oct 2013 15:31:02 +0700
Subject: Re: Keputusan sulit prabu salya (1)
--
Rekening Paguyuban JB77:
BCA 0600191705
A Koesmargono
 
Rekening Koperasi JB77
BCA 2741387117
Petrus Gunarso, Ir. MSc.
---
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "PaguyubanJB77" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to grupjb77+u...@googlegroups.com.
To post to this group, send an email to grup...@googlegroups.com.
Visit this group at http://groups.google.com/group/grupjb77.
To view this discussion on the web, visit https://groups.google.com/d/msgid/grupjb77/CAMMyeQtC5vCtGmQQGLKZgZp3G9%2BAZAHCvkFr2ooOGdeg%2B0z5Tw%40mail.gmail.com.
For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out.

Trisno

unread,
Oct 31, 2013, 6:34:46 AM10/31/13
to grup...@googlegroups.com

Iki kaya lakone raden bugel , merupakan keputusan yang sulit wektu meh mertobat……………

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages