tapi ada ide menarik nih,,,
dan saya mau coba sebentar lagi (nunggu sabun cuci di rumah habis)
ceritanya:
ketika sedang berZeroWasteEvent di tugu Proklamasi di 5-10 des,
ada bapak2 tua yang dateng ke stand kita,,,,
dan dia semangat bgt menceritakan ttg pengalamannya selama 7 taun ini nyuci pake lerek
(saya gatau nama ilmiahnya apa)
sebelumnya,
di rumah saya suka pakai lerek ini untuk cuci baju batik (seperti nasehat nenek heu2)
menurut bapak itu (maap, saya lupa namanya)
lerek itu bukan hanya bagus untuk mencuci batik, tapi juga buat baju lainnya,
dan keunggulan lainnya: cukup dibilas sekali, langsung bersih (ga kalah kan sama MO*TO???)
waktu itu saya cukup lama ngobrol dengan si bapak
termasuk dia juga bawa contoh lerek kemasan produksi luar negri (lupa negara apa)
dia cerita bahwa lerek tersebut dijual mahal di negara itu (dia nunjukin harga yang tertera pada kemasan lereknya) --> padahal di bdg, bisa didaptkan dengan harga 5000 per 1/4 KG
akhirnya obrolan panjang kita berakhir dengan:
saya pengen mulai coba pake lerek untuk cuci baju sehari2
kalo di bandung, lerek bisa dibeli di babah kuya pasar baru
kampanye si bapak berhasil dong,,,,,,
temen2 ada yang mau bareng2 mengikuti jejak bapak tersebut??
Ada banyak kemungkinan.... daripada menebak-nebak tanyakan saja langsung.
deterjen dengan sedikit busa atau bahkan yang dapat menjadi pupuk kalau tidak salah dari Amway, sedangkan dengan sedikit busa dari Attack, penelitian tentang dampak deterjen sudah banyak beredar, tahun 1996-an kita pernah menuliskannya untuk AIKON majalah budaya dan lingkungan Gratis pertama...
ekosistem air sungai terganggu karena fosfat yang ada dalam deterjen membuat gulma berkembang dengan cepat dan menutupi jalannya sinar matahari masuk, sehingga para "penunggu" sungai kekurangan oksigen.......
disisi lain gulma tadi sebetulnya sangat baik untuk pencemaran air karena dia mengikat limbah cair seperti oli, minyak dll diakarnya... beberapa teman aktivis/environmentalis menggunakannya sebagai penyaring air limbah rumah tangga...
salam
Aulia[Aulija] Esti Widjiasih Reksoatmodjo Sustainability and Environmental Education Trainer KPAi - Komunikasi, Peduli Alam Indonesia Mobile:62-8129623960 Email: aulia...@yahoo.com --- On Fri, 12/26/08, Rizki Fahlevi <rizkif...@gmail.com> wrote: |
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Tambahan info, iklan sekali bilas ini iklan produk softener = pelembut dengan kandungan air dan conditioner sedangkan yang dibicarakan adalah jenis deterjen tertentu yang memiliki kandungan fosfat tinggi.... sehingga mengakibatkan perkembangbiakan gulma menggila dan selebihnya sudah dijelaskan di email sebelumnya dan email dari Sari berikut...
jangan lupa pasta gigi kita pun ada sulfat....
bicara memang mudah tapi kalau mau benar2 peduli siapkah anda kembali menggunakan siwak dan ayo mulai lihat di kemasan deterjen dan lihat kandungan yang dimilikinya, cari deterjen yang fosfatnya rendah... atau tanpa fosfat, walau harganya biasanya sedikit lebih mahal... pilihan di tangan anda..
Di Thailand, Sri Ratu memiliki kebijakan setiap daerah membuat kerajinan dari gulma yang ada dan setiap daerah harus memliki kreasi atau ciri khasnya sendiri, itu salah satu solusi yang diberikan Sri Ratu...
Di Indonesia, ya temen2lah Sri Ratunya...., karena saya yakin buanget orang indonesia itu puinter2, sadar dan ngerti lingkungan tapi ya ngerti dan sadar thok saja.... so its up to you
|
Aulia[Aulija] Esti Widjiasih Reksoatmodjo Sustainability and Environmental Education Trainer KPAi - Komunikasi, Peduli Alam Indonesia Mobile:62-8129623960 Email: aulia...@yahoo.com |