| Monday, 08 February 2010 | |
|
JAKARTA (SI) – Pemprov DKI Jakarta bersama Kamar Dagang dan Industri
(Kadin) Jaya menargetkan wilayah Ibu Kota bebas dari kantong plastik
pada 2011.
Untuk merealisasikan target tersebut,kedua pihak akan menandatangani kesepakatan pada Kamis (11/2). Ketua Kadin Jaya Edi Kuntadi mengatakan, tujuan kesepakatan tersebut untuk mengurangi dampak efek kesehatan bagi penggunaan plastik. Pihaknya menargetkan Jakarta bebas dari kantong plastik pada 2011.Tahap awal akan dilakukan sosialisasi pada sejumlah peritel di Jakarta dan PD Pasar Jaya. “Mereka akan diimbau untuk tidak lagi menggunakan kantong plastik. Ini kepentingan yang berdampak pada lingkungan. Salah satunya mencari jalan bagaimana menggunakan produk-produk yang bisa didaur ulang, dan yang ramah lingkungan,” kata Edi kemarin. Gubernur DKI Fauzi Bowo menyambut positif usulan tersebut. Saat ini Pemprov DKI dan Kadin akan mencari bahan pengganti dari bahan daur ulang yang tidak mencemari lingkungan. “Sementara ini yang sudah menyetujui Carrefour untuk menghapuskan kantong plastik dari kegiatan penjualannya,” papar Fauzi. Direktur Utama PD Pasar Jaya Djangga Lubis mengaku siap menerapkan program penghapusan kantong plastik di lingkungan pasar tradisional di Jakarta. Ia mengaku sudah menerapkan memorandum of understanding (MOU) mengenai pasar berwawasan lingkungan. Dia optimistis program penghapusan kantong plastik ini bisa diterapkan di pasar tradisional. “Kami akan lakukan sosialisasi ke pedagang, jangan sampai dilarang penggunaannya, tapi tidak ada solusi penggantinya,” ujarnya. (ahmad baidowi) |
Setujuh dengan mbak Wida...
Salah satu contoh nyata adalah Bp. Walikota Padang Panjang, Pak Syuir Syam yang secara tegas menerapkan Kawasan Tanpa Rokok di Padang Panjang...
Siapa yang ngga ikut, kepala instansi maupun pejabat, langsung di stop kegiatannya... hehehe... suka banget sm Pak Syuir ini, low profile tp tegassssss... Beliau berprinsip: Sebagai walikota yang hanya 1 orang ini, tidak mungkin sy menyesuaikan dengan keinginan ribuan warganya, jadi, merekalah yang harus menyesuaikan diri.
Bravo Jakarta!