Sistem Eko Label di Indonesia

131 views
Skip to first unread message

sano

unread,
Jan 3, 2010, 11:50:56 PM1/3/10
to GreenLifestyle
Salam benar-benar GREEN!

Terkait banyaknya pemberitaan atau wacana tentang green washing
http://greenlifestyle.or.id/tips/detail/tips_menghindari_klaim_green_palsu_dari_sebuah_produk
http://www.facebook.com/note.php?note_id=231968815665&1&index=0
(kalau gak bisa baca, silahkan add dulu http://www.facebook.com/elisasutanudjaja)

Dan makin banyaknya produk yang ber-embel2 Green, sudah saatnya
Indonesia memiliki
Lembaga Sertifikasi Produk Ramah Lingkungan. Setelah saya cari
infonya, nyasar kesini
http://www.menlh.go.id/ekolabel-sml/ekolabel/index.php
Dan setelah saya pelajari, masih banyak tantangan PR yang perlu
dikerjakan oleh lembaga tsb.
Menurut opini saya, kekurangannya lembaga itu diinisiasi oleh lembaga
pemerintah, takutnya ada
kepentingan dll, dsb.

Ada satu lembaga Eko Label, LEI > www.lei.or.id, namun titik beratnya
lebih ke produk berbasis
hutan atau sistem pengelolaan hutan. Padahal banyak sekali sekarang
yang mengatasnamakan
GREEN, mulai dari produk property (ini yang paling marak) sampai
produk sehari-hari sejenin sabun.

Bagi para penggiat lingkungan yang tergabung di GL, nampaknya sudah
saatnya ada lembaga
independen untuk urusan ini. Yang bisa jadi referensi http://www.greenseal.org/
Banyak harapan dari saya secara pribadi untuk kepentingan masyarakat
dan lingkungan khususnya
bila lembaga independen sertifikasi produk ramah lingkungan ada di
Indonesia. Dan tentunya kepentingan
usaha saya sendiri yang memang membutuhkan keberadaan lembaga
tersebut, agar produk yang memiliki
idealis+sistem produksi+manfaat terhadap peningkatan kualiatas
lingkungan jadi bisa memiliki "faktor pembeda"
dengan produk-produk yang hanya sekedar ber-embel2 GREEN.

Gimana rekan-rekan? Ini bisa jadi RESOLUSI NYATA di 2010.

Terima kasih.

salam,
+sano+
Mohamad Bijaksana JuneroSANO
=========================
GREENERATION INDONESIA
green attitude green environment
Jalan Kanayakan D 35 Bandung
Jawa Barat - Indonesia 40135
Telp/Fax: +62 22 2500189
Email: in...@greeneration.org
Web: www.greeneration.org
----------------------------------------------
[F1RSTSERVICE]
answering your needs
www.orderfs.com

Elisa

unread,
Jan 4, 2010, 1:54:32 AM1/4/10
to GreenLifestyle
Halo teman2,

Saya anggota baru, tapi saya paham kekhawatiran yang dituliskan email
dibawah. Terutama terkait dengan greenwashing.
Yang paling mengkhawatirkan adalah memang tingginya 'minat' developer
pada yang serba hijau, sehingga mereka memakai 'tren' hijau ini untuk
tren, tak ada ubahnya ketika dulu sedang tren minimalis, tren
mediteran dll. Apalagi mengingat produk developer itu tak hanya
memakan ruang - tapi akibat dan dampaknya pun tak terbayangkan,
segala2 terseret, mulai dari sanitasi sampai transportasi. Ini dia
yang kadang dilupakan (ehm) arsitek, developer hingga konsumen - bahwa
produk arsitektural dengan semakin besar skala dan tingkat
kepublikannya mampu mempengaruhi siklus kota.

Green Building Council Indonesia (yang anggotanya juga ada developer2,
pertamina, disamping arsitek2, sipil, dll) sendiri katanya baru saja
menyelesaikan standar rating bangunan hijau - yang sistemnya sudah
banyak dipakai di negara2 lain, spt US dengan LEED nya, Australia
dengan Green Rating System, dll. Katanya sih mau diperdakan.

Tapi saya pikir, kontrol publik pun tetap penting - maksud saya adalah
kontrol independen diluar segala macam kepentingan.
situs GBCI bisa dilihat disini: http://www.gbcindonesia.org/index.php

Elisa

On Jan 4, 11:50 am, sano <m.bijaksana.juneros...@gmail.com> wrote:
> Salam benar-benar GREEN!
>

> Terkait banyaknya pemberitaan atau wacana tentang green washinghttp://greenlifestyle.or.id/tips/detail/tips_menghindari_klaim_green_...http://www.facebook.com/note.php?note_id=231968815665&1&index=0
> (kalau gak bisa baca,  silahkan add duluhttp://www.facebook.com/elisasutanudjaja)


>
> Dan makin banyaknya produk yang ber-embel2 Green, sudah saatnya
> Indonesia memiliki
> Lembaga Sertifikasi Produk Ramah Lingkungan. Setelah saya cari

> infonya, nyasar kesinihttp://www.menlh.go.id/ekolabel-sml/ekolabel/index.php


> Dan setelah saya pelajari, masih banyak tantangan PR yang perlu
> dikerjakan oleh lembaga tsb.
> Menurut opini saya, kekurangannya lembaga itu diinisiasi oleh lembaga
> pemerintah, takutnya ada
> kepentingan dll, dsb.
>
> Ada satu lembaga Eko Label, LEI >www.lei.or.id, namun titik beratnya
> lebih ke produk berbasis
> hutan atau sistem pengelolaan hutan. Padahal banyak sekali sekarang
> yang mengatasnamakan
> GREEN, mulai dari produk property (ini yang paling marak) sampai
> produk sehari-hari sejenin sabun.
>
> Bagi para penggiat lingkungan yang tergabung di GL, nampaknya sudah
> saatnya ada lembaga

> independen untuk urusan ini. Yang bisa jadi referensihttp://www.greenseal.org/


> Banyak harapan dari saya secara pribadi untuk kepentingan masyarakat
> dan lingkungan khususnya
> bila lembaga independen sertifikasi produk ramah lingkungan ada di
> Indonesia. Dan tentunya kepentingan
> usaha saya sendiri yang memang membutuhkan keberadaan lembaga
> tersebut, agar produk yang memiliki
> idealis+sistem produksi+manfaat terhadap peningkatan kualiatas
> lingkungan jadi bisa memiliki "faktor pembeda"
> dengan produk-produk yang hanya sekedar ber-embel2 GREEN.
>
> Gimana rekan-rekan? Ini bisa jadi RESOLUSI NYATA di 2010.
>
> Terima kasih.
>
> salam,
> +sano+
> Mohamad Bijaksana JuneroSANO
> =========================
> GREENERATION INDONESIA
> green attitude green environment
> Jalan Kanayakan D 35 Bandung
> Jawa Barat - Indonesia 40135
> Telp/Fax: +62 22 2500189

> Email: i...@greeneration.org

Ferdixn

unread,
Jan 4, 2010, 12:04:10 AM1/4/10
to greenli...@googlegroups.com
Ajakan yang menarik bung Sano, sertifikasi memang perlu agar tidak semua perusahaan dapat mencap GREEN pada produknya. Ada baiknya ini didiskusikan dengan semua aspek, praktisi dan profesional. Seperti green property misalnya, harus ada pakar yang benar2 mengerti konsep hijau di perumahan seperti apa, apakah hanya dengan menyediakan ruang terbuka hijau, atau perlu daerah resapan khusus, sampai ke material bangunan, desain dsb.

Saya mendukung kalau memang ingin diadakan lembaga sertifikasi ecolabel

--
Thanks & Regards
Ferdixn
ferdixn.com



2010/1/4 sano <m.bijaksana...@gmail.com>

--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "GreenLifestyle" group - Share this email!
To post to this group, send email to greenli...@googlegroups.com
To unsubscribe from this group, send email to greenlifestyl...@googlegroups.com
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/greenlifestyle?hl=id




eriel...@gmail.com

unread,
Jan 4, 2010, 2:17:11 AM1/4/10
to greenli...@googlegroups.com
Asal gak hijau semangka. Kulitnya hijau dalamnya merah .... darahnya rakyat dan lingkungan.

Salam,
ES


Sent from my StrawBerry®
powered by Sinyal Apik Soko INDOSAT

Marc-Antoine

unread,
Jan 4, 2010, 3:01:08 AM1/4/10
to GreenLifestyle
Betul Elisa, adanya kontrol publik (kami!) penting, karena suara dan
perilaku konsumen yang paling kuat di pasar. Makanya, konsumen harus
memahami kenapa greenwashing itu adalah masalah, dan bagaimana bisa
dihindari.

Btw, di A.S. sendiri, menurut penelitian oleh Terrachoice (2009), 98%
dari produk hijau sudah "tercemar" oleh tindakan greenwashing.
Bagaimana kalau di Indonesia?

MA

sano

unread,
Jan 4, 2010, 4:12:43 AM1/4/10
to GreenLifestyle
Menurut saya GBCI salah satu terobosan yang bagus.
Apalagi kalau membuat standarisasi rating bangunan hijau.
Ditambah lagi mau di-PERDA-kan.

Namun seberapa independen mereka melihat
1. Daftar corporate foundernya sbb:
Agung Podomoro
Agung Sedayu
Artha Debang
Ciputra
Duta Sarana Perkasa
Holcim
Ici paints
Intiland Development
Lyman
Medco Energi
Pembangunan Perumahan
PLN
Pertamina
Philips
Pikko
Sinar Mas
Springhill
Sumalindo Lestari Jaya
Sumarecon Agung
Surya Toto
Total Bangun Persada

2. Melihat sistem membershipnya
Donasi Member Tahunan
Industri > Rp 18.000.000,-
Kontraktor > Rp 6.000.000,-
LSM atau Individu > Rp 3.000.000,-

3. Dan salah satu hak member:
Anggota GBCI mendapatkan hak untuk menggunakan Logo Keanggotaan
GBCI sebagai materi komunikasi dan promosi perusahaan,
berbagi ‘green credentials’ anda dengan klien-klien dan
rekan-rekan bisnis.
Logo dapat ditampilkan pada :
Kartu nama, Kop surat & amplop, Brosur / flier /Iklan di Media,
Website perusahaan, sesuai dengan pengaturan yang sudah disusun.


TAKUT-nya logo GBCI jadi pembenaran untuk memarketingkan
produknya telah GREEN tanpa dilalui sistem standarisasi
yang jelas namun CUKUP hanya membayar donasi tahunan saja.
Apakah ada orang GBCI disini? Bisa kasih pencerahan?

Ini hanya sedikit kritisi sistem mebershipnya. Namun saya tetap
mengapresiasi munculnya GBCI sebagai dampak fenomena masifnya
kampanye dan pemberitaan tentang isu lingkungan, yaitu membuat
orang ikut peduli (yang perlu dikritisi adalah level kepedulian
hanya sebagai metode memperkaya corporate atas nama lingkungan).

Btw, saya juga punya perusahaan kok. Jadi tentunya kritik tsb akan
kembali pada diri saya sendiri. Seperti khutbah jum'at yang saya
dengar, yaitu "dari setiap orang yang berbicara, telinga terdekat
adalah
miliknya sendiri, jadi suatu hal lumrah bahwa kita juga harus
'mendengar' apa yang kita katakan".

Terima kasih.

salam,
+sano+
Mohamad Bijaksana JuneroSANO
=========================
GREENERATION INDONESIA
green attitude green environment
Jalan Kanayakan D 35 Bandung
Jawa Barat - Indonesia 40135
Telp/Fax: +62 22 2500189

Email: in...@greeneration.org
Web: www.greeneration.org


--------------------------
[F1RSTSERVICE]
answering your needs
www.orderfs.com

Bintang Nugroho

unread,
Jan 4, 2010, 7:09:23 AM1/4/10
to greenli...@googlegroups.com, nan...@pt-adi.co.id, Tiyok @ GBCIndonesia, bin...@gbcindonesia.org
Dear GLers,

Terimakasih untuk menghangatnya wacana eko label ini.
Saya terundang, karena saya orang GBCI.

Mulai dengan keterangan penjelas sesuai urutan posting rekan Sano ini.

- GBCI memang sedang membuat standar rating bangunan hijau yang KHAS INDONESIA, yang diberi nama GREENSHIP.
Penamaan Greenship berarti 'kadar kehijauan' sekaligus mengingatkan pada kapal hijau yang menjelajah kepulauan Indonesia.
Sertifikasi berdasarkan Greenship bersifat sukarela sehingga tidak dapat diPERDAkan, karena PERDA bersifat keharusan (mandatory).
Jelasnya, sesudah PERDA dipenuhi, baru dapat mengajukan diri untuk memperoleh sertifikasi Green Building.
Greenship terdiri atas 5 kategori besar : Kelestarian tapak, Hemat Energi, Hemat Air, Mutu Udara Dalam Ruangan dan Material / Sumberdaya. Secara keseluruhan akan terdiri (masih dalam penyusunan draft final) atas 50 an kredit dengan jumlah nilai sekitar 100an poin. Disebut Rating karena bila memperoleh nilai 60% maka mendapat peringkat (misalnya) Certified, 70% = Silver; 80% = Gold ; 90% = Platinum. (penamaan peringkat belum dipastikan, boleh usulkan nama, siapa tahu teman-teman Komisi rating setuju).
Tambahan : Greenship disiapkan dalam beberapa perangkat untuk : NC (New Construction) ; EB (Existing Building) dan CI (Commercial Interior).

1. Penilaian oleh Komisi Sertifikasi Greenship bersifat independen karena kredibilitas GBCI dipantau oleh World Green Building Council yang saat ini beranggotakan 64 negara, berpusat di Toronto, Kanada. Corporate Founder tidak punya akses terhadap penyelenggaraan sertifikasi. Komisi rating tidak merupakan wadah perwakilan corporate founder. Sebagai Founder mereka memberikan sumbangan sukarela pendirian GBCI untuk menjadi seed money bagi keberlanjutan lembaga GBCI. Secara inherent terdapat sistem kontrol di antara sesama corporate founder, karena mereka pada dasarnya adalah 'pesaing' satu sama lain yang sama-sama mengincar status Green Building bagi bangunan mereka.  
Badan Pengurus diisi oleh para profesional sepenuh waktu yang dibayar oleh Konsil / GBCI,

Bahaya greenwashing oleh para Corporate Founder / siapa pun ditangkal dengan publikasi terbuka berisi Daftar Bangunan Hijau di Indonesia sampai dengan kurun waktu tertentu. Jadi dengan jelas dapat diketahui bangunan mana saja yang sudah menyandang mutu Green Building. Tidak hanya di website GBCI, namun juga di tempat2 umum akan ada Dinding Bangunan Hijau yang mencantumkan nama2 bangunan hijau sd saat itu.

2. Apakah besaran donasi tahunan bagi para anggota GBCI (seperti yang ditentukan itu) mengancam independensi Komisi Rating ? Lebih banyak tidaknya, karena Komisi Rating juga tidak bersifat representasi dari para anggota yang elitis ( yang terbatas jumlahnya, karena donasinya tinggi ). Kami di GBCI juga terus mencari peluang agar besaran donasi dapat diturunkan, untuk menjaring lebih banyak anggota. Mudah-mudah tahun 2011 mendatang dapat ditawarkan donasi tahunan yang lebih rendah.

3. Perlu dibedakan antara keaktifan dalam kelembagaan GBCI dan perolehan Sertifikat Green Building. Sehingga pencantuman logo GBCI dan atribut Founder GBCI harus dilihat sebagai 'niat' untuk berkomitmen green dan tidak sebagai pembenar bahwa bangunan mereka sudah bersertifikat Green. Tentu saja untuk menyebarkan informasi yang meluruskan duduk perkaranya ini, kami membutuhkan waktu bahkan bantuan dari semua pihak, termasuk para GLers,untuk menegaskan betapa berbedanya atribut 'founder' dan 'bersertifikat Green Building'.

4. Saya menghargai, karena merasakan hal yang sama, perasaan bung Sano bahwa perlu kehati-hatian menyelenggarakan lembaga seperti GBCI yang dapat menjadi pembenar atas pelaku ketidakadilan berbisnis dengan kedok pro lingkungan. Meski demikian, daya tarik berperilaku peduli lingkungan saat sekarang adalah manfaat ekonomi / bisnisnya karena langsung berdampak penghematan. Maka tidaklah salah, apabila ada perusahaan yang bertambah kaya karena mengimplementasikan nilai sustainability / green itu. Bukankah ini merupakan teladan yang baik untuk ditiru oleh semua perusahaan dan rumah tangga demi keberlanjutan sejarah di planet ini ?

Dengan senang hati saya akan memberikan penjelasan tambahan bila diperlukan.

Salam Hijau Lestari,
Bintang       
 

From: sano <m.bijaksana...@gmail.com>
To: GreenLifestyle <greenli...@googlegroups.com>
Sent: Mon, January 4, 2010 1:12:43 AM

Subject: [greenlifestyle] Re: Sistem Eko Label di Indonesia

Tiyok

unread,
Jan 4, 2010, 7:45:40 AM1/4/10
to greenli...@googlegroups.com, GBC
Halo semua,

Perkenalkan, saya salah satu anggota badan pendiri Green Building Council
Indonesia (dari 50 profesional dan 21 perusahaan).

Saya anggota pasif dari milis GL ini. Dengan bantuan teman-teman semua, di
milis Greenlifestyle, saya harapkan fenomena 'green washing' sendiri dapat
terjaga.

Green Building Council Indonesia adalah organisasi 'not-for-profit' yang
didirikan untuk tujuan utamanya untuk mengubah cara industri konstruksi dan
properti untuk berpraktek lebih ramah lingkungan. Bagaimana caranya? salah
satunya adalah dengan mengembangkan rating system. Rating system yang
dikembangkan tidak mengacu hanya pada LEED (USGBC) akan tetapi juga dengan 7
rating system yang lain dan beberapa pilot project.

Rating system sendiri bukan berupa Perda, sifatnya suka-rela. DKI memang
akan mengeluarkan Pergub (bukan Perda) mengenai bangunan ramah lingkungan
(green building), yang sebagian besar mengacu pada rating system yang sedang
dikembangkan. Sangat perlu sekali kita memiliki rating system yang
independen, tidak mengimpor begitu saja sistem penilaian dari 'luar' (Green
Mark-Singapore, LEED-US, Greenstar-Australia, CASBEE-Jepang, dll.).

Dalam proses pembuatan rating system sendiri sejauh ini sangat independen,
dengan tim profesional dipimpin oleh salah satu pendiri GBCI. Rencananya
akan dirilis pertengahan tahun ini.

Pembangunan fisik, konstruksi, pada dasarnya akan mengubah lingkungan alami
dimana bangunan itu akan dibangun. Oleh karena itu, praktek-praktek yang
diusung oleh GBCIndonesia adalah mengurangi atau kalau bisa menghilangkan
dampak negatif dari suatu pembangunan. GBCI adalah organisasi yang inklusif,
siapa saja bisa menjadi anggota. Untuk saat ini perusahaan dan organisasi
yang berbadan hukum.

Apabila diperlukan saya bersedia menjelaskan lebih lanjut tentang organisasi
GBCIndonesia ini.

Salam,
Tiyok Prasetyoadi
prase...@gbcindonesia.org

----- Original Message -----
From: "sano" <m.bijaksana...@gmail.com>
To: "GreenLifestyle" <greenli...@googlegroups.com>
Sent: Monday, January 04, 2010 4:12 PM
Subject: [greenlifestyle] Re: Sistem Eko Label di Indonesia

berbagi �green credentials� anda dengan klien-klien dan

Terima kasih.

--

Elisa

unread,
Jan 4, 2010, 10:33:42 AM1/4/10
to GreenLifestyle
Halo :)

Saya lega sekali karena ternyata ada anggota Green Building Council
Indonesia disini - maaf, saya anggota baru, belum kenal dengan banyak
anggota.
Sekadar menginformasikan, ada 1 corporate founder GBCI yang mengaku
produknya sebagai 'the first green apartement in Indoensia' dan
terpapar disemua pamflet dan banner nya, bannernya pun provokatif: Buy
Green to Make Green. Dan tentu tak lupa untuk menempatkan logo GBCI
sekaligus menyebut dirinya sebagai Founder of GBCI. Jadi apa yang
dikhawatirkan Mas Sano sudah terjadi tuh.
Dan dalam berbagai iklan onlinenya, seperti yang ini:
http://www.theroyalespringhill.blogspot.com/ dan misalnya ini (dan
puluhan lagi): http://www.pasarbaris.com/the-royale-springhill-residences.html,
mereka mengklaim demikian:
Urban Living With Nature The one and only concept Apartment in
Indonesia with Green Label Certification.

Saya berkali-kali bertanya via facebook fan page mereka, kepada pihak
perumahan diatas, darimanakah ASAL Green Label Certification itu, dan
darimana klaim The first etc etc ...
Saat itu mereka mutar-mutar dulu jawabannya, alias tidak memberikan
jawaban pasti.

Rasanya sayang sekali jika organisasi dengan tujuan sebaik GBCI justru
'takutnya' digunakan sebagai alat marketing - maaf jika saya
berpandangan terlalu negatif.

Mas Tiyok,
terima kasih koreksinya, karena setelah saya baca ulang berita Jakarta
Post, iya itu gubernatorial rule - (kayaknya ketukar2 dengan diskusi
draft perda rtrw jakarta, hehe).
Mengingat status saya yang sebagai dosen arsitektur UPH Boleh jugakah
saya undang ke UPH perwakilan dari GBCI untuk memberikan penjelasan
tentang GBCI ke mahasiswa. Mereka adalah calon arsitek masa depan,
maka mereka perlu diinformasikan sejak dini. Sebelumnya dalam mata
kuliah saya (SusDev & The Urban Environment), saya menjelaskan sistem
LEED (sekarang sudah versi 3 ya kalau tidak salah) dan Green Star
Rating. Tapi pengetahuan saya soal GBCI minim, karena mungkin saya
kurang mendapatkan informasi soal standar dan rating hasil godokan
GBCI.
Jika memungkinkan, bulan Maret/April?

Elisa

> prasetyo...@gbcindonesia.org
>
>

Tiyok

unread,
Jan 5, 2010, 5:01:42 AM1/5/10
to greenli...@googlegroups.com
Elisa,

Terima kasih undangannya. Maret/April OK, ke UPH. Nanti kita atur ya,
waktunya. Saya juga pernah menjelaskan GBC Indonesia secara umum di Untar,
diundang oleh ketua jurusannya. Saya dengan senang hati berbagi ke
universitas2 atau Maaf waktu acara rumah bersama benar2 berhalangan. Saya
bukan ahli rating system (Greenship untuk GBC Indonesia), ada pak Rana
Yusuf, tapi beliau sedang dikejar tenggat waktu untuk menyusun rating
system. Untuk pengetahuan tentang 'bangunan ramah lingkungan' (green
building), saya juga sedang belajar dan belum berani klaim saya ahli 'green
building'.

Ada beberapa acara yang akan diadakan minggu depan untuk mengetahui lebih
lanjut kegiatan-kegiatan GBC Indonesia.

Mengenai Spring Hill, memang mereka salah satu founder (corporate) GBC
Indonesia, akan tetapi belum ada satu pun bangunan yang dinilai oleh sistem
sertifikasi GBC Indonesia. Akan tetapi, tim perencana Spring Hill telah
beberapa kali bertemu dengan tim rating.

Salam,
Tiyok Prasetyoadi

----- Original Message -----
From: "Elisa" <esutan...@gmail.com>
To: "GreenLifestyle" <greenli...@googlegroups.com>
Sent: Monday, January 04, 2010 10:33 PM
Subject: [greenlifestyle] Re: Sistem Eko Label di Indonesia


Halo :)

Elisa

--

Elisa

unread,
Jan 5, 2010, 7:13:10 PM1/5/10
to GreenLifestyle
Mas Tiyok dan teman2 GreenLifestyle ...

untuk yang janjian waktu kuliah, saya japri ya :)
Jika ada kegiatan di GBCI yang terbuka untuk umum, mohon turut berbagi
info ya mas.

Kebetulan di notes FB yang membahas springhill, kemarin saya tag Pak
Emil. Dan pagi ini ada klarifikasi dari beliau, dengan inti mereka
belum dapat sertifikasi.
Jika saya quote:
"Dalam rancangannya banyak aspek yang didesain mengacu pada anjuran
green building system oleh GBCI. Di banyak meeting desain, tim GBCI
(bu Naning cs) hadir memberikan masukan. Dan rencananya proyek ini
akan dijadikan percontohan pertman yang disertifikasi oleh GBCI.

Yg jadi masalah, adalah klaim "sudah disertifikasi" seharusnya "sedang
dalam proses sertifikasi" pertama oleh GBCI.

saya kira, kita juga harus menghargai niat si pengembang yang mau
mendengarkan masukan dari arsitek dan tim GBCi utk "green' dalam arti
sebenarnya dengan segala kendalanya."

Saya kurang begitu paham pada bagian kata pertman (apakah itu
pertamanan atau pertama). Nah akhirnya klarifikasinya hampir lengkap,
yaitu dari GBCI dan arsitek (yang keduanya dibawa2 oleh jawaban
marketingnya). Dari awal, saya hanya penasaran dan ngebet banget dapat
klarifikasi dari pengembang, tapi malah dapatnya dari pihak2 lain,
hahaha. Terima kasih untuk itu.

Saya bertanya-tanya Apakah yang seperti ini akan berlalu? Bagaimana
teman-teman disini menanggapi jika ada kasus yang seperti ini? Saya
pribadi sih masih terus menghubungi Springhill (walaupun diping pong
dan dijawab lagi rapat, dijawab tidak tahu, etc), dan tidak akan
berhenti di tahap meminta klarifikasi saja - misalnya menyarankan jika
mereka serius dengan 'green2' mereka, tunjukkanlah dengan edukasi
masyarakat yang benar, kalau bikin marketing event (hampir 1 bulan
sekali) kalau bisa zero waste.

Saya menikmati diskusi ini, entah di milis ini maupun di notes
facebook saya. Senang melihat kekritisan rekan-rekan, sehingga ada
dialog seperti ini, dan perlahan2 lewat dialog terbuka dan kritis,
kehidupan green (atau lestari, kalau pinjam kata Marco Kusumawijaya)
semakin nyata.

Elisa

> Dan dalam berbagai iklan onlinenya, seperti yang ini:http://www.theroyalespringhill.blogspot.com/dan misalnya ini (dan

Tiyok

unread,
Jan 5, 2010, 8:03:22 PM1/5/10
to greenli...@googlegroups.com, GBC
Elisa dan teman-teman GL yang lain,

Proses sertifikasi memang belum diatur (sedang diolah).

Rencananya akan ada 'proyek terdaftar untuk disertifikasi' (registered
project) dan 'proyek yang disertifikasi' (certified project).
Praktek-praktek yang sudah ada, ketika masih terdaftar, developer boleh
klaim bahwa bangunannya akan disertifikasi, akan tetapi tidak boleh
menyebutkan sertifikasi yang dituju (gold, silver, certified; atau 1 star, 2
stars, dll). Sekarang, GBCI sedang dalam proses 'pilot project' untuk
menguji rating yang dibuat dengan praktek di lapangan. Rencana dari tim
rating sendiri, akan ada konsesus nasional untuk Greenship. Mekanismenya
seperti apa, saya belum dapat informasi lebih lanjut, kemungkinan besar akan
diadakan pada bulan Maret 2010.

Acara GBCI yang terdekat tanggal 13 Januari 2010, jam 14.30 - 17.00 di
Jakarta Design Center Lt. 6, materinya informasi umum tentang organisasi
kami dan ajakan untuk menjadi anggota. (Kontak Liza 08161813825 atau Keke
081382567220, sekretariat tel:021-70623418; tel/fax: 021-7503128)

Tanggal 15 Januari 2010, 8.30-17.00, workshop sehari membahas rating tool
GBCI (Greenship) dengan pembicara utama John Burnett, dari BEAM Hong Kong
(penyusun rating BEAM yang dasarnya dari BREEAM, Inggris) dan Rana Yusuf
Nasir beserta tim rating GBCI. Acara tanggal 15 Januari ini ada kontribusi
biayanya. Untuk info lengkapnya bisa menghubungi sekretariat.

Kembali ke masalah isu 'green' sebagai 'green washing', menjadi salah satu
'ancaman' untuk gerakan hijau lestari. Salah satu tujuan GBCI adalah menjaga
tolok ukur. Sistem penilaian (rating system) itu sendiri akan terus
berkembang setelah transformasi terjadi.

Salam,
Tiyok Prasetyoadi

----- Original Message -----
From: "Elisa" <esutan...@gmail.com>
To: "GreenLifestyle" <greenli...@googlegroups.com>

Sent: Wednesday, January 06, 2010 7:13 AM
Subject: [greenlifestyle] Re: Sistem Eko Label di Indonesia

Yodi

unread,
Jan 5, 2010, 11:31:53 PM1/5/10
to GreenLifestyle
Kok topik ini jadi tempat promosi GBCI?
Memang ekolabel di Indonesia masih belum jalan yah, padahal kalangan
Industri sudah menunggu-nunggu juga sertifikasi ekolabel. Sertifikasi
halal MUI lebih populer daripada sertifikasi ekolabel. Adakah contoh
Greenwashing di Indonesia?
Sertifikasi kayu SVLK dan SVSK dari dephut sudah berjalankah?


On Jan 4, 11:50 am, sano <m.bijaksana.juneros...@gmail.com> wrote:

> Salam benar-benar GREEN!
>
> Terkait banyaknya pemberitaan atau wacana tentang green washinghttp://greenlifestyle.or.id/tips/detail/tips_menghindari_klaim_green_...http://www.facebook.com/note.php?note_id=231968815665&1&index=0
> (kalau gak bisa baca,  silahkan add duluhttp://www.facebook.com/elisasutanudjaja)


>
> Dan makin banyaknya produk yang ber-embel2 Green, sudah saatnya
> Indonesia memiliki
> Lembaga Sertifikasi Produk Ramah Lingkungan. Setelah saya cari

> infonya, nyasar kesinihttp://www.menlh.go.id/ekolabel-sml/ekolabel/index.php


> Dan setelah saya pelajari, masih banyak tantangan PR yang perlu
> dikerjakan oleh lembaga tsb.
> Menurut opini saya, kekurangannya lembaga itu diinisiasi oleh lembaga
> pemerintah, takutnya ada
> kepentingan dll, dsb.
>
> Ada satu lembaga Eko Label, LEI >www.lei.or.id, namun titik beratnya
> lebih ke produk berbasis
> hutan atau sistem pengelolaan hutan. Padahal banyak sekali sekarang
> yang mengatasnamakan
> GREEN, mulai dari produk property (ini yang paling marak) sampai
> produk sehari-hari sejenin sabun.
>
> Bagi para penggiat lingkungan yang tergabung di GL, nampaknya sudah
> saatnya ada lembaga

> independen untuk urusan ini. Yang bisa jadi referensihttp://www.greenseal.org/


> Banyak harapan dari saya secara pribadi untuk kepentingan masyarakat
> dan lingkungan khususnya
> bila lembaga independen sertifikasi produk ramah lingkungan ada di
> Indonesia. Dan tentunya kepentingan
> usaha saya sendiri yang memang membutuhkan keberadaan lembaga
> tersebut, agar produk yang memiliki
> idealis+sistem produksi+manfaat terhadap peningkatan kualiatas
> lingkungan jadi bisa memiliki "faktor pembeda"
> dengan produk-produk yang hanya sekedar ber-embel2 GREEN.
>
> Gimana rekan-rekan? Ini bisa jadi RESOLUSI NYATA di 2010.
>
> Terima kasih.
>
> salam,
> +sano+
> Mohamad Bijaksana JuneroSANO
> =========================
> GREENERATION INDONESIA
> green attitude green environment
> Jalan Kanayakan D 35 Bandung
> Jawa Barat - Indonesia 40135
> Telp/Fax: +62 22 2500189

> Email: i...@greeneration.org

Tiyok

unread,
Jan 6, 2010, 5:01:18 AM1/6/10
to greenli...@googlegroups.com
Pak Yodi,

Maaf kalau jadi promosi di topik ini, saya hanya menjelaskan kedudukan GBCI
dalam topik ini.

Kembali ke sistem eko-label, rating system GBCI akan sangat memerlukan data,
apabila ada tentang label produk ramah lingkungan. Saya tanya ke teman-teman
yang di Eko-label, ternyata yang diberi label baru produk hasil hutan.

Apakah sudah ada labeling untuk material (bahan bangunan dan elektronik)?
kalau alat rumah tangga sudah ada yang memakai energy star. Saya dengar KLH
memiliki sistem eko-label juga. Ada yang bisa share info?

Terima kasih.
Tiyok

----- Original Message -----
From: "Yodi" <buburaya...@yahoo.com>
To: "GreenLifestyle" <greenli...@googlegroups.com>
Sent: Wednesday, January 06, 2010 11:31 AM
Subject: [greenlifestyle] Re: Sistem Eko Label di Indonesia

--------------------------------------------------------------------------------

Marc-Antoine

unread,
Mar 30, 2010, 5:27:40 AM3/30/10
to Tiyok, greenli...@googlegroups.com
Sekedar update: Di Kompas Februari 25, halaman 3, ada advertorial dari
Springhill (Apartemen Hijau di Jantung Ibu Kota).

Klaim untuk apartemen yang sudah disertifikasi sudah diubah menjadi
'Dedicated to Green Building Certification' (tetap, di bawa ada
tagline 'The First Green Apartment in Indonesia'.)

Mungkin akan lebih akurat kalau tulisanya diubah lagi jadi "Committed
to Receive Green Building Certification from GBCI".

Tiyok

unread,
Apr 1, 2010, 2:05:52 AM4/1/10
to Marc-Antoine, greenli...@googlegroups.com
Marc-Antoine,

Terima kasih atas informasinya. Akan saya sampaikan ke GBCI/membership yang
berhubungan langsung dengan Springhill.

Salam,

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages