Kemasan Hoka2 Bento dari styrofoam

68 views
Skip to first unread message

armely meiviana

unread,
Apr 11, 2011, 12:25:52 AM4/11/11
to greenli...@googlegroups.com
Ibu Maria,

Benar banget nih bu....memang saat ini HokBen tmasuk resto dgn jejaring besar yg msh pakai styrofoam. Dan bener jg klo mknnnya digemari oleh anak2 & pihak sekolah utk konsumsi acara sekolah.

Kawan2, ada ide utk melakukan apa?

Misalnya bikin daftar resto yg menggunakan kemasan lbh ramah, bukan keluarganya plastik? (pastinya sih restoran padang nih :D) daftarnya disebarkan ke para ortu & pihak sekolah, beserta info bahaya styrofoam.

Atau mengontak lsg ke pihak resto, dimulai dari Hokben?

salam,
melly


2011/4/6 maria hardayanto <mariaha...@gmail.com>

sebetulnya ada issu yang lebih "berat" yaitu Hok-Ben" menggunakan zat aditif pada polystyrenenya (styrofoam) dan mengklaim kemasan mereka ramah lingkungan hanya karena bisa terurai di TPA dalam waktu 4 tahun. 
 
Padahal ngga semua sampah terangkut ke TPA,
Makanan panas Hok-Ben tercemari styrene dari styrofoam.
Styrofoam ngga bisa di daur ulang menjadi styrofoam lagi, artinya nasibnya akan menjadi sampah seumur hidup, membuat banjir dan selokan mampet.
 
Harus ada komunitas yg peduli dan bicara pada Hok-Ben karena paket hematnya diburu anak2 kita

http://green.kompasiana.com/polusi/2011/04/05/betulkah-hok-ben-akan-menjadi-pelopor-kemasan-ramah-lingkungan/


2011/4/6 ning purnomohadi <pras...@centrin.net.id>
Mbak Melly, jadinya HARI INI RABU, atau BESOK Kamis tgl 7 April?  Tks.
Salam HL,
Ning P
-----  -----
Sent: Tuesday, April 05, 2011 8:42 PM
Subject: Re: [greenlifestyle] Obrolan langsat (Obsat): "Berbelanja tanpa kantongkresek, NGIMPI???" HARI INI
iya, mksh mba ningsih. sdh sy kirim ulang. maklum...jam2 ngantuk :-) akan dtg ke obsat mba? :-)
------------------
Rabu itu tgl 6 April lho...shn From: GreenLifestyle <greenli...@gmail.com>
Date: Wed, 6 Apr 2011 00:10:05 +0800
 
Siapa yang tidak suka atau tidak pernah berbelanja? Tidak hanya ibu rumah tangga, tapi juga anak-anak, remaja, mahasiswa, dan ayah di rumah. 
Tapi mungkinkah hari gini berbelanja tanpa menggunakan kantong kresek? 
Untuk tahu jawabanya, ikuti obrolan langsung (obsat) "Berbelanja tanpa kantong kresek, NGIMPI???" dengan Twitter (#obsat #dietkresek), atau datang langsung di: Rumah Obsat Jl Langsat 1 No 3A Kramat Pela Kebayoran Baru
Kapan? Hari rabu 6 April Jam 19.00-20.30
 
Dalam obrolan ini berbagai narasumber, termasuk Greeneration Indonesia (Pengalaman kampanye DietKantongPlastik), mahasiswi, ibu rumah tangga dan pria bekerja akan duduk bareng untuk membahas dan bertukar pengalaman praktis yang mungkin diterapkan untuk mengurangi penggunaan kresek. 
 
Selain konsumen, perwakilan toko/produsen yang sudah mencoba ikut mengurangi pemberian kresek, yaitu CircleK Indonesia, pemilik Toko Kainara dan Pemilik Kantin Hang Lekirdan akan menggali kendala yang dihadapi pihak toko dalam menghentikan/mengurangi pembagian kresek gratis pada konsumen.
Ditunggu di #obsat #dietkresek atau di Rumah Obsat!
--

--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "GreenLifestyle" group - Share this email!
To post to this group, send email to greenli...@googlegroups.com
To unsubscribe from this group, send email to greenlifestyl...@googlegroups.com
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/greenlifestyle?hl=id

--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "GreenLifestyle" group - Share this email!
To post to this group, send email to greenli...@googlegroups.com
To unsubscribe from this group, send email to greenlifestyl...@googlegroups.com
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/greenlifestyle?hl=id

anita arif

unread,
Apr 11, 2011, 1:13:44 AM4/11/11
to greenli...@googlegroups.com
Mely dan Teman2 GL lainnya.. Bungks makanan bagusnya pake daun pisang dan semacamnya yaa.. Pohon pisang itu tumbuhnya mudah sekali.. Asalkan ada lahan sisa/idle aja di sekitar rmh kita.. Tanam pohon pisang.. Daunnya bisa buat bungkus arem2,buras,kueh barongko, nasi rames, nasi kuning.. pinggiran pelepahnya bisa jadi tali pengikat.. Jantungnya bs buat sayur, buahnya apalagi.. Enak buat penganan.. Ohya, daun bekas bungkus bs buat makan kambing ato jd pupuk organik kan.. Ortu mungkin bs mengkampanyekan di sekolah anak.. Anak dibekali 'bento' buatan mama di dapur, yg dibungkus daun pisang.. Hehee..

Salam,
Anita

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


From: armely meiviana <amei...@gmail.com>
Date: Mon, 11 Apr 2011 11:25:52 +0700
Subject: [greenlifestyle] Kemasan Hoka2 Bento dari styrofoam

christin dameria

unread,
Apr 28, 2011, 5:07:00 AM4/28/11
to greenli...@googlegroups.com
Sebenarnya saya juga prihatin melihat bagaimana BreadTalk membungkus setiap roti nya dengan plastik.
Saya pernah menanyakan hal tersebut langsung kepada manager di salah satu retailnya. Mengapa harus dengan plastik?
Tidak bisa kah dengan kantong kertas? Tetapi tanggapannya klasik saja, bahwa masukan tersebut akan ditampung dan diteruskan pada boss mrk. Itu saya tanyakan 2 tahun yg lalu dan sekarang masih seperti itu.

Bagaimana tanggapan teman2?

Regards,
christin


2011/4/11 anita arif <anita...@yahoo.com>



--
regards,
christin dameria

www.christinsilitonga.blogspot.com
www.flickr.com/photos/christinsilitonga

maria hardayanto

unread,
Apr 28, 2011, 6:42:48 AM4/28/11
to greenli...@googlegroups.com
 mereka membungkus setiap rotinya supaya awet empuk. Roti yang terpapar terlalu lama kan jadi keras tuh. Biasanya yg ngga dibungkus ya yang masih anget.
Mengapa pake kantung plastik ? Supaya nampak isinya. Karena itu solusi paling memungkinkan ya cuma bioplastik, tapi harganya masih mahal, dengan campuran cassava kalo ngga salah lebih mahal hampir 2-3 kali lipat. 

2011/4/28 christin dameria <christi...@gmail.com>

Friska Simanjuntak

unread,
Apr 28, 2011, 9:21:45 PM4/28/11
to greenli...@googlegroups.com
Aku beberapa hari lalu lagi jajan di Hokben.. sama, aku juga berpikir mau sampai kapan Hokben menggunakan styrofoam. Ternyata kebetulan di Hokben itu (PIM) ada poster yang bertuliskan bahwa kemasan Hokben terbuat dari bahan khusus (ada nama ilmiahnya) dan bisa terurai dalam waktu 4 tahun. Jadi aku rasa, sekarang Hokben sudah gak menggunakan styrofoam. Hanya bentuknya saja yang kelihatan mirip.
 
Salam,
Friska

2011/4/11 armely meiviana <amei...@gmail.com>

Rani Elsanti

unread,
Apr 29, 2011, 12:11:42 AM4/29/11
to greenli...@googlegroups.com, friskat...@gmail.com
Hehe, poster Hokben itu contoh greenwashing, ya?

Saya masih menolak makan di Hokben dengan segala kemasan sekali
pakainya itu, bikin pusing. Sekarang masalah jadi bertambah lagi
dengan adanya greenwashing ini; orang berpikir bahwa kemasan-kemasan
itu bukan lagi styrofoam, bisa terurai, jadi (seolah-olah) aman buat
lingkungan.

Masalahnya, meski bisa terurai, dia terurai (baru setelah 4 tahun,
pula) hanya secara fisik, secara kimiawi sih barangnya masih di
situ-situ aja, terus numpuk. Belum lagi pembuatan kemasan itu makan
energi banyak sekali--"dosa"-nya sudah besar saat dalam proses
produksi.

Jadi, saya masih gak mau makan di Hoka-hoka Bento. Dosa lingkungannya
terlalu banyak; dan sekarang ditambah dengan usaha mengelabui
konsumen. huuuu...

:-)

r.

Marc-Antoine

unread,
May 8, 2011, 7:10:28 PM5/8/11
to greenli...@googlegroups.com, friskat...@gmail.com
Beberapa hari y.l., Ibu Yuyun kirim link yang sangat menarik ke artikel di majalah "Nature" mengenai aditif yang bikin plastik cepat terurai.


"Eco-friendly plastics memang bisa terurai tapi prosesnya sangat lama dan lambat. Tidak bisa dicampur dengan komposting karena akan mengacaukan hasil dan proses kompos Kesimpulan scientists: oxo-degradable plastics itu gak ada manfaatnya buat lingkungan... "
 
Eco-friendly plastics disintegrate, but might just linger in the environment.
Although it is clear that 'degradable' plastic bags, for example, will fall apart in the environment, the resulting fragments can persist for a long time, and there are no long-term studies on these pieces. A key issue is that products can be described as biodegradable without reference to the timescale it takes them to fully biodegrade.

"There are a tremendous number of papers about degradable polyethylene but no one has really shown a high degradation," says Ann-Christine Albertsson, a polymer researcher at the Swedish Royal Institute of Technology (KTH) in Stockholm and lead author on the critical review. "Of course they degrade in one way – they are losing part of their properties. But if you mean it as a positive for nature, that has not been proved."

The Defra report suggests that oxo-degradable fragments left outside in the United Kingdom would become small fragments over two to five years. The biodegradation of these small fragments then proceeds "very slowly", it notes.

These plastics should not be composted, as their breakdown fragments will ruin the resulting compost.

"Our conclusion was there is no benefit to the environment of oxo-degradable plastics," Thomas told Nature.


eriel...@gmail.com

unread,
May 8, 2011, 7:16:05 PM5/8/11
to greenli...@googlegroups.com, friskat...@gmail.com
Dapat terurai setelah penggunaan (dg wkt yg lama) bukan berarti aman saat memanfaatkannya!...

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: Marc-Antoine <dun...@gmail.com>
Date: Sun, 8 May 2011 16:10:28 -0700 (PDT)
Subject: Re: [greenlifestyle] Kemasan Hoka2 Bento dari styrofoam

bintang...@yahoo.com

unread,
May 8, 2011, 7:56:45 PM5/8/11
to greenli...@googlegroups.com
Dear kawan2,
Informasi ilmiah mutakhir ini semakin meyakinkan kita bahwa gerakan anti plastik harus makin digalakkan. Setiap org harus mulai risau / semakin merasa bersalah menggunakan dan membuang plastik yang nyata-nyata meracuni planet. Ketergantungan akan plastik harus terus digugat dengan semangat yang makin militan.

Bayangkan, sdh muncul sekelompok orang yang berjuang untuk 'melegalkan ganja' karena alasan2 yang ilmiah, katanya. .

Jadi untuk plastik, mari kita tidak kurang militannya berjuang mengurangi konsumsi plastik, sampai akhirnya masyarakat kita bebas plastik !

Ayo siapa akan mulai ?

Salam,
Bintang.

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


Date: Sun, 8 May 2011 23:16:05 +0000

Yodi (;)

unread,
May 8, 2011, 11:22:14 PM5/8/11
to greenli...@googlegroups.com
Susah juga pak, sebenarnya kita sendiri juga butuh plastik. Yang diperlukan adalah material pengganti plastik yang memiliki kekuatan ikatan unsur yang setara dengan plastik namun ramah lingkungan. Styrofoam dan Plastik sama2 mengkhawatirkan. Salah satu sampah yang jadi masalah juga sampah pampers dan pembalut yang justru berbahaya karena kandungan biologisnya. Apakah pemecahannya yang ideal?
 
Yodi D

--- Pada Ming, 8/5/11, bintang...@yahoo.com <bintang...@yahoo.com> menulis:

meutia....@gmail.com

unread,
May 9, 2011, 1:36:57 PM5/9/11
to greenli...@googlegroups.com
Dear all,
Saya ganti judulnya ya, karena topiknya agak bergeser.. :-)

Pak Yodi,

Kalau untuk pampers dan pembalut, sekarang sudah ada yang ramah lingkungan, yaitu terbuat dari kain.

Untuk popok, ada yang simpel seperti popok kain segiempat yang tipis dari bahan tetra itu yang sejak dulu ada. Ada juga yg lebih canggih, dengan bahan yang berlapis2 plus velcro sehingga penggunaannya mudah dan tidak tembus.

Untuk pembalut, bukan lagi menggunakan handuk digulung seperti jaman dulu, tetapi juga sudah dibuat canggih berlapis2 yang menyerap, tipis, namun tidak tembus.

Keduanya bisa dicuci dan dipakai ulang, sehingga tidak ada lagi sampah pampers dan pembalut.

Cara ini sangat ramah lingkungan juga jauh lebih sehat.

Kalau ada yg berminat bisa japri ke saya :-)
(maaf nebeng jualan hehehe..)

Btw tapi ada satu hal saya mau tanya ke Bapak/Ibu sekalian di sini.

Pada beberapa pembalut dan popok kain itu biasanya ada lapisan PUL (polyurethane laminate) yang membuat pembalut dan popok kain tidak tembus cairan. Itu jenis plastik bukan ya? (Mudah2an bukan :-D)

Kalau itu jenis plastik juga, sebenarnya secara jangka panjang tetap akan menambah jumlah sampah plastik, walaupun tidak sebanyak pampers dan pembalut sekali pakai.

Apakah ada info bahan yang tidak tembus cairan tapi bukan plastik? Kalau ada nanti saya usulkan ke produsen pembalut dan popok kain. Mudah2an bahannya tidak terlalu mahal :-)

Terima kasih.

Salam,
Meutia

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: "Yodi \(;\)" <buburaya...@yahoo.com>
Date: Mon, 9 May 2011 11:22:14 +0800 (SGT)

maria hardayanto

unread,
May 9, 2011, 1:41:34 PM5/9/11
to greenli...@googlegroups.com
Tentang Pampers dan Pembalut,

sebetulnya ada yg ngga sekali pakai, jadi bisa dan mudah dicuci. Biasanya untuk orang yg allergi. Harganya memang mahal tapi karena untuk pemakaian jangka panjang ya hitungannya jadi murah.

Produk ramah lingkungan dalam arti yang sebenarnya kan seperti itu. Mahal karena produknya organis bukan produk dengan berbagai gel yang membuat bayi gatal2. Selain itu mahal karena belum diproduksi masal.
Tapi kalo mau itung beneran (harga mahal : lama pemakaian) , jatuhnya malah murah.

salam
2011/5/9 Yodi (;) <buburaya...@yahoo.com>

maria hardayanto

unread,
May 11, 2011, 2:18:12 PM5/11/11
to greenli...@googlegroups.com
Hallo,

sebelum benar2 bergeser topiknya, sebetulnya  sudah ada penelitian pengganti styrofoam yg terbuat dari limbah pertanian dan akar jamur,   

masalahnya memang tergantung kebijaksanaan pemerintah, tanpa dukungan penuh produk organis bisa diproduksi massalpadahal selain menyelamatkan lingkungan, kebijaksanaan ini akan membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran karena padat karya :



tentang lapisan  pembalut dan popok kain itu biasanya ada lapisan PUL (polyurethane laminate) yang membuat pembalut dan popok kain tidak tembus cairan. Setahu saya itu jenis plastik.

Karena plastik kan ngga hanya kemasan, produk elektronik dan kantung plastik tapi juga baju, poly cotton : campuran plastik dan katun. Jadi kalo ada berita (worldcup)  pemain bola yg pake baju ramah lingkungan hanya karena bajunya terbuat dari sampah plastik yg didaur ulang menjadi biji plastik dan akhirnya benang plastik  ditenun menjadi kaus mereka sebetulnya ngga aneh. tapi yg pasti biayanya mahal sekali.

wah jadi ngelantur ke pemain bola ya , tapi tujuannya sih ngajak kita yang peduli untuk ngga terlena iklan yg menggreen-washing kan kita sehingga kita semua merasa baik2 aja.

salam   

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages