Pembangunan jalan tol: Bandung vs Surabaya

74 views
Skip to first unread message

armely meiviana

unread,
Jan 2, 2011, 10:29:46 PM1/2/11
to greenlifestyle
Selamat pagi semua....

Saya mendapat kiriman artikel bagus dari Shanty nih.
Tulisan ini mengingatkan saya pada pro-kontra pembangunan jalan tol Cipularang.
Bisa kita lihat dampaknya sekarang, bahwa warga Bandung tiap akhir pekan tidak dapat menikmati kotanya yang macet total karena mendapat limpahan mobil dari Jakarta.
Sementara KA Parahyangan yang sebelumnya menjadi tulang punggung transportasi Jkt-Bdg, harus 'dimakzulkan'.

Bagi rekan-rekan warga Surabaya, beruntung sekali bisa memiliki pemimpin spt Ibu Risma. Sudah sepatutnya kepala daerah seperti beliau mendapat dukungan luar biasa dari warganya (walau sampai hari ini belum lihat ada semacam gerakan mendukung beliau di jejaring sosial).

salam,
melly

*********************************************

sumber: http://properti.kompas.com/index.php/read/2010/12/29/09584037/Surabaya.Tolak.Jalan.Tol..Bandung.Malah.Membangun.Tol-12

Surabaya Tolak Jalan Tol, Bandung Malah Membangun Tol

Rabu, 29 Desember 2010 | 09:58 WIB

Kompas/Agus Susanto
ilustrasi pembangunan infrastruktur jalan tol

JAKARTA, KOMPAS.com - Surabaya memanas. Pro-kontra tentang perlu-tidaknya pembangunan tol tengah Surabaya, yang membelah kota itu melewati Waru, Menanggal, Gayungan, Jagir, Ngangel, Gubeng, Simokerto, hingga Morokrembangan; makin mengemuka.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berada di garda depan, untuk menolak tol tengah Surabaya itu. Menurutnya, pembangunan tol dalam kota itu tak menyelesaikan masalah kemacetan yang makin menggejala di sana.

Namun Selasa (28/12) kemarin, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Badan Usaha Milik Daerah-nya PT Jasa Sarana Jabar justru malah menyepakati nota kesepahaman dengan Kementerian Pekerjaan Umum.

Nota Kesepahaman itu, terkait pembebasan lahan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) sepanjang 58,50 kilometer, Pasirkoja-Sor eang sepanjang 15 kilometer dan ruas tol Terusan Pasteur-Ujung Berung-Cileunyi-Gedebage atau yang dikenal dengan tol Bandung Intra Urban Toll Road (BI-UTR) sepanjang 27,30 kilometer.

Menurut Menteri PU Djoko Kirmanto, sebelumnya pernah dilakukan kesepakatan antara pusat dan Pemprov Jawa Barat dan juga sejumlah kabupaten/kota untuk pembebasan lahan, namun tidak berjalan dengan lancar. Sehingga Nota Kesepahaman ini, menjadi kelanjutan untuk mempercepat realisasi pembangunan jalan tol tersebut yang sudah lama tidak jalan.

Surabaya mati-matian menolak jalan tol dalam kota. Sebaliknya Bandung malah mendukung tol dalam kota.

Ironis
Dua rencana yang bertolak belakang dalam menuntaskan problematika kemacetan di dua kota besar Indonesia, kini dipertontonkan dua pemimpin daerah itu.

Surabaya mati-matian menolak keberadaan tol dalam kota. Sebaliknya Bandung malah mendukung tol dalam kota. Wali kota Surabaya menyodorkan rencana transportasi massal, sementara Wali Kota Bandung belum mempresentasikan proposalnya tentang transportasi massal.

Ironisnya, Bandung dengan Institut Teknologi Bandung-nya, dikenal menelorkan ahli-ahli tranportasi terkemuka di republik ini. Ahli-ahli transportasi yang getol mendorong pembangunan transportasi massal.

Ambil contoh, ahli transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata-Semarang, Djoko Setijowarno mengambil gelar master dari ITB. Prof Kusbiantara, juga contoh lain dari ahli planologi dan ahli transportasi terkemuka yang berasal dari ITB.

Lantas masih di ITB, juga ada Harun Al-Rasyid, salah seorang pakar transportasi. Juga di Bandung, bermukim peneliti perkeretaapian, Taufik Hidayatyang hidup dan matinya, untuk kemajuan kereta api di Indonesia.

Pemimpin
Pembangunan transportasi massal ada pada kemauan kepala daerahnya, ujar Djoko Setijowarno. Ditambahkannya, keteguhan hati kepala daerah juga harus mumpuni ditengah dunia yang penuh dengan bujuk-rayu dengan ujungnya pada keuntungan pribadi.

Kepala daerah di Indonesia, kata Djoko, perlu belajar kepada Enrique Penalosa (mantan Wali Kota Bogota, Kolombia)perintis sistem jalur busway, dan Lee My Bak (mantan Wali Kota Seoul, yang berhasil membangun jaringan bus Seoul sehingga dipilih menjadi Presiden Korea Selatan).

Ketika datang ke Jakarta pada 10 November 2009, di Jakarta Convention Center, Penalosa berujar, Di kota-kota besar, penambahan panjang dan lebar jalan hanya akan memacu orang membeli mobil lagi. Daripada membangun jalan yang mahal, lebih baik memperlebar trotoar ."

"Warga harus dikondisikan mencintai angkutan massal dan meninggalkan kendaraan pribadi karena jalannya semakin sempit," kata Penalosa. Terlebih di Indonesia, karena keterbatasan anggaran, selalu menyebabkan pertumbuhan kendaraan lebih tinggi daripada pertumbuhan jalan.

Apa yang terjadi bila Bandung Intra Urban Toll Road (BI-UTR) selesai dibangun? Belum tentu kemacetan di Bandung teratasi, sebab kota itu harus menerima limpahan volume kendaraan asal Jakarta, yang terdorong masuk Bandung karena akses tol Jakarta-Cikampek-Padalarang.

Tata ruang dan rencana wilayah di Bandung bagian Utara yang sesungguhnya kawasan hijau berpotensi makin porak-poranda. Pertumbuhan wilayah dapat makin tak terkendali. Dan Bandung, hanya akan mengekor kemacetan total yang kini terjadi di Jakarta tiap harinya.

Visi yang Kuat
Bagaimana dengan Surabaya? Kita banyak berharap bahwa rencana pembangunan transportasi di kota itu, mampu menjadi secercah cahaya ditengah masa kegelapan yang menyelimuti kota-kota kita yang menuju kepada grid-lock , kemacetan total! Kemacetan yang dipicu oleh liarnya pertumbuhan kendaraan pribadi, dan kematian angkutan umum.

Persoalannya, masih ada banyak tantangan untuk sekedar membangun transportasi massal yang humanis bagi warga kota. Darmaningtyas, pengurus teras Masyarakat Transportasi Indonesia mengeluhnya, pemimpin seperti Wali Kota Surabaya dengan visi seperti Penalosa, malah diancam dimakzulkan.

Perjuangan untuk membangun transportasi massal ini sangat krusial. Ini bukan saja untuk masyarakat Surabaya pada masa sekarang, tetapi untuk anak-cucu masyarakat Surabaya di masa depan. Seperti apa wajah kota Surabaya pada 10-20 tahun mendatang, tergantung keputusan masyarakat Surabaya saat ini, kata Darmaningtyas, yang mendorong busway di Surabaya.

Angkat topi untuk Surabaya! Semoga visi pemimpin daerahnya membuka kota itu menuju masa depan yang lebih baik... (Haryo Damardono/KOMPAS)


Aulia Rahman

unread,
Jan 3, 2011, 9:31:10 PM1/3/11
to greenli...@googlegroups.com
Pemkot Surabaya jangan cuma bisa menolak tol tengah kota, tapi juga segera membangunkan transportasi kota yang sekarat. Warga kota Surabaya juga jangan cuma ikut-ikutan menolak tol, segera tinggalkan kendaraan pribadi anda pelan-pelan serta mulai gunakan transportasi publik.

aul

2011/1/3 armely meiviana <amei...@gmail.com>

--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "GreenLifestyle" group - Share this email!
To post to this group, send email to greenli...@googlegroups.com
To unsubscribe from this group, send email to greenlifestyl...@googlegroups.com
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/greenlifestyle?hl=id

Kurniawan Nugroho

unread,
Jan 3, 2011, 11:24:11 PM1/3/11
to greenli...@googlegroups.com

masyarakat tidak bisa begitu saja pindah moda transportasi ke transportasi publik tanpa insentif (aman, nyaman, cepat, terjangkau). respon masyarakat itu konsekuensial (sediakan dulu, lalu gunakan). lagipula untuk mendapatkan efek masif, inisiatif harus dilakukan penyedia kebijakan & infrastruktur publik (pemerintah).

contoh1: kasus busway (rakyat pengguna bus, inisiatif dan fasilitas oleh pemerintah)
sediakan dulu kebijakan dan infrastrukturnya transportasi massalnya dengan baik dan benar (jalur busway, aturan etc.), maka dengan insentif (aman, nyaman, cepat, terjangkau?) dan disinsentif (jalur kendaraan pribadi hilang untuk busway) yang ada, pengguna kendaraan pribadi akan pindah ke moda transportasi publik dengan sendirinya dengan jumlah signifikan hingga dengan demikian, berefek masif. contoh terbaru adalah beralihnya pengguna kendaraan pribadi ke busway koridor terbaru (diinterview di tv7 bbrp sat yg lalu). semua ini perlu kemauan dan keberanian pemerintah.

contoh2: kasus bike to work (inisiatif rakyat pengguna sepeda, tidak fasilitasi oleh pemerintah)
rakyat berinisiatif beraktifitas dengan bersepeda, namun tidak difasilitasi oleh pemerintah, contohnya dengan tidak adanya jalur sepeda. tidak banyak insentif yang ditawarkan disini, growth rate jumlah orang yang adopsi ke moda ini tidak naik dengan cepat. anyway, sepeda pun juga termasuk kendaraan pribadi jd jg bukan solusi transportasi publik (kecuali combo moda publik dg sepeda lipat).

curcol, saya jg tadinya pengguna bus, tapi sejak muak dengan kriminal yg saya temui SETIAP HARI diatas bus, lalu saya seperti orang lain memilih menggunakan kendaraan pribadi. kalau ada sistem transportasi publik seperti busway (aman) yang lewat daerah tempat tinggal saya, saya akan gunakan.

jangan bikin jalan lagi, bikin taman aja.

salam, wawan.



Aulia Rahman <mail.a...@gmail.com>
Sent by: greenli...@googlegroups.com

01/04/2011 09:31 AM

Please respond to
greenli...@googlegroups.com

To
greenli...@googlegroups.com
cc
Subject
Re: [greenlifestyle] Pembangunan jalan tol: Bandung vs Surabaya





Pemkot Surabaya jangan cuma bisa menolak tol tengah kota, tapi juga segera membangunkan transportasi kota yang sekarat. Warga kota Surabaya juga jangan cuma ikut-ikutan menolak tol, segera tinggalkan kendaraan pribadi anda pelan-pelan serta mulai gunakan transportasi publik.

aul

2011/1/3 armely meiviana <amei...@gmail.com>
Selamat pagi semua....

Saya mendapat kiriman artikel bagus dari Shanty nih.
Tulisan ini mengingatkan saya pada pro-kontra pembangunan jalan tol Cipularang.
Bisa kita lihat dampaknya sekarang, bahwa warga Bandung tiap akhir pekan tidak dapat menikmati kotanya yang macet total karena mendapat limpahan mobil dari Jakarta.
Sementara KA Parahyangan yang sebelumnya menjadi tulang punggung transportasi Jkt-Bdg, harus 'dimakzulkan'.

Bagi rekan-rekan warga Surabaya, beruntung sekali bisa memiliki pemimpin spt Ibu Risma. Sudah sepatutnya kepala daerah seperti beliau mendapat dukungan luar biasa dari warganya (walau sampai hari ini belum lihat ada semacam gerakan mendukung beliau di jejaring sosial).

salam,
melly

*********************************************

sumber:
http://properti.kompas.com/index.php/read/2010/12/29/09584037/Surabaya.Tolak.Jalan.Tol..Bandung.Malah.Membangun.Tol-12
Surabaya Tolak Jalan Tol, Bandung Malah Membangun Tol
Rabu, 29 Desember 2010 | 09:58 WIB


Kompas/Agus Susanto
ilustrasi pembangunan infrastruktur jalan tol

JAKARTA, KOMPAS.com - Surabaya memanas. Pro-kontra tentang perlu-tidaknya pembangunan tol tengah Surabaya, yang membelah kota itu melewati Waru, Menanggal, Gayungan, Jagir, Ngangel, Gubeng, Simokerto, hingga Morokrembangan; makin mengemuka.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berada di garda depan, untuk menolak tol tengah Surabaya itu. Menurutnya, pembangunan tol dalam kota itu tak menyelesaikan masalah kemacetan yang makin menggejala di sana.

Namun Selasa (28/12) kemarin, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Badan Usaha Milik Daerah-nya PT Jasa Sarana Jabar justru malah menyepakati nota kesepahaman dengan Kementerian Pekerjaan Umum.

Nota Kesepahaman itu, terkait pembebasan lahan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) sepanjang 58,50 kilometer, Pasirkoja-Sor eang sepanjang 15 kilometer dan ruas tol Terusan Pasteur-Ujung Berung-Cileunyi-Gedebage atau yang dikenal dengan tol Bandung Intra Urban Toll Road (BI-UTR) sepanjang 27,30 kilometer.

Menurut Menteri PU Djoko Kirmanto, sebelumnya pernah dilakukan kesepakatan antara pusat dan Pemprov Jawa Barat dan juga sejumlah kabupaten/kota untuk pembebasan lahan, namun tidak berjalan dengan lancar. Sehingga Nota Kesepahaman ini, menjadi kelanjutan untuk mempercepat realisasi pembangunan jalan tol tersebut yang sudah lama tidak jalan.

Surabaya mati-matian menolak jalan tol dalam kota. Sebaliknya Bandung malah mendukung tol dalam kota.



--------------------------------------------------------------------
This message contains confidential information and is intended only for the addressee named. If you are not the named addressee (or authorised to receive for the addressee), you must not disseminate, distribute or copy this email.Please notify the sender immediately by e-mail if you have received this e-mail by mistake and delete this e-mail from your system

Joko Wiratmo

unread,
Jan 4, 2011, 1:18:10 AM1/4/11
to greenli...@googlegroups.com
Dear all,
Dari sisi iklim dan cuaca mikro, keadaan makin banyaknya mobil pribadi juga tidak menguntungkan. Apalagi Bandung juga merupakan daerah cekungan sehingga emisi gas buang hanya berputar-putar di atas Bandung saja. Yang saya amati, makin banyak angkutan kota yang sepi penumpang karena makin banyaknya kepemilikan kendaraan pribadi. Saya pikir memang satu-satunya cara adalah dengan memperbanyak moda transportasi yang ramah lingkungan dan disiplin waktu dan tempat, seperti di Jepang.

Sedangkan Surabaya, karena merupakan dataran yang nyaris rata, dampak transportasi terhadap cuaca dan iklim mikro tidak akan separah Bandung.

Mungkin sinyalemen, bahwa dengan makin banyaknya jalan tol makin menebal kantong saku pribadi para aparatur negara yang terlibat, makin jamak di negeri ini. Moga-moga ada revolusi pemikiran pada diri para aparatur pemerintah untuk memikirkan dan melaksanakan program jangka pendek dan panjang yang makin menguntungkan masyarakat.

Salam,
Joko Wiratmo





2011/1/3 armely meiviana <amei...@gmail.com>

--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "GreenLifestyle" group - Share this email!
To post to this group, send email to greenli...@googlegroups.com
To unsubscribe from this group, send email to greenlifestyl...@googlegroups.com
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/greenlifestyle?hl=id



--
Joko Wiratmo
Laboratorium Meteorologi Terapan
Program studi Meteorologi
Kelompok Keahlian Sains Atmosfer
Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesa 10 Bandung 40132 Jawa Barat
tlp. 022-2500494
--------------------------------------------------
http://djokowiratmo.blogspot.com/
--------------------------------------------------

Muhammad Farid

unread,
Jan 4, 2011, 4:43:46 AM1/4/11
to greenli...@googlegroups.com
Bapak, Ibu dan kawan semua,
 
Saya ikut nimbrung.  Carrying capacity Pulau Jawa sudah jenuh, ini akan mengganggu Climate security, food security, feswater security dan social security di masa mendatang.  Pembangunan jalan tol di pulau Jawa akan mendorong munculnya perumahan-perumahan baru di sepanjang jalan tol tersebut.  Ini akan membuat keadaan semakin kompleks.  Seharusnya sekarang kita pindahkan penduduk ke luar Pulau Jawa dan kalau perlu Ibukotanya juga, misalnya gagasan ke Palangkaraya.
 
Di Bandung seperti yang disebutkan Pak Joko, ternyata akan lebih kompleks lagi (Thanks informasinya Pak).  Rupanya bukan jalan tol jalan keluar buat Bandung, tapi public transportasinya yang ahrus dikembangkan.  Sudah banyak contoh kota di dunia yang berhasil.  Rupanya perlu keseriusan baik eksekutif maupun legislatifnya.  Sekarang perlu mendesak keduanya untuk kemashalatan di masa mendatang.  Kekuatan public sebenarnya bisa disalurkan karena berkaitan dengan hajat hidup orang banyak di masa mendatang. 
 
Algore yang sebentar lagi datang:  If you want to go quickly, go alone, But if you want go far, go together. Now we need to go far together quickly.
 
Salam hangat, Farid

2011/1/4 Joko Wiratmo <wiratmo...@gmail.com>



--
Muhammad Farid
If U wanna go quickly, go alone
If U wanna go far, go together
Now, we have to go together quickly

ubaidillah syohih

unread,
Jan 5, 2011, 1:58:41 AM1/5/11
to greenli...@googlegroups.com
Lama tak bersua kawans, walaupun sekadar dari dunia maya.

Pernah terpikir oleh saya (mungkin sekadar mimpi di siang bolong),
andai kata sistem tata kelola transportasi di Jakarta ataupun di
daerah lain meniru sistem zonasi yang diterapkan di Taman Nasional,
ada Zona Pemanfaatan, Zona Penyangga, dan Zona Inti.

Untuk penerapannya, pada zona pemanfaatan, semua jenis kendaraan, baik
umum maupun pribadi diperbolehkan melintas di zona ini. Pada zona
penyangga, hanya kendaraan umum dan kendaraan nirpolutan yang
diperbolehkan melintas. Dan pada zona inti, hanya kendaraan nirpolutan
yang diperbolehkan melintas, baik itu kuda, sepeda, or apapun yang
tidak bermesin. Eksepsi dimungkinkan untuk kendaraan-kendaraan untuk
kepentingan khusus, seperti ambulans.

Sekadar bermimpi, mumpung masih bisa tertidur pulas di salah satu
kursi bus dengan nyamannya.

--
Regards,


Ubaidillah Syohih
http://ecopropagangster.blogspot.com


-beranjak masuk ke dalam ruang yang lebih sempit dengan visi yang lebih luas-

rachman...@toppan.co.id

unread,
Jan 5, 2011, 2:20:02 AM1/5/11
to greenli...@googlegroups.com
Ide bagus..... Ikutan mimpi ahhh
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: ubaidillah syohih <u.sy...@gmail.com>
Sender: greenli...@googlegroups.com
Date: Wed, 5 Jan 2011 13:58:41
To: <greenli...@googlegroups.com>
Reply-To: greenli...@googlegroups.com
Subject: Re: [greenlifestyle] Pembangunan jalan tol: Bandung vs Surabaya

Muhammad Farid

unread,
Jan 5, 2011, 2:50:10 AM1/5/11
to greenli...@googlegroups.com
Ini ide yang bagus sekali.  Mungkin kalau di kota besar susah diterapkan karena sudah eksis kebobropkannya.  Tapi kita kan banyak sekali kabupaten dan propinsi baru agar mengadopsi mimpi yang indah ini.
 
Salam, Farid

2011/1/5 ubaidillah syohih <u.sy...@gmail.com>
--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "GreenLifestyle" group - Share this email!
To post to this group, send email to greenli...@googlegroups.com
To unsubscribe from this group, send email to greenlifestyl...@googlegroups.com
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/greenlifestyle?hl=id

Edo Gandawiguna

unread,
Jan 5, 2011, 9:35:28 PM1/5/11
to greenli...@googlegroups.com
Dear all,
Selamat siang,

Salam kenal semuanya,
Saya ingin menanyakan apakah selama ini di Indonesia, sudah ada lembaga atau bahkan perusahaan yang mengumpulkan baterai bekas untuk didaur ulang? Karena bila diperhatikan dengan seksama kehidupan sehari - hari kita tidak bisa terlepas dari baterai. Tetapi yang ironis adalah baterai tersebut termasuk dalam kategori B3 (Bahan Beracun & Berbahaya).

Bagaimana tanggapan Bapak Ibu tentang masalah baterai ini? Mungkin ada tanggapan atau masukan dari Bapak Ibu sekalian.

Regards,
Edo Gandawiguna.


From: "rachman...@toppan.co.id" <rachman...@toppan.co.id>
To: greenli...@googlegroups.com
Sent: Wed, January 5, 2011 2:20:02 PM

ubaidillah syohih

unread,
Jan 7, 2011, 4:04:40 AM1/7/11
to greenli...@googlegroups.com
Perlu pula menjadi perhatian kita, adanya pembatasan waktu operasional
angkutan umum merupakan salah satu alasan masyarakat membeli
(tunai/kredit) kendaraan bermotor. Salah satu contohnya untuk kawasan
Ciputat, hanya angkot D01 (Ciputat - Kebayoran Lama), D02 (Ciputat -
Pondok Labu), dan 29 (Ciputat - Parung) yang beroperasi 24 jam,
sedangkan untuk trayek lain dibatasi hingga Pk 22.00. Bisa dimengerti
memang pembatasan itu dilakukan untuk mendistribusikan pendapatan bagi
ojek sepeda motor.

Selain itu, kemudahan mobilitas juga menjadi alasan lain masyarakat
membeli (tunai/kredit) kendaraan bermotor. Tanpa terbatas waktu dan
terhambat pembatasan waktu operasional angkutan umum, para pemilik
kendaraan bermotor dapat menikmati debu-debu aspal. :D

Segitu aja dulu. Mumpung dapet sedikit wangsit dari yg punya banyak wangsit.

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages