Dear all,
Menurut saya betul itu pohon Khaya
Senegalensis. Bibitnya diambil dari nursery Kebun Raya Bogor (KRB)
seperti jenis lain "Atamimi" (atau pohon sosis: Kigelia Ethiopica),
Pohon Kecrutan (atau "African Tulip Tree" Spathodea campanulata)
dan banyak lagi.
Kebetulan dalam rangka pembangunan proyek MPR/DPR
dan Gelora Senayan, saya terlibat sebagai arsitek lansekapnya, tahun 1968-1980,
sempat bolak-balik ke KRB tentunya untuk transfer jenis-2 khusus
tsb.
.
Seperti diketahui proyek raksasa ini sudah dimulai
sejak tahun 1962-3an, dalam rangka menhadapi Asian Games. Jadi saya hanya
berkesempatan nimbrung di tengah-2. Pohon khaya ini memang sengaja ditanam
bahkan sampai ke halaman Komdak Jaya, mudah-an sampai sekarang masih ada
(banyak), juga (tentu) di 'halaman' hotel Sultan (ex-Hilton).
Di halaman unit Krida Loka (di belakang Stadion
Renang) seperti di unit lain (sekarang disebut YGBK Senayan) ini memang masih
relatif banyak dan berdiri tegak, bahkan Angsana (Pterocarpus indicus)
yang mulai sebagai tanaman oeneduh jalan tak disukai karena mudah tumbang,
tetapi di Krida Loka tumbuh dengan sehat, besar dan tetap tegak
Di Taman Ria Remaja yang lingkungannya menjadi
rusak oleh pengembang terakhir (menjadi beberapa macam resto yang letak dan
bangunannya pun jadi BERANTAKAN, kami menanam banyak pohon Khaya dll seperti
yang disebutkan termasuk pohon sengon (atternatif peneduh), tapi tentu sudah
ditebang habis demi sebuah kompleks penuh dnegan struktur bangunan permainan
anak-2 (meniru Dufan) yang GATOT (gagal total) itu lalu menjadi
pemandangan 'kumuh'.
Sedih dan prihatin bahwa karya perencanaan
(planning) dan perancangan (design) kawasan yang telah dengan
susah payah (dan mahal) dikerjakan dengan konsep dan filosofi yang kuat
(kaitan dengan kemegahan gedung MPR/DPR yang sekarang terasa kurang 'agung' itu)
karena kaitan erat antar bercak-bercak maupun jalur hijau RTHnya dari kompleks
Manggala Wanabhakti, Kompleks Gedung MPR/DPR dan berakhir di kawasan YGBK
itu telah 'kehilangan arti" alias tanpa makna. Apalagi jalinan RTH
itu lalu terputus atau sengaja diputus oleh
berbagai struktur bangunan-2 yang besar dan tinggi (a.l
yang dikenal dengan Plasenta, Senci, dll banyak sekali itu dan mungkin akan
terus bertambah itu) kemungkinan besar AKAN TERUS BERLANJUT? siapa yang bisa
'membela' agar kawasan ini TETAP NYAMAN, AMAN, INDAH dan ASRI? Nampaknya jarang
orang (pejabat apalagi developer) yang masih peduli
Wah, maaf jadi ngelantur dan tebawa EMOSI, maklum
jadi nostalgia secara dulu terlibat lahir dan bathin. Sejak gadis sampai
punya empat cucu yang manis-2, hehehe. Tentu saja nenek mana yang ga memuja
cucunya? Sekali lagi maaf sudah terpaksa membaca (melihat) curhat pribadi
ini. Tapi saya kagum dan hormat dengan pak SBD dkk semua yang tentu dengan
semangat muda tetap memperhatikan (dan memperjuangkan) penghijauan (tanaman)
bersama dengan sikap GL-hijau yang belum tentu 'hanya' oleh karena "hijaunya
tanaman" saja. Saya hanya mampu berdoa agar segera mereka yang "zalim" itu
segera insyaf bahwa tanah air kita tercinta ini sudah amat sangat
terbahayakan. Amin.
tanaman" tetapi juga pikiran, sikap dann perbuatan
hijau dalam berbagai hal.
Salam prihatin,
Ning Purnomohadi
(yang terus mau usaha sekecil apa pun untuk
lingkungan yang patut masih menjadi ruang hidup 'manusia' karena itu suka
nimbrung kelompok anak-2/muda terkait)