Tatalaksana Rheumatoid Arthritis Kemenkes

0 views
Skip to first unread message

Vittoria Pretlow

unread,
Aug 5, 2024, 3:41:36 AM8/5/24
to golddetime
Tujuanutama penatalaksanaan rheumatoid arthritis (RA) adalah untuk mencapai remisi penuh atau secara signifikan menurunkan progresivitas penyakit dalam rentang waktu sekitar 6 bulan. Penatalaksanaan juga bertujuan untuk mengurangi nyeri, mencegah kerusakan sendi, kecacatan dan manifestasi sistemik RA, serta meningkatkan kualitas hidup. Pasien dapat diberikan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), kortikosteroid, dan disease-modifying anti-rheumatic drugs (DMARDs).[6,8]

Pasien yang terdiagnosis rheumatoid arthritis sebaiknya segera dirujuk ke ahli reumatologi untuk inisiasi disease-modifying anti-rheumatic drug (DMARDs). Inisiasi terapi sebelum timbulnya erosi telah dilaporkan bermanfaat mengurangi risiko kerusakan dan kecacatan sendi di masa depan.[4,7]


Disease Modifying Anti-rheumatic Drugs (DMARDs) merupakan agen yang menghambat umpan balik positif sinyal inflamasi pada keadaan rheumatoid arthritis. DMARDs dapat dibagi menjadi sintetik (konvensional dan target) dan biologik. DMARDs yang umum digunakan pada rheumatoid arthritis antara lain methotrexate, leflunomide, sulfasalazine dan hydroxychloroquine.[4,6,7]


Methotrexate (MTX) merupakan terapi lini pertama pada rheumatoid arthritis. Methotrexate diberikan 7,5 mg hingga 10 mg per minggu. Bila pasien toleransi terhadap Methotrexate namun tidak berespons selama 1 bulan, dosis dapat dinaikkan menjadi 15 mg per oral per minggu. Maksimal dosis 20 mg per minggu. Efek samping tersering iritasi lambung dan stomatitis.


Sulfasalazine merupakan terapi lini kedua dari rheumatoid arthritis. Dosis awal biasanya 500 mg diberikan 2 kali per hari selama 1 minggu pertama, dilanjutkan sesuai respon pengobatan. Dosis dapat ditingkatkan 500 mg setiap minggu, hingga maksimal 3 gram per hari dibagi dalam 3-4 dosis. Dosis 3 gram per hari dapat diberikan setelah setidaknya 12 minggu pengobatan.[4,7,14]


Agen biologis merupakan golongan obat yang menghambat reaksi inflamasi pada beberapa tahapan imunologi seperti antagonis faktor nekrosis tumor (TNFAs) dan inhibitor sitokin. Dapat digunakan sebagai monoterapi atau kombinasi dengan DMARDs sintetik konvensional, seperti methotrexate.


Kortikosteroid seperti prednisolone merupakan obat antiinflamasi potensi kuat yang dapat digunakan sebagai terapi adjuvan pada rheumatoid arthritis. Namun, penggunaan kortikosteroid berkaitan dengan efek samping seperti perdarahan saluran cerna dan osteoporosis. Kortikosteroid dapat diberikan saat inisiasi atau mengganti terapi DMARDs, tetapi sebaiknya digunakan sesingkat mungkin dan memerlukan tapering off.[4,8,14]


Prednison oral dapat diberikan dalam dosis 5-10 mg/hari. Alternatif lain adalah triamcinolone intraartikular 10-40 mg tergantung ukuran sendi yang akan diinjeksi, dapat diberikan namun tidak lebih dari 4 kali per tahun.[8,15]


Tujuan dari fisioterapi adalah mengurangi nyeri dan kekakuan, mencegah deformitas, memaksimalkan fungsi, serta meningkatkan kualitas hidup melalui peningkatan tonus otot. Aktivitas yang dilakukan dapat berupa aktivitas aktif seperti latihan sendi, maupun secara pasif melalui termoterapi, elektroterapi, serta terapi ultrasonografi.[6]


Pasien dengan rheumatoid arthritis sebaiknya menjalani program berhenti merokok. Pasien yang obesitas perlu mengikuti program penurunan berat badan yang dapat mencegah progresivitas penyakit lebih lanjut.[4,6,8]


Background: One of the chronic diseases is rheumatoid arthritis (RA) is the most common auto immune disease, which is inflammation of the joints that occurs in adulthood and the elderly. According to the American Collage Of Rheumatology, 2015, rheumatoid arthritis has a significant negative impact on the ability to move, both work and household chores and affect quality of life and increase mortality. Indications of an increase in cases of rheumatism in the community one of them because of the lack of family attention to the prevention and care of family members who have rheumatic diseases. Aim: To find out Family Nursing Care with the Application of Complementary Therapy in Rheumatism Cases in one of Kanagarian Sumatera Barat. Method: In implementation, complementary therapy is applied to Rheumatic patients, namely through routine health checks, physical activity, rheumatic diet, gymnastics elderly, and consumption fro. Results: Rheumatism pain that was experienced Ny. Z has decreased from pain scale 6 (moderate) to 2 (mild) after ingestion of the frost for 6 days. Conclusion: : The application of complementary therapies showed improvement in patients suffering from rheumatism, therefore, the application of evidence-based nursing in providing nursing care is recommended.


Rheumatoid arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan adanya proses peradangan kronik.Prevalensi penderita RA tertinggi di dunia berada di negara Australia sedangkan penderita RA terendah berada di Afrika Selatan, Indonesia sendiri daerah dengan prevalensi penderita RA tertinggi berada di Provinsi Aceh.Tujuan dari Karya Ilmiah Akhir ini untuk melaksanakan asuhan keperawatan dengan masalah rheumatoid arthritis pada lansia dengan metode Studi Kasus. Diagnosa yang diangkat dalam masalah ini adalah gangguan mobilitas fisik, defisit nutrisi dan resiko jatuh. Implementasi diberikan selama 4 hari untuk diagnosa gangguan mobilitas fisik berupa latihan Range Of Motion (ROM). Dari hasil evaluasi implementasi yang diberikan terhadap klien terdapat peningkatan rentang gerak, dan kaku sendi berkurang. Disarankan kepada lansia untuk tetap melanjutkan latihan ROM dengan dukungan keluarga. Rekomendasi bagi puskesmas, dan peneliti selanjutnya untuk dapat melanjutkan asuhan keperawatan kepada klien terkait masalah defisit nutrisi dan risiko jatuh.


Pseudogout adalah salah satu jenis artritis atau radang sendi yang disebabkan oleh penumpukan kristal pyrophosphate calcium. Kondisi ini ditandai dengan nyeri dan bengkak di sendi. Pseudogout sering menyerang orang yang berusia di atas 60 tahun atau lansia.


Meski demikian, pseudogout dan gout disebabkan oleh kondisi yang berbeda. Gout disebabkan oleh penumpukan kristal asam urat sehingga dikenal juga dengan penyakit asam urat. Sementara itu, pseudogout terjadi akibat penumpukan kristal kalsium pirofosfat.


Penyebab utama pseudogout adalah pengendapan dan penumpukan kristal pyrophosphate calcium atau kalsium pirofosfat di sendi. Kondisi ini dapat memicu terjadinya radang sendi yang kemudian menyebabkan kerusakan, nyeri, dan bengkak di sendi.


Keluhan yang terjadi akibat pseudogout mirip dengan beberapa penyakit, misalnya gout, osteoarthritis, dan rheumatoid arthritis. Oleh sebab itu, pemeriksaan sejak dini diperlukan untuk mengetahui penyebab pastinya sehingga penanganan dapat dilakukan dengan tepat.


Untuk mendiagnosis pseudogout, dokter akan melakukan tanya jawab seputar keluhan yang dialami pasien, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarganya. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan di sendi untuk melihat tanda-tanda peradangan.


Penderita pseudogout juga dianjurkan untuk melakukan perawatan mandiri di rumah. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah mengistirahatkan sendi yang terasa nyeri atau mengompres dingin area sendi yang mengalami peradangan.


Pseudogout dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan gangguan pergerakan. Selain itu, endapan kristal kalsium pirofosfat yang terus berlanjut bisa menyebabkan kerusakan sendi secara permanen dan meningkatkan risiko terjadinya kista di sendi dan taji tulang.


Anda juga dianjurkan untuk mengurangi beban kerja sendi sehingga keluhan tidak sering kambuh. Upaya yang dapat Anda lakukan adalah berolahraga secara rutin, mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi seimbang, dan menjaga berat badan agar tetap ideal.


JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah menyatakan saat ini ada lima jenis obat tidak lagi masuk dalam daftar obat-obatan untuk terapi pasien Covid-19. Kelima obat itu yakni Ivermectin, Klorokuin, Oseltamivir, plasma konvalesen dan Azithromycin.


Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, saat ini ada tiga obat pengganti yang dapat diberikan untuk terapi pasien yang terpapar virus Corona. Ketiganya yakni Fapivirafir, Remdesivir dan Tocilizumab.


Dalam Revisi Protokol Tata Laksana Covid-19, lima organisasi profesi kedokteran tak lagi memasukkan lima obat itu dalam standar perawatan pasien Covid-19. Kelima lembaga itu terdiri dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).


Obat ini bekerja dengan mekanisme menghambat RNA-dependent RNA polymerase pada sel virus sehingga replikasi virus terganggu. Mekanisme ini membuat favipiravir menjadi obat antivirus dengan spektrum luas.


Dilansir dari Pedoman Tatalaksana Covid-19 oleh beberapa perhimpunan dokter Indonesia, favipiravir bisa digunakan pada pasien dengan gejala ringan hingga berat. Namun, penggunaannya masih sangat terbatas sehingga tidak boleh diberikan untuk ibu hamil atau perempuan yang merencanakan kehamilan.


Pasien Covid-19 tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi obat ini secara sembarangan tanpa resep dan pengawasan dari dokter. Umumnya obat Oseltamivir tablet 75 mg, atau Favipiravir juga diberikan kepada pasien Covid-19 sebagai terapi pendukung, sesuai dengan indikasi gejala yang dialami oleh pasien dan harus dengan resep dokter.


Remdesivir merupakan obat pertama yang disetujui untuk mengobati penyakit Covid-19. Hal itu berdasarkan otorisasi penggunaan darurat yang diberikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (Food and Drug Administration/FDA) pada 1 Mei 2020 lalu.


Obat produksi Gilead Sciences tersebut diklaim dapat mempercepat waktu pemulihan pasien yang terinfeksi virus corona. Selain itu, obat remdesivir mampu mempersingkat waktu pemulihan pada 1.063 pasien dengan rata-rata sekitar empat hari dirawat di rumah sakit.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages