Download Film Sokola Rimba

0 views
Skip to first unread message

Laurelino Braendel

unread,
Aug 4, 2024, 11:21:25 PM8/4/24
to godanimens
TokohButet diperankan Prisia Nasution. Seperti Laskar Pelangi, Riri kembali melibatkan orang lokal dalam filmnya kali ini. Mereka adalah Nyungsang Bungo, Beindah, dan Nengkabau, serta dibantu sekitar 80 anak rimba yang berasal dari pedalaman hutan Bukit Dua Belas. Meski bukan aktor profesional, Riri mengaku tidak mengalami kesulitan dalam mengarahkan peran mereka.

Sang produser, Mira Lesmana mengatakan film yang memakan waktu 14 hari syuting itu menelan biaya sebesar Rp 4,6 miliar. Selain melibatkan 80 orang kru Orang Rimba, film ini juga melibatkan 35 kru film dari Jakarta, 15 kru dari Jambi. Syuting film 95 persen di Provinsi Jambi yakni di Kabupaten Merangin dan Tebo.


Orang Rimba adalah masyarakat adat yang hidup berkelompok dan berpindah-pindah di pedalaman Jambi. Dengan memegang teguh adat-istiadat, mereka mencoba bertahan meski tanah tempat mereka berdiam tak serimbun dulu. Binatang buruan semakin langka. Orang-orang Rimba hanya bisa menatap ketika satu per satu pohon madu raksasa yang selama ini mereka keramatkan roboh dihajar gergaji mesin.


Tentu tak semua pengalaman Butet yang kaya warna di bukunya setebal 348 halaman itu divisualkan. Ada keterbatasan durasi. Inti film berpijak pada tokoh Butet dan Nyungsang Bungo, anak Rimba yang tinggal di Hilir Sungai Makekal. Dia adalah remaja cerdas dan serius ingin belajar. Dari Nyungsang inilah konflik dibangun.


Film ini diawali saat Butet, yang telah tiga tahun mengajar anak Rimba di hilir Sungai Makekal Ulu, terserang malaria. Dia pingsan di tepi sungai di tengah belantara dan ditolong seorang anak Rimba dari hilir. Inilah pertemuan awal Butet dan Nyungsang.


Nyungsang diam-diam memperhatikan Butet mengajar. Keinginan kuat untuk bisa membaca dan menulis mendorong Butet memperluas wilayah kerjanya ke hilir Sungai Makekal, tempat tinggal Nyungsang. Muncul masalah. Tidak hanya memanaskan hubungan Butet dengan atasannya. Butet juga mesti berhadapan dengan sikap sinis orang-orang Rimba di hilir yang menentang kehadirannya.


Anggota Orang Rimba yang masih remaja ini tidak bisa merima sikap Tumenggung Badai yang mengusir secara halus sang ibu guru. Dalam adat Orang Rimba, belajar atau sokola adalah pantangan. Mereka yakin, sokola akan mendatangkan bala, kutukan, bahkan kematian.


Potret kehidupan Orang Rimba tersaji apik dalam film ini. Mulai dari kondisi hutan Orang Rimba yang dikepung kelapa sawit, gelondongan-gelondongan kayu bergelimpangan di sana-sini, hasil buruan yang makin berkurang seiring dengan masifnya pembabatan hutan, sampai pada transaksi ekonomi di pasar yang kerap menipu orang-orang rimba.


Pada tayangan premier 21 November 2013 lalu, Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA) memborong 700 tiket empat teater bioskop 21 WTC, Jambi. Hasan Basri, Riri Riza, Butet Manurung, Prisia Nasution bersama kru film Sokola serta 568 siswa SD dan SMP yang ada di Kota Jambi cukup antusias menonton bareng.


Sebagai sebuah film cerita, Sokola Rimba memang memasukkan tokoh rekaan dan dramatisasi. Tapi itu tak membuat Riri menghilangkan narasi. Dia mungkin punya alasan lain. Dengan membuatnya seperti film dokumenter, kita justru bisa melihat kehidupan anak Rimba yang natural. Misalnya cara mereka bicara, berpakaian, berburu, dan berhubungan dengan orang lain, hingga ritual adat. Apa yang mereka ungkapkan dalam film terasa betul murni dari hati.


I was delighted this week to attend a screening of the film Sokola Rimba (Jungle School) with a Q&A session with the anthropologist who set up the schooling initiative, Indonesian anthropologist Butet Manurung. The Jungle School is a full length feature film adapted from a book of the same name by Butet who wrote the book from the diaries she kept during her first years living in the jungle in Sumatra. In 1999, Butet joined the conservation NGO, WARSI, to lead their informal educational program for the indigenous Orang Rimba, (People of the Forest) who live in nomadic tribes in the rainforests of Jambi. The way of life and homeland of the Orang Rimba is under threat from deforestation and development. Her work in the jungle evolved into co-founding SOKOLA, a non-profit organization providing educational opportunities for marginalized people in remote areas of Indonesia.


I greatly enjoyed the film and was captivated throughout the duration. The indigenous children were truly delightful to watch. Riri also did a good job of portraying the doubts, fears and superstitions experienced by the village elders as the palm plantation and loggers encroached on their traditional lands.


Butet learnt the language of the Orang Rimba to be able to teach them in both their own language and Bahasa Indonesian. This did not come across to me in the film perhaps because my Indonesian is extremely rudimentary. The film is subtitled throughout and it was a pleasure to listen to Indonesian again after travelling through Malaysia and Indonesia at Christmas last year (lots of posts under the Travel menu). My children study Indonesian and it was their teachers that invited us to this film launch. I decided not to take my children because the film was in Indonesian and they would have struggled to read the subtitles.


The movie, directed by acclaimed Indonesian director Riri Riza, was released nationally throughout Indonesian cinemas in November 2013. The movie received The Piala Maya Award for best film of 2013 in Indonesia. It was screened at the International Environmental Film Festival in Washington DC and is on the program for the Indonesian Film Festival (IFF) in Australia this year. You can view the trailer here:


Dalam filmnya Sokola Rimba saya merasa sangat senang untuk orang rimba karena mereka belajar membaca, menulis dan nomor-nomor tambahkan. Karakter saya favorit adalah Doctor Astrid karena percaya komunitas salah tentang orang rimba dan orang rimba lebih cerdas mengerti lingkungan. Tema menggambarkan efeknya transmigrasi, menghancurkan hutannya dan penyebaran perkebunan kelapa sawit. Dalam Indonesia orang rimba digambarkan minoritas sosial dan budaya. Orang yang tingal di hutannya menggambarkan tradisional aspek budaya.


Saya menonton film itu di bioskop dengan sekolah saya. Ketika saya mendengar tentang film ini, saya tahu film itu terlihat tertarik. Saya suka cerita film dan saya suka karekter nama Butet and saya suka Orang Rimba, tetapi saya tidak suka Butan karena Butan tidak berpikir tentang Orang Rimba, hanya bisnisnya dan uang. Tema favorit saya ketika butet bertemu wanita Warung karena wanita Warung sangat lucu!


Saya menonton film itu di bioskop dengan teman-teman saya dari sekolah saya. Ketika saya mendengar tentang film ini, saya tahu film itu terlihat tertarik. Saya suka cerita film, karekter nama Butet dan Orang Rimba, tetapi saya tidak suka Butan karena dia tidak berpikir tentang Orang Rimba, hanya bisnisnya dan uang. Tema favorit saya ketika butet bertemu wanita dari Warung karena dia sangat lucu! I rekomendasi film itu ke anak-anak dari umur 10+ karena film itu memiliki beberapa tema yang rumit


Saya menonton film Sokola Rimba dan saya suka film ini karena itu berdasarkan kisah nyata. Film ini tentang grup minoritas di Indonesia, transmigrasi, penebangan hutan dan perkebunan kelapa sawit pengembangan. Saya suka Butet karena dia membantu Orang Rimba dan mengajar anak-anak membaca, menulis dan berhitung. Dia tahu rimba adalah penting untuk mereka, jadi dia membantu mereka meneruskan hidup di rimba.


tirto.id - Sinopsis film Sokola Rimba tentang kisah Butet yang meninggalkan kariernya yang tengah menanjak demi mengajar baca tulis pada anak-anak di sebuah suku pedalaman. Jalan cerita film ini yang mengusung semangat perjuangan cocok untuk ditonton saat memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang.


Sokola Rimba adalah sebuah film Indonesia produksi tahun 2013 karya sutradara kenamaan Riri Riza serta produser Mira Lesmana. Berdurasi 1 jam 30 menit, film yang sarat akan kemanusiaan dan pendidikan ini mengangkat kisah nyata dari Butet Manurung bersama suku Anak Dalam.


Butet Manurung (Prisia Nasution) bekerja di lembaga konservasi di wilayah Jambi sudah hampir 3 tahun. Di sana, Butet menemukan hidup yang dia inginkan: mengajarkan baca tulis dan menghitung kepada suku anak dalam (Orang Rimba) di hutan Bukit Duabelas.


Pada suatu waktu Butet terserang malaria. Nyungsang Bungo (Nyungsang Bungo), seorang anak tak dikenal menyelamatkannya. Rumah Bungo 7 jam perjalanan dari tempat Butet mengajar. Ternyata, selama ini dia memperhatikan Butet saat mengajar membaca dan menghitung.


Motif Bungo melakukannya lantaran ingin belajar membaca untuk dapat memahami isi surat perjanjian. Sebuah kertas perjanjian yang telah dicap jempol oleh kepala adatnya, berisi tentang persetujuan orang desa mengeksploitasi tanah adat mereka.


Pertemuan dengan Bungo membuat wilayah kerja Butet meluas. Akan tetapi, keinginannya tidak direstui oleh tempatnya bekerja, termasuk kelompok Bungo, yang percaya keahlian membaca dan menulis justru akan membawa malapetaka.


Meski begitu, tekad Butet untuk mengajar telah bulat. Dia mencari segala cara untuk mewujudkan tujuannya. Namun, apa yang dikhawatirkan Butet pada akhirnya terjadi: dia dan masyarakat rimba yang dicintainya terpisahkan.


Bagaimana jika pendidikan nantinya justru memberikan mimpi-mimpi yang tinggi bagi mereka, mimpi-mimpi yang jauh dari kehidupan dan lingkungan keseharian mereka, mimpi-mimpi yang justru membuat budaya dan tradisi yang mereka warisi secara turun temurun lambat laun akan ditinggalkan oleh calon penerusnya (?)


This feels like a documentary at times with how natural it portrays its subject matter, namely the daily lives and plights faced by the Kubu tribe of Jambi (or, as the film calls them: 'Jungle People'). It handled the subject matter very respectfully without feeling too preachy while showing the beauty of the simple life of the jungle people. I also like that they include actual Kubu tribe members as the actors playing the kid characters, which adds more authenticity to the story.


this movie is beautiful in every way, very intimate and sentimental but not in judgy way. as stated by Butet - daripada mereka yang belajar, justru saya yang lebih belajar pada mereka - is true. somehow, i learned a lot from this movie. a true gem.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages