Download Majalah Tempo

0 views
Skip to first unread message

Shane Rouse

unread,
Aug 4, 2024, 7:53:58 PM8/4/24
to glucjacklepad
Adasejumlah alasan kami agresif mengembangkan platform digital dengan tumpuan awal media online Tempo.co. Pertama, Tempo harus cepat beradaptasi menghadapi perubahan pasar dan ekosistem di industri media. Industri media merupakan salah satu sektor yang paling terkena dampak digital disruption. Oplah media cetak terus menurun, dan porsi iklan untuk media cetak juga terus mengecil. Transformasi menuju media digital menjadi sebuah keniscayaan.

Kedua, kelompok usia produktif penduduk Indonesia pada 2019 mencapai 183 juta orang, sekitar 118 juta atau hampir 65 persen di antaranya berusia 15-40 tahun. Mereka yang sangat melek teknologi informasi ini merupakan pasar yang sangat potensial untuk media digital. Ketiga, Tempo ingin menjadi clearing house of information dengan menghadirkan informasi yang dapat dipercaya di tengah sebaran hoaks, terutama di media sosial, yang kian meluas.


Transformasi digital ini sudah mulai menunjukkan hasilnya. Sirkulasi digital menunjukkan peningkatan yang menjanjikan. Aplikasi all access Tempo Media mendatangkan jumlah pelanggan berbayar yang signifikan meskipun masih belum mampu menggantikan pelanggan Tempo edisi cetak. Melalui aplikasi ini, pada tahap awal, pelanggan berbayar bisa mengakses Majalah Tempo dan Koran Tempo versi digital.


Tempo secara total juga terus mengembangkan produk-produk digital. Salah satunya adalah dengan mengembangkan aplikasi yang mengintegrasikan semua platform produk informasi: majalah, koran, dan digital. Dengan satu identitas (single ID), konsumen dapat mengakses semua platform ditambah arsip majalah Tempo sejak 1971.Tempo melayani setiap konsumen dengan cara berbeda sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Pelanggan cukup mengakses informasi yang diperlukan, seperti berita politik, ekonomi, otomotif, dan selebritas.


Salah satu anak usaha Departemen Media, Tempo.co atau PT Info Media Digital (IMD), dalam dua tahun terakhir terus mengembangkan produk-produk turunannya, yakni GoOto, Cantika, Teras.id, dan Foodizz. Teras.id merupakan produk kolaborasi tempo.co dengan media-media online di daerah.


Langkah paling strategis IMD pada adalah mengakuisisi 55 persen saham Rombak Pola Pikir Media, perusahaan startup yang memiliki tiga produk: kanal YouTube Kok Bisa?, Ziliun.com, dan Telusuri. id. Dari ketiga produk itu, Kok Bisa? paling fenomenal karena pasarnya adalah kalangan muda yang selama ini bukan pembaca media Tempo. Kanal Kok Bisa? Pada awal 2020 memiliki 1,9 juta pelanggan dengan total jumlah 194 juta viewer untuk seluruh videonya.


Pendirian majalah Tempo pada 1971 diawali perundingan enam orang wartawan. Goenawan Mohamad, Harjoko Trisnadi, Fikri Jufri, Lukman Setiawan, Usamah, dan Christianto Wibisono, berunding dengan Ciputra selaku pendiri/ketua Yayasan Jaya Raya, serta Eric Samola yang menjabat sebagai sekretaris. Rapat dilaksanakan di kantor Ciputra, di kawasan Proyek Senen. Pada hari yang sama rapat dilanjutkan malam hari sampai tuntas, di kediaman Ciputra di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Hasil perundingan itu menyepakati dibentuknya majalah Tempo yang dimodali Yayasan Jaya Raya.


Tiga tahun kemudian, pada 4 Februari 1974, Yayasan Jaya Raya dan PT Pikatan mendirikan PT Grafiti Pers, dengan kepemilikan saham bersama 50:50. PT Pikatan dibentuk oleh para pendiri Tempo agar karyawan-karyawannya berkesempatan memiliki saham. Sejak itulah dalam masthead tercantum PT Grafiti Pers sebagai penerbit majalah Tempo.


Edisi-edisi awal majalah Tempo mengetengahkan artikel seni, gaya hidup, dan perilaku yang sampai pada taraf tertentu terasa segar dan baru. Meski mulai memiliki pasar, dalam perjalanannya, majalah ini menemui sejumlah tantangan.


Pada 1982, untuk pertama kalinya, majalah Tempo dibredel karena dianggap terlalu tajam mengkritik rezim Orde Baru dan kendaraan politiknya, Partai Golkar. Pembredelan itu dilakukan Pemerintah terhadap Tempo ini terkait dengan Pemilu 1982.


Pembredelan kedua terjadi pada 21 Juni 1994. Majalah Tempo dibredel pemerintah melalui Menteri Penerangan Harmoko. Majalah ini dinilai terlalu keras mengkritik Habibie serta Soeharto ihwal pembelian kapal bekas dari Jerman Timur.


Selepas Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, mereka yang pernah bekerja di majalah Tempo tercerai-berai akibat pembredelan dan melakukan rembuk ulang untuk memutuskan perlu atau tidak majalah ini terbit kembali. Hasilnya, disepakati majalah Tempo harus terbit kembali. Maka, sejak 6 Oktober 1998, majalah ini pun hadir kembali di bawah naungan PT Arsa Raya Perdana.


Untuk meningkatkan skala dan kemampuan penetrasi ke bisnis dunia media, pada 2001, PT Arsa Raya Perdana, melakukan go public dan mengubah namanya menjadi PT Tempo Inti Media, Tbk. (Perseroan) sebagai penerbit majalah Tempo yang baru. Dana dari hasil go public dipakai menerbitkan Koran Tempo.


TEMPO Media Grup (PT Tempo Inti Media Tbk.) merupakan perusahaan swasta terbuka, yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan sahamnya dimiliki beberapa institusi dan sebagian dimiliki masyarakat. Pemegang saham PT Tempo Inti Media Tbk. adalah: PT Grafiti Pers, PT Jaya Raya, Yayasan Jaya Raya, Yayasan Karyawan TEMPO, Yayasan 21 Juni dan Masyarakat.


Asas jurnalisme kami bukanlah jurnalisme yang memihak satu golongan. Kami percaya bahwa kebajikan, juga ketidakbajikan, tidak menjadi monopoli satu pihak. Kami percaya bahwa tugas pers bukanlah menyebarkan prasangka, justru melenyapkannya, bukan membenihkan kebencian, melainkan mengkomunikasikan saling pengertian. Jurnalisme majalah ini bukanlah jurnalisme untuk memaki atau mencibirkan bibir, juga tidak dimaksudkan untuk menjilat atau menghamba.


Nilai budaya Tempo adalah tepercaya, merdeka, dan profesional. Tepercaya didefinisikan sebagai menjunjung tinggi nilai kejujuran, integritas, dan konsistensi. Merdeka adalah memberikan ruang untuk kebebasan, berfikir, dan berekspresi. Sedangkan profesional adalah memiliki kompetensi yang tinggi di bidangnya.


Menurut Moeldoko, langkah yang ditempuh merupakan bagian dari demokrasi sekaligus penyampaian keberatan terhadap pemberitaan yang dilakukan oleh majalah Tempo. Hal ini dikarenakan penulisan opini tersebut merupakan bentuk arogansi jurnalistik. Selain itu, opini yang ditulis oleh Tempo secara jelas mengarahkan pembacanya.


Selain itu, Moeldoko mengungkapkan alasan lainnya untuk melaporkan Majalah Tempo ke Dewan Pers, karena ingin memberikan kejelasan terkait surat permohonan Periklindo kepada Menteri ESDM terkait charger GB/T. Surat itu memohon agar charger GB/T bisa mendapatkan SNI. Moeldoko menambahkan penyebutan Wuling dalam wawancara Majalah Tempo karena pengguna Wuling yang cukup masif di Indonesia, yaitu mencapai 20.000 pengguna.


Visualization towards a news which is not limited on animation or photographic works in electronic media, online, and printed media has purposively been as additional information and becomes a complement of news. Particularly in spot news of the photojournalism works, every occurrence happens quite quickly. Due to photography, every moment can be recorded and well documented, as well as providing answers to what is actually happening on a rapid occurrence. One example is the use of photographs on a printed media, namely Tempo. This Research aims to observe hidden meaning in the works of photojournalism on the cover of Tempo magazine 4351 edition wether it is objective or subjective meaning that be received by the public after seeing the photo on the cover. The method used is descriptive qualitative method by conducting analysis of Peirce semiotics on the cover photo of Tempo magazine issue of 4351. Based on the research which has been done, it can be concluded that the application of visualization conducted by Tempo referred to the works of photojournalism in the cover of Tempo magazine issue of 4351 created exclusivity both in objective and subjective meaning


Visualisasi pada suatu pemberitaan baik itu animasi maupun karya foto dalam media elektronik, online, dan pastinya media cetak, mempunyai tujuan sebagai informasi tambahan serta pemanis suatu berita. Khususnya pada karya foto jurnalistik spot news, setiap peristiwa yang terjadi dengan sangat cepat. Oleh karena fotografi, setiap kejadian dapat direkam dan didokumentasikan dengan baik, serta memberikan jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi pada suatu peristiwa yang berlangsung dengan cepat. Salah satu contohnya adalah pemakaian karya foto pada sebuah cover media cetak, yaitu Tempo. Penelitian bertujuan untuk mengetahui makna yang tersembunyi dalam karya foto jurnalistik pada cover majalah Tempo edisi 4351 baik berupa makna obyektif maupun subyektif yang diterima publik setelah melihat foto pada cover tersebut. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif deskriptif dengan melakukan analisis semiotika Peirce pada foto cover majalah Tempo edisi 4351. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan visualisasi yang dilakukan oleh Tempo mengacu pada karya foto jurnalistik dalam cover majalah Tempo edisi 4351 menciptakan nilai eksklusivitas baik itu dalam makna obyektif maupun subyektif.


TEMPO.CO, Jakarta - Majalah Tempo edisi perdana terbit 6 Maret 1971, artinya hari ini Tempo berusia 53 tahun. Majalah Tempo didirikan enam wartawan, yakni Goenawan Mohamad (GM), Harjoko Trisnadi, Fikri Jufri, Lukman Setiawan, Usamah, dan Christianto Wibisono, yang melakukan rapat dengan Ciputra, pendiri atau ketua Yayasan Jaya Raya, serta Eric Samola, yang menjabat sebagai sekretaris, di kantor Ciputra di kawasan Proyek Senen. Rapat ini menghasilkan pembentukan majalah Tempo dengan modal dari Yayasan Jaya Raya.


Sebelum bernegosiasi dengan Ciputra, asal-usul berdirinya Tempo dimulai secara tidak langsung pada 1969. Pada waktu itu, sekelompok pemuda memiliki impian untuk menciptakan majalah berita mingguan. Upaya ini menghasilkan terbitnya majalah bernama Ekspres, dengan beberapa tokoh seperti GM, Fikri Jufri, Christianto Wibisono, dan Usamah menjadi bagian dari pendiri dan pengelola awal. Berikut, sekilas profil pendiri Majalah tempo.


Pada tanggal 29 Juli adalah hari ulang tahun Goenawan Mohamad, seorang tokoh budaya, jurnalis, dan sastrawan yang turut mendirikan Majalah Tempo. Ia dilahirkan di Batang, Jawa Tengah pada tanggal 29 Juli 1941. Ketertarikan Goenawan Mohamad terhadap puisi sudah tampak sejak masa sekolah dasar, dimana ia sering mendengarkan acara puisi di RRI. Pada usia 19 tahun, Goenawan Mohamad pernah menerjemahkan puisi Emily Dickinson ke dalam Bahasa Indonesia.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages