Global Positioning Systems (GPS) dapat menyediakan peringatan tsunami yang lebih cepat dibanding perangkat yang digunakan saat ini.
Sejumlah peneliti asal Jerman telah mengumpulkan
data GPS dari gempa besar yang terjadi di Fukushima, Jepang tahun lalu.
"Saat gempa Fukushima, kami menganalisa lebih dari 500 stasiun GPS.
Hanya dalam waktu tiga sampai empat menit didapatkan data terkait
estimasi magnitud gempa yaitu 9.0 dan dapat memicu tsunami," kata Andrey
Babeyko, ilmuwan dari German Research Centre for Geosciences (GFZ) di
Potsdam.
Babeyko yang memaparkan hasil studinya dalam konferensi European
Geosciences Union di Wina menjelaskan, jika gempa terjadi di dekat
pantai, butuh waktu 20-30 menit sebelum tsunami sampai di darat. Dengan
GPS, pengukuran bisa dilakukan dengan lebih cepat, bahkan saat gempa
masih terjadi skala gempa sudah mulai dihitung.
Proses identifikasi yang cepat dan akurat untuk gempa dengan magnitud
6,0 atau yang lebih kuat penting artinya untuk tindakan tanggap bencana
dan proses mitigasi. Terutama jika berpotensi terjadi tsunami.
Perhitungan kekuatan tsunami membutuhkan pengetahuan yang detil terkait
ukuran gempa dan gerakan daratan yang ditimbulkan. Data seperti itu
sulit didapat dengan instrumen seismologis tradisional, apalagi untuk
skala gempa yang besar.
Saat gempa Jepang Maret tahun lalu, otoritas setempat butuh waktu 20
menit untuk mendapatkan skala gempa dan peringatan tsunami. Jika
peringatan bisa dikeluarkan lebih cepat tentunya akan menekan jumlah
korban.
NASA ikut Manfaatkan GPS
Badan Antariksa Amerika Serikat NASA juga akan memanfaatkan data GPS
untuk sistem monitoring gempa besar di Amerika Serikat. NASA juga
menyiapkan proses uji coba jaringan
real-time yang melibatkan
sedikitnya 500 sensor. Sensor-sensor tersebut akan diposisikan di garis
pantai Pasifik di negara bagian California, Oregon dan Washington.
Rencana ini bertujuan untuk mengenali karakteristik lokasi dan
magnitud gempa dalam hitungan menit sehingga memudahkan penanganan
bencana. Teknologi ini juga diharapkan dapat memberi perkiraan dengan
lebih baik terkait adanya tsunami yang mungkin terjadi setelah gempa di
lepas pantai.
Sistem ini dinamai
Real-Time Earthquake Analysis for Disaster Mitigation Network,
atau disingkat Readi. Data GPS, yang menyediakan informasi posisi dari
menit ke menit, telah dikumpulkan secara ekstensif sejak beberapa tahun
lalu untuk menganalisa dampak gempa sesaat setelah terjadi.
Deteksi gempa dengan GPS pertama kali didemonstrasikan dalam gempa
Aceh tahun 2004. Penelitian tersebut dilakukan oleh Geoffrey Blewitt dan
rekan-rekannya dari University of Nevada, dengan didukung NASA.
(
Ni Ketut Susrini. Sumber: BBC & Dawn.com)
Sumber/Source:
Disini/Here
Share Me
Tweet
Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini
disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.
View My Profile on
GPS murah di
sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com
