ndebhec valguard palakey

0 views
Skip to first unread message

Angelique Syria

unread,
Aug 2, 2024, 10:08:40 PM8/2/24
to giobelloser

Liputan6.com, Jakarta Pernahkah kamu mendengar lagu yang liriknya dibuka dengan kalimat, "Kita mesti telanjang, dan benar-benar bersih"? Sekilas, lagu tersebut menimbulkan persepsi macam-macam. Namun sang penyanyi, Ebiet G. Ade, menciptakan lagu tersebut di kala ia prihatin dengan bencana meletusnya Gunung Galunggung.

Ya, lagu berjudul "Untuk Kita Renungkan" itu hanyalah satu dari sekian banyak mahakarya milik Ebiet G. Ade, seorang penyanyi kawakan yang lirik-liriknya selalu mengajak para pendengarnya untuk merenung melalui tema alam, lingkungan, bahkan cinta.

Selain lirik, Ebiet G. Ade juga berhasil memadukan lagu-lagu ciptaannya dengan nada dan komposisi musik yang indah dan menyentuh. Suara lirihnya yang khas pun berhasil membuat para pendengar larut hingga tenggelam ke dalam lagu-lagunya.

Lantas, seperti apakah sosok Ebiet G. Ade selama berkiprah? Jejak kehidupan seperti apa yang pernah dilaluinya? Menghimpun dari berbagai sumber, mari kita menelusuri kembali sosok seorang musikus kawakan Ebiet G. Ade.

Lahir dengan nama Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far, Ebiet G. Ade yang merupakan anak seoran PNS dan pedagang ini, memiliki minat seni sejak usia muda. Di usia 17 tahun, tepatnya pada tahun 1971, Ebiet yang besar di Yogyakarta sudah bergaul dengan banyak seniman di Kota Gudeg itu.

Barulah setelah itu suami Koespudji Rahayu Sugianto ini serius menekuni dunia musik. Pria yang lahir di Wanadadi, Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia, pada 21 April 1954 ini memulai debutnya pada 1979 di bawah Jackson Record setelah berkali-kali ditolak label rekaman lain.

Album Camellia I menjadi awal mula Ebiet G. Ade dikenal sebagai penyanyi. Sejumlah puisi yang pernah dibuatnya, dijadikan lagu. Namun lagu Camellia I mejadi perhatian pihak label dan masyarakat kala itu.

Lagu Camellia I merupakan wujud dari masa-masa sulit Ebiet selama hidup di Yogyakarta yang digambarkan dalam bentuk karakter seorang wanita khayalan bernama Camellia. Ebiet juga memasukkan lagu Jakarta I, kisah tentang dirinya yang datang ke Jakarta untuk bermusik sambil kuliah namun berjalan tak sesuai rencana.

Menariknya, di tahun yang sama Ebiet meluncurkan album lanjutan berjudul Camellia II. Ayah empat anak ini menjagokan lagi "Berita Kepada Kawan" yang terinspirasi dari bencana gas beracun Kawah Sinila di Pegunungan Dieng, Jawa Tengah, yang memakan banyak korban jiwa.

Di album keempat itu, Ebiet menyayat hati pendengar dengan lagu "Titip Rindu buat Ayah". Lagu tersebut bercerita tentang hubungan Ebiet dengan ayahnya yang kurang harmonis lantaran ia dipaksa menjadi guru agama.

Setelah menutup empat album berjudul Camellia, Ebiet G Ade mulai meluncurkan album-album dengan judul lain. Menariknya, ketika merilis dua album di tahun 1982, terdapat lagu-lagu lain yang terinspirasi dari musibah dan bencana.

Lalu di album Tokoh-Tokoh, lagu fenomenal "Untuk Kita Renungkan" juga sering diputar pada tayangan liputan bencana alam di televisi. Lagu ini tercipta karena meletusnya Gunung Galunggung, Jawa Barat pada 1982 yang asapnya menyelimuti Kota Bandung.

Lagu bertema bencana kembali dibuat Ebiet melalui lagu "Masih Ada Waktu" di album Sketsa Rembulan Emas yang rilis pada 1988. Lagu ini terinspirasi dari Tragedi Bintaro 1987 dan juga kerap diputar ketika terjadi bencana atau musibah.

Ebiet G Ade pernah melakukan rekaman di Amerika Serikat di bawah Capitol Records saat masih bernaung di Jackson Records untuk album zaman yang rilis pada 1985. Sayangnya pada tahun 1986 setelah merilis album Isyu!, Jackson Records tutup.

Berbekal pengalamannya di dunia rekaman selama tujuh tahun, Ebiet G Ade pun mendirikan label rekaman sendiri di bawah nama EGA Records yang diambil dari inisial namanya. Album seperti Menjaring Matahari, Sketsa Rembulan Emas, dan Seraut Wajah pun diluncurkannya sendiri.

Ebiet G Ade sempat memutuskan rehat dari dunia musik pada tahun 1990 lantaran gelisah dengan kondisi Indonesia. Namanya kembali di tahun 1995 dengan album yang lagu-lagunya menjadi hit, "Kupu-Kupu Kertas".

Tak tanggung-tanggung, sejumlah musikus kawakan ikut mengerjakan abum ini. Mulai dari mendiang Billy J. Budiardjo, Erwin Gutawa, Ian Antono, dan Purwacaraka. Berkat lagu "Kupu-Kupu Kertas" Ebiet menang penghargaan sebagai Penyanyi Terbaik di ajang Anugerah Musik Indonesia pada 1997.

Pada tahun yang sama, Ebiet kembali merilis album Cinta Sebening Embun yang isinya lagu-lagu lama. Namun begitu, lagu "Cinta Sebening Embun" di album ini diaransemen ulang oleh Adi Adrian KLa Project.

Pada 2007 Ebiet kembali dengan album In Love: 25th Anniversary yang menjadi perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-25. Selanjutnya, ia merilis album Masih Ada Waktu dan Tembang Country 2. Ebiet G Ade juga kembali pada 2013 dengan album Serenade.

Ebiet pun menambahkan namanya menjadi "Ebiet G AD", singkatan dari nama belakangnya, Ghoffar dan nama ayahnya, Aboe Dja'far. Penggunaan nama ini hanya sebentar sampai ia menuliskan nama populernya dengan "Ebiet G. Ade".

Ebiet G Ade adalah anak bungsu dari 6 bersaudara. Ayahnya, Aboe Dja'far, adalah seorang PNS. Sementara ibunya, Saodah, adalah pedagang kain. Ebiet memiliki cita-cita sejak kecil ingin menjadi insinyur, dokter, dan pelukis.

Lulus SD, orangtua Ebiet memasukkannya ke PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Banjarnegara. Namun ia tidak betah dan pindah ke Yogyakarta. Ebiet lalu bersekolah di di SMP Muhammadiyah 3 dan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.

Selama di Yogyakarta, Ebiet sempat aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia), namun rencananya untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada kandas lantaran ia tak memiliki biaya. Ebiet lalu merantau ke Jakarta dengan rencana kuliah sambil bermusik. Namun rencananya tak terlaksana hingga akhirnya ia berfokus sebagai penyanyi di bawah label rekaman Jackson Record.

Pada 4 Februari 1982, Ebiet Menikah dengan Koespudji Rahayu Sugianto yang dikenal dengan nama Yayu Sugianto, kakak dari penyanyi Iis Sugianto. Pernikahan mereka dikaruniai 4 anak, 3 laki-laki dan 1 anak perempuan.

Anak-anak Ebiet adalah Abietyasakti "Abie" Ksatria Kinasih, Aderaprabu "Adera" Lantip Trengginas, Byatriasa "Yayas" Pakarti Linuwih, dan Segara "Dega" Banyu Bening. Adera dan Segara mengikut ayahnya terjun di dunia musik. Sementara Abie berperan sebagai menjadi manajer ayahnya.

Di sepanjang karier, Ebiet G. Ade telah meraih banyak penghargaan di dunia musik Tanah Air. Misalnya saja ajang penghargaan BASF Awards, Anugerah Musik Indonesia 1997 sebagai penyanyi solo dan balada terbaik, serta AMI Sharp Award 2000 untuk lagu terbaik. Pada 2002 ia menang penghargaan di Singapura melalui Planet Muzik Awards.

Tak hanya di dunia musk, Ebiet G Ade juga mendapat penghargaan lingkungan hidup pada 2005 dan juga Penghargaan Peduli Award Forum Indonesia Muda pada 2006 sebagai apresiasi atas kepeduliannya terhadap alam dan lingkungan.

Melihat kiprah di dunia musik dan jejak hidupnya yang penuh prestasi dan dedikasi, tak salah bila di masa depan, seorang musikus kawakan Ebiet G Ade layak menyandang gelar sebagai Legenda Musik Tanah Air.

Semarang - Suasana Wisma Perdamaian berubah menjadi sangat romantis, Jumat (23/1) malam itu. Petikan gitar dan lengkingan suara emas penyanyi balada kawakan Tanah Air, Ebiet G Ade bak menyihir sekitar 300 tamu undangan yang hadir dalam gala dinner Kagama Peduli Bencana.

Total dia membawakan tujuh lagu malam itu. Pada lagu Elegi Esok Pagi, Ebiet berkolaborasi dengan maestro flute Nano Tirto. Nano Tirto, adalah nama panggung Supriyatno, Direktur Utama Bank Jateng, yang juga sahabat karib Ebiet semasa kuliah dan merintis jadi seniman di Yogyakarta.

Kolaborasi Nano-Ebiet sangat memukau. Jeritan apik Ebiet dipadu dengan lengkingan saksofon Nano yang mengoyak sukma. Nano Tirto juga kian mencabik-cabik perasaan, saat saxofonnya membawakan My Heart Will Go On-nya Celine Dion. Usai beraksi, Nano mendonasikan Rp 100 juta.

Ebiet juga tak mau kalah dengan sohib-nya itu, dengan melelang sebuah gitar yang ditandatanganinya. Gitar itu laku Rp 45 juta dibeli oleh pemenang lelang Ketua Umum GP Farmasi Jateng, Koesbianto Singgih.

Dipandu duo MC, Joice Triatman dan Artanto Raden, acara lelang jadi kian meriah. Ebiet juga melelang CD album terbaru yang belum dipasarkan Rp 7,5 juta diraih mantan Irjen Depkes yang juga Ketua Umum Asosiasi Dinas Kesehatan dr Krishnajaya . Panitia juga melelang sebuah lukisan yaang jatuh ke tangan Agus Utomo, kepala biro humas Setda Provinsi Jateng.

Dana tersebut akan disumbangkan untuk para korban bencana alam di sejumlah daerah di Tanah Air, termasuk korban tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara.

"Terimakasih untuk teman-teman Kagama dan semua pihak yang membantu penyelenggaraan acara ini. Hal ini menjadi bukti kegotongroyongan di Jateng dalam menghadapi bencana yang menimpa saudara-saudara kita," kata Ganjar.

UGM, menurutnya, telah bekerjasama dengan Pemprov Jateng dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menanggulangi bencana, baik melalui pemasangan alat early warning system (EWS) di beberapa titik di Jateng, pelatihan dan pengiriman tenaga medis serta penanganan trauma maupun persoalan teknis pascabencana.

"Ini komitmen UGM sebagai perguruan tinggi. Para ahli dan peneliti kami aktif membantu dalam penanggulangan bencana, dan saya bangga komitmen itu juga dikembangkan oleh para alumni yang tergabung di Kagama," ujar Dwikorita.

Ebiet G. Ade (lahir di Banjarnegara, Jawa Tengah, 21 April 1954; umur 70 tahun) ialah seorang penyanyi dan penulis lagu Indonesia. Ebiet terkenal kerana lagu-lagunya yang bertemakan alam sekitar dan penderitaan golongan tersisih. Dengan lagu-lagunya yang ber-genre balada, pada awal kerjayanya, beliau 'memotret' suasana kehidupan Indonesia dari akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Tema lagunya beragam, tidak hanya tentang cinta, tetap ada juga lagu-lagu bertemakan alam, sosio-politik, bencana, agama, keluarga, dll. Sentuhan muziknya dapat mendorong pembaharuan pada dunia muzik pop Indonesia. Kebanyakan lagunya ditulisnya sendiri, beliau tidak pernah menyanyikan lagu yang dicipta oleh orang lain, kecuali lagu Mengarungi Keberkahan Tuhan yang ditulis bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

c01484d022
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages