| Eni Lani Limawilaya/IAD/ITP
Sent by: Eni Limawilaya/ITP 10/12/2011 08:55 AM |
|
Kesaksian yg luar biasa...mengajarkan pada kita dan meneguhkan bahwa Allah kita, Tuhan kita..Yesus Kristus, mmg luar biasa, janganlah kuatir..tetap bersuka cita dan brsyukurlah sll..tetap fokus, jangan sampai lupa, FOKUS....krn kt di dunia ini hanya menunggu..menunggu kedatanganNya yg kedua kalinya..
Kesaksian Ledakan Bom GBIS Kepunton, Solo
Berikut adalah kesaksian dan detail
kejadian pada saat Ledakan Bom di GBIS Kepunton, Solo.
Ditulis sendiri oleh Pdt. Jonatan Jap Setiawan, semoga boleh menjadi
berkat bagi kita semua.
Haleluya, nama Tuhan dipermuliakan!
10:53
Minggu 25 September 2011 jam 10:45.
Ibadah baru saja usai. Doa berkat telah selesai disampaikan. Jemaat sedang
berjalan keluar dari dalam gedung Gereja. Pemuji dan pemusik sedang menaikkan
puji-pujian.
Baru saja, Pdt. Sigit Purbandoro dari Surabaya menyampaikan Firman Tuhan
mengenai “Pertolongan Tuhan” yang terambil dari Mazmur 121:1-8. Semuanya
kelihatannya berjalan dengan lancar sepereti biasanya.
Tiba-tiba terdengar ledakan keras. Puji-pujian langsung berhenti. Saya
berpikir speaker sound system yang meledak. Saya langsung berlari ke tengah
mimbar dan dari atas mimbar terlihat ada asap putih mengepul dari pintu
depan. Asap cukup tebal sehingga pandangan ke luar pintu tidak terlihat.
Saya langsung berpikir “Wah bom!” Langsung saya berlari seperti melompat
dari mimbar ke tempat kejadian.
Pikiran saya cuma satu, “Tuhan jangan sampai ada korban jiwa dari jemaat”
dan kalau ada korban luka, itu yang harus secepatnya ditolong. Tidak kepikiran
kalau ada bom susulan atau hal lain. Hanya satu perkara yang ada di pikiran
“Selamatkan secepatnya yang terluka!”
Pada waktu itu, jemaat berteriak-teriak panik dan berlarian. Apalagi asap
putih cukup tebal menghalangi pandangan. Bau mesiu menyengat dan darah
berceceran di lantai.
Sampai di dekat kejadian, saya melihat hanya ada seorang yang tergeletak
dengan perut hancur. Saya langsung berpikir, “Itu pasti pelakunya”. Secara
sekilas saya tidak menemukan korban lain yang tergeletak, spontan saya
langsung berkata dalam hati, “Syukur Tuhan, tidak ada korban jiwa jemaat”.
Lalu saya lihat beberapa jemaat yang terluka. Saya pegang tangan salah
satunya dan saya katakan “Kamu pasti tertolong. Jangan takut! Tuhan melindungimu.”
Tapi saya tidak boleh hanya berkutat di situ. Sekarang, ada beban di pundak
saya sebagai gembala untuk mengendalikan situasi yang kacau dan menenangkan
jemaat yang panik. Langsung saya berteriak “Semuanya keluar lewat pintu
samping”. Sekarang, prioritas utama adalah melarikan korban yang terluka
secepat-cepatnya ke rumah sakit. Tidak usah memanggil ambulan, karena pasti
butuh waktu cukup lama. Sedangkan korban, harus secepatnya dibawa ke rumah
sakit.
Terdengar teriakan dari Pdm. Joko Sembodo yang mengatur keamanan di tempat
kejadian perkara. Dia berteriak kepada petugas parkir di luar “Tutup pintu
gerbang cepat!” agar jangan sampai ada orang luar masuk.
“Bawa semua korban lewat kantor. Pakai mobil Gereja untuk membawa korban
ke rumah sakit” teriak saya. Langsung beberapa jemaat dengan sigap tanpa
rasa takut menggendong para korban ke kantor. Mereka ini betul-betul orang-orang
yang siap melayani seperti Kristus. Tidak mempedulikan resiko bom ke dua
ataupun kengerian yang muncul, mereka sigap untuk memberikan pertolongan
kepada korban-korban yang berjatuhan.
Sayapun segera berlari ke kantor. Di kantor, saya menyuruh Bapak Yohanes
dan Bapak Yulianto untuk mengatur parkir agar kendaraan di parkir yang
tidak berkepentingan bisa langsung cepat keluar. Begitu kosong, ada dua
kendaraan yang siap dipakai, milik Bapak Budi dan Bapak Gideon. Langsung
para korban diangkat dinaikkan ke mobil Bapak Budi. Namun ada kesulitan
untuk menaikkan korban ke mobil Bapak Gideon, karena pintunya terhalang
mobil lain. Tidak menunggu waktu, saya langsung naik ke belakang setir
dan memajukan mobil Bapak Gideon, sehingga pintu bisa terbuka lebar.
Begitu korban dimasukkan, mobil segera melaju dengan cepat ke Rumah Sakit
Dr. Oen. Ada yang sempat bertanya, “Nanti kalau di tanya siapa yang menanggung
dan bertanggungjawab, bagaimana jawabnya?” Saya langsung berteriak “Gereja
yang akan bertanggungjawab untuk semua biayanya. Yang penting, korban harus
segera ditolong!” (Biaya pengobatan dan rumah sakit ditanggung oleh pemerintah
dan oleh pihak Rumah Sakit Dr. Oen). Dalam waktu kira-kira lima belas menit
sejak ledakan, semua korban sudah bisa sampai ke Rumah Sakit Dr. Oen.
Setelah sebentar membagi tugas di kantor, saya dan Pdm. Wim Agus Winarno
langsung menyusul ke Rumah Sakit Dr. Oen. Urusan peledakan dan korban tewas
biarlah urusan polisi dan orang lain yang sudah saya serahi tugas untuk
itu. Sedangkan tugas saya adalah gembala. Saya harus berada di dekat domba-domba
yang terluka secepatnya.
Di luar, masa yang begitu banyak sudah memadati jalan di sekitar Gereja,
sehingga kendaraan saya sukar untuk bergerak. Sesampainya di rumah sakit,
ruang UGD sudah penuh dengan korban-korban yang terluka dan keluarganya.
Suasana hiruk pikuk. Langsung saya usahakan untuk mendekati mereka satu
per satu. Saya berikan kata-kata kekuatan dan yang paling penting saya
doakan mereka satu per satu. Itulah tugas saya sebagai gembala.
Korban pertama yang saya jumpai adalah Bapak Sugiyono dan anaknya Defiana.
Secara sepintas mereka kelihatannya tidak terluka parah, karena mereka
masih bisa tersenyum. Namun kemudian saya baru tahu bahwa luka Defiana
cukup parah, di mana ada 3 mur yang bersarang di tempurung kepalanya. Saya
doakan mereka dan saya kuatkan.
Lalu saya jumpai Bapak Go Sing Gwan yang terluka dibahunya. Sebuah metal
besi telah menghantam tulang bahunya sehingga hancur. Bapak Go Sing Gwan
harus menjalani operasi untuk mengganti tulang bahunya yang hancur dengan
sebuah plat.
Dikamar sebelah saya menjumpai Olivia Putri yang terluka di kakinya. Urat
kakinya putus dan dia menangis. Pasti rasanya sangat menyakitkan sekali
dan hati saya turut tersayat melihat gadis remaja ini menangis kesakitan.
Saya pegang tangannya dan saya doakan.
Berlari keluar saya masuk ke kamar di samping dan di situ saya melihat
Noviyanti tergeletak di atas ranjang dengan kepala yang bercucuran darah
begitu banyak. Terlihat sepintas lukanya cukup parah dan dia hanya diam
saja tanpa respon. Hati saya kuatir melihatnya. Tapi saya meneguhkan iman
dan berdoa. Saya bisikkan kata-kata kekuatan dan saya doakan dia. Luar
biasanya, nanti terlihat bahwa pemulihannya begitu cepat dan dia termasuk
yang cepat pulang dari Rumah Sakit.
Septiana saya jumpai sedang terbaring kesakitan. Benda tajam telah menembus
salah satu kakinya sampai berlubang dan mencucurkan darah. Tidak berhenti
sampai di situ, benda tajam itu masih melaju dan bersarang di kaki yang
satunya lagi. Ke dua kakinya terluka parah.
Selanjutnya saya berlari ke kamar sebelah dan saya melihat Ibu Feriana
yang terluka parah, ada pecahan metal yang menembus dan merobek kandung
kemihnya. Pendarahan terjadi dan harus segera dihentikan sebelum menjadi
fatal. Segera dia diprioritaskan untuk menerima tindakan operasi lebih
dahulu untuk menghentikan pendarahan. Dalam operasi itu, dokter juga harus
memotong usus halusnya sebanyak dua cm. ketika didoakan sebelum masuk ke
kamar operasi, dia masih bisa tersenyum sekalipun terluka parah.
Selesai mendoakan Ibu Feriana, saya keluar kamar dan di lorong saya menjumpai
Ferdianta dan Boris yang terbaring di ranjang. Luka mereka berada di tangan,
perut dan kaki, karena ada paku dan benda-benda lain yang menancap. Saya
doakan dan saya teguhkan iman mereka. Mereka mengangguk lemah tanda percaya
dan saya senang karena mereka tetap kuat.
Saat itu, saya melihat ada korban yang sedang didorong tergesa-gesa oleh
petugas medis ke kamar operasi. Ternyata dia adalah Bapak Ristiyono yang
punggungnya hancur karena ada dua belas paku yang menancap di punggungnya.
Saya tidak sempat mendoakannya secara khusus, tapi saya berdoa dalam hati
agar kemanapun dia dibawa, Tuhan menyertainya.
Dengan setengah berlari, saya masuki kamar selanjutnya. Di situ terbaring
Ibu Yulianti yang sudah berusia tujuh puluh empat tahun. Dia merasakan
sakit di kepalanya yang berdarah-darah dan berkata dengan suara memelas
“Pak, kepalaku sakit sekali. Tolong Pak Yo, ndak kuat rasanya. Kepala
ini sakit sekali!” Saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk meringankan
penderitaannya, kecuali hanya dengan doa. Telinga Ibu Yulianti telah robek
terhantam serpihan benda tajam dan mengucurkan banyak darah. Saya pegang
tangannya dan dia menggenggam tangan saya erat-erat. Saya katakan, “Tante
jangan kuatir. Tante pasti bisa sembuh total. Tetap kuat dan panggil nama
Tuhan Yesus ya Tante.” Dia mengangguk dan saya doakan dia sambil kita
ber dua berpegangan tangan.
Keluar dari kamar itu, saya melihat korban lain, yaitu Bapak Stefanus yang
terbaring di ranjangnya tepat di tengah ruang UGD. Dia berusaha bangun.
Saya tenangkan dia dan saya suruh tidur kembali. Saya lihat lengannya atas
berdarah-darah. Saya pegang tangannya dan saya doakan dia di tengah-tengah
ruangan UGD itu.
Sekalipun jatuh korban tiga puluh orang terluka, saya masih bisa bersyukur
bahwa tidak ada satupun yang meninggal dunia. Dari tiga puluh orang itu,
empat belas harus dirawat inap dan semuanya harus menjalani operasi. Operasi
berlangsung marathon dari hari Minggu jam 14.00 sampai besoknya jam 12.00,
selama dua puluh dua jam.
MELEDAK.
Jika direnungkan, dalam tragedi
1053 ini ada banyak mujizat dan pertolongan Tuhan. Jika tidak ada satupun
korban jiwa, itu adalah karena campur tangan Tuhan semata-mata. Bukan kebetulan!
Karena di dalam Tuhan Yesus, tidak ada yang kebetulan. Semua terjadi atas
ijinNya.
Sebelum kejadian, berdasarkan rekaman kamera CCTV, pelaku diperkirakan
masuk dari pintu kecil samping pintu utama. Dengan berbaju putih lengan
panjang, celana panjang hitam, bertopi, berkacamata dan sebuah tas kecil
di kalungkan di dadanya, pelaku sempat berjalan ke tengah dan mendekati
tengah ruangan Gereja. Andaikata dia meledakkan bomnya di tengah ruangan
Gereja, pasti ceritanya akan berbeda. Korban yang jatuh pasti akan lebih
banyak.
Tapi entah mengapa (Pasti ada campur tangan Tuhan), pelaku sempat menoleh
ke kanan ke kiri seperti kebingungan. Kemudian, dia berbalik dan berjalan
menuju pintu keluar. Dia melangkah keluar pintu Gereja dan berdiri di depan
pintu agak menyamping ke timur. Di teras Gereja itulah dia meledakkan bom
yang dia bawa tepat pukul 10:53 (sesuai dengan waktu yang terekam di CCTV),
menghamburkan proyektil-proyektil maut berupa paku, mur, lempengan logam
tajam dan lain sebagainya.
Semata-mata pertolongan Tuhan kalau pelaku itu meledakkan bomnya dengan
menghadap ke halaman parkir. Andaikata dia meledakkan bomnya dengan menghadap
ke arah pintu Gereja, di mana jemaat sedang ramainya keluar melalui pintu
itu, maka korban yang berjatuhan akan makin banyak dan bisa jadi ada yang
kehilangan nyawanya.
Lebih ajaib lagi, ketika dia menyalakan bomnya, posisinya agak berubah,
badannya memutar sedikit sehingga arahnya tepat menghadap ke dua pilar
beton. Akibatnya, ketika bom yang menempel di perutnya meledak menghamburkan
serpihan-serpihan, maka sebagian tertahan oleh dua tiang beton itu. Kalau
bukan tangan Tuhan yang memutar tubuhnya sedikit, maka pasti akan jatuh
korban lebih banyak lagi.
Serpihan bom itu ternyata menyebar kemana-mana dan ada sebuah pecahan pipa
yang tajam dan sebesar kepalan tangan, telah terlontar menembus plafon
teras Gereja. Andaikata pecahan itu tidak dilemparkan oleh Tuhan ke atas
dan membabat orang, maka dipastikan orang itu tidak akan mengalami kesakitan.
Tapi dia akan langsung tewas di tempat. Tapi puji syukur kepada Tuhan.
Tuhan sudah melemparkan pecahan yang sangat berbahaya itu ke atas plafon
Gereja, sehingga tidak menimbulkan korban.
MUJIZAT.
Satu hal yang saya kuatirkan dan
saya doakan kepada Tuhan, “Jangan sampai ada satupun korban yang meninggal!”
Kalau tidak ada yang kehilangan nyawa (kecuali pelaku), maka itu membuktikan
bahwa tindakan bom bunuh diri itu adalah tindakan yang sia-sia dan tidak
mencapai sasarannya, yaitu untuk mencabut nyawa korban sebanyak-banyaknya.
Selamatnya para korban juga menunjukkan bahwa perlindungan Allah itu dahsyat
dan ajaib! Perlindungan Allah tidak tertembus oleh bom yang bagaimanapun
juga.
Oleh sebab itu, ketika diadakan doa di depan Gereja oleh saudara-saudara
kita dari GP Ansor pada Minggu malam, sayapun ikut di situ. Pada saat itu,
saya menerima tiga kabar yang membuat sesak nafas. Berita pertama yang
muncul di sms adalah Defiana setelah operasi kepala untuk mengambil tiga
mur, ternyata mengalami kejang-kejang dan kritis. Saat saudara-saudara
kita dari GP Ansor berdoa, sayapun juga berdoa, “Tuhan Yesus jangan sampai
anakMu ini meninggal. Sembuhkan dan pulihkan dia oleh karena bilurMu, bukan
karena yang lain. Aku mohon mujizatMu Tuhan.”
Belum selesai saya berdoa, masuk sms ke dua dan disusul yang ke tiga yang
mengatakan bahwa kaki dari salah satu korban yang bernama Hariyoko harus
diamputasi karena terbabat obeng yang terlontar seperti roket. Lalu urat
kaki Olivia Putri yang putus harus segera disambung sebelum dua puluh empat
jam. Tapi sampai saat itu belum bisa segera dilakukan operasi karena ruang
operasi penuh. Padahal waktu sudah semakin sempit.
Kembali saya berdoa agar jangan sampai ada satupun yang mengalami cacat!
Apalagi mereka ini masih remaja dan masih memiliki perjalanan hidup yang
panjang. Jangan sampai mereka kehilangan masa depannya karena mengalami
kecacatan.
Berdoa bersama saudara-saudara kita dari GP Ansor dan mengingat korban-korban
ini, tak terasa air mata ini menetes. Hanya satu doa yang saya panjatkan
terus, “Jangan ada yang meninggal dan jangan ada yang cacat”, supaya
nama Tuhan saja yang dipermuliakan dalam peristiwa ini.
Begitu selesai doa bersama, kira-kira jam 22.30, saya langsung bergegas
ke Rumah Sakit bersama Pdm. Joko Sembodo untuk menjenguk korban.
Di depan ruang operasi, saya menjumpai Ibu Hung Me, yang suaminya, Bapak
Go Sing Gwan sedang menjalani operasi karena tulang bahunya hancur. Di
depan kamar operasi itu, kita berdoa bersama-sama memohon anugerahNya.
Lalu saya menuju kamar Olivia Putri yang harus dioperasi sesegera mungkin
karena urat kakinya putus. Dia tertidur lelap, mungkin karena pengaruh
obat bius untuk mengurangi rasa sakitnya. Saya katakan kepada ibunya, “Jangan
kuatir bu. Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Kaki Olivia pasti
akan dioperasi tepat pada waktunya.” Akhirnya jam 01.00, Olivia bisa dioperasi
kakinya dan tidak terlambat.
Di ruang ICU, ada dua korban, yaitu Ibu Feriana yang terluka parah. Kandung
kemihnya yang pendarahan karena tertembus logam dan ususnya harus dipotong
dua cm. Ketika saya doakan, Ibu Feriana justru berkata “Saya tetap kuat
Pak Yo. Saya tetap cinta Tuhan dan Tuhan Yesus pasti sembuhkan saya.”
Dia juga berpesan, “Pak Yo juga harus kuat. Tuhan akan pakai Pak Yo.”
Saya terkejut dengan ketabahan Ibu Feriana. Saya betul-betul dikuatkan
dan terharu. Di saat menderita dan menjadi korban, Ibu Feriana betul-betul
tabah dan justru masih bisa memberikan kekuatan. Luar biasa!
Memang Tuhan punya rencana lain untuk Ibu Feriana. Ketika para dokter mengoperasi
untuk menghentikan pendarahannya, dokter juga menemukan usus buntunya sudah
infeksi. Karena itu, usus buntunyapun ikut diambil. Jadi Ibu Feriana ini
juga mendapatkan pelayanan operasi usus buntu, tanpa biaya. Tuhan yang
atur semuanya.
Defianapun juga berada di ruang ICU. Saya melihat sekarang dia telah bisa
tidur tenang, sesudah sore tadi mengalami kejang-kejang. Saya bersyukur
kepada Tuhan karena melihat Tuhan sudah melakukan mujizatNya.
Mamanya mengatakan bahwa Defiana ini dalam penderitaannya justru sangat
tabah. Dalam keadaan tergeletak dan terluka parah, dia justru yang mengkuatkan
orang tuanya untuk tetap kuat dan bersyukur kepada Tuhan, “Ma jangan takut.
Aku pasti sembuh karena Tuhan Yesus pasti menolong.” Bahkan saat dia didorong
masuk ke kamar operasi, dia menyanyikan pujian “Dalam nama Yesus! Dalam
nama Yesus! Ada kemenangan!” Iman anak remaja ini betul-betul luar biasa.
Dia sangat mencintai Tuhan. Saat sadar, yang dipikirkan pertama kali justru,
bagaimana pelayanannya hari Senin, 3 Oktober nanti dalam acara Konser Pemuda?
Luar biasa! Pada hari Senin, 3 Oktober, Defiana sudah bisa ikut acara konser
pemuda di Gereja, sekalipun dengan kepala yang masih dibalut dengan perban.
Mujizat!
Melihat kondisi Defiana yang cukup parah, sebuah lembaga sosial keagamaan
dari Surabaya menawarkan bantuan dana dan pertolongan untuk membawa Defiana
ke Singapore jika diperlukan. Tapi rencana Tuhan berbeda. Hari Senin, 3
Oktober, Defiana tidak berada di Singapore untuk diobati. Tapi pada Hari
Senin, 3 Oktober, dia berada di GBIS Kepunton sedang memuji Tuhan. Haleluya!
Hariyoko yang menurut dokter harus diamputasi kakinya mengalami mujizat
yang luar biasa. Besoknya, dokter berkata bahwa kakinya tidak jadi diamputasi
dan bisa sembuh sempurna. Saya yakin dan percaya, bahwa malam itu, Tuhan
Yesus sudah menyambung semua pembulu darah dan urat-urat yang terputus,
sehingga kakinya bisa diselamatkan. Hariyoko yang masih muda tidak kehilangan
kakinya.
Ayahnya, yaitu Bpk Ristiono adalah bapak yang punggungnya hancur tertebus
dua belas paku tajam. Tapi puji Tuhan, tidak ada satupun paku itu yang
menembus organ vitalnya. Sebelas paku diambil melalui operasi pertama.
Tapi satu paku diambil pada operasi ke dua yang beresiko tinggi. Paku itu
bersarang tepat di antara paru-paru dan hatinya. Jika paku itu tertancap
sedikit bergeser saja, maka akan mengenai paru-paru atau hatinya dan hasilnya
pasti fatal. Tapi karena tangan Tuhan saja, maka paku itu bisa tepat bersarang
di antara dua organ vital itu.
Ibu Yuliati yang berusia tujuh puluh empat tahun telah terluka di kepalanya.
Ada serpihan benda tajam yang melesat cepat merobek daun telinganya. Telinganya
berdarah-darah. Tapi kita bisa bersyukur kepada Tuhan, karena seandainya
benda itu selisih beberapa mili saja jaraknya, maka pecahan benda tajam
itu akan menembus ke kepalanya dan berakibat fatal. Tangan Tuhan betul-betul
menyatakan perlindunganNya.
Para korban bersaksi bahwa sepertinya ada tameng Ilahi yang melindungi
mereka. Pecahan paku, mur boleh menembus daging, tapi tidak mengenai tulang
atau organ penting. Ada tangan Tuhan yang tak terlihat yang telah menahan
semua proyektil-proyektil maut itu.
IMAN DI ATAS BATU KARANG.
Hal yang paling membahagiakan saya
adalah semua korban yang dirawat ini memiliki iman yang kuat. Mereka menderita,
tapi mereka tidak kecewa kepada Tuhan. Mereka disakiti, tapi mereka tidak
dendam dan mau mengampuni. Ketika mereka ditanya, mereka tetap mencintai
Tuhan Yesus dan akan tetap setia ke Gereja.
Seperti juga Defiana yang saat masih tergolek justru memikirkan pelayanannya,
maka Olivia Putri juga berkata “Aku akan tetap ke Gereja. Kenapa harus
takut?”
Bapak Stefanus dalam keadaan masih terbaring di tempat tidur bahkan sudah
menanyakan, “Pak, Hari Sabtu ada kebaktian 464 (lansia)? Saya mau datang
ibadah.”
Ibu Yulianti yang sudah berusia tujuh puluh empat tahun, awalnya mengalami
trauma dan berkata “Tidak berani ke Gereja dulu”. Tapi besoknya dia sudah
bisa berkata “Sesudah sembuh, saya pasti ke Gereja lagi. Saya tidak trauma
lagi, karena Tuhan Yesus.”
Boris waktu ditanya wartawan tentang Firman Tuhan saat ibadah, dia menjawab
dengan jawaban luar biasa, “Firman Tuhan tadi berbicara tentang pertolongan
Tuhan dan sekarang saya langsung mengalami pertolongan Tuhan”.
Para korban tidak menolak jiwa diwawancarai oleh wartawan maupun dikunjungi
oleh tamu-tamu penting. Salah satunya saya tanya, “Kenapa kok mau diwawancarai
atau dijenguk oleh tamu-tamu yang begitu banyak? Apa tidak justru melelahkan?”
Dia menjawab “Pak Yo, justru ini kesempatan buat saya untuk menyaksikan
kehebatan Tuhan Yesus. Justru inilah kesempatan buat saya untuk menunjukkan
kepada orang yang belum kenal Tuhan bahwa saya tidak takut untuk mengiring
Tuhan Yesus dan menunjukkan bahwa saya mengampuni mereka.”
Kuatnya iman mereka, betapa cintanya mereka kepada Tuhan Yesus, tabahnya
hati mereka, semuanya itu membuat saya semakin kuat. Bukan saya yang mengkuatkan
mereka. Tapi merekalah yang justru telah mengkuatkan saya.
Jika mereka yang menjadi korban saja bisa begitu kuat dan tidak takut untuk
kembali beribadah. Tentunya, kita yang tidak tergores sedikitpun pasti
akan tetap kuat dan setia beribadah kepada Tuhan Yesus di tempat yang sudah
Tuhan tempatkan kita.
Jangan sampai kesetiaan dan iman kita kalah dengan mereka yang menjadi
korban. Biarlah mereka ini menjadi teladan iman buat kita. Inilah iman
yang dibangun di atas fondasi batu karang.
WE LOVE, WE FORGIVE.
Setelah saya kembali dari Rumah
Sakit, polisi sudah berdatangan mengamankan lokasi. Saya masuk ke dalam
Gereja dan duduk di kursi tidak jauh dari pelaku pembomanan yang tergeletak
di lantai. Saya amati dia cukup lama dan saya mulai merenung, “Haruskah
hidupnya berakhir tragis dan sia-sia seperti ini?” Pada waktu itu, yang
muncul di dalam benak saya bukan kebencian dan dendam. Perasaan yang muncul
adalah belas kasihan kepada dia yang telah salah memilih jalan kehidupan.
Dari situlah inti pesan gembala itu muncul “Taburkanlah kasih dan pengampunan.
Bukan dendam dan kebencian.” We love and we forgive.
Tidak ada persungutan yang kita berikan. Tapi ucapan syukur kepada Tuhan
yang kita persembahkan. Habis gelap, terbitlah terang. Setelah musibah,
timbulah mujizat. Karena itu, sekalipun di mata manusia, hal ini merupakan
tragedi dan bencana. Tapi dengan mata iman, saya memandang bahwa tragedi
1053 pasti menjadi MUJIZAT 1053.
Allah turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikkan
bagi orang-orang yang mengasihi Dia.
Tidak ada kemuliaan, tanpa melalui salib. Justru melalui peristiwa ini, dunia telah melihat bahwa Tuhan Yesus dahsyat dan ajaib.
TUHAN BERKATI
| tks,semoga menjadi berkat bagi yg lain n menguatkan iman --- On Wed, 10/12/11, Edy Hartanto <Edy.Ha...@indocement.co.id> wrote: |
|
| tks,gbu |
--- On Wed, 10/12/11, Edy Hartanto <Edy.Ha...@indocement.co.id> wrote: |
|
|