----- Forwarded by Edy
Hartanto/ITP on 10/25/2010 01:51 PM -----
Eni Lani Limawilaya/IAD/ITP
Sent by: Eni Limawilaya/ITP
10/25/2010 12:00 PM
|
|
----- Forwarded by Eni
Limawilaya/ITP on 10/25/2010 12:00 PM -----
Rita Wijaya/PCO/ITP
Sent by: Rita Wijaya/ITP
10/22/2010 01:37 PM
|
|
Rita Wijaya
Sr. Administration Officer
GMO Cirebon Plant
Ph. 0231 343 232 Ext.1105
Fax. 0231-343 617
e-mail : rita....@indocement.co.id
----- Forwarded by Rita
Wijaya/ITP on 10/22/2010 01:35 PM -----
| "Fonny Yapriadi"
<fonny.y...@indocement.co.id>
10/22/2010 01:28 PM
|
|
To
| "Sishendro" <sish...@indocement.co.id>,
"'Sie Ngoh'" <sie....@indocement.co.id>, "Linda Fransiska"
<linda.f...@indocement.co.id>, <suh...@indocement.co.id>,
"Ricky Log" <ricky...@indocement.co.id>, "Maria
Anggraini" <maria.a...@indocement.co.id>, "Tuti handayani"
<tutiha...@indocement.co.id>, "Rita Wijaya" <Rita....@Indocement.co.id>,
"Budiono Hendranata" <Budiono.H...@indocement.co.id>,
"Robert Polowijaya" <Robert.P...@indocement.co.id>,
"Fransiska Liong" <Fransis...@indocement.co.id>, "'Kelvin
Tjendar'" <Kelvin....@indocement.co.id>, "Yanto Supriyatna"
<Yanto.Su...@indocement.co.id>, "Dessy" <de...@indocement.co.id>,
"Sughyati H" <Sugyaty.B...@Indocement.co.id>, "Felita
Amelinda" <Felita....@Indocement.co.id>, "Kartini
Widjaja" <Kartini...@indocement.co.id>, "Esther Limanto"
<Esther....@Indocement.co.id>, "Hapsari Widi N" <Hapsar...@indocement.co.id>
|
|
cc
| "Meiliana Anggraini" <meil...@djajabima.co.id>,
"meri" <sri....@ai.astra.co.id>, "king" <tjwankh...@lautan-luas.com>,
"bachtiar" <bachtia...@centrin.net.id>, "darwin"
<dar...@bit.net.id>, "Cecilia Japhar" <cja...@azonic-technology.com>,
"andy" <metr...@yahoo.com>, "Sherly" <whites...@hotmail.com>,
<agneswi...@yahoo.com>, "Anna Harijadi" <Anna.H...@londonsumatra.com>,
"hilmy" <hilmy_w...@mhi.co.jp>
|
|
Subject
| Fw: Orang Miskin yang Kaya (Bai Fang
Li) |
|
Orang Miskin yang Kaya (Bai Fang
Li)
Jika Oprah Winfrey menyumbang ratusan
dan ribuan dolar, tentu kita kagum namun tidak terkejut.
Atau bila Bill Gates juga mendermakan uangnya jutaan dolar, kita juga barangkali
menganggap hal hebat yang biasa saja.
Tapi bila seseorang yang miskin yang menyumbang dalam kekurangannya?
........ maka ia barangkali penghuni surga yang diutus ke dunia ....
yang mengajarkan kita untuk bersyukur dan selalu berbagi
Ini cerita mengenai Bai Fang Li yang lebih lengkap.......Thanks
[IMG]
[/IMG]
Namanya BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh
hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk
memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja
pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.
Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran
becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya
luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya
untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya
untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya
setelah jam delapan malam.
Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah
dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa
orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak
orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega,
melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas
yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran
berusaha mengayuh becak tuanya.
Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di
daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual
asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya
secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah
tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa
merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.
Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya
beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya,
diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju
tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal.
Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah
dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Dipojok ruangan
tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan
untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.
Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia
seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara
sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang
suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong.Tangannya
sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya
dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.
Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya
ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya
dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya
yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena
telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya
disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan
menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin . Yayasan
yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.
Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah
mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus
berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat
barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan
mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan
tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya,
ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan
dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan
syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.
Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang
berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu
beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong
roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu
kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.
Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan
berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak
membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak,
dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.
"Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya...." jawab anak
itu.
"Orang tuamu dimana...?" tanya Bai Fang Li.
"Saya tidak tahu...., ayah ibu saya pemulung.... Tapi sejak sebulan
lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya
harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih
kecil..." sahut anak itu.
Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki
bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua
adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua
anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian
yang compang camping.
Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu
perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya
itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah,
jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga
mereka saja mereka kesulitan.
Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung
anak yatim piatu miskin di Tianjin . Pada pengurus yayasan itu Bai Fang
Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya
untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan
minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.
Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya
mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan
uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa
gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong
kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan
ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.
Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan
dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung
mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat
pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain
yang berbeda warna. Mhmmm... tapi masih cukup bagus... gumannya senang.
Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli
dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan
tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh
kurusnya.
"Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang
miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia
melakukan semua ini...," katanya bila orang-orang menanyakan mengapa
ia mau
berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya
sendiri.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir
20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah
donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun,
dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu
rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya
ke sekolah Yao Hua.
Bai Fang Li berkata "Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya
tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya
sumbangkan......" katanya dengan sendu.
Semua guru di sekolah itu menangis........

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun
begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000
(kurs 1300, setara 455 juta rupiah, jika tidak salah) yang dia
berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk
menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.
Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya
yang bertuliskan " Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang
luar biasa".
Bila SESEORANG yang miskin menyumbang dari kekurangannya, maka ia adalah
salah satu PENGHUNI SURGA yang diutus ke dunia, yang mengajarkan kita untuk
selalu BERSYUKUR dan selalu BERBAGI kepada sesama.
Perhatian: E-mail ini (termasuk
seluruh lampirannya, bila ada) hanya ditujukan kepada penerima yang tercantum
di atas. Jika Anda bukan penerima yang dituju, maka Anda tidak diperkenankan
untuk memanfaatkan, menyebarkan, mendistribusikan, atau menggandakan e-mail
ini beserta seluruh lampirannya. Mohon kerjasamanya untuk segera memberitahukan
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di alamat email yang tercantum di atas serta
menghapus e-mail ini beserta seluruh lampirannya. Semua pendapat yang ada
dalam e-mail ini merupakan pendapat pribadi dari pengirim yang bersangkutan
dan tidak serta merta mencerminkan pandangan PT Bank Mandiri (Persero)
Tbk., kecuali telah terdapat kesepakatan antara pengirim dan penerima bahwa
e-mail ini termasuk salah satu bentuk komunikasi kedinasan yang dapat diterima
oleh kedua pihak.
Caution: The information enclosed in this email (and any attachments)
may be legally privileged and/or confidential and is intended only for
the use of the addressee(s). No addressee should forward, print, copy,
or otherwise reproduce this message in any manner that would allow it to
be viewed by any individual not originally listed as a recipient. If the
reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified
that any unauthorized disclosure, dissemination, distribution, copying
or the taking of any action in reliance on the information herein is strictly
prohibited. If you have received this communication in error, please immediately
notify the sender and delete this message.Unless it is made by the authorized
person, any views expressed in this message are those of the individual
sender and may not necessarily reflect the views of PT Bank Mandiri (Persero)
Tbk.