Menghadapi AFTA dan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), banyak yang khawatir
Indonesia kebanjiran tenaga asing. Tapi khusus untuk pekerja MIGAS,
saya malah khawatir kehilangan rekan-rekan pekerja MIGAS Indonesia yang
hengkang keluar dari Indonesia.
Pekerja Migas Indonesia itu lebih
canggih dan lebih tangguh ketimbang pekerja migas dari luar (khususnya
ASEAN), bahkan juga banyak yang hengkang ke US/Eropa dan terutama Middle
East (Timur Tengah).
Pengalaman Industri Migas Indonesia yang lebih
dari 100 tahun menghasilkan tenaga-tenaga trampil jauh lebih bagus
ketimbang negara-negara lain. Tidak sekedar kurangnya remunerasi
penghargaan profesinya, tetapi justru susahnya operasi migas di
Indonesia ini yang menyebabkan sulitnya menciptakan lapangan pekerjaan yang pas
dan berujung pada hengkangnya pekerja migas yang berpengalaman ini.
Salah satu tugas awal ESDM yang perlu dilakukan sebelum menyediakan energi yang dengan didahului penemuan lapangan migas baru adalah kemudahan menyediakan pekerjaan eksplorasi itu sendiri.
Dengan data.
Dengan project.
Dan penyediaan dana yg cukup.
Salam