Cerita saya mulai dengan penemuan minyak oleh Murphy Oil di sumur West Patricia-2 yang mana akumulasi minyak ini baru diketemukan 40 tahun setelah dibornya sumur West Patricia-1 di struktur yang sama oleh operator yang terdahulu. Struktur antiklin West Pat ini berarah barat daya – timur laut dan dipotong-potong oleh sesar-sesar yang berorientasi utara-selatan sehingga membagi struktur West Pat menjadi sekitar 10 fault block. Sewaktu pengeboran sumur pengembangan ternyata kita selalu dikejutkan oleh berbeda-bedanya fluid contact di tiap fault block yang berbeda. Ternyata ditiap-tiap fault block mempunyai Gas Oil Contact dan Oil Water Contact yang berbeda-beda untuk reservoir yang berbeda-beda. Ini yang yang menyebabkan kita agak sedikit kalang-kabut sewaktu pengeboran sumur pengembangan. Karena sering terjadi sewaktu kita mengebor sumur untuk water injection malah masih dijumpai minyak, atau terkadang kita mengebor sumur minyak, malah yang dijumpai adalah gas cap, karena begitu sulitnya untuk menentukan fluid contact direservoir yang berbeda-beda untuk masing-masing fault block. Rencana untuk side-tracked sumur sudah selalu disiapkan bila hasil yang kita harapkan tidak sesuai rencana. Untungnya tim West Pat terdiri dari orang Indonesia yaitu Ivan Awuy (drilling), Danu Ismadi (reservoir), Agustinus Hadi (completion) dan saya (geologist), sehingga komunikasinya sangat effektif dan ditambah satu orang Malaysia keturunan Jawa sebagai geophysicist. Kalau meeting untuk berdiskusi, terkadang kita terlupa untuk menggunakan bahasa Inggris, Malaysia atau Indonesia tapi malah berkomunikasi dalam bahasa Jawa !! Karena saya mengenalkan konsep pengendapan reservoir yang baru untuk lapangan West Pat, sehingga di akhir pemboran sumur pengembangan, cadangan minyak di West Pat naik dua kali lipat dibandingkan cadangan sewaktu rencana pengembangan lapangan / Field Development Plan. Pengalaman bertambahnya cadangan West Pat dan alasan-alasan pendukungnya, saya ceritakan di pertemuan SPE, di Perth Australia tahun 2004.
Dari pengalaman dalam mengembangkan lapangan West Pat ini saya berkesimpulan bahwa source rock di East Balingian yang berupa Type III source rock tidak hanya menghasilkan gas tetapi juga menghasilkan akumulasi minyak yang cukup untuk dikembangkan, dan setiap akumulasi minyak selalu ada gas cap. Sehingga saya selalu mengusulkan bila akan mengebor / mengevaluasi suatu struktur di East Balingian, paling tidak harus memerlukan dua lubang bor, satu untuk gas cap dan satunya untuk oil down-dip atau untuk mengevaluasi fault block yang lainnya. Dan untuk menghemat biaya, dua lubang bor atau lebih ini haruslah dibor dari satu lubang yang sama dipermukaan, sehingga tidak perlu memindahkan rig. Saya juga mengusulkan untuk mengebor disemua lokasi down-dip daripada struktur-struktur yang diklaim sebagai gas discovery oleh operator-operator terdahulu. Dan sumurnya harus menebus lapisan over-pressure transition dan bagian atas dari lapisan over-pressure, karena di West Pat, pada lapisan-lapisan inilah yang mengandung akumulasi minyak. Cerita tentang lapisan over-pressure ini pernah saya ceritakan di pertemuan IPA Jakarta tahun 2007.
Karena West Pat sudah mengalirkan minyak, dan uang sudah mulai masuk ke kas Murphy maka tahap eksplorasi yang kedua dimulai lagi untuk menemukan cadangan-cadangan minyak yang baru / yang tersembunyi seperti di struktur West Pat. Yang tidak diketahui banyak orang, disamping geologist dan geophysicist dari manca Negara (UK, Amerika, Canada, Australia, Malaysia) yang tergabung di tim eksplorasi Murphy Sarawak, disinilah banyak tenaga-tenaga professional dari Indonesia ikut berpartisipasi dalam penemuan cadangan-cadangan baru di East Balingian Basin. Bila melihat peta lapangan-lapangan di East Balingian Basin, inilah nama lapangan-lapangan dan nama teman-teman dari Indonesia yang ikut bekerja dibalik penemuan cadangan-cadangan baru tersebut: Belum-1 (Teguh P/geologist), Endau-1 (Rovicky D.P/geologist), Merapuh-1 (Teguh P + M.Fauzi/geophysicist), Pemanis-1 (Tony Soelistyo/geologist + Rusdinandar Sigit/geophysicist), Rompin-1 (Teguh P/Rovicky D.P), Serampang-1 (R.Sigit), Serendah-1 (Teguh P + M. Fauzi), Tiram-1 (Teguh P), Wangsa-1 (Teguh P).
Saya juga bercerita tentang penemuan kembali minyak di lapangan S.Acis yang telah diketemukan di tahun 1960-an dan telah dibor dengan 4 sumur appraisal tapi masih tetap tidak bisa dikembangkan dikarenakan dianggap lapangan tersebut lebih banyak mengandung gas daripada minyak sehingga tidak ekonomis jika akan dikembangkan sebagai lapangan minyak. Saya melihat bahwa ternyata sumur-sumurnya letaknya tidak optimal, sehingga saya mengusulkan untuk menambah sumur appraisalnya dengan cara 1 lubang di permukaan tapi bisa dipakai untuk ‘multiple sidetracked’ untuk mengevaluasi fault block-fault block yang lain tanpa perlu memindahkan rig sehingga menghemat biaya tapi data yang didapat akan lebih banyak. Akhirnya setelah menambah 10 lubang tambahan dari hanya 3 lokasi dipermukaan, lapangan South Acis sekarang merupakan lapangan terbesar kedua setelah West Pat. Setelah 50 tahun diketemukan, akhirnya lapangan South Acis baru bisa dikembangkan sebagai lapangan minyak.
Yang saya coba untuk berbagi sewaktu presentasi adalah bila kita bekerja disuatu basin seperti East Balingian Basin yang mempunyai: 1) type III source rock yang ternyata tidak hanya bisa menghasilkan gas tapi juga menghasilkan akumulasi minyak yang cukup banyak, 2) dengan multiple stacked reservoirs dimana setiap reservoir mempunyai kandungan fluida yang berbeda-beda, 3) dan juga multiple fault blocks dimana setiap fault block mempunya fluid contacts yang berbeda-beda. Sehingga bila kita mengevaluasi suatu struktur seperti yang mempunyai kondisi geologi seperti di East Balingian basin, hanya dengan mengebor 1 atau 2 sumur/lubang saja, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah akumulasi minyaknya masih akan tetap tersembunyi tanpa diketahui, seperti yang terjadi dengan operator-operator sebelum Murphy Oil. Mereka meninggalkan East Balingian didaerah operasi block SK309/SK311 tanpa adanya suatu struktur yang bisa dikembangkan untuk diproduksi minyaknya.
Saya rasa sungguh sesuatu yang menggembirakan karena suksesnya ekplorasi dan produksi di East Balingian Basin di lepas pantai Sarawak, selain tenaga professional dari banyak Negara, juga banyak melibatkan atau merupakan hasil pemikiran-pemikiran tenaga-tenaga professional perminyakan dari Indonesia….!!!
Salam,
Teguh