pembelajaran yg diperoleh om willy dari jun adalah
penggunaan kata "mata telanjang" seperti terpapar
di tulisannya, yg sejatinya merupakan kekhasan jun.
sori om willy, cuman guyon. terus berkreasi....
--- Pada Sel, 21/9/10, Junrial Huzaen <jun...@gmail.com>
menulis:
Dari: Junrial Huzaen <jun...@gmail.com>
Judul: Re: FW: [geogama92] tulisan William Aipipidely di KR (maneh)
Kepada: geog...@googlegroups.com
Tanggal: Selasa, 21 September, 2010, 7:12 PM
gak percuma doi kerja praktek
ama aq. banyak pelajaran yg dia peroleh...........
2010/9/22 Hendardi, Erwin (Erwinhd) <Erw...@chevron.com>
Mantap
Om Wili, pantas waktu kuliah terlihat sering merenung, sama dg Sinung J
Bbrp
kata yg khas dr si Om ini (terutama di status fb-nya) adl : terpapar,
sejatinya, pembelajaran, kearifan, kekhasan, dll
Kang udin, iki meneh
tulisan Romo Willy...
Huebat,,,,.
WISATA KEBUMIAN OLEH wILLIAM EA DIMNUAT DI HARIAN LOKAL KEDAULATAN
RAKYAT
Wisata Kebumian: Identitas Baru Yogyakarta
21/09/2010 17:36:01 Seabrek identitas wilayah
Yogyakarta sebagai kota multi-wisata merupakan pengakuan yang sahih.
Pengakuan ini tak dapat dibantah. Fakta-fakta budaya yang terpapar
memperkuat hal itu. Dari wisata purbakala, wisata keraton, wisata kuliner,
wisata pantai, wisata buku, hingga wisata pendidikan telah menjadi
ikon tersendiri bagi perkembangan sosial kota ini. Namun, sejatinya, di luar
fakta itu, wilayah Yogyakarta juga menyimpan potensi wisata kebumian.
Bagaimana mendorong potensi wisata ini menjadi salah satu ikon wisata
Yogyakarta?Fenomena Gunung Merapi, kekhasan garis Pantai Parangtritis telah
menjadi magnet tersendiri bagi para wisatawan mancanegara dan domestik. Ini
cerita destinasi wisata yang tidak terhitung baru. Banyak warga lintas
daerah yang sudah mahfum dengan kisah itu. Namun, ketika, Kota Yogyakarta
ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggara Kompetisi Ilmu Kebumian Tingkat Internasional
(International Earth Science Olympiad) ke-4 yang berlangsung sejak 19-28
September 2010, dihadiri 19 negara peserta; yang diperlombakan untuk siswa
sekolah menengah atas di bidang ilmu kebumian - geologi, geofisika,
oseanografi meteorologi dan astronomi - publik mulai menyadari wilayah
Yogyakarta menyimpan aneka potensi wisata kebumian yang belum tergarap
secara maksimal. Oleh karenanya jika potensi wisata ini dipetakan sebagai
salah satu ikon wisata, maka ini akan menjadi salah satu nilai tambah
pariwisata Yogyakarta. Fakta ini juga menyingkapkan pertanyaan: apa saja
potensi kebumian wilayah Yogyakarta yang dapat dipakai sebagai salah sati
ikon wisata kota ini? Bagaimana potensi wisata ini disosialisasikan ke
publik agar dapat diakes oleh wisatawan domestik dan
mancanegara? Jejak Wisata Kebumian Jika kita
melancong ke wilayah Selatan Kota Yogyakarta, kita akan menyaksikan dengan mata telanjang deretan Perbukitan Selatan
yang menyimpan informasi geologi, sekaligus pemandangan bentang alam yang
memikat. Lalu, kala kita menginjakkan kaki di sepanjang Pantai Parangtritis
Yogyakarta, kita akan melihat deburan ombak yang sangat khas dengan garis
pantainya yang lurus. Fenomena garis pantai yang lurus ini tidak banyak
kita temukan di lain tempat. Begitu pula dengan bentang alam gemuk pasir
yang menyerupai padang pasir. Semua fenomena ini menyimpan kajian geologi
dan oseanografi yang syarat dengan informasi kebumian. Masih di daerah
Selatan Yogyakarta, kita juga akan disuguhi pemandangan Pantai Baron yang
cukup eksotik. Orang Yogya mungkin telah mengenal adanya Gua dan Sungai
Bawah Tanah Bribin dengan ornamen stalaktit-stalakmit di daerah Kabupaten
Gunungkidul, tapi apakah wisatawan domestik di luar Yogyakarta dan
mancanegara mengenal itu? Jadi sangat tepat wilayah Yogyakarta dipakai
sebagai arena kompetisi Ilmu Kebumian. Pembelajaran kebumian yang sangat
cocok di wilayah Yogyakarta seperti situs-situs Kebumian macam gunung,
pantai dan batuan tua yang dapat dipakai sebagai objek belajar studi
geologi, hidrologi, oseanografi dan astronomi (Hendra Amijaya,
2010).Jejak-jejak kebumian yang sedemikian banyak ditemukan di Selatan
Yogyakarta, kita juga akan dibuai dengan kekayaan informasi geologis di
Utara Yogyakarta seperti fenomena Gunung Merapi dengan perilakunya yang
khas. Di area ini, kita akan menemukan komunitas lintas agama peduli air di
Pakem Yogyakarta, yang menjaga sumber daya air ini dengan prinsip-prinsip
kearifan lokal. Dalam konteks pembelajaran ilmu kebumian dan irisannya
dengan pembelajaran sosiologis, jika dihubungkan dengan potensi
parawisata, amat disayangkan jika fakta komunitas peduli air di Pakem tidak
menjadi salah satu site kunjungan peserta kompetisi ilmu kebumian ini.
Momen kompetisi Kebumian yang menempatkan Yogyakarta sebagai tuan rumah
Olimpiade Kebumian Internasional haruslah dipakai sebagai titik awal
membuat desain besar peta wisata Kebumian. Wisata Kebumian bisa menjadi
salah satu potensi riil wisata Yogyakarta. Mari mengunjungi jejak-jejak
itu! q-g (1670-2010) *) William E Aipipidely, Peminat Wisata Geologi
& Pendiri Komunitas Inovasi Sosial MANNADOA
--- On Sat, 18/9/10, Salahuddin Husein <shd...@gmail.com> wrote:
From: Salahuddin Husein <shd...@gmail.com>
Subject: Re: [geogama92] tulisan William Aipipidely di KR
To: geog...@googlegroups.com
Received: Saturday, 18 September, 2010, 8:14 PM
sayangnya gak
ada Jun..
cuma nama aja
Ada profil
penulisnya gak Dien?? sukur2 fotonya. mo liat tampang si ambon
sekarang.........
|
REFLEKSI HARI DEMOKRASI INTERNASIONAL 16
SEPTEMBER 2010 ; Mari Mendukung Demokrasi
|
|
Error! Filename not specified.
|
|
16/09/2010 06:47:36 Tanpa terasa, 12
tahun negeri ini telah mengenyam pahit-manisnya demokrasi. Reformasi
politik yang digulirkan sejak 1998 makin menunjukkan tanda-tanda harapan.
Walaupun demikian, di antara harapan itu, menyeruak pula kerikil-kerikil
keraguan. Demokrasi yang selalu diidentikkan dengan kebudayaan Barat itu
diduga kurang pas dengan latar kebudayaan kita. Dalam konteks lokalitas,
bukti keraguan itu dapat kita lihat dari menggantungnya RUUK Yogyakarta.
Simetris dengan keraguan, apakah demokrasi (prosedural) sesuai dengan
kehidupan masyarakat kita, memicu PBB merespons keberatan-keberatan itu.
Respons itu kemudian tertuang dalam Resolusi Majelis Umum PBB No 62/7
yang menetapkan tanggal 15 September sebagai Hari Demokrasi Internasional
yang menyatakan: Demokrasi adalah nilai-nilai universal berdasarkan
keinginan rakyat yang diekspresikan secara bebas untuk menentukan
sistem-sistem politik, ekonomi, sosial dan kultural mereka sendiri serta
partisipasi penuh dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Artinya, resolusi
PBB ini dapat dimaknai sebagai upaya promosi dan konsolidasi demokrasi.
Penetapan Hari Demokrasi Internasional ini berkaitan pula dengan
peringatan 20 Tahun Konferensi New or Restored Democracies, di Manila,
Filipina pada medio Juni 1988, yang memainkan peran penting dalam
penguatan dan pertumbuhan demokrasi di berbagai negara (Azyumardi Azra,
2008).
Sejarah Panjang Demokrasi
Harapan dan keraguan sepertinya mengiringi perkembangan demokrasi di
seluruh dunia. Sejak awal pertumbuhannya, konsepsi demokrasi selalu
berhadapan dengan dilema ini. Dari demokrasi klasik ala Plato,
Aristoteles, John Milton, John Locke (Diane Revitch, 1994) hingga
demokrasi modern ala David Held, Paul Hirst, Roberth Dahl, William Liddle
(David Held, 2004), kita menyaksikan dua hal ini tumbuh bersama. Harapan
dan keraguan itulah yang membuat konsepsi demokrasi di tingkat praksis
terus menunjukkan wajah yang makin manusiawi. Harapan seperti ini penting
untuk diapungkan di tengah makin menguatnya pesimisme dan keraguan.
Memang, kalau kita menilik lebih jauh, dalam konteks kekinian kita,
terpapar demokrasi kita mengandung sejumlah soal yang dapat menjadi
penghalang tumbuhnya demokrasi yang lebih manusiawi. Pertama, problem
kemiskinan yang cukup tinggi membuat pertumbuhan ekonomi dan sosial warga
sulit untuk bergerak lebih cepat. Padahal, sejatinya, demokrasi harus
memperkuat pertumbuhan ekonomi dan sosial warga masyarakat. Demokrasi
juga diharapkan meningkatkan proses produktivitas dan kesejahteraan
warga. Wakil Presiden Budiono, dalam suatu kesempatan mengatakan
demokrasi kita jangan sampai menjadi pasar jual beli suara.
Kedua, birokrasi yang rumit, tidak transparan, dan biaya tinggi adalah
handicap tersendiri bagi pengelolaan pemerintahan yang efektif. Oleh
karenanya, upaya memperkuat tata kelola pemerintahan yang baik (good
governance) perlu didukung semua pihak. Ketiga, indeks korupsi yang
tinggi serta makin mengguritanya praktik korupsi di semua jenjang dan
entitas politik membuat demokrasi subtansial mengalami pelambatan
akselerasinya. Fakta ini menjadi krusial sebagai titik berangkat
memperkuat pranata hukum nasional. Semua entitas harus mendukung upaya
pemberantasan korupsi sekaligus sebagai fungsi menopang demokrasi.
Keempat, Kekerasan atas nama kelompok dan kepentingan perlu diminimalkan
menguatnya sentimen-sentimen antarkelompok dalam masyarakat akan menjadi
buah pahit bagi demokrasi.
* Bersambung hal 14
|
--
http://geogama92.blogspot.com/
--
JCH
------------------------------------------------
Feel good Do better Get the best
--
http://geogama92.blogspot.com/
--
http://geogama92.blogspot.com/
|
--
http://geogama92.blogspot.com/
--
http://geogama92.blogspot.com/
--
JCH
------------------------------------------------
Feel good Do better Get the best
--
http://geogama92.blogspot.com/
|