Ign Sumarya
unread,Oct 15, 2013, 5:23:03 AM10/15/13Sign in to reply to author
Sign in to forward
You do not have permission to delete messages in this group
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to gss_j...@yahoo.com, Gunawan Suryana, Gereja Katolik St.Andreas Kedoya ( webmaster ), gedocso, gedono, gegenugroho, gemawarta, gerejafransiskus, GEREJA KATOLIK TIMUR, Gerardette Philips, gracia sihite, grace_weddingorganizer, Greg Magnus Finesso, Maria Graffeliesta, Gamma Bintang Grafika, Greg Edwin
“Kamu meletakkan beban yang tak terpikul pada orang”
(Rm 2:1-11; Luk 11:42-46)
“Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar
persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu
mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan
yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi,
sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka
menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama
seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di
atasnya, tidak mengetahuinya." Seorang dari antara ahli-ahli Taurat
itu menjawab dan berkata kepada-Nya: "Guru, dengan berkata demikian,
Engkau menghina kami juga." Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga,
hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak
terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu
dengan satu jari pun” (Luk 11:42-46), demikian kutipan Warta Gembira
hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
· Orang-orang Farisi memang fasih dan banyak bicara atau omong,
serta suka memberi perintah kepada orang lain, namun mereka sendiri
tidak melakukan apa yang mereka omongkan atau perintahkan. Yang mereka
perintahkan kepada orang lain pada umumnya juga tak mungkin
dikerjakan. Maka Yesus mengutuk dengan keras kepada mereka. Sebagai
orang beriman atau beragama kami mengajak anda sekalian untuk tidak
bersikap mental Farisi dalam cara hidup dan cara bertindak setiap
hari. Kepada para pimimpin atau atasan atau siapapun yang berpengaruh
dalam kehidupan bersama kami ajak dan ingatkan untuk menjadi teladan
atau inspirator bagi orang lain dalam tindakan atau perilaku.
Hendaknya kita juga tidak dengan mudah meletakkan beban berat kepada
orang lain atau memberi tugas yang tak mungkin dilaksanakan. Keladanan
atau kesaksian dalam hal kerja atau perilaku merupakan cara utama dan
pertama dalam rangka pewartaan iman atau agama, maka marilah kita
berlomba dalam tindakan atau perilaku yang baik, bermoral dan berbudi
pekerti luhur. Anak-anak di dalam keluarga hendaknya sedini mungkin
dididik dan dibiasakan dalam hal kerja tangan, entah itu membersihkan
lantai, menyapu atau membuang sampah pada tempatnya, dan pada waktunya
kiranya juga mencuci pakaiannya sendiri. Dengan kata lain kami
harapkan kita semua hendaknya dapat mengurus diri serta segala apa
yang kita butuhkan dalam hidup dengan baik tanpa bantuan orang lain.
Jika kita tak mampu mengurus diri sendiri dengan baik, maka kita tak
akan mungkin melayani atau membahagiakan orang lain. Orang-orang yang
suka perintah adalah orang-orang bersikap mental Farisi.
· “Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup
kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan,
kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka
yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran,
melainkan taat kepada kelaliman. Penderitaan dan kesesakan akan
menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang
Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai
sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama
orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu”
(Rm 2:6-11). Kita semua kiranya mendambakan hidup kekal setelah
meninggal dunia atau dipanggil Tuhan nanti, dan selama hidup di dunia
ini juga dihormati dan dimuliakan orang lain. Untuk itu cara yang
harus kita lakukan tidak lain adalah ‘tekun berbuat baik’. Apa yang
disebut baik senantiasa berlaku secara universal, dimana saja dan
kapan saja, tidak pandang bulu. Maka kami mengajak dan mengingatkan
kita semua: hendaknya dimana saja kita berada atau kemana pun pergi
senantiasa melakukan apa yang baik kepada siapapun. Berbuat baik
kepada orang lain merupakan keharusan bukan hanya merupakan kewajiban
moral saja, karena masing-masing dari kita telah menerima kebaikan
dari orang lain secara melimpah ruah melalui aneka kesempatan dan
kemungkinan. Tidak berbuat baik hemat saya identik dengan tidak
beriman alias kafir. Sebagai orang yang beriman kepada Allah, marilah
kita tidak pandang bulu dalam melakukan apa yang baik, terutama dalam
membantu mereka yang menderita atau menjadi korban bencana alam.
Hendaknya para peserta didik di sekolah-sekolah pertama-tama dan
terutama dididik dan dibina agar tumbuh berkembang menjadi pribadi
yang baik, bukan hanya unggul dalam mata pelajaran saja. Pengalaman
dan pengamatan menunjukkan bahwa buah pendidikan di negeri kita ini
sungguh memprihatinkan, nampak dalam perilaku para pejabat masa kini
yang korup. Hal ini terjadi karena keunggulan nilai pelajaran menjadi
tujuan utama dan dimana perlu menyontek atau ‘mark-up’ nilai.
“Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.
Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku
tidak akan goyah” (Mzm 62:2-3)
Ign 16 Oktober 2013