Krisis Panggilan untuk Imam ?

111 views
Skip to first unread message

Fransiska Erline

unread,
Nov 3, 2006, 2:26:26 AM11/3/06
to gema...@googlegroups.com
Dear Frenz,
 
Dua minggu yang lalu, saya dan keluarga misa di gereja Kebangkitan Kristus km 15.
Kami lagi kangen pengen ngobrol dengan Pastor Yosef OMI.
Dalam obrolan kami yang ngalor ngidul, tercetus bahwa ternyata saat ini, jumlah Pastor OMI di Indonesia ternyata hanya berkisar 30-an pastor saja.
Kalau tidak ada aral melintang, akhir 2007 akan bertambah 1 pastor lagi. Sementara yang kost di Condongcatur Yk hanya belasan saja jumlahnya - itupun akumulasi dari 6 kelas.
 
Dari sebuah sumber saya dapatkan info bahwa jumlah calon pastor MSF yang ada di skolastik mencapai 70-an orang (tidak termasuk postulan dan novisiat).
Saya tidak tau, angka ini termasuk besar atau tidak.
Kalau dibandingkan dengan angka pada OMI, ya memang besar. Tapi kalau dibandingkan dengan domba-domba yang harus digembalakan ?
 
Dua hari yang lalu, saya ngrumpi bentar dengan Pastor Teddy K. Aer MSF (boss-nya MSF Kalimantan). Dari obrolan kami tercetus pula perihal 'krisis panggilan untuk Imam' tersebut. Beliau pernah baca sebuah opini yang pernah ada di majalah Hidup beberapa waktu yang lalu, ditulis lebih kurang begini : gereja (termasuk pastor-nya) kalau diibaratkan dengan dunia bisnis, mirip dengan perusahaan jasa. Menjual jasa. Kalau service tidak memuaskan, maka pelanggan akan kabur. Apakah service dari gereja (dalam hal ini - pastornya) sudah cukup qualified ?
 
Bicara tentang kualifikasi, saya jadi teringat, bila saya bertanya kepada seorang pastor : pastor, kenapa sih dulu pengen jadi pastor ?
Jawabannya beragam. Namun yang menempati urutan teratas adalah : karena sosok seorang Pastor, biasanya berasal dari lingkungan keluarga sendiri ataupun orang dekat.
So, nampaknya seorang calon Imam perlu punya IDOLA berupa IMAM
Tentu saja Idola yang pantas untuk dipanut dan dinunut.
 
Lalu mengapa 'panggilan' itu dirasa krisis sekarang ?
Apakah karena pilihan untuk 'menjadi apa' sudah semakin bertambah banyak ?
Atau karena sulit mencari idola di antara para Imam yang ada sekarang, sehingga Imam yang ada perlu ''di up-grade' ?
Atau karena kurangnya pembentukan 'suasana' dalam keluarga yang bisa menggiring 'calon Imam' yang ada di rumah - siapa tau panggilan itu sebenarnya ada namun tertutupi oleh selimut tebal ?
 
Di akhir obrolan dengan Pastor Teddy, beliau bilang : Heran saya, padahal jadi pastor itu, uenak tenan lho.... hehehe...
 
Frenz,
MSF Kalimantan akan mengadakan kegiatan Aksi Panggilan di Banjarbaru untuk keuskupan Banjarmasin dan Palangkaraya, pada 26 Des 2006 ini.
Mungkin one day akan dilakukan di Bpn.
Boleh donk kita ikut peduli.
 
Mungkin ada rekan-rekan yang punya ide, info, sumbang saran, komentar - whatever, mengenai 'Krisis Panggilan untuk Imam' tersebut. Atau mungkin ada yang berpendapat bahwa hal ini belum menjadi krisis. Silakan. Saya sudah bilang ke Pastor Teddy, bahwa kita akan share hasil obrolan ini.
 
Cheers, erline
 
 
 
 
 
 
 
 

Tono

unread,
Nov 3, 2006, 6:26:38 AM11/3/06
to gema...@googlegroups.com
usul.....promosi di sekolah katolik, seingat saya (kalau nggak salah.....) di kalender gereja ada minggu panggilan, mungkin saat itu kongregasi yang punya tempat pendidikan khusus calon imam bisa tinggal di pastoran sekolah katolik untuk memperkenalkan dan mempromosikan kehidupan imamat.
 
kita tidak bisa berharap banyak dengan poster, sebaiknya ada pertemuan... ada baiknya wakil siswa senior seminari bisa hadir juga.....
 
di dahor pernah, suster dan frater bercerita di depan umat suka duka mereka..... ada bagusnya kalau waktu promosi di sekolah katolik, pastor / suster / frater yang tentu saja jago berkomunikasi bisa bercerita kenapa mereka mau menjadi pastor / suster, bagaimana sulit / mudahnya mereka ambil keputusan itu, apa yang mereka harapkan dengan menjadi pastor / suster, bahagiakan mereka menjadi pastor / suster..... durasinya jangan terlalu lama, juga jangan terlalu sebentar....
 
karena mereka tinggal di pastoran sekolah selama beberapa hari..... mereka bisa membuka pintu audiensi / wawancara, atau kalau misalnya jesuit... memberi latihan rohani khas st. ignatius..... kalau fransiskan menjelaskan spiritualitas saudara hina dina...... bisa juga diceritakan patron kongregasinya...... dulu st. fransiskus anak orang kaya.... tapi akhirnya mendengar suara tuhan untuk memperbaiki gerejanya....dst dst.........
 
sekali bisa jualan benda2, buku2 rohani khas kongregasi...... bagaimanapun anak-anak muda suka simbol kan.... ?
 
sekedar usul... mestinya ini usul basi.... aku yakin sudah banyak orang yang memberi usulan semacam ini...... atau ada yang memberi counter.... usul ini basi karena...... blah blah blah............. ?   :-) :-)
 

Tono

unread,
Nov 3, 2006, 6:30:07 AM11/3/06
to gema...@googlegroups.com
saya ralat yang benda2 rohani, kalo memungkinkan pastor / suster bisa memberikan ke siswa yang membuka diri untuk berkomunikasi dengan mereka..... aku dulu waktu sma, pernah dikasih salib tau, sampai sekarang aku masih ingat pastor yang memberi, berkesan sekali...... :-)
 
--
Lord, make me an instrument of your peace - St. Francis of Assisi

GEMA WARTA

unread,
Nov 6, 2006, 4:25:46 AM11/6/06
to gema...@googlegroups.com

Thanks Silka untuk fwd email ini

Pertama : apakah panggilan identik dengan menjadi pastor/biarawan/wati
Kalau yang saya pelajari – mestinya tidak
Kristus memanggil kita jadi garam – pengikut Dia, dan karyanya bisa dan boleh dan harus dimana saja bumi dipijak
Entah jadi biarawan/wati/pastor, menikah, atau membujang
Dalam cahaya pandang ini panggilan menjadi krisis kalau kita alpa menjadi garam

Kedua: jika krisis panggilan artinya berkurangnya jumlah imam sehingga kuatir umat tidak terbina, tidak ada ekaristi mingguan, dsb
Boleh jadi pertanyaan apakah mengikuti Kristus identik dengan itu semua ?
Mengapa tidak dipikirkan satu alternatif pemberdayaan umat ?
Sehingga tidak bergantung pada pastor ?
Kita tidak perlu menjadi teolog semua
Namun peningkatan kualitas iman secara pribadi adalah dimintakan dari setiap dari kita bukan ?
Saya tidak melihat bahwa hal ini sulit – yang sulit adalah perubahan paradigma
Umat sudah kadung manja disuapi terus dan disisi lain pastornya juga mungkin senang kalau ada ketergantungan terus
Lha mereka makan dari siapa (mohon maaf – no offense lah)

Konkritnya: dari tiap kring dipilih 2-3 ibu-2 usia 45-keatas
Yang tidak direpoti anak2 kecil
Mereka kita bina jadi pembina kring
Diajari teolog praktis seperlunya
Kalau mereka lulus SMA pasti mereka bisa
Kalau tidak mau – kita upayakan meningkatan kepercayaan diri
Ingat – kita bisa karena kita mau
Kapasitas kepala manusia tidak terbatas

Imagine setiap tahun per kring ada 2-3 lulusan
Dalam 5 tahun kita punya komunitas basis yang solid
Ya apa ya ?

AMDG
Lucas Nasution

GEMA WARTA
Program Siaran Talkshow Agama Katolik
Hadir Setiap Kamis Malam jam 20:00-21:00 di Gemaya FM 104.5 FM
SMS: 0856 5200 1045

E-Mail: gema...@radio.fm
Mailing List: gema...@googlegroups.com
Web: http://gemawarta.wordpress.com
Rekening Gema Warta:
Bank Mandiri KK Balikpapan Baru No Rek. 149-00-0450448-8
a.n. Carolline Silka Wibowo / Lily Gandakusuma

--- suma...@gmail.com wrote:
> > *Dear Frenz,*
> > **
> > *Dua minggu yang lalu, saya dan keluarga misa di gereja Kebangkitan
> > Kristus km 15. *
> > *Kami lagi kangen pengen ngobrol dengan Pastor Yosef OMI.*
> > *Dalam obrolan kami yang ngalor ngidul, tercetus bahwa ternyata saat
> > ini, jumlah Pastor OMI di Indonesia ternyata hanya berkisar 30-an pastor
> > saja.*
> > *Kalau tidak ada aral melintang, akhir 2007 akan bertambah 1 pastor
> > lagi. Sementara yang kost di Condongcatur Yk hanya belasan saja jumlahnya -
> > itupun akumulasi dari 6 kelas. *
> > **
> > *Dari sebuah sumber saya dapatkan info bahwa jumlah calon pastor MSF
> > yang ada di skolastik mencapai 70-an orang (tidak termasuk postulan dan
> > novisiat).*
> > *Saya tidak tau, angka ini termasuk besar atau tidak.*
> > *Kalau dibandingkan dengan angka pada OMI, ya memang besar. Tapi kalau
> > dibandingkan dengan domba-domba yang harus digembalakan ?*
> > **
> > *Dua hari yang lalu, saya ngrumpi bentar dengan Pastor Teddy K. Aer MSF
> > (boss-nya MSF Kalimantan). Dari obrolan kami tercetus pula perihal 'krisis
> > panggilan untuk Imam' tersebut. Beliau pernah baca sebuah opini yang pernah
> > ada di majalah Hidup beberapa waktu yang lalu, ditulis lebih kurang begini :
> > gereja (termasuk pastor-nya) kalau diibaratkan dengan dunia bisnis, mirip
> > dengan perusahaan jasa. Menjual jasa. Kalau service tidak memuaskan, maka
> > pelanggan akan kabur. Apakah service dari gereja (dalam hal ini - pastornya)
> > sudah cukup qualified ? *
> > **
> > *Bicara tentang kualifikasi, saya jadi teringat, bila saya bertanya
> > kepada seorang pastor : pastor, kenapa sih dulu pengen jadi pastor ?*
> > *Jawabannya beragam. Namun yang menempati urutan teratas adalah : karena
> > sosok seorang Pastor, biasanya berasal dari lingkungan keluarga sendiri
> > ataupun orang dekat. *
> > *So, nampaknya seorang calon Imam perlu punya IDOLA berupa IMAM*
> > *Tentu saja Idola yang pantas untuk dipanut dan dinunut.*
> > **
> > *Lalu mengapa 'panggilan' itu dirasa krisis sekarang ?*
> > *Apakah karena pilihan untuk 'menjadi apa' sudah semakin bertambah
> > banyak ?*
> > *Atau karena sulit mencari idola di antara para Imam yang ada sekarang,
> > sehingga Imam yang ada perlu ''di up-grade' ?*
> > *Atau karena kurangnya pembentukan 'suasana' dalam keluarga yang bisa
> > menggiring 'calon Imam' yang ada di rumah - siapa tau panggilan itu
> > sebenarnya ada namun tertutupi oleh selimut tebal ? *
> > **
> > *Di akhir obrolan dengan Pastor Teddy, beliau bilang : Heran saya,
> > padahal jadi pastor itu, uenak tenan lho.... hehehe...*
> > **
> > *Frenz,*
> > *MSF Kalimantan akan mengadakan kegiatan Aksi Panggilan di Banjarbaru
> > untuk keuskupan Banjarmasin dan Palangkaraya, pada 26 Des 2006 ini.*
> > *Mungkin one day akan dilakukan di Bpn.*
> > *Boleh donk kita ikut peduli.*
> > **
> > *Mungkin ada rekan-rekan yang punya ide, info, sumbang saran, komentar -
> > whatever, mengenai 'Krisis Panggilan untuk Imam' tersebut. Atau mungkin ada
> > yang berpendapat bahwa hal ini belum menjadi krisis. Silakan. Saya sudah
> > bilang ke Pastor Teddy, bahwa kita akan share hasil obrolan ini. *
> > **
> > *Cheers, erline*
> > **
> > **
> > **
> > **
> > **
> > **
> > **
> > **
> >
> > > >
> >
> >
>
>
> --
> Lord, make me an instrument of your peace - St. Francis of Assisi




--
Lord, make me an instrument of your peace - St. Francis of Assisi





_____________________________________________________________
Get a Web Address for as little as $2.95/Yr! http://www.idotz.net

Fransiska Erline

unread,
Nov 8, 2006, 9:09:40 PM11/8/06
to Lucas Nasution, gema...@googlegroups.com
Pak Tono & Pak Lucas,
Thx atas urun komen-nya tentang hal tsb. Whatever it is, pasti akan ada
gunanya.

Namun kayaknya saya harus realistis dan berhenti berharap bahwa 'Panggilan
untuk menjadi Imam' akan keluar dari krisis.
Mengapa?
Boro-boro ikutan mikir serius atau tigarius tentang 'bagaimana mengatasi
krisis' atau 'mendukung kegiatan aksi panggilan - apapun bentuknya', lha
wong untuk ikutan urun komen aza, pesertanya cuman Pak Tono & Pak Lucas.
Padahal setau saya, anggota milis gemawarta cukup banyak dan isinya bukan
orang-orang yang mati rasa and mati ide. Bahkan saya yakin : Masih Asin -
karena belum alpa jadi garam.

Tapi ya, apa boleh buat, mungkin topiknya yang tidak menarik, seperti topik
'cara berpakaian ke gereja' kali yeah....

Cheers, erline

Jamrewav, Frank [FE&C]

unread,
Nov 8, 2006, 11:35:28 PM11/8/06
to gema...@googlegroups.com, Lucas Nasution
Maaf aku bukan 'gak mau comment - tapi, untuk keluarga saya sudah sejak
dulu kala 'gak sepi jadi biarawan/wati dan sebagai tambahan aja
sepupuku barusan ditahbis bulan juni lalu di samarinda. Kalau tidah
salah ada satu kesan bahwa setiap keluarga katolik biasanya menganjurkan
anak pertamanya jadi pastor.
Thanks
Frank

Cheers, erline

> Kalau yang saya pelajari - mestinya tidak Kristus memanggil kita jadi
> garam - pengikut Dia, dan karyanya bisa dan


boleh dan harus dimana saja bumi dipijak
> Entah jadi biarawan/wati/pastor, menikah, atau membujang Dalam cahaya
> pandang ini panggilan menjadi krisis kalau kita alpa menjadi
garam
>
> Kedua: jika krisis panggilan artinya berkurangnya jumlah imam sehingga
kuatir umat tidak terbina, tidak ada ekaristi mingguan, dsb
> Boleh jadi pertanyaan apakah mengikuti Kristus identik dengan itu
semua ?
> Mengapa tidak dipikirkan satu alternatif pemberdayaan umat ?
> Sehingga tidak bergantung pada pastor ?
> Kita tidak perlu menjadi teolog semua
> Namun peningkatan kualitas iman secara pribadi adalah dimintakan dari
setiap dari kita bukan ?

> Saya tidak melihat bahwa hal ini sulit - yang sulit adalah perubahan


paradigma
> Umat sudah kadung manja disuapi terus dan disisi lain pastornya juga
mungkin senang kalau ada ketergantungan terus

> Lha mereka makan dari siapa (mohon maaf - no offense lah)


>
> Konkritnya: dari tiap kring dipilih 2-3 ibu-2 usia 45-keatas Yang
> tidak direpoti anak2 kecil Mereka kita bina jadi pembina kring Diajari

> teolog praktis seperlunya Kalau mereka lulus SMA pasti mereka bisa

> Kalau tidak mau - kita upayakan meningkatan kepercayaan diri Ingat -

Fransiska Erline

unread,
Nov 9, 2006, 1:24:20 AM11/9/06
to gema...@googlegroups.com
Bung Frank,

Saya ikut happy & bangga mengetahui bahwa banyak biarawan/wati dari keluarga
besar Bung Frank. Rupanya banyak yang bibit unggul, sehingga dipilih Tuhan
jadi penuai. Semoga kuat senantiasa dalam imamatnya. Selamat yeah.

Saya tidak terlalu tau mengenai 'anjuran anak pertama jadi pastor', tapi
yang jelas, tanpa bermaksud sombong atau naif atau apalah istilahnya, kedua
anak saya (ceweq usia 11 thn & cowoq 8 thn) yang dipercayakan Tuhan kepada
saya, sejak mereka ada di dalam kandungan saya, sudah kami (suami & saya)
serahkan pada Tuhan, bila Tuhan berkenan kepada mereka berdua dan menilai
bahawa mereka pantas menjadi penuai di kebun anggurNya. Memang perjalanan
hidup mereka masih panjang, tanpa kita tau apa yang akan terjadi di setiap
jejak langkah mereka. Kami yakin bahwa Tuhan sudah mengaturnya menurut
caraNya. Yang bisa kami lakukan hanyalah menciptakan 'suasana' di rumah
dalam membimbing mereka, tentu saja kami selalu bersandar padaNya dan
meminta padaNya untuk juga terus membimbing kami.

Bung Frank, mungkin dengan pengalaman 'banyak produksi biarawan/wati' , Bung
Frank bisa share mengenai hal tsb, mungkin pengalaman, kiat, usaha, or apa
aja. Mungkin - kalau berkenan.

Thx n Cheers, erline

lemont...@telkom.net

unread,
Nov 9, 2006, 2:59:52 AM11/9/06
to gema...@googlegroups.com
Salam,

Kalau belum ada yang nanggapin, itu tidak berarti topiknya
ndak menarik. Cuma belum sempat aja mungkin. Dan lagi
topik tentang 'panggilan' memang topik yang tidak gampang
untuk ditanggapi terutama bagi kita yang awam. Sejauh mana
sih kita benar2 prihatin tentang krisis panggilan? Jangan2
ketika mulut kita meneriakkan keprihatinan itu, jauh
didalam hati kecil kita terselip sebuah harapan.....asal
jangan anakku ya Tuhan.

Pada dasarnya, sudah sejak lama gereja melakukan berbagai
upaya untuk mengantisipasi hal itu dengan mengadakan
promosi-promosi ke beberapa sekolah maupun gereja melalui
selebaran ataupun misa-misa dengan tema 'panggilan'. Namun
upaya itu ternyata masih belum cukup mampu menjawab
tantangan yang dihadapi gereja pada saat ini, khususnya
dalam mendapatkan 'panggilan-panggilan' baru.
Kondisi semacam itu sepertinya sudah bisa ditebak bakal
terjadi bila melihat realitas yang ada diseputar gereja.
Gereja bagaikan berjalan 'sendirian' dalam menjala umat
yang bersedia mengabdi sebagai Imam. Umat terkesan tidak
begitu peduli derngan kian minimnya jumlah
'panggilan'panggilan' baru.

Betitik tolak dari hal diatas, sudah selayaknya kita juga
mesti meningkatkan dukungan terhadap upaya-upaya gereja
dalam menebarkan benih-benih 'panggilan' diantara umat.
Kita mesti senantiasa menanamkan SEMANGAT PELAYANAN dengan
contoh-contoh yang NYATA, baik dikalangan umat maupun
didalam keluarga kita sendiri.
Sebab bagaimana mungkin kita mengharapkan mereka bisa
berkembang menjadi pribadi-pribadi yang secara total mau
menyerahkan seluruh hidupnya menjadi 'pelayan' demi
kerajaan Allah, kalau didalam diri mereka tidak pernah
ditanamkan SEMANGAT UNTUK MELAYANI.

Jangan matikan benih panggilan yang muncul didalam
keluarga kita, tapi justru mesti dipupuk dan dibina agar
dapat tumbuh dengan subur. Benih 'panggilan' seringkali
datang dalam kedaan samar-samar. Dan justru di seminarilah
para seminaris, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun
demi tahun mencoba menghayati, memahami, memupuk,
memperjelas serta memantabkan panggilannya sebelum pada
akhirnya benar-benar menjadi 'yang terpilih'.
Benih panggilan adalah rahmat adikodrati, sebuah karunia
Allah yang mesti
disyukuri, karena belum tentu diterimakan kepada keluarga
lain sekalipun mereka memintanya.

Namun demikian, memprihatinkan minimnya
'panggilan-panggilan' baru, tentu tidak berarti
mengesampingkan mereka2 yang sudah 'terpanggil' dan
'terpilih', yaitu para Imam kita.
Kita mesti bantu mereka dengan doa dan usaha dalam upaya
mereka menjaga dan semakin memantabkan 'panggilan'nya.
Termasuk juga menjaga WIBAWAnya sebagai seorang pemimpin
umat.
Jangan biarkan mereka bekerja sendirian sehingga mereka
tidak merasa ditinggalkan oleh umatnya. Hentikan
rumor-rumor yang tidak ada dasarnya, berita-berita miring
yang belum tentu kebenarannya, ataupun kritik-kritik
kampungan yang cuma asal-asalan saja. Karena hal-hal
seperti itu sama sekali tidak ada manfaatnya bagi
kehidupan dan perkembangan gereja.

Seorang Imam bukanlah malaikat, tapi tidak lebih dari
seorang manusia biasa juga, yang bisa marah, bisa kecewa,
bisa frustrasi, bisa sedih, bisa gagal dan bisa-bisa yang
lain persis seperti halnya dengan kita.
Dukungan moril, tenaga dan doa dari umat tidak saja akan
membantu mereka bertahan serta mampu mengatasinya bila
hal-hal diatas menimpanya, melainkan justru dapat lebih
meningkatkan kinerjanya dengan penuh suka cita sebagai
seorang gembala yang baik. Sehingga sekalipun mereka hidup
dalam 'kesendirian'nya, mereka tetap mampu memberikan
kasih dan senyuman kepada semua orang.

Mari kita senantiasa berdoa bagi 'pahlawan-pahlawan' iman
ini agar tetap setia pada panggilannya sampai karya Allah
tergenapi di dunia ini.

Rgds,
========================================================================================
Selamat bagi para pemenang Grand Prize Netkuis Ramadhan 1427 H
========================================================================================

Lucas Nasution

unread,
Nov 9, 2006, 3:10:21 AM11/9/06
to gema...@googlegroups.com
Salam

Panggilan apakah identik dengan menjadi biarawan/wati?
Sama sekali tidak benar - hanya saja akibatnya umat (orang tua) kerap
terpojok
-merasa bersalah dan sebagainya (apalagi mereka yang ternyata merasa
tidak terpanggil dan lepas
jubah-celaka lah mereka ini)
Kalau saja panggilan dipahami dalam konteks lebih luas
(= kiprah masing2 sebagai murid Kristus-entah ditahbiskan, entah kaul,
entah nikah)
Maka "krisis panggilan" juga dipahami berbeda dengan solusi yang berbeda
juga

Lucas Nasution

-----Original Message-----
From: lemont...@telkom.net
Sent: Thursday, November 09, 2006 4:00 PM
Subject: [gemawarta] Re: Krisis Panggilan untuk Imam ?


Salam,

Jamrewav, Frank [FE&C]

unread,
Nov 9, 2006, 3:19:05 AM11/9/06
to gema...@googlegroups.com
Bu Erline,
Sungguh mohon maaf - maksudku setiap keluarga katolik sangat bangga
kalau salahsatu anaknya dipersembahkan kepada Tuhan dengan menjadi
Pastor/Suster, sehingga menurut saya kalau kita (umat) resah soal
panggilan justru malah heran saya - bukankah bibit panggilan itu ada di
keluarga?
Saya sangat haru setelah mendengar penjelasan yang sama tentang anak ibu
Erline dari temen sekantor Pak Eric Gasper, karena dambaan bu Erline ini
adalah satu contoh keluarga katolik (setidaknya menurut perspektif
keluarga besar kami)- Semoga Roh Kudus turun kedalam diri mereka dan
jadilah mereka menurut kehendakNYA.

Anak sayapun dua (cewek 9 thn, cowok 11 bln)- waktu masih panjang tapi
dalam doa kecilku memohon supaya salahsatunya bahkan keduanya kalau
boleh hidup membiara.

Tentang sharing
- apa mau di-share lagi! Bu Erline sudah melakukan apa yg dilakukan
banyak keluarga katolik (yg kebetulan ada sekian orang menjadi
Pastor/Suster).
- tambahan dikit ya! Kebetulan kami dari TK selalu sekolah di sekolah
katolik, sehingga selalu ketemu yg pakai jubah.

Frank


Bung Frank,

Thx n Cheers, erline

Cheers, erline

> masih ingat pastor yang memberi, berkesan sekali..... :-)

lemont...@telkom.net

unread,
Nov 9, 2006, 4:22:25 AM11/9/06
to gema...@googlegroups.com
Salam,

Betul sekali Pak Nas, bahwa kata 'panggilan' memang tidak
identik dengan biarawan/wati. Tapi saya kira dalam konteks
topik ini, pengertian 'panggilan' mesti dipahami sebagai
panggilan untuk mengabdi menjadi Imam ataupun
biarawan/wati.
Karena saya pikir, topik inipun dimunculkan karena
keprihatinan kita sebagai umat Katolik akan tidak
sesuainya jumlah umat Katolik yang ada serta
pertambahannya dibandingkan dengan jumlah Imam yang ada.
Terlebih lagi dengan semakin minimnya jumlah
panggilan-panggilan baru.
Kita tidak tahu bagaimana aturan dan policy gereja dikelak
kemudian hari. Tapi yang jelas pada saat ini dan entah
sampai kapan, seorang Imam tetaplah akan menjadi 'muara'
ataupun 'tumpuan' dari sebuah gereja sebagai sekumpulan
umat beriman.
Saya kira kita sepakat bahwa sakramen Imamat tidak akan
pernah tergantikan dalam bentuk apapun dan sampai
kapanpun. Karena itu merupakan 'harta pusaka' gereja yang
apostolik.

Sudah pasti tidak ada yang salah dan harus merasa terpojok
dengan tanpa munculnya seorang Imam/Biarawan/wati dari
sebuah keluarga. Yang kurang pas dan bijaksana adalah
ketika kita mesti mematikan sebuah benih panggilan yang
sudah muncul dari tengah keluarga kita. Dan tentu sikap
yang lebih bijak adalah ikut membantu 'menebar' benih
panggilan, baik diseputar lingkungan kita pada umumnya,
dan di keluarga kita pada khususnya. Berhasil atau
tidaknya, biar Tuhan sendirilah lah yang menyelesaikannya.
("Bukan kamu yang memilihKu, tapi Akulah yang memilihmu")

Rgds,

========================================================================================

Fransiska Erline

unread,
Nov 9, 2006, 9:45:20 PM11/9/06
to gema...@googlegroups.com
Frenz dear,

Waktu kuliah di Surabaya, saya punya seorang teman ceweq (let's say namanya
Juliet) : cantik, pintar, cerdas, cukup trendy and cukup religius. Sekarang
dia kerja di Jakarta dengan jabatan dan penghasilan yang cukup OK, apalagi
hanya untuk menghidupi dirinya sendiri yang masih menjomblo hingga sekarang
(daku aja udah punya 2 anak). Kami masih bertukar kabar, meski tidak terlalu
sering.
Dia deket dengan satu cowoq( let's say namanya Romeo), sejak SMP, katanya
sih pacaran. Nilai 8 saya berikan untuk si Romeo ketika saya pertama
diperkenalkan kira-kira tahun 1991, dan nilai itu bertambah ketika saya tahu
status dia waktu itu. Romeo ini ganteng, manieeezz banget, pintar juga,
sorot matanya itu bikin seerrr deh, cukup pantaslah untuk jadi cover boy.
Kisah Kasih mereka kemudian berubah menjadi lebih tinggi nilai kasihnya,
karena menjelang semester 4 saat kuliah bareng, si Romeo memutuskan untuk
mutasi studi ke seminari, dan 9 tahun yang lalu udah diwisuda jadi Imam.
Give Thanks.(thn 91 ketika saya bertemu muka dengan si Romeo, doi udah
berstatus frater, makanya nilainya 8Plus).

2 bulan lalu, si Juliet tiba-tiba telp saya. Dia dalam kebingungan dan
kebimbangan.
Rupanya, bibit cintanya kepada si Romeo yang udah jadi Pastor tsb tidak aus
dimakan waktu.
Mereka berdua bertemu secara tidak sengaja pada suatu event di Jakarta, dan
kemudian, komunikasi antara mereka yang tadinya hanya terjadi 4 x setahun,
yaitu pada saat ultah mereka ditambah Natal dan Paskah, itupun via sms,
meningkat drastis frekuensinya.
Singkat cerita, mereka berdua terjerat kenangan lama yang membuat mereka
bimbang.

Bisa bayangkan apa perasaan saya saat mendengar hal tsb?
Saya tau bahwa menghadapi sikon mereka saat itu, kotbah panjang dan sikap
menentang atau bahkan menyalahkan, tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan
akan membuat mereka semakin terpuruk ke dalam kebimbangan, yang mana akan
semakin memungkinkan anak buah Lucifer berkarya.

Dengan bantuan konsultasi dengan seorang pastor yang juga sahabat keluarga
kami, saya hanya bisa katakan kepada mereka sbb:
Romeo & Juliet, kita semua mempunyai panggilan hidup masing-masing. Kata
seniman, dunia ini panggung sandiwara. Skenario sudah dibuat oleh Tuhan.
Peran kita sudah ditentukan sesuai dengan kebisaan kita. Yang terpenting
adalah bahwa kita menjalankan tugas peran tersebut dengan maksimal dan
sebagaimana mestinya, karena kita harus berupaya menjadi garam dan terang.
Kalau saat ini peran saya adalah sebagai seorang istri dan ibu, maka saya
harus terus berupaya untuk memainkan peran istri dan ibu sesuai skenario
yang dikehendaki Tuhan Sang Sutradara.
Kalau saat ini peran Juliet adalah sebagai seorang manager, aktivis Gereja
dan beberapa kegiatan sosial lainnya, mainkanlah peran itu sesuai tuntutan
skenario.
Dan kalau saat ini peran Romeo adalah jadi Gembala, maka Romeo harus
benar-benar menunjukkan bahwa dia Gembala yang baik.
Dan dasar seluruh skenario yang disusun oleh Tuhan adalah CINTA KASIH.
Maka kita harus memainkan seluruh peran kita dengan dasar CINTA KASIH tsb.
Juliet, inilah saatnya bagi kamu untuk membuktikan bahwa cinta yang kamu
miliki itu adalah benar-benar cinta yang tinggi dan murni nilainya. Masih
ingat waktu retret di Malang dulu, sementara orang lain tidur, kita
berdiskusi panjang lebar hingga subuh, membahas hal 'Romeo memutuskan untuk
masuk seminari' ? Masih ingat apa perasaan dan dasar pemikiranmu saat itu
hingga akhirnya kamu bisa 'merelakan' Romeo ke seminari? Mungkin kamu bisa
belajar dari 'kamu yang dulu'.
And Romeo, inilah saatnya kamu buktikan kesetiaan imamatmu. Masih ingat
segala macam alasan dari pikiran dan perasaanmu saat kamu menyampaikan
kepada Juliet maksud hatimu untuk menjadi Pastor? Catat kembali
kalimat-kalimat itu, dan baca berulang-ulang.
Saya tidak menentang cinta kalian, karena saya yakin cinta kalian itu tulus,
murni dan tinggi nilainya.Kita semua punya panggilan masing-masing. Marilah
kita hidup dengan saling mendukung dan menguatkan panggilan itu.

Mereka berdua tidak beromemtar apapun. Then.... tidak ada berita. Dan
sayapun takut untuk memulai komunikasi dengan mereka, meskipun besar
keinginan saya untuk tau ending-nya.

Hingga tgl 1 Nov - di peringatan semua orang kudus, saya dapat sms dari
Juliet, bahwa dia sekarang sudah pindah tugas ke Oregon (kayaknya di Amrik
itu ya), dengan jabatan syur dan penghasilan berlipat ganda. Dia bilang
mutasi ini dia terima, supaya panggilan dia dan Romeo tetap sesuai dengan
skenario. Dia mohon doa.
Dan baru tadi malam, saya dapat sms dari Romeo, dia bilang bahwa dia sudah
mencatat ulang kalimat-kalimatnya dulu, dia ketik rapi, dia laminating, dan
dipasang di dinding kamarnya, di samping tempat tidurnya.

Frenz,
Seperti yang ditulis Pak Lucas, bahwa adalah benar setiap orang punya
panggilan masing-masing.
Dan 'krisis' bisa melanda setiap jenis panggilan tsb.
Beda jenis panggilan, jelas beda pula cara penyelesaian krisis-nya. Ya apa
ya ?

Yang kali ini diminta tolong input-nya adalah bila jenis panggilan itu
adalah panggilan menjadi Imam.

Cheers, erline

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Fransiska Erline

unread,
Nov 9, 2006, 9:59:08 PM11/9/06
to gema...@googlegroups.com
Hayo.... ngerumpi apa sama Eric ? Dilihat Boss tuh. hehehe...

Panggilan Tuhan emang suka aneh dan ajaib ya, entah caranya, entah
bentuknya...
Kalau dulu panggilan utk hidup membiara tidak menclok padaku (kalah cepet
menclok ama cintenye Robby kali yeah, hahaha), mungkin (sekali lagi:
mungkin) kali ini Tuhan memberi jatah panggilan hidup membiara itu lewat
anak-anakku, meskipun dulu diawali dengan shock therapy untuk menyadarkan
kami bahwa Tuhan menebar benih panggilan itu. Dan tantangan Tuhan kami jawab
dengan iman tulus bahwa kami siap merelakan anak-anak kami, kalau memang
mereka dinilai layak dan pantas jadi biarawan/wati. Doakan kami ya.

Ttg sharing, siapa tau Bung Frank bisa cerita dikit, gimana sih sikon atau
suasana di keluarga, sampe banyak yang mau jadi biarawan/wati. Jangan bilang
resep or kiat deh, entar malah bingung nyarinya.Apakah suka ngobrol ngalor
ngidul tentang hidup membiara, atau suka ngumpulin para keluarga yang
'jomblo forever' itu di rumah, sehingga para anak-anak jadi punya idola
gichu, atau apa deh....

Fransiska Erline

unread,
Nov 9, 2006, 10:24:42 PM11/9/06
to gema...@googlegroups.com
Frenz,

Katanya, panggilan untuk jadi Imam itu, sebenarnya ada di setiap rumah orang
Katolik. Katanya lho ya....
Hanya saja, seringkali terjadi, panggilan tersebut tertutup kabut tebal
seperti asap yang belakangan ini suka markir di deket kita.

Kira-kira, kalau ada yang bilang bahwa contoh konkrit dari kabut tebal tsb
adalah sbb:
* Ketakutan orangtua bila anaknya jadi Pastor, Suster or Bruder, entar kalo
orangtuanya udah tua beneran, nggak ada yang ngerawat. Moso' masuk panti
jomblo eh jompo...
* Ambisi orangtua yang pengen lihat anaknya jadi dokter, or tukang insinyur,
or apa aja deh, yang penting keren and banyak duit
* Orangtua yang berasal dari keluarga kecil, jadi mendambakan keluarga
besar, banyak cucu
* Trend masa kini, yang punya anak dikit aja. Jadi kalo anaknya jadi pastor,
jumlah cucu and keturunan bakal dikit donk.
* Kekhawatiran orangtua bila anaknya besok-besok awalnya lulus cum laude
jadi biarawan/wati, tapi trus muntaber (mundur tanpa berita), and
orangtuanya bakal merasa maluuuuuu banget
* Suasana religi tidak pernah ada di rumah sehingga anak-anak tidak akrab
dengan urusan religi
* Orangtua suka ngerumpiin 'sisi negatif'nya Pastor, Suster or Bruder, di
depannya anak-anak, sehingga mereka tidak lagi meng-idola-an para
biarawan/wati tsb.
* Kita terlalu dekat dengan Pastor, or Suster or Bruder, sehingga kita jadi
tau jerohannya mereka, trus kita jadi menganggap 'remeh' beliau-beliau ini
atau bahkan jadi antipati. So, kita jadi menilai bahwa sosok seorang Pastor,
Suster or Bruder tidak lagi sosok yang pantas untuk dijadikan pilihan 'mau
jadi apa'. (kayaknya ada lagu : .... rocker juga manusia.... mereka juga
manusia...)
* Cukup banyak sosok Pastor, Suster or Bruder kini yang menurut kacamata
kita, tidak lagi mengimani Kaul Kemiskinan. Banyak lho biarawan/wati
sekarang yang punya HP jauh lebih canggih dari HP-ku, katanya sih hadiah.
Belum lagi ada tulisan Versace or YSL or siapa lagi lah - pada tas
beliau-beliau itu. Katanya sih, hadiah - masa' ditolak.
* Para Pastor, Suster dan Bruder sekarang, kalo kunjungan pelayanannya
dibuat data statistik, tempat yang dituju lebih banyak adalah golongan
menengah ke atas, karena stipendium or yurastolae-nya lumayan.
* dan lain-lain

Saya ulang kalimat saya di atas : Kira-kira, kalau ada yang bilang bahwa
contoh konkrit dari kabut tebal tsb adalah hal-hal tsb di atas, Frenz setuju
nggak ? Atau nggak setuju dan marah (tapi jangan sama saya ya, khan saya
cuman bilang 'kira-kira', itupun hasil dari nguping kanan kiri), Atau punya
pandangan lain ? Usul, saran de el el.

Cheers, erline

~~~~~~~~~~~~~~~~

GEMA WARTA

unread,
Nov 10, 2006, 4:56:06 AM11/10/06
to gema...@googlegroups.com
Dear Rekan Setia terkasih dalam Yesus Kristus,

Maaf baru nimbrung, semingguan buanyak kerjaan gitu...:)
Anyway, saya ingin menanggapi "sedikit aja", mengenai Aksi Panggilan. Sebetulnya Aksi Panggilan sudah pernah dilakukan di Balikpapan baru saja, yaitu
1. tgl 16 Juni 2006 di Aula SD RK, dimana target pesertanya adalah anak-anak sekolah SMP-SMA kelas 3. Pembicaranya waktu itu Pst. Sattu, OMI, Fr. Kopong, MSF, Br. Martinus Giri, FIC dan Pak Mudji. Peserta yang hadir adalah dari SMAN 1 & SMP RK beserta semua guru agamanya.
Saya setuju dengan pendapat bahwa Panggilan tidak musti menjadi Pastor/Suster, salah satu bukti nyata adalah Pak Mudji, yang berbekal sekolah Teologi, tapi memilih jalur hidup berkeluarga, dan tetap bisa membaktikan ilmu teologinya sebagai Katekis di tempatnya bekerja.

2. tgl 24 Juni 2006 di Halaman depan Gereja Sta. Theresia, Balikpapan. Mengundang bbrp Konggregasi/tarekat sbb: MSF, OMI, FIC, MASF, PRR.

Photo2nya dapat dilihat pada attachment file ini, tapi bisa juga liat lebih banyak lagi di web kami:
http://www.flickr.com/photos/gemawarta/page3/
http://www.flickr.com/photos/gemawarta/page4/

Acara ini terselenggara atas inisiatif Sie Panggilan dari 3 paroki dan bekerja sama dengan GEMA WARTA.

Nah, coba renungkan, Balikpapan sudah pernah mengadakan Aksi Panggilan ini, tapi kok pada ngak tahu ya ada acara sebesar ini di sini? :)

Nurut saya, yang perlu dibina juga adalah AWARENESS umat, KEPEDULIAN umat terhadap kegiatan Gerejani spt ini. Karena kalau pun kita sudah buat publikasi yagn sedemikian hebohnya, nyatanya yang tahu/hadir hanya segelintir.

Dimana saya?

TGIF.
Salam,
Silka

GEMA WARTA
Program Siaran Talkshow Agama Katolik
Hadir Setiap Kamis Malam jam 20:00-21:00 di Gemaya FM 104.5 FM
SMS: 0856 5200 1045

E-Mail: gema...@radio.fm
Mailing List: gema...@googlegroups.com
Web: http://gemawarta.wordpress.com
Rekening Gema Warta:
Bank Mandiri KK Balikpapan Baru No Rek. 149-00-0450448-8
a.n. Carolline Silka Wibowo / Lily Gandakusuma

--- fil...@indosat.net.id wrote:
Aksi Panggilan - 16 Juni 2006.jpg
Aksi Panggilan - 24 Juni 2006.jpg

Tono

unread,
Nov 12, 2006, 1:01:41 AM11/12/06
to gema...@googlegroups.com
proficiat,.... acara2 semacam itu menurut saya sangat bagus..... berbicara mengenai awareness, menurut saya semakin keanggotaan organisasi mudah didapatkan, semakin rendah juga partisipasinya..... mungkin untuk mendapatkan baptis katolik itu gampang ? :-) Tono

Fransiska Erline

unread,
Nov 12, 2006, 8:05:12 PM11/12/06
to gema...@googlegroups.com
Halo Silka,
Kirain kau lagi dinas ke luar planet.

Setuju. Ini emang tentang kepedulian. Kalo boleh saya tambahkan, pelayanan
total, terutama dari kita yang jalur panggilannya bukan di jalur imamat.
Tantangan buat kita yang peduli, adalah komunikasi.
Melihat keheterogenan umat kita (terutama saya bicara tentang paroki
sepinggan), baik dari sisi ruang lingkup pekerjaan, tingkat sosial,
kemampuan ekonomi, daya tangkap/pikir; saya kira KOMUNIKASI yang tepat
sasaran juga perlu.
Kadangkala, heart to heart communication, atau kalo saya boleh pinjam
istilah yang dipakai Jupiter Jones dalam 'Trio Detektif) adalah 'hubungan
hantu ke hantu' , di mana mungkin para umat tidak 'mengerti' arti poster
dlsb yang pakai 'bahasa' kelas tinggi, atau tidak punya sarana email. Jangan
dikira bahwa pengumuman di gereja itu bisa sampai 100%, 20% juga syukur.
Apalagi kalo yg baca kurang afdol.
So, ini mungkin bukan cuman soal 'bicara' atau mendatangkan 'team ahli',
yang sifatnya heboh tapi cuman sekali-kali aja. Tapi lebih kepada 'tindakan
nyata' yang kontinyu.

Mungkin kita perlu sumbang saran untuk meningkatkan kepedulian tsb.
Jangan khawatir bila kita bukan orang yang jalur panggilannya bukan di jalur
imamat; atau bila kita adalah mantan seminari (eksim); partisipasi kita
diperlukan koq.
Ohya, barusan saya dapat info dari Pastor Teddy Aer MSF, sedang dipikirkan
cara untuk merealisir 'Promotor Panggilan'.

Cheers, erline


----------------------------------------------------------------------------
----


----------------------------------------------------------------------------
----


Eddy Irwanto

unread,
Nov 12, 2006, 11:10:37 PM11/12/06
to gema...@googlegroups.com
Salam,

Saya pernah omong2 dengan Pastor J.Sunarka SJ (sekarang uskup Purwokerto).
Untuk memahami sebuah 'panggilan', kita mesti mengenal kehidupan seorang
biarawan/wati. Dan susahnya, untuk mengenal dan menghayati kehidupan para
biarawan/wati, tidak bisa tidak kita mesti mencoba masuk kedalam dimensi
mereka. Karena sejujurnya, hidup seorang biarawan/wati bagi kita2 yg tidak
terpanggil, bagaikan sebuah misteri yang tidak terpecahkan, dan nyaris tidak
masuk akal. Teman saya seorang pendeta, selalu melihat pola hidup mereka
adalah sesuatu yang luar biasa, serta sangat meyakini bahwa hal itu tidak
mungkin bisa dilakukan tanpa campur tangan Tuhan secara langsung.
Sebab bagaimana mungkin seseorang yg sehat jasmani dan rohani, ganteng,
intelektualnya ndak perlu diragukan, secara sadar mau masuk kedalam
kehidupan seperti itu. Ndak masuk akal rasanya. Tapi ternyata di mereka lah
bisa terlihat dengan jelas dan kasat mata sebuah 'kebenaran' akan ke
Mahakuasaan Tuhan yang tidak mampu kita pecahkan dengan akal kita.

Saat masih kuliah dulu, ketika saya dan teman2 mendapat tugas untuk
mendesign sebuah Seminari Tinggi, beberapa kali kita melakukan wawancara
dengan Pastor Ign. Suharyo PR(sekarang uskup agung KAS), Pastor A.Sunarka
SJ, Alm Pastor JB.Mangunwijaya, Pastor A.Gunadi Msf dan beberapa pastor lain
untuk lebih mengenali pola hidup yang sangat spesifik ini sebagai dasar
pembuatan konsep design sebuah wadah untuk mendidik para calon Pastor.
Tapi ternyata sampai menjelang presentasipun, kita tetap tidak mampu menguak
tabir misteri kehidupan mereka. Jadi kita maju dengan modal nekad karena
kita yakin bahwa si pengujipun juga ndak tahu apa2 tentang arti sebuah
'panggilan'. Sehingga menjawab dengan ngawurpun, para penguji tetap manggut2
tanda setuju he...he

Menurut saya, dasar dari sebuah 'panggilan' adalah semangat untuk MELAYANI.
Karena Jesuspun datang untuk melayani. Bahkan kalau tidak salah baca, bapa
Paus pun menyatakan dirinya sebagai pelayan dari semua pelayan. Tanpa
semangat ini, bagaimana mungkin 'panggilan-panggilan' baru bisa bermunculan?
Keluarga adalah sarana awal yang paling pas untuk menanamkan semangat ini
untuk apapun bentuk panggilan hidupnya kelak,
Promosi memang cukup efektif dalam memberikan informasi kepada umat. Tapi
itu bukanlah yang terpenting sehingga mesti mengabaikan yang utama. Karena
terkadang anaknya minat, tapi ortunya melarang. Sebaliknya, Ortunya
mendorong, tapi anaknya ndak minat.
Dan yang ndak kalah penting adalah Pastornya jangan dikritik terus, kurang
ini dan kurang itu, kaya yg ada di Litani Serba salah, agar umat ndak takut
jadi Pastor.

Rgds,

David Goh

unread,
Nov 13, 2006, 12:36:59 AM11/13/06
to gema...@googlegroups.com
Pertanyaan di subject ini menkritik hati saya, dari kemarin pembahasannya
kesannnya panggilan itu susah dan berat..
padahal, panggilan utnuk berkeluarga juga sama.

Menurut saya tidak ada yang susah dan berat kalau itu adalah benar..
Kalau seorang biarawan/ti mengatakan susah dan berat, maka pelayanan dan
panggilan dia sebagai biarawan/ti SANGAT DIPERTANYAKAN, demikian juga kalau
yang berkeluarga juga demikian, SANGAT DIPERTANYAKAN hubungan dia/relasi dia
dengan Allah dan pasangannya...

Banyak yang menganggap berkorban itu adalah suatu kehilangan, atau habis
atau rugi..
Padahal berkorban dalam iman justru adalah investasi besar..
Nah.. kalau menanggapi panggilan (apapun itu jenisnya), kesannya berkorban
bangat dan hilang banget, jadi kesannya adalah susah dan berat. Karena
memandang dari arah kehilangan...
Namun kalau dipandang dari segi investasi, berkorban adalah satu peluang
yang luar biasa, yang senantiasa akan menjadi sangat bahagia. Dan tidak
terbeban, tidak ada penderitaan dan keluh kesah..

Maka kesannya kalau meninggalkan kelauarga dan harta untuk ikut Yesus itu
berat dan susah banget.
Yesus itu kagak bego, nyuruh orang untuk susah. Kalau Yesus sengaja suruh
orang susah itu berarti yesus yang bejad dan kejam.
Namun Yesus tidaklah demikian, menurut saya itu menandakan bahwa Yesus ingin
mengatakan dari segi lain, bahwa keluarga kamu akan dirawat bercukupan dan
lebih melebih kalau kamu yang rawat jika kamu tidak ikut Yesus, dan Harta
kamu akan jauh lebih banyak dari pada harta kamu yang tidak ikut Yesus.
Namun masalahnya kamu "PERCAYA Atau KAGAK??"

Maka kalau sampai kita menanggapi panggilan apapun itu dan menganggap susah
dan berat.. maka itu salah DIRI SENDIRI, Bukan PANGGILANNYA.


SALAM KOMPAK

"siapa yang bersungguh-sungguh,
akan menemukan yang dicarinya"

www.kompak.co.id


Lucas Nasution

unread,
Nov 13, 2006, 12:26:18 AM11/13/06
to gema...@googlegroups.com
Pastor yang tidak tahan kritikan kiranya memang tidak layak jadi pastor
Kata Yesus yang suka menoleh sana -sini saat membajak tidak layak ikut
Aku
Kalau tidak rela ya tidak usah jadi pastor
Kalau setelah jadi pastor lantas menuntut dihormati - tidak boleh
dikritik dsb
Motivasinya dipertanyakan
Rela endak sih sebenernye ente ?

Chuck Gallager SJ mengusulkan memandang 3 aspek yang umum luput dilihat
umat jelata dari kaum klerus (berjubah)
Mereka
1) di subsidi
2) hidup terfokus
3) tidak punya kuwajiban mengurus keluarga

Alhasil ke3 hidden advantages ini membuat umat jelata makin minder
dihadapan klerus. Umat kalah babak belur. Dalam soal
Pengetahuan agama jelas umat nol koma nol (lha pastor belajar sedikitnya
5 tahun), dalam soal tindak tapa umat juga keok
(lha pastor kaul kemurnian istilahnya saja sudah bikin minder), belum
lagi dalam gereja Katulik umat ada di dasar lha
hirarki kan mulai dari Paus terus kebawah sampai umat paria. Memang
Muktamar Vatikan II bilang umat itu partner, dsb, dst
mais en realite umat masih minder wardeg dan masih dianggap restan
belaka

Entah sampai kapan umat jelata gereja Katulik sembuh dari sindroma
kultus klerus yang jelas kleru ini. Rekan gereja reformasi
Ribuan tahun lalu sudah mengemansipasi diri dari kaum klerus mereka. Dan
mereka dalam mata saya lebih mandiri dalam
soal iman. Memang ada peran doktrin soal scriptura disini, namun alhasil
jemaat gereja reformasi lebih punya nyali dan
harga diri dibanding domba2 Katolik yang rela jadi gembalaan semata

Hidup gereja reformasi !!

Lucas Nasution

From: gema...@googlegroups.com [mailto:gema...@googlegroups.com] On
Behalf Of David Goh
Sent: Monday, November 13, 2006 1:37 PM
To: gema...@googlegroups.com

Subject: [gemawarta] apakah benar panggilan untuk imam itu susah
Importance: High


Maka kalau sampai kita menanggapi panggilan apapun itu dan menganggap
susah dan berat.. maka itu salah DIRI SENDIRI, Bukan PANGGILANNYA.


-----Original Message-----
From: gema...@googlegroups.com [mailto:gema...@googlegroups.com] On
Behalf Of Eddy Irwanto
Sent: Monday, November 13, 2006 12:11 PM
To: gema...@googlegroups.com
Subject: [gemawarta] Re: Krisis Panggilan untuk Imam ?

Fransiska Erline

unread,
Nov 13, 2006, 12:40:42 AM11/13/06
to gema...@googlegroups.com
Frenz dear,
 
Sekedar brainstorming, mungkin yang harus ditargetin bukan cuman 'bibit calon Imam-nya' aja, tapi juga lingkungan keluarganya, dalam hal ini terutama para orangtuanya.
 
Bagaimana 'panggilan' itu bisa terasa kalau tidak ada pembentukan 'suasana' di rumah ? Atau yang lebih ekstrim lagi  dilarang oleh ortunya ?
Kalo kita yang berjalan di jalur panggilan non imamat, mungkin peranserta kita yang paling nyata adalah membantu pembentukan suasana itu, at least dari rumah kita masing-masing.
 
Kenapa kita harus takut?
Apakah karena kita termasuk eksim ? Tidak ada pihak yang boleh menyalahkan kita koq, kalo emang kita pernah di seminari and then keluar sebelum tahbisan. bahkan MSF Jawa punya paguyuban yang menampung mantan-mantan MSF, baik yang mundur saat masih Frater ataupun Pastor. Mereka punya acara kumpul-kumpul dalam kurun waktu tertentu. Yang udah married and punya anak, ya saat kumpul-kumpul, keluarganya pada diajak. Mereka yang notabene adalah orang-orang pintar, juga sering memberi masukan dan sumbang saran bagi mantan konfrater-nya.
Kita - yang memilih panggilan non imamat, yang sekarang udah married and bahagia menurut kita, apakah kita yakin bahwa pasangan hidup kita sekarang ini adalah jodoh kita sesuai skenario? Siapa yang bisa jawab dengan pasti dan tepat? Who knows about tomorrow? Yang bisa kita lakukan hanya memelihara bibit-bibit cinta kita sehingga tetap langgeng.
Nah, kalau kemudian ada frater or pastor yang mundur dengan berbagai alasan, apakah kemudian kita harus mencelanya? Saya tidak bilang bahwa menjadi Imam boleh 'coba-coba'. Emangnya untuk jadi Imam, penyaringannya gampang?
 
Atau, mungkin seperti yang disinggung Pak Eddy " Asal jangan anakku ...."
Kenapa harus takut? Takut masa tua nggak ada yang ngurusin? Kekhawatiran yang sia-sia - menurut saya.
 
Ohya satu hal lagi: kita juga harus belajar untuk tidak bicara negatif tentang mereka yang harus mundur dari seminari or tanggalkan jubah, apalagi bila kita tidak tau persis latar belakangnya.
Saya bisa mengerti bagaimana perasaan ortu or keluarga, bila salah satu sanak keluarganya 'gagal' jadi Imam. Ortu or keluarga jadi punya beban mental.
Bahkan yang ekstrim saya dengar adalah di paroki Theresia, ada yang komen ''Wah, gimana sih, udah dipestain capek-capek dan besar-besaran, banyak dana, eh keluar juga' (meskipun dari berita yang saya dapat dari sumber yang bisa dipercaya, istilah 'keluar' adalah kurang tepat', anyway, kita tidak bahas ttg itu).
Saya bisa membayangkan bagaimana perasaan keluarganya, terutama ortunya.

Eddy Irwanto

unread,
Nov 13, 2006, 3:07:05 AM11/13/06
to gema...@googlegroups.com

Entah sampai kapan umat jelata gereja Katulik sembuh dari sindroma
kultus klerus yang jelas kleru ini. Rekan gereja reformasi
Ribuan tahun lalu sudah mengemansipasi diri dari kaum klerus mereka. Dan...
-
Apa iya sih Pak Nas kalau gereja reformasi sudah berumur ribuan tahun?
Bukannya baru sekitar 500 tahunan aja? Maaf kalau saya salah.

Salam,

Lucas Nasution

unread,
Nov 13, 2006, 3:36:57 AM11/13/06
to gema...@googlegroups.com
^_^
saya baca lagi
Dan saya salah
Ratusan tahun baru
Mea culpa maxima


Lucas Nasution

-----Original Message-----
From: gema...@googlegroups.com [mailto:gema...@googlegroups.com] On

Behalf Of Eddy Irwanto
Sent: Monday, November 13, 2006 4:07 PM
To: gema...@googlegroups.com
Subject: [gemawarta] Re: Krisis Panggilan untuk Imam ?

Kamilus Ude

unread,
Nov 13, 2006, 3:42:18 AM11/13/06
to gema...@googlegroups.com
Wahh.... sori baru gabung nih?
Omong - omong soal panggilan, menurut aku : bukan
panggilannya yang gak ada, tapi : "Panggilan memang
Banyak, tapi sedikit yang menjawab"


cheers juga,

Milus
--- Fransiska Erline <fil...@indosat.net.id> menulis:

=== message truncated ===



_______________________________________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
http://beta.id.yahoo.com/

Eddy Irwanto

unread,
Nov 13, 2006, 5:46:04 AM11/13/06
to gema...@googlegroups.com
Salam,

Ok. Saya setuju Pak Nas, bahwa Pastor yg tidak tahan kritik tidak layak jadi
pastor. Tapi sebaliknya umat juga mesti bijaksana dalam melontarkan kritikan
terhadap pastornya. Kritik yang membangun tentunya, dan bukan kritik yang
apriori ataupun rumor2 yang ndak beres. Dan biasanya kritikan2 tsb cuma
disebar luaskan di kalangan umat dalam bentuk ngerumpi ataupun ngarasani.
Sehingga alih2 pastornya berusaha menjelaskan permasalahannya, dengar aja
belum, tapi beritanya sudah tersebar luas dan opini negative sudah terlanjur
terbentuk di kalangan umat. Wah....kasihan banget Pastornya.

Betapa ndak gampang hidup sendiri ditengah ratusan atau bahkan ribuan mata
yang selalu tertuju terhadap segala gerak geriknya. Meleng dikit aja,
beritanya akan segera meluas dan biasanya akan melebar dan bahkan terlepas
dari permasalahan pokoknya.
Ya namanya juga bukan malaekat, tentu tidak pernah terlepas dari kekurangan
dan kesalahan.
Alangkah baiknya bila umat mau bersikap arif dan bijak dalam melihat
kekurangan2 pastornya. Karena bagaimanapun juga kita harus tetap menjaga
WIBAWA nya.
Seorang Pastor yang kehilangan wibawanya sebagai pemimpin umat, hampir pasti
tidak akan pernah mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik karena perasaan
gagal dan frustrasi.

Kebetulan saya sering sharing dengan beberapa pendeta/evangelis dari gereja
Reform. Menurut mereka, ibarat sebuah perusahaan, posisi mereka tidak lebih
dari kepala divisi bagian keagamaan. Sedangkan para penentu kebijakannya
adalah Majelis yang pada umumnya tidak expert dan sambilan dalam mengelola
sebuah organisasi gereja. Kalau pas ndak cocok sama majelisnya baik dalam
hal program kerja, fasilitas termasuk gaji, ya terpaksa cari2 info lowongan
di gereja lain yg lebih menjanjikan. Dan kalau belum dapat lowongan juga, ya
apaboleh buat, terpaksa ya ditahan2 dulu demi hidup keluarga.
Bahkan seorang jemaat yang punya pengaruh dan kebetulan ndak cocok dengan
pendetanya, bisa saja menggalang opini negative dikalangan jemaat untuk
membuat pendetanya tidak betah dan segera angkat kaki.
Lho???

Ok, masalah sindroma klerus di Katolik yg keliru atau di reform yang lebih
benar, rasanya bukan porsi dari milis ini yang harus menjawab. Mungkin di
situs2 seperti Ekaristi.org atau lainnya yg sekelas yang mampu menjawabnya
secara panjang lebar dan pas.

Rgds

Lucas Nasution

unread,
Nov 13, 2006, 6:13:01 PM11/13/06
to gema...@googlegroups.com
Milis ini tidak perlu punya pretensi menjawab - lebih kearah awareness
saja
(aslinya -yang saya tahu- milis ini tokh bukan sarana diskusi juga koq
sudah bagus moderator membiarkan kita semua melebar kamana-mana)

Soal klerus dan non klerus adalah soal bersama
Saya melihat keduanya punya andil dalam soal kemandekan ini
Non klerus perlu diemansipasi dengan paham sungguh jati dirinya
Sebagai pengikut Kristus yang punya tanggung jawab dan talenta sendiri
tidak kurang dari kaum klerus

Kaum klerus juga perlu dibangunkan
Mereka ada tidak untuk melanggengkan ketergantungan dan minder wardegnya
non klerus
Kita semua umat Allah yang sama-2 berziarah dengan tugas masing-masing

Kaum reformasi mungkin model yang ideal
Tapi untuk satu hal - umat kebanyakan kaum reformasi saya lihat lebih PD
Meski tampilan luar bukan jaminan
Tapi sebagai langkah awal kenapa tidak

Bayangkan kaum Katolik se pede kaum reformasi
Plus kita punya kaum klerus dan Paus !
Kerajaan Allah sudah ada diantara kamu !

Lucas Nasution

-----Original Message-----
From: gema...@googlegroups.com [mailto:gema...@googlegroups.com] On
Behalf Of Eddy Irwanto

Sent: Monday, November 13, 2006 6:46 PM
To: gema...@googlegroups.com
Subject: [gemawarta] Re: Krisis Panggilan untuk Imam ?


Salam,

Betapa ndak gampang hidup sendiri ditengah ratusan atau bahkan ribuan
mata yang selalu tertuju terhadap segala gerak geriknya. Meleng dikit
aja, beritanya akan segera meluas dan biasanya akan melebar dan bahkan
terlepas dari permasalahan pokoknya.
Ya namanya juga bukan malaekat, tentu tidak pernah terlepas dari
kekurangan dan kesalahan.
Alangkah baiknya bila umat mau bersikap arif dan bijak dalam melihat
kekurangan2 pastornya. Karena bagaimanapun juga kita harus tetap menjaga
WIBAWA nya.
Seorang Pastor yang kehilangan wibawanya sebagai pemimpin umat, hampir
pasti tidak akan pernah mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik karena
perasaan gagal dan frustrasi.

....

Ivan Adrian Julius

unread,
Nov 13, 2006, 9:00:32 PM11/13/06
to gema...@googlegroups.com
Salam,

Memang pada awalnya milis ini dibuat hanya sebagai distribution-list yang
searah, tapi dalam perkembangannya tidak ada salahnya kita juga bisa saling
mengungkapkan isi dan buah pikirannya, toh milis ini juga diisi teman-teman
satu kota yang kemungkinan besar juga saling mengenal. Yang penting kita kan
masih santun dan masih dalam tema Kekatolikan (di Balikpapan). Kapan lagi
ada milis orang Katolik di Balikpapan, ya kan? :)

Soal apakah milis kita bisa menjawab persoalan-persoalan besar, rasanya
lebih baik tidak perlu menjadi issue. Membangga-banggakan bahwa milis ini
punya visi dahsyat adalah hal yang tidak perlu, sama seperti terlebih dahulu
memasung pikiran bahwa kita tidak bisa menjawab apa-apa karena tidak
berkelas.

Ivan


----- Original Message -----
From: "Lucas Nasution" <lnas...@chevron.com>
To: <gema...@googlegroups.com>

Sent: Tuesday, November 14, 2006 7:13 AM
Subject: [gemawarta] Re: Krisis Panggilan untuk Imam ?

Milis ini tidak perlu punya pretensi menjawab - lebih kearah awareness
saja
(aslinya -yang saya tahu- milis ini tokh bukan sarana diskusi juga koq
sudah bagus moderator membiarkan kita semua melebar kamana-mana)

Christine Herlina Lie

unread,
Nov 13, 2006, 9:12:16 PM11/13/06
to gema...@googlegroups.com
He he, boleh lah as a moderator :):)


Salam,

Ivan


Lucas Nasution

Rgds

______________________________________________________________________
This email has been scanned by the MessageLabs Email Security System.
For more information please visit http://www.messagelabs.com/email
______________________________________________________________________

_____________________________________________________________________
IMPORTANT - This email and any attachments may be confidential and privileged. If received in error, please contact Thiess and delete all copies. You may not rely on advice and documents received by email unless confirmed by a signed Thiess letter. This restriction on reliance will not apply to the extent that the above email communication is between parties to a contract and is authorised under that contract. Before opening or using attachments, check them for viruses and defects. Thiess' liability is limited to resupplying any affected attachments.

Fransiska Erline

unread,
Nov 13, 2006, 9:12:44 PM11/13/06
to gema...@googlegroups.com
Frenz,

Saya setuju dengan apa kata Ivan.
Milis ini kita gunakan sebagai ajang diskusi - positif tentunya, penyebaran
informasi de el el. Ajang belajar juga khan? Ya apa ya?
Banyak lho masukan yang bisa kita dapat dari 'rumpi elit' ini - at least
bagi saya secara pribadi.
Take it easy aja lah.

Cheers, erline


----- Original Message -----
From: "Ivan Adrian Julius" <ivan...@indo.net.id>
To: <gema...@googlegroups.com>

Sent: Tuesday, November 14, 2006 9:00 AM
Subject: [gemawarta] Tentang Milis Gemawarta


>

David Goh

unread,
Nov 13, 2006, 10:15:16 PM11/13/06
to gema...@googlegroups.com
Kalau bisa juga saling turat...
Coba aturkan waktu dan tempat untuk saling ketemu.. dan moderator tentu
sudah mencatat topic yang pernah di bahas..
Nah.. kita bisa saling kenal dan diskusi..
Kagak perlu ada jawaban yang pasti... orang cerdik itu mengerjakan apa yang
mereka tahu, sedangkan orang pintar hanya menjawab pertanyaan dengan jago,
tapi sedikit atau tidak pernah melakukan.. nah.. di milis ini kumpulan
orang-orang cerdik, bukan orang pinter. Berbanggalah (walau dianggap belum
berkelas)
Kita jadi orang cerdik... aja,
dan siapa tahu topiknya bisa diangkat di talk show, dan kita undang
teman-teman yang sering ngobrol.

SALAM KOMPAK

"siapa yang bersungguh-sungguh,
akan menemukan yang dicarinya"

www.kompak.co.id

-----Original Message-----
From: gema...@googlegroups.com [mailto:gema...@googlegroups.com] On

Behalf Of Ivan Adrian Julius
Sent: 14 Nopember 2006 9:01
To: gema...@googlegroups.com
Subject: [gemawarta] Tentang Milis Gemawarta

Prabowo, F. Hari

unread,
Nov 14, 2006, 1:08:17 AM11/14/06
to gema...@googlegroups.com
Erlin,

Beberapa bulan yang lalu di Gereja St Anna ada misa khusus yg diadakan
untuk mensupport anak2 dari SMA Seminari Gonsaga yg berasal dari Paroki
tsb, saat itu yg kotbah adalah salah satu romo pembimbing sedangkan koor
diisi orkestra dr SMA tsb dengan conductor anaknya Mas Kris(adiknya Pak
Sumedi),dlm group orkes tsb juga hadir pembimbing mereka yakni Ireng
Maulana dan pemusik Nsional yg saya lupa namanya ( adiknya Embong
Rahardjo). Melalui misa ini saya bisa melihat dan merasakan bahwa
mendidik seorang calon biarawan di zaman sekarang memang semakin sulit
dan oleh karenanya perlu terobosan2 baru...belajar dan tekun bermain
musik adalah salah satu terobosan untuk lebih mengasah "kepekaan rasa"
dari para calon biarawan di era ini agar nantinya jadi romo yang "peka"
dan nantinya akan mudah beradaptasi dengan siapapun,dimanapun dan
kapanpun .

Menurut saya dr dulu apalagi saat ini untuk bisa menjadi seorang Imam
atau tetap bertahan menjadi Imam memang sangat sulit, saya sedikit tahu
tentang susahnya sekolah di Seminari terlebih setelah benar2 menjadi
biarawan karena kebetulan salah satu kakak menjadi pastur dan salah
satu adik jebolan Seminari menengah dari mereka dan teman2nya saya
seringkali mendengar betapa tidak mudahnya menjalani hidup sebagai
biarawan.....jaman sekarang begitu banyak biarawan2 yang karena satu dan
lain alasan kemudian harus menanggalkan jubahnya...jadi saya kira supaya
Gereja tidak kehabisan/kekurangan gembala ya tidak ada cara lain yang
lebih baik selain doa dan dukungan dari kita semua agar gembala2 yang
jumlahnya sedikit itu minimal tidak "rontok" satu demi satu, dengan cara
kita masing2 ,sukur2 kalau bisa mendorong orang terdekat mau jadi calon
gembala, mudah2an saja Albert kelak terdorong jadi gembala ya!

Salam,
FHP

Tono

unread,
Nov 14, 2006, 2:48:05 AM11/14/06
to gema...@googlegroups.com
wah..... masih ada yang ingat sama jupiter jones..... tokoh idola saya pas sd....
 
sorry..... out of topic....   :-) Tono
 

Eric Gasper

unread,
Nov 14, 2006, 3:00:50 AM11/14/06
to gema...@googlegroups.com
Ini ada foto Conductornya.

GBU

IMG_0688_WckAtm.JPG

Eddy Irwanto

unread,
Nov 14, 2006, 8:33:17 AM11/14/06
to gema...@googlegroups.com
Sebentar-sebantar Mr.Ivan, sama sekali bukan maksud saya meng under
appreciate peserta milis ini dengan belum2 sudah men justify bahwa peserta
milis ini tidak akan bisa menjawab apa2. No, no, bukan itu maksud saya.
Saya hanya melihat bahwa statemen yg dilontarkan Pak Nas itu rasanya terlalu
berat untuk ditampilkan di milis ini. Karena hal tsb sudah menyangkut
masalah doktrin gereja kali ya? (Ndak tahu nama persisnya apa. Maaf kalau
keliru).
Apa ndak sebaiknya yg berat2 begitu, biar para teolog2 aja yang ngurusin.
Wong para teolog2 itupun sampai sekarang juga belum bisa menyelesaikan
masalah kekristenan yang katanya meng imani Jesus yang satu dan bersandar
pada Alkitab yang sama, tapi sudah kadung terpecah2 menjadi +/- 33.000
denominasi. Jangan2 cuma Tuhan sendirilah yang sanggup menyelesaikannya.
Kita mbok ngambil yang enteng2 wae lah. Agar masih punya cukup waktu untuk
beli susu dan nasi padang dan ber chatting ria di MacNet he...he

Pak Nas, pengetahuan Jij dalam masalah kekristenan bagus banget en bikin ike
jadi minderwardeg he...he



-----Original Message-----
From: gema...@googlegroups.com [mailto:gema...@googlegroups.com] On

Behalf Of Ivan Adrian Julius
Sent: Tuesday, November 14, 2006 10:01 AM
To: gema...@googlegroups.com

Ivan Adrian Julius

unread,
Nov 14, 2006, 10:30:17 AM11/14/06
to gema...@googlegroups.com
Hehehe, yang penting dan utama kan kita semua bisa saling melengkapi
pengetahuan dan berbagi pengalaman, itu saja rasanya.

Intermezzo, bagi yang masih suka maen friendster-an, ini ada groupnya Gema
Warta. Silakan bergabung, walaupun saya juga gak tau apa gunanya :-)

http://www.friendster.com/group/tabmain.php?statpos=tablayout&gid=101580

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages