Ign Sumarya
unread,Oct 18, 2013, 9:45:49 PM10/18/13Sign in to reply to author
Sign in to forward
You do not have permission to delete messages in this group
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to gghouse, Hartati Lumban Gaol, Gamma Bintang Grafika, Vincentius Gatot, gamma, Gatho Loyo, gatotad...@hotmail.com, gss_j...@yahoo.com, Gunawan Suryana, Gereja Katolik St.Andreas Kedoya ( webmaster ), gedocso, gedono, gegenugroho, gemawarta, gerejafransiskus, GEREJA KATOLIK TIMUR, Gerardette Philips
Mg Biasa XXIX/HM Evangelisasi: Kel 17:8-13; 2Tim 3:14-4:2; Luk18:1-8
“ Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan
tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di
bumi?"
Semua yang hidup, tumbuh dan berkembang di permukaan bumi ini
merupakan ciptaan Allah, dan dapat berlangsung sebagaimana adanya
sampai kini karena Penyelenggaraan Ilahi atau karya Allah, tanpa Allah
semuanya akan musnah. Manusia sendiri diciptakan sesuai dengan gambar
atau citraNya, maka selayaknya sebagai manusia kita sungguh beriman,
hidup dan bertindak senantiasa dijiwai oleh iman kita. Namun jika
dicermati situasi yang ada pada masa kini kiranya boleh dikatakan
hidup iman manusia mengalami kemerosotan kalau tidak boleh dikatakan
bahwa manusia tidak beriman lagi. Aneka tawuran, perilaku amoral,
korupsi dan penyelewengan yang terjadi hamat saya merupakan petunjuk
yang memperkuat sabda Yesus :”Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia
mendapati imam di bumi?”. Pada hari Minggu Evangelisasi ini marilah
kita mawas diri: sejauh mana kita hidup dan bertindak meneladan cara
hidup dan cara bertindak Yesus, yang datang di dunia sebagai Utusan
untuk mewartakan Kabar Baik kepada manusia, dengan kata lain sejauh
mana cara hidup dan cara bertindak kita bersifat missioner?
"Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!Tidakkah Allah akan
membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru
kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi,
jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk
18:6-8)
“Telmi” (telat mikir=terlambat berpikir), demikian sebuah kata
sindiran yang disampaikan seseorang kepada orang yang lamban
menanggapi segala sesuatu dan senantiasa hanya berpikir terus tanpa
tindakan. Segala sesuatu yang akan kita lakukan atau kerjakan memang
sangat tergantung pada apa yang sedang kita pikirkan, demikian juga
kita cepat bertindak atau lamban bertindak tergantung apakah kita
cepat berpikir atau lamban berpikir. Saat ini kita memiliki kepala
Negara atau Presiden yang menurut banyak orang kurang berani bertindak
tegas dan cepat menanggapi aneka masalah atau perkara yang sedang
terjadi. Di Indonesia ini kiranya juga berlaku umum dan diketahui
semua warganegara bahwa ketika ada perkara yang melibatkan pejabat
tinggi senantiasa penyelesaiannya diulur-ulur atau bahkan ditutupi
dengan perkara yang untuk membelokkan masalah utama yang sedang
diperkarakan. “Segala sesuatu dapat diatur sesuai keinginan atau
selera pejabat tinggi yang berwenang”, itulah yang terjadi.
Cara hidup dan cara bertindak yang lamban, kurang cekatan, ini hemat
saya dipengaruhi oleh pendidikan anak-anak atau generasi muda yang
tidak benar, serta sikap mental egois yang semakin merajalela di
negeri kita. Kepekaan sosial kurang mendapat tempat dan perhatian
dalam pendidikan baik di dalam keluarga maupun di dalam sekolah,
apalagi di dalam masyarakat pada umumnya. Berpikir perihal orang lain
saja tak pernah dilakukan, apalagi bertindak demi keselamatan orang
lain maupun lingkungan hidupnya. Saya sendiri sungguh prihatin
memperhatikan dan mendampingi seminaris yang belajar di Seminari
Menengah Mertoyudan. Kiranya yang menjadi seminaris merupakan
anak-anak terbaik yang ada di lingkungan keluarga, umat maupun
masyarakat, namun kepekaan terhadap kepentingan orang lain sungguh
minim, kalau tidak boleh dikatakan tidak ada sama sekali.
Kami berharap anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga maupun di
sekolah dibina dan dididik dalam hal kepekaan sosial, kepekaan
terhadap sesamanya dan lingkungan hidupnya. Salah satu cara untuk itu
antara lain: ajak anak-anak berjalan kaki sejauh radius satu kilometer
dari rumahnya atau gedung sekolahnya, serta mencatat apa yang dilihat
di jalanan, dan kemudian direfleksikan bersama. Gerakan atau kegiatan
‘Live in’ bagi peserta didik di tempat-tempat baru bagi mereka
kiranya perlu diselenggarakan: anak-anak kota ajakan datang dan
tinggal beberapa hari di desa-desa atau pegunungan, sebaliknya
anak-anak desa ajaklah dan tinggal di kota-kota, dst… Tentu saja pada
masa kini penting sekali mendidik dan membina anak-anak untuk peka
terhadap apa yang terjadi di lingkungan rumah maupun sekolah, misalnya
dalam rangka mengusahakan dan menjaga kebersihan dan keindahan
lingkungan hidup. Semoga kita semua umat beriman dapat menjadi saksi
iman dalam hidup sehari-hari, sehingga iman sungguh hidup dan
berkembang di bumi ini.
“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang
dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan
oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah
memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk
memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim
3:15-16)
Kutipan di atas ini kiranya mengingatkan para orangtua atau bapak-ibu:
sejauh mana anak-anak sejak kecil diperkenalkan Kitab Suci atau
sabda-sabda Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, atau
mungkin kepada anak-anak diajak menyaksikan film-film kehidupan Yesus
atau orang-orang suci/kudus? Informasi yang sering kami terima dan
dengar perihal anak-anak dan generasi muda masa kini sungguh telah
terpengaruh oleh sarana komunikasi modern atau teknologi canggih,
dimana mereka lebih suka memboroskan waktu dan tenaga untuk ‘main
game’ atau chatting via internet maupun HP, dan ketika ditawari
film-film atau tontonan yang sarat dengan ajaran moral pada umumnya
menolak atau menghindar. Yang jelas juga bahwa dunia pewayangan masa
kini lebih berwarna humor atau dagelan belaka daripada ajaran-ajaran
moral.
Kami mengajak dan mengingatkan para orangtua atau bapak-ibu dapat
menjadi teladan dalam hal hiburan: kami harapkan menyaksikan hiburan
yang sehat serta sarat dengan ajaran-ajaran moral. Demikian juga kami
harapkan para orangtua atau bapak-ibu sungguh akrab dengan Kitab Suci,
sering membaca dan merefleksikan apa yang tertulis di dalam Kitab
Suci. Kitab Suci sungguh sarat dengan aneka ajaran dan petuah moral
yang bermanfaat bagi keselamatan jiwa manusia maupun kesejahteraan
hidup sosial. Secara khusus kami berharap kepada pastor paroki untuk
memberi perhatian pembacaan Kitab Suci maupun pendalaman iman di
lingkungan anak-anak dan remaja yang ada di paroki. Kegiatan Pembinaan
Iman Anak (PIA) hendaknya diselenggarakan serta diberi dukungan yang
memadai.
Kita semua dipanggil untuk senantiasa melangkah dan berjalan di ‘jalan
benar’, jalan yang menuju kesejahteraan umum/bersama maupun
keselamatan jiwa manusia. Maka ketika ada saudara-saudari kita yang
melangkah atau berjalan di ‘jalan tak benar/salah’ hendaknya segera
diingatkan dan dibetulkan dengan rendah hati. Kita termasuk bersalah
ketika melihat saudara-saudari kita berjalan di jalan salah tidak
membetulkan, apalagi jika orang bersangkutan setiap hari hidup atau
bekerja dengan kita. Marilah kita saling mengingatkan satu sama lain
agar kita semua senantiasa melangkah dan berjalan di jalan benar.
“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang
pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit
dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan
terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga
Israel. TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan
kananmu. Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan
pada waktu malam.”
(Mzm 121:1-6)
Ign 20 Oktober 2013