Jenderal Besar Nasution – Sekitar Proklamasi

2 views
Skip to first unread message

Chan CT

unread,
Aug 14, 2022, 8:45:40 AM8/14/22
to GELORA45_In
Jenderal Besar Nasution – Sekitar Proklamasi

 

Sebelum wafat, Jenderal Besar Nasution, masih tetap segar ketika bercerita soal Proklamasi 17 Agustus 1945. Berbagai aspek sekitar proklamasi itu, is beberkan. Baginya, peristiwa bersejarah itu tetap punya relevansi bagi kekinian dan keesokan.

Berikut dialognya: Proklamasi 17 Agustus itu terjadi pada dekade 40-an. Bagaimana sebenarnya perkembangan pada decade tersebut? Pada awal dekade 40-an, ekspansionisme Jepang tak bisa diabaikan.

Pada masa Jepang merangkul dua motivator perjuangan kita paling dominan, yakni nasionalisme dan Islam, jelas Pak Nas. itu, para pemimpin Indonesia menafsirkan bakal terjadi Perang Pasifik. Jika perang meletus, akan tercipta kesempatan untuk upaya kemerdekaan. Karena ancaman perang ini, maka kolonialis baru mengakui secara resmi adanya bangsa dan bahasa Indonesia.

Malah, kolonialis itu mengadakan 'milisi bumiputra' secara bertahap. Jepang menyebut kita 'saudara muda'. Jepang sebagai 'saudara tua' merangkul dua motivator perjuangan kita yang paling dominan, yaitu nasionalisme dan Islam.

Setelah buntu mesin perangnya, Jepang merekayasa dukungan kita. Akhirnya, pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ya, para pemuda kita dimiliterkan Jepang secara massal. Bahkan Jepang menyusun perlawanan rakyat total sebagai garis pertahanan ketiga dan tentara Peta sebagai garis kedua, sehingga tentara Jepang sendiri dapat memusatkan diri sebagai garis kesatu yang jadi kekuatan pemukul mobil.

Lalu kemerdekaan pun dijanjikan. Tapi seperti Belanda dulu. Jepang pun sudah terlambat. Logistik perang semakin membuat rakyat menderita, sehingga pemberontakan lokal semakin banyak terjadi.

Karena itu, Jepang pun dengan ketat dan kejam menindak siapa saja yang di curigai. Sebenarnya kita berpolitik dua muka. Di satu pihak membantu Jepang, di pihak lain secara diam-diam kita memanfaatkan kesempatan dan keorganisasian yang diadakan Jepang dalam upaya perang.

Dengan kegiatan dan keorganisasian informal itu, kita persiapkan jaringan persiapan pemberontakan dalam susunan pemuda dan tentara.

Bagaimana peran Pak Nas dalam persiapan kemerdekaan itu?

Kebetulan saya cukup sering berdialog dengan bekas pemeran militer penting di pihak Inggris, Belanda, Soviet, dan Kepala Operasi Tentara Jepang sendiri, sehingga sambil bekerjasama dengan Jepang di bawah pimpinan Soekarno-Hatta, kami mem-persiapkan perebutan kemerdekaan secara diam-diam.

Sejak beberapa tahun kami bekas taruna/mahasiswa ber-sama teman- teman di Peta/Heiho dan berbagai organisasi pemuda sibuk mempersiapkan diri 'menyambut saatnya' dengan menyusun suatu jaringan gerakan diam-diam di berbagai kota.

Saya termasuk di antara pemrakarsanya. 'Saatnya' yang kami perhitungkan ialah akan terjadi kevakuman militer di berbagai tempat, jika perang sampai ke Pulau Jawa.

Kebetulan saya sendiri setelah melarikan diri dari bivak interniran di daerah Jember (waktu itu saya menjabat kadet-letnan muda di batalyon 3 yang mundur dari Surabaya/Bojonegoro) bersepeda selama 2-3 minggu me-nuju Sukabumi.

Dari perjalan-an itu saya mengetahui keadaan kota-kota sepanjang sembilan keresidenan yang dilewati. Ternyata cukup banyak terjadi vakum militer/ kekuasaan, karena tentara Belanda telah tiada, sementara Jepang belum masuk, sedang gerakan nasional kita belum dapat dimanfaatkan.

Sejak 1943, saya menjadi pemimpin dan instruktur barisan pemuda di Bandung. Saya berkali-kali ikut latihan se-Jawa di Jakarta. Lalu jadi Wakil Komandan batalyon Barisan Pelopor pimpinan Bung Karno. Bahkan ketika saya jadi anggota pengurus Badan Pembantu Prajurit pimpinan Iskandar Di Nata, saya dapat keluar-masuk asrama Peta/Heiho.

Pada tahun terakhir dengan kartu Pemuda Kereta Api, saya dapat gratis mondar-mandir Jakarta-Surabaya. Teman-teman saya selatihan waktu itu banyak yang jadi Cudanco Peta dan bekas KNIL. Bahkan di Jawa Barat teman-teman yang pernah saya latih banyak yang jadi perwira Peta.

Dengan ternan-teman itu, saya sering kucing-kucingan dengan Jepang. Misalnya dalam latihan Jepang kita sisipkan latihan sendiri. Dalam persiapan proklamasi disebut-sebut nama Syahrir.

Apa perannya menurut Pak Nas?

Dalam proses awal persiap-an proklamasi, Bung Syahrir memang berperan. Pada 14 Agustus 1945, ia mendengar berita kesediaan Jepang menyerah pada Sekutu. Lalu ia menemui Bung Hatta. Kemudian mendesak keduanya untuk menyatakan kemerdekaan dan menghindari cap 'bikinan Jepang'.

Bung Hatta mengajak Syahrir menemui Bung Karno. Dalam pertemuan itu, Bung Hatta dan Bung Karno sepakat mengunjungi pihak Jepang (Somubu) keesokan harinya. Tujuannya meminta informasi tentang berita kesediaan Jepang menyerah.

Sayangnya dwitunggal Soekarno-Hatta tak bisa bertemu pejabat dari pihak Jepang, karena sedang ada rapat. Pak Subarjo yang ikut ke kantor AD Jepang tersebut mengupayakan ke kantor AL Jepang. Di sana mereka bertemu dengan Laksamana Maeda. Maeda membenarkan berita itu, sehingga pada 16 Agustus 1945 terjadi peristiwa Rengasdengklok yang diprakarsai para pemuda.

Dalam peristiwa itu Soekarno-Hatta dipaksa untuk menyatakan kemerdekaan dan merebut kekuasaan. Tapi keduanya tak dapat dipaksa. Sorenya terjadi perundingan historis antara tokoh-tokoh dan para pemuda tentang persiapan proklamasi. Perundingan berlangsung di rumah Laksamana Maeda.

Dari perundingan itulah maka pada 17 Agustus 1945 proklamasi dinyatakan di Pegangsaan. Kemudian perjuangan bangsa pun menggelora. Angkatan Darat Jepang berusaha untuk tidak ikut campur dalam proklamasi.

Karenanya, pada 18 Agustus sore datang instruksi dari markas Marsekal Terauci ke Panglima Tentara ke-16 di Ja-karta. Isi instruksi itu, "Berhubung terjadinya keadaan baru, hendaknya diberitahukan kepada Komite Persiapan Kemerdekaan, bahwa sangat menyesal negara Jepang sudah tidak mungkin memberi bimbingan kepadanya.

Mau atau tidak-nya pelaksanaan proklamasi dalam keadaan ini, terserah kepada kehendak bangsanya sendiri. Berilah bimbingan selayaknya sesuai dengan keadaan strategis. Ditambahkan, kalau mereka ingin memproklamasikan kemerdekaan, harus dilakukan atas kemauan sendiri. Jangan sampai tentara Jepang turut campur dalam urusan itu".

Bagaimana perkembangan secepat pertama proklcrmasi? Perkembangan saat-saat pertama proklamasi mengarah pada dualisme pemikiran; politik dan militer. Di Jawa waktu itu ada 69 batalyon Peta. Sebagian besar sudah siap mental menja-di tentara nasional.

Tapi Soekarno-Hatta sulit mengandalkan kekuatan militer yang muda untuk menghadapi Jepang dan Sekutu. Karena itu, keduanya lebih memilih jalan diplomasi.

Tapi tampil Belanda yang lepas dari tawanan dan Sekutu mengakui kedaulatannya, sehingga meletus insiden-insiden berdarah antara Belanda dan kita. Insiden itu makin menjadi-jadi setelah Inggris tiba di tanah air.

Para pemuda yang telah di-latih Jepang tampil secara spontan di mana-mana dan lepas dari prakarsa pemerin-tah. Slogan mereka, "Merdeka atau mati".

Didikan militer dan didikan semangat Jepang memberi hasil yang melebihi dugaan Jepang sendiri. Sayang, Belanda meremeh-kannya. Inggris yang melindungi Belanda dan berupaya melu-cuti kami jadi semakin terlibat dalam pertempuran yang puncaknya dengan pertempuran di Surabaya. Korban cukup banyak di pihak kita. Senjata yang tertinggal berjumlah 15.000.

Namun kejadian itu makin mendorong kita untuk menunjukkan kesediaan berperang dan berkorban apapun demi membela kemerdekaan. Padahal waktu itu kami belum sempat nyusun tentara sendiri.

Bagaimana penilaian Pak Nas terhadap kaum muda, saat itu?

Kiranya sulit membuktikan dalam sejarah umum tentang peranan pemuda/mahasiswa septut Ill Indonesia. Poznuticti mahasiswa kita sudah sekian kali mempelopori penentuan nasib bangsanya sebagai pembawa panji pembaruan bangsa.

Perjuangan bangsa tetap memerlukan posisinya yang kodrati dalam jajar juang nasional. Karena itu, hendaknya pemuda tetaplah bersikap dan berbuat sebagai pemuda. Sebab, kalau sudah ada krisis identitas, maka krisis pulalah posisi/fungsinya dalam slogarde nasional.

Kaum muda hendaknya dapat membina harmoni antara studi dan perjuangan, seperti tokoh-tokoh angkatan 08, 28, 45, dan angkatan 66. Karena sesuai dengan identitas dan tradisinya, pemuda/mahasiswa Indonesia tidak bisa lain kecuali harus terus baik dalam perspektif hari esoknya keadaan belum cukup dan berperingati mungkin, bukan dalam keorganisasian maupun kegiatan.

Karena itu dibanding dengan masa tahun 28 dan 45, telah berkurang prakarsa dan kegairahan berbuat dan membentuk berbagai perkumpulan, sehingga dapat dimengerti kalau generasi muda seperti juga generasi tua agak takut berdiskusi, menyatakan pendapat, dan se-bagainya, kendati mereka tahu sikap seperti itu bertentangan dengan hakekat kepemudaan.

Sumber warnasari. Agustus 1993

 

 
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages