Sumber
Foto: Unsplash. Calon
vaksin mRNA China lebih lemah terhadap Omicron.
JAKARTA - Calon vaksin mRNA China
menunjukkan penurunan tajam dalam aktivitas antibodi penetral terhadap Omicron
dibanding terhadap virus corona yang tak bermutasi dalam sebuah studi kecil.
Akan tetapi, dosis booster-nya
dengan mudah memicu produksi antibodi dalam uji coba hewan, menurut makalah
penelitian.
Vaksin
ARCoV, yang dikembangkan bersama oleh Academy of Military Medical Sciences
(AMMS), Suzhou Abogen Biosciences dan Walvax Biotechnology, saat ini sedang
diujicobakan pada uji klinis Tahap III secara internasional. Ini adalah calon
vaksin berbasis mRNA buatan dalam negeri China yang paling jauh mencapai progres
uji coba.
China belum mengizinkan calon vaksin
mRNA yang dikembangkan secara lokal dan internasional. Tetapi, otoritas sudah
memvaksin 87,1 persen populasi dengan sejumlah vaksin lokal yang dibuat dengan
teknologi lain.
Dalam
studi laboratorium yang menganalisis 11 sampel penerima vaksin, delapan di
antaranya menunjukkan aktivitas penetralan yang "rendah namun terdeteksi"
terhadap Omicron, kata tim peneliti dalam sepucuk surat kepada editor yang
diterbitkan oleh jurnal Cell Research.
Kadar antibodi penetral terhadap
Omicron menunjukkan penurunan 47 kali lipat dibanding dengan kadar terhadap
"jenis liar" (varian alami) yang tidak mengandung mutasi besar, tulis makalah
yang diterbitkan pada Senin itu.
Namun
pada uji hewan, dosis ketiga yang diberikan sekitar sembilan bulan setelah dosis
kedua, dengan mudah memicu produksi antibodi penetral terhadap Omicron dan
varian alami, lanjutnya.
"Data
kami secara gamblang memperlihatkan bahwa dosis ketiga ARCoV kemungkinan akan
mengarah pada peningkatan tajam antibodi penetral, tidak hanya terhadap WT
(varian alami) SARS-CoV-2 namun juga varian Omicron baru,"
katanya.(E-4)
Tim
peneliti juga melakukan uji coba pada hewan untuk dua calon vaksin mRNA baru
khusus Omicron dan hasilnya membuktikan bahwa kadar antibodi yang diinduksi
sebanding dengan kadar antibodi yang dihasilkan ARCoV asli. Penulis jurnal
mencakup para ilmuwan AMMS dan Suzhou Abogen Biosciences serta peneliti dari
sejumlah lembaga China lainnya.(E-4)