Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin kembali
memberikan tanggapannya atas masalah kerja sama AS, Inggris dan Australia
(AUKUS) tentang pembuatan kapal selam nuklir. Di depan jumpa pers hari Rabu
kemarin (20/7), dia mendesak ketiga negara untuk sungguh-sungguh menanggapi
keprihatinan masyarakat internasional, menunaikan kewajiban internasional non
proliferasi senjata nuklir, dan membatalkan keputusan salah terkait kerja sama
pembuatan kapal selam nuklir.
Menurut laporan ‘Kolusi Berbahaya: Risiko Proliferasi Senjata Nuklir AUKUS’ yang dirilis bersama oleh Asosiasi Kontrol dan Perlucutan Senjata Tiongkok dan Institut Penelitian Perencanaan Strategis Perusahaan Nuklir Nasional Tiongkok (CNNC), kerja sama AUKUS tentang pembuatan kapal selam tenaga nuklir akan memberikan contoh buruk negara yang memiliki senjata nuklir untuk mentransfer bahan nuklir kelas senjata kepada negara non senjata nuklir, serta menciptakan risiko proliferasi senjata nuklir.
Wang Wenbin menyatakan, “Inilah pertama kalinya badan riset Tiongkok merilis laporan penelitian terkait kerja sama kapal selam nuklir AUKUS. Laporan mengungkapkan bahwa AUKUS dengan serius melanggar tujuan Perjanjian Non Proliferasi Senjata Nuklir, melanggar peraturan Badan Tenaga Atom Internasional, menantang sistem penjaminan dan pengawasan IAEA, merusak kestabilan strategis global, menyerang sistem non proliferasi senjata nuklir internasional, memperparah persaingan senjata, merusak Perjanjian Zona Bebas Senjata Nuklir, serta mengancam perdamaian dan kestabilan kawasan Asia Pasifik, hal ini sekali lagi membuktikan kerasionalan perhatian masyarakat internasional terhadap kerja sama AUKUS.”
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin dalam jumpa
pers hari Rabu kemarin (20/7) mengecam pencurian minyak bumi yang dilakukan oleh
AS di Suriah adalah perampokan.
Dilaporkan, baru-baru ini, tentara AS kembali mengeksploitasi minyak bumi di wilayah Suriah yang didudukinya dan mengangkutnya ke bagian utara Irak. Aksi serupa telah dilakukan sebanyak tiga kali oleh tentara AS dalam bulan ini. Menteri Perminyakan dan Pertambangan Suriah sebelumnya mengkritik AS dan para sekutunya ‘seperti bajak laut’, mencuri minyak bumi dan bahan pangan Suriah, sehingga dengan serius merugikan ekonomi Suriah.
Wang Wenbin menunjukkan, saat ini, 90 persen ke atas warga Suriah hidup di bawah garis kemiskinan, dua per tiga populasinya bertahan hidup dengan bantuan kemanusiaan, dan separuh lebih penduduknya gagal mendapatkan jaminan pangan. Sampai saat ini, tentara AS masih menduduki sentra penghasil pangan dan minyak bumi Suriah, telah merampas sumber daya alam Suriah dan memperburuk krisis kemanusiaan warga setempat. Rakyat Suriah sangat marah terhadap aksi AS tersebut dan mencelanya datang ke Suriah demi meraup keuntungan, jika tidak mendapat keuntungan, mereka akan langsung hengkang begitu saja dari sana. Kehadiran AS di Suriah sama dengan terorisme.
Menanggapi hal itu, Wang Wenbin mendesak AS agar menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Suriah, menanggapi imbauan rakyat Suriah, segera membatalkan sanksi sepihak terhadap Suriah, segera menghentikan perampokan terhadap sumber daya Suriah, dan sesegera mungkin memberikan pertanggung jawaban kepada rakyat Suriah, mengambil tindakan nyata untuk menebus ganti rugi atas kerugian yang diakibatkannya terhadap rakyat Suriah.