Presiden
Jokowi: Rusia akan hadiri KTT G20 di Bali
Jumat, 29 April 2022 16:59
WIB
Tangkapan layar - Presiden Joko Widodo (Jokowi)
menyampaikan pernyataan resmi mengenai presidensi G20 di Istana Bogor, Jumat
(29/4/2022). ANTARA/Youtube Sekretariat
Presiden/pri.
Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko Widodo mengatakan Presiden Rusia
Vladimir Putin akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali pada
November.
"Dalam kesempatan tersebut, Presiden Putin
menyampaikan terima kasih atas undangan KTT G20 dan beliau menyatakan akan
hadir," kata Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, sebagaimana termuat
dalam video yang ditayangkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat.
Rencananya,
KTT G20, yang akan dihadiri para kepala negara dan pemerintahan anggota G20,
berlangsung pada November di Bali.
Presiden mengungkapkan dia dan Putin berbincang
melalui sambungan telepon pada Kamis (28/4), pukul 19.00 WIB.
"Presiden
Rusia memberikanupdatemengenai situasi di
Ukraina, termasuk proses negosiasi yang terus berlangsung antara Rusia dan
Ukraina," ungkap Jokowi.
Dia pun kembali menekankan pentingnya
mengakhiri perang tersebut.
"Saya juga menekankan agar solusi damai dapat
terus dikedepankan dan Indonesia siap berkontribusi untuk upaya damai tersebut,"
tambahnya.
Sementara itu, pada Rabu (27/4) pukul 15.00 WIB,
Presiden Jokowi sudah menyampaikan undangan melalui telepon kepada Presiden
Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk menghadiri KTT G20.
Ukraina memang
bukan anggota G20, namun ketua forum G20 sebelumnya pernah mengundang negara
lain sebagai tamu untuk menghadiri pertemuan tersebut.
G20 mengutuk
invasi Rusia di Ukraina, yang kini telah memasuki pekan ke sembilan. Invasi
tersebut meningkatkan ketegangan geopolitik, mengancam ekonomi global, dan
memicu krisis kemanusiaan.
Sejumlah anggota G20 bahkan menyerukan agar Rusia
dan Presiden Putin dikeluarkan dari daftar kehadiran KTT G20 di Bali pada
November. Namun, Indonesia menolak dan mengatakan terlalu dini untuk memutuskan
hal itu.
Presiden Jokowi jelaskan alasan mengundang Presiden
Ukraina ke G20
Jumat, 29 April 2022 16:42
WIB
Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko
Widodo menjelaskan alasan ia mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy
untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 adalah demi pemulihan
ekonomi dunia.
"Kita paham bahwa G20 memiliki peran sebagai katalisator
dalam pemulihan ekonomi dunia dan kalau kita bicara mengenai pemulihan ekonomi
dunia, maka terdapat dua hal besar yang mempengaruhi saat ini yaitu yang pertama
pandemi COVID-19 dan yang kedua perang di Ukraina," kata Presiden Jokowi di
Istana Kepresidenan Bogor sebagaimana termuat dalam video yang ditayangkan di
kanal Youtube Sekretariat Presiden pada Jumat.
Rencananya, KTT G20 yang
akan dihadiri para kepala negara dan pemerintahan anggota G20 akan berlangsung
pada 30-31 Oktober 2022.
"Dalam konteks inilah maka dalam pembicaraan
telepon kemarin, saya mengundang presiden Zelenskyy untuk hadir dalam KTT G20,"
tambah Presiden.
Presiden Jokowi menyebut undangan itu ia sampaikan melalui percakapan via
telepon dengan Presiden Zelenskyy pada Rabu, 27 April 2022 pukul 15.00
WIB.
"Dalam perbincangan telepon dengan Presiden Ukraina, saya memperoleh
update mengenai perkembangan situasi saat ini di Ukraina," ungkap
Presiden.
Dalam pembicaraan itu, menurut Presiden Jokowi, dibahas juga
mengenai berbagai permintaan bantuan persenjataan dari Indonesia.
"Saya
menegaskan bahwa sesuai dengan amanat konstitusi Indonesia dan prinsip politik
luar negeri Indonesia melarang pemberian bantuan persenjataan kepada negara
lain," tambah Presiden.
Namun Presiden Jokowi menyampaikan kesiapan
Indonesia untuk memberikan bantuan kemanusiaan.
"Saya sampaikan mengenai harapan
agar perang dapat segera dihentikan dan solusi damai melalui perundingan dapat
dikedepankan," ungkap Presiden.
Ukraina memang bukan anggota G20, tapi
ketua-ketua G20 sebelumnya pernah mengundang negara-negara lain sebagai tamu
untuk menghadiri pertemuan.
G20 telah mengutuk invasi Rusia di Ukraina
yang kini telah memasuki pekan kesembilan. Invasi itu telah meningkatkan
ketegangan geopolitik, mengancam ekonomi global, dan memicu krisis
kemanusiaan.
Sejumlah anggota G20 bahkan telah menyerukan agar Rusia dan
Presiden Vladimir Putin dikeluarkan dari daftar kehadiran di KTT G20 di Bali
pada November. Namun, Indonesia menolak dan mengatakan terlalu dini untuk
memutuskan hal itu.