UNSUR
KOMUNIS DAN CINA DALAM INDONESIA “ASLI”
Inilah film
dari tahun 1950, yang baru tahun 1962 dianggap sebagai awal atau induk Film
Nasional. Hari pertama pengambilan gambarnya dinyatakan sebagai Hari Film
Indonesia dan penetapan ini baru diresmikan tahun 1999, setelah Orde Baru
bangkrut. Dengan demikian statusnya jauh lebih terhormat ketimbang film
propaganda “Pengkhianatan G30S/PKI” (1984).
Judul film itu
ada dua. Yang satu “Doa dan Darah”. Tapi sejak dulu yang lebih ditonjolkan
adalah judul “Long March” seperti jelas dalam iklannya. Jangan heran bila film
ini dipromosikan dengan warna merah menyala. Istilah “Long March” tenar di
dunia, sebagai upaya Pasukan Merah dari Partai Komunis Cina, yang mengangkat
karir politik Mao Zedong sebagai pimpinan Komunis di negeri dengan penduduk
terbesar di planet bumi ini.
Dalam buku
IDENTITAS DAN KENIKMATAN saya mencatat:
“Hingga saat
buku ini disiapkan, tampaknya tiada seorang pun di Indonesia yang menggugat
sejarah resmi [film nasional] ini. Sejarah resmi itu telah diterima secara luas
di Indonesia dan selalu diproduksi ulang dalam berbagai bentuk, walau sudah ada
kesadaran dalam masyarakat bahwa produksi, penayangan, dan kritik film telah
berlangsung di masyarakat ini selama tiga dekade sebelumnya. . . .” (hal
222).
“Alasan
mengangkat film tersebut sebagai awal atau induk film Indonesia adalah karena
anggapan inilah “film pertama yang diproduksi dan disutradarai oleh orang
Indonesia ‘asli’ (yaitu orang ‘pribumi’ Indonesia). Semua film sebelumnya
dianggap tidak- Indonesia karena yang berperan paling besar dalam produksi
merupakan keturunan Eropa atau Tionghoa” (hal 223).
Sutradara film
tersebut, Usmar Ismail, seorang yang berada di kubu lawan PKI, diresmikan Negara
sebagai Bapak Film Nasional. Masih dalam IDENTITAS DAN KENIKMATAN saya
mengingatkan pembaca:
“Tak ada juga
yang mencoba untuk menyatukan kontradiksi antara penghargaan yang diberlakukan
mundur (retroaktif) bagi Usmar Ismail yang dianggap otentik itu, dengan
pengakuannya bahwa ia penganut neo-realisme Italia dalam pembuatan filmnya.
Usmar bekerja dalam divisi propaganda tentara pendudukan Jepang ketika Indonesia
berada di bawah penjajahan Jepang dan ia belajar di Amerika pada tahun 1953.”
(hal 222).
Merujuk pada
karya Barker, saya menambahkan bahwa fim Doa dan Darah alias Long March, “hanya
bisa diselesaikan berkat bantuan keuangan dari seorang pemilik bioskop, Tong Kim
Mew” (Barker 2010: 11)” (hal 232).
Kredit gambar:
terima kasih kepada Chris Woodrich yang sudah berbagi gambar iklan
film.