Menengok Jinchang sebagai
"Ibu Kota Nikel" di China
Oleh Desca Lidya
NataliaMinggu,
3 September 2023 21:08
WIB
Empat orang dalang
memainkan pertunjukkan boneka "Zhou Houzi" di Kabupaten Yongchang, Kota
Jinchang, Provinsi Gansu, China. ANTARA/Desca Lidya
Natalia
Di Indonesia,
Jinchuan Group hadir di Halmahera Selatan, Maluku Utara, dalam bentuk perusahaan
joint venture bernama PT Wanatiara Persada.
Jinchang (ANTARA) - Matahari
terik dan udara hangat menyambut di Bandara Jinchang, Kota Jichang, Provinsi
Gansu, sebelah barat Laut China. Suhu saat itu sekitar 32 derajat celcius namun
terasa lebih panas karena iklim kering gurun di tempat tersebut.
Udara panas
tersebut kemudian berpadu dengan barisan jalan aspal lebar dan mulus yang
mengantarkan rombongan wartawan dari "All China Journalist Association"
berkeliling Kota Jinchang dan Kabupaten Yongchang pada hari pertama
kunjungan.
Kota Jinchang baru berdiri pada 1981 yang terdiri
atas Distrik Jinchuan dan Kabupaten Yongchang dengan luas 9.600 kilometer dan
penduduk 435 ribu jiwa.
Kota tersebut dibangun pascapenemuan deposit
tembaga dan nikel terbesar ketiga di dunia atau terbesar di Asia sehingga
mendapat julukan "Ibu Kota Nikel". Deposit itu lalu diolah oleh BUMN Jinchuan
Group Co., Ltd yang akhirnya membangun kota --dengan nama yang mirip-- meski
sebenarnya banyak masyarakat yang sudah lama mendiami lokasi tersebut.
Bahkan pada
1966, pemimpin Deng Xiaoping menyebut lokasi itu sebagai harta karun dan "boneka
emas" langka dari tanah air ketika berkunjung ke sana.
Jinchang tidak
hanya memiliki nikel, namun juga punya cadangan logam langka seperti platinum,
paladium, dan osmium yang penting untuk industri manufaktur berbagai negara
termasuk baterai untuk kendaraan listrik yang sedangbooming.
Dalam
penjelasan pemandu wisata di Museum Sains dan Teknologi Jinchang yang didirikan
oleh Jinchuan Group, disebutkan bahwa nikel dan kobalt yang dihasilkan di
Jichang sangat tinggi, bahkan ditemukan batu raksasa Jinchuang Fu yang
menunjukkan kekayaan mineral dalam batu yang berpendar bila diterangi cahaya.
Museum itu
sendiri dibangun pada 2006 oleh Jinchuan Group untuk mengintegrasikan pendidikan
sejarah partai, pendidikan sains populer, hingga lokasi penelitian,
pembelajaran, dan pariwisata industri.Pengunjung
memperhatikan museum Pengunjung memperhatikan batu yang mengandung nikel di
Museum Sains dan Teknologi Jinchang di Kota Jinchang, Provinsi Gansu, China.
ANTARA/Desca Lidya Natalia Menempati gedung seluas 6.900 meter persegi,
ruang pamer museum dipenuhi dengan beragam LED terintegrasi sehingga menawarkan
tampilan multimedia digital dengan suara, cahaya hingga
pengalamanvirtual
reality. Termasuk di dalamnya berbagai jenis mineral yang ada di Jinchang
dan berbagai produk olahannya.
Pada tahun 2021, Museum Sains dan Teknologi
Jinchuan pun terpilih sebagai salah satu gelombang pertama basis pendidikan
pemasyarakatan sains nasional dari tahun 2021 hingga 2025.
Sejumlah
prestasi Jinchuan Group diperlihatkan di museum tersebut. Memang perusahaan yang
didirikan pada 1959 tersebut menjadi salah satu perusahaan tambang, peleburan
kimia, dan pemprosesan mineral skala besar di China.
Perusahaan
tersebut terutama memproduksi nikel, tembaga, kobalt, besi, baja, seng, timah
putih, emas perak hingga mineral langka seperti iridium, osmium, paladium,
platinum, rohdium, ruthenium, dan jenis mineral lainnya. Perusahaan ini memiliki
produksi tembaga-nikel terbesar ketiga di dunia.
Produksi nikel
Jinchuan Group menempati urutan keempat dunia, produksi kobalt terbesar keempat
dunia, produksi tembaga urutan keempat di China, dan produksi logam golongan
platina menempati urutan pertama di China.
Kelompok perusahaan itu saat ini memiliki lebih
dari 32.200 karyawan, termasuk 7.582 tenaga profesional dan teknis teknis dari
berbagai jenis.
Di Indonesia sendiri, Jinchuan Group hadir di
Halmahera Selatan, Maluku Utara, dalam bentuk perusahaanjoint venture bernama PT Wanatiara
Persada.
Lokasi tambang nikel di Jinchang, salah satunya
digali dengan sistemopen-pit atau penggalian terbuka oleh
mesin-mesin sehingga meninggalkan lubang raksasa sekitar 30 meter ke dalam bumi.
Tempat itu kemudian diubah menjadi Taman Pertambangan Nasional Jinchuan.
Taman
pertambangan itu dibuka pada 2010 untuk menjadi ekowisata industri dengan luas
total 19,92 kilometer persegi. Hingga saat ini diselesaikan tahap pertama yaitu
fokus pada restorasi ekologi di tempat pembuangan limbah padat tambang
Jinchuan.
Upaya restorasi yang dilakukan dengan menanam
pohon dan rumput seluas 2 juta meter persegi agar mencapai cakupan hijau di
tempat pembuangan batuan sisa. Penanaman pohon dilakukan oleh para kader Partai
Komunis China, pekerja di Jinchuan Group, masyarakat umum hingga prajurit
militer yang ditempatkan di Jinchuan.Suasana
Taman Pertambangan Nasional Jinchuan yang nikelnya diolah perusahaan milik
negara Jinchuan Group di Kota Jinchang, Provinsi Gansu, China. ANTARA/Desca
Lidya Natalia Air yang
digunakan untuk penghijauan taman seluruhnya berasal dari air limbah industri
dan domestik, dengan rata-rata pemanfaatan harian lebih dari 8.500 meter kubik
air limbah.
Berkendara sekitar 1 jam dari Kota Jinchang,
rombongan kemudian diajak ke Kabupaten Yongchang yang masih masuk Provinsi
Gansu. Suasana langsung berubah dari kota pengolahan tambang yang kaku ke
kawasan perdesaan yang lebih sepi meski tetap dengan iklim yang kering.
Di gerbang
Desa Maobula, Distrik Hongshanyao, sekitar 30 pemuda setempat menyambut dengan
menarikan Yongchang Jiezi, tarian rakyat kuno dari Desa Zhao Dingzhuang di
sebelah barat Kabupaten Yongchang.
Tarian ini awalnya terkait dengan latihan militer
dan bela diri masyarakat. Para penari menggunakan sejenis senjata yang disebut
Jiezi, senjata mirip pedang dan tongkat.
Tarian itu mengantarkan ke lokasi 360 lampion
maobra yang menggunakan lambang 卍 (Swastika) yang dipasang di labirin raksasa
oleh para tetua masyarakat. Dalam bahasa Sansekerta, lambang tersebut berarti
"pertemuan keberuntungan" dan merupakan simbol "pertanda baik" dan "kebajikan
besar".
Tradisi lampion berasal dari seni lampion Beijing
pada masa Dinasti Ming (1370). Saat lampion dinyalakan pada hari raya musim semi
atau saat Imlek, setiap orang memegang lampion bunga setinggi 1,5 meter dan
menari sepanjang jalan, yang luar biasa meriah dan bila dilihat dari atas maka
akan muncul lambang Swastika.
Selain tarian dan tradisi lampion, di desa
tersebut juga hadir pertunjukan boneka Yongchang atau dikenal
sebagaizhou houzi
(pertunjukan boneka monyet) yang mirip dengan wayang
potehi di Indonesia.
Namun berbeda dengan wayang potehi yang dalangnya
"bersembunyi" di belakang panggung, dalang-dalang boneka dalam
pertunjukanzhou
houziikut tampil di panggung sambil memainkan
boneka-boneka mereka. Para penonton pun bisa melihat langsung wajah para dalang
saat bercerita dan memainkan boneka.
Boneka-boneka itu disebut "boneka manusia",
dengan kepala seukuran kepalan tangan dan tinggi badan kira-kira dua kaki.
Cangkang kepala boneka terbuat dari bubur kertas dan pakaian yang dikenakan dari
kain warna-warni. Untuk menggerakkan boneka digunakan tongkat-tongkat kayu.
Tidak jauh
dari desa tersebut, juga ada Museum Great Wall Cultural Exibition Center. Museum
itu memberikan penjelasan singkat mengenai sejarah pembangunan dan fungsi dari
Tembok Besar China (The Great Wall).
The Great Wall atau tembok China membentang
sepanjang 21.196,18 kilometer dari pesisir Teluk Bohai (Shanhaiguan) di timur
hingga Gurun Gobi (Jiayuguan) di Barat dan masuk ke wilayah 15 provinsi, kota
madya dan daerah otonom China bagian Utara, termasuk Provinsi Gansu.
Di Provinsi
Gansu sendiri, Tembok China membentang sepanjang 3.654 kilometer di 11 kota.
Tembok tersebut berasal dari dinasti Qin, Han, dan Ming. Namun di museum
tersebut ditunjukkan sisa-sisa tembok yang berasal dari dinasti Qin dan Han atau
tembok yang paling awal dibangun sehingga tidak utuh lagi.
Yongchang
sendiri berada di titik sempit dari Koridor Hexi sehingga punya lokasi strategis
di Jalur Sutera sehingga pemerintahan kuno China menilai lokasi tersebut perlu
dibangun tembok. Dinasti Han membangun 152 kilometer tembok dan Dinasti Ming
membangun 151 kilometer, namun hanya tinggal 182 kilometer yang masih
berdiri.
Di
belakang museum lalu ditampilkan sisa-sisa tembok yang tidak utuh lagi yang
berada di antara bukit-bukit batu.
Sisa-sisa tembok masih dapat menampilkan
kemegahan benteng buatan manusia terpanjang di dunia yang memakan waktu
pembangunan selama sekitar 2.000 tahun lamanya. Lokasi tersebut juga menjadi
bukti fisik penerapan strategi militer China kuno yang dipadu dengan kemajuan
seni dan teknologi arsitektur dari dinasti ke dinasti.
Kota Jinchang
tak hanya menyimpan kekayaan mineral tapi juga kekayaan budaya dan sejarah di
bawah kehangatan sinar Matahari.