Hendaknya AS Berikan Perdamaian Bukannya Senjata ; Harga Produk Pertanian Internasional Terguncang Akibat Konflik Rusia-Ukraina

0 views
Skip to first unread message

Chan CT

unread,
Mar 22, 2022, 8:37:40 PM3/22/22
to GELORA45_In

Jika Benar-benar Peduli pada Rakyat Ukraina, Hendaknya AS Berikan Perdamaian Bukannya Senjata

 

 

“Kami menentang kabar palsu yang memfitnah Tiongkok menyediakan bantuan militer kepada Rusia.” Demikian Duta Besar Tiongkok untuk AS Qin Gang berujar kepada wartawan Columbia Broadcasting System (CBS) AS hari Minggu (20/3) lalu waktu setempat.

Dunia mencatat bahwa sebelum dan sesudah bentrokan militer Rusia-Ukraina, sejumlah politikus dan media AS terus menyebarluaskan hoaks terkait Tiongkok, termasuk kabar palsu yang menyebut bahwa Tiongkok mungkin memberikan bantuan militer kepada Rusia. Sebenarnya, kabar-kabar palsu itu adalah fitnahan atau ‘air kotor’ yang disemprot oleh AS. Sejumlah negara Barat juga ikut-ikutan memfitnah Tiongkok. Ada pejabat AS yang bahkan mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada perusahaan Tiongkok.

Modus “berbohong seenaknya” ala hegemoni AS tersebut sudah tidak asing lagi bagi dunia. Pada 19 tahun yang lalu, AS melancarkan perang agresi terhadap Irak dengan mengelabui dunia bahwa bukti Irak memiliki senjata pemusnah massal sudah ditemukan, padahal buktinya hanya sebotol deterjen. Hal itu masih segar dalam ingatan masyarakat internasional. Mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pernah dengan sombongnya mengakui bahwa pihaknya terbiasa “menipu, berbohong dan mencuri”. Kata-kata Pompeo itu ibarat penjelasan terbaiknya dari pemalsuan ala AS. Penyebarluasan kabar palsu terkait Tiongkok dengan masalah Ukraina kali ini adalah trik lamanya yang berulang kali mereka mainkan, tujuannya adalah untuk mencoreng Tiongkok dan mengadudomba hubungan Tiongkok dan Rusia, serta mengalihkan perhatian dunia.

Sejak krisis Ukraina meletus, Tiongkok selalu berupaya mendorong perundingan dan perdamaian, dan telah mengajukan 6 butir usulan tentang pencegahan krisis kemanusiaan di Ukraina. Hingga saat ini, Tiongkok telah mengirim banyak bantuan kemanusiaan kepada Ukraina, termasuk bahan makanan, obat-obatan, kantong tidur, susu bubuk untuk bayi dan sebagainya, tapi tidak akan mengirimkan senjata kepada pihak mana pun. Tiongkok menyatakan akan terus mengirim bantuan kemanusiaan kepada Ukraina seiring dengan perkembangan situasi dan kebutuhan riil mereka.


Berbeda dengan Tiongkok, AS dan negara-negara Barat lainnya melancarkan sanksi menyeluruh terhadap Rusia setelah krisis Ukraina meletus, di samping itu, mereka juga terus menyediakan bantuan militer dalam jumlah besar kepada Ukraina, justru memanaskan situasi. Berdasarkan memorandum yang ditandatangani Presiden AS pada tanggal 16 Maret lalu, Departemen Pertahanan AS telah menambahkan bantuan senjata, termasuk senjata ofensif senilai 800 juta dolar AS kepada Ukraina.

Di satu sisi, ada negara yang berusaha mendorong perdamaian dan memberikan bantuan kemanusiaan, di sisi lain ada juga negara yang terus meningkatkan bantuan militer dan sanksi sepihak. Antara Tiongkok dan AS, sudah jelas siapa yang tengah menjaga perdamaian dan siapa yang memprovokasi konfrontasi. Terkait hal tersebut, komunitas internasional sudah memiliki jawaban tepat.

 

Harga Produk Pertanian Internasional Terguncang Akibat Konflik Rusia-Ukraina

 
 

Konflik Rusia-Ukraina sudah berlangsung hampir satu bulan. Rusia dan Ukraina sama-sama merupakan negara pengekspor bahan pangan penting global, bagaimana pengaruh konflik mereka terhadap ketahanan bahan pangan dunia khususnya Tiongkok?

Data Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menunjukkan, Rusia adalah negara pengekspor gandum terbesar di dunia, sedangkan Ukraina negara pengekspor gandum terbesar kelima di dunia. Volume ekspor sereal kedua negara melebihi sepertiga pasar sereal dunia. Sementara itu, volume ekspor minyak goreng hasil biji bunga matahari menduduki 52 persen.

Sejak konflik Rusia-Ukraina terjadi, kedua negara telah mengeluarkan sejumlah larangan atau pembatasan ekspor untuk  produk gandum, jelai, jagung dan sereal lainnya. Menanggapi hal tersebut, juru bicara Biro Statistik Nasional Tiongkok Fu Linghui baru-baru ini menyatakan, harga komoditas global mengalami perubahan besar akibat konflik Rusia-Ukraina, Tiongkok berkemungkinan menghadapi tekanan inflasi impor, namun Tiongkok dapat mengantisipasi hal tersebut secara efektif.

“Harga komoditas besar internasional terguncang pada level yang tinggi akibat konflik militer Rusia-Ukraina dan ketegangan geopolitik. Dampak impor terhadap produksi dalam negeri pun tidak bisa diabaikan. Di sisi lain, berbagai tindakan penjaminan harga dalam negeri terus efektif, penyuplaian produksi industri hulu tetap akan bertambah dan bermanfaat agar harga cenderung stabil.”

Akan tetapi, bagi banyak negara dunia ketiga, untuk mengantisipasi keguncangan harga komoditas internasional akibat konflik Rusia-Ukraina bukanlah hal yang mudah. Data FAO menunjukkan, Mesir, Turki, Bangladesh dan Iran adalah negara impor gandum utama di dunia, 60 persen gandumnya diimpor dari Rusia dan Ukraina. Selain itu, Lebanon, Tunisia, Yaman, Libia dan Pakistan pun banyak mengimpor gandum dari Rusia dan Ukraina.

Jika dihitungkan berdasarkan kalori, produk sereal dan minyak  goreng yang diekspor Rusia dan Ukraina menduduki 10 persen transaksi dunia, berpengaruh cukup besar bagi penyuplaian dan kebutuhan serta harga pasar produk pertanian global. Sekjen PBB Antonio Guterres mengimbau untuk segera menghentikan perang dan kembali ke jalan penyelesaian masalah secara damai dan diplomatik. Jika tidak, dunia akan terjerumus ke dalam lebih banyak keguncangan akibat reaksi berantai peperangan.

 
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages