Minggu 12 December 2021
Rumah Merah
Oleh : Dahlan Iskan
LASEM kini lagi ruwet-ruwetnya. Itu berarti, ada
harapan. Banyak jalan lagi digali. Di pinggirnya. Bersamaan pula dengan musim
hujan. Becek dan lumpur bersatu dengan tanah galian.
Padahal, saya ingin berjalan kaki di kota unik itu.
Agar bisa menikmati ketuaan bangunan di sana. Gagal. Tidak nyaman. Apa boleh
buat.
Tujuan utama saya pasti –Anda pun tahu: ke Jalan
Karang Turi. Itulah pusat batik Lasem Tionghoa –di masa nan lalu. Ternyata juga
ada galian. Pun di pinggir Jalan Karang Turi. Untung, ada halaman terbuka di
Rumah Merah di Karang Turi. Saya bisa parkir di halaman itu. Sambil menyesal:
kenapa tidak makan siang di situ saja. Di teras Rumah Merah. Ternyata ada
kantinnya. Banyak pula pilihan makanannya.
Sungguh menyesal. Kenapa tadi mampir sate kambing.
Hanya gara-gara ada asap dan aroma kambing bakar di pinggir Jalan Jatirogo.
Padahal, sulit sekali mencapainya: ada galian besar yang memisahkan jalan itu
dengan sate tersebut.
Padahal, Lasem adalah juga Rumah Merah itu. Belum
ke Lasem kalau belum ke Rumah Merah.
Kelak, Jalan Karang Turi tidak boleh hanya diberi
selokan. Harus lebih istimewa. Lebih khas. Karang Turi adalah jalan yang kelak
sangat layak jual: sebagai pusat turis.
Masih banyak yang harus dikerjakan untuk memoles
Jalan Karang Turi. Toh, jalan tersebut tidak panjang. Kurang dari 300 meter.
Tidak akan mahal membuat Jalan Karang Turi bernuansa istimewa.
Karang Turi juga tidak lebar. Hanya 6 meter. Yang 4
meter sudah telanjur diaspal. Mestinya jangan ada aspal di Karang Turi. Jalannya
bisa dibuat dari batu-batu model Jalan Braga di Bandung.
Karang Turi bukan jalan utama di Lasem. Juga, bukan
satu-satunya yang berciri Tionghoa. Tapi, Karang Turi-lah
jantungnya.
Tidak sulit menemukan Karang Turi. Waktu itu saya
datang dari arah Semarang –tepatnya dari arah Pati-Rembang. Lewat Jalan Daendels
–sekarang lebih terkenal sebagai jalan pantura.
Begitu memasuki Kota Lasem, tengoklah ke kanan. Ada
masjid besar di pinggir jalan pantura. Itulah Masjid Jami’ Lasem. Berilah tanda:
akan belok kanan. Untuk masuk ke Jalan Jatirogo. Itulah jalan utama di dalam
Kota Lasem.
Sekitar 300 meter dari masjid, sudah mulai tercium
rasa China Town-nya. Itulah Pecinan Lasem. Rasanya nyaris seluruh Lasem adalah
China Town. Konon, itulah pecinan tertua di Jawa. Sudah ada sejak sebelum zaman
Majapahit.
Saya pun masuk ke Rumah Merah itu. Yang catnya
memang serbamerah. Yang diselingi warna kuning. Khas China Town.
Siapa saja boleh masuk ke rumah besar tersebut.
Rumah turis. Yang dulunya pastilah rumah golongan orang terkaya di Lasem. Besar
sekali.
Istri saya tertarik ke yang lain: ke pembatikan.
Dia memang belum punya koleksi batik Lasem. Juga, baru tahu bahwa batik Lasem
itu terkenal. Di kampungnyi, Kaltim, hanya pernah mendengar batik itu harus Solo
dan Yogyakarta.
Beda dengan suaminyi. Sejak kecil saya sudah tahu:
batik Lasem itu istimewa. Waktu disunat, saya dibelikan sarung baru: sarung
batik Lasem. Sarung bekas yang diperbarui. Sarung lama yang dibatik ulang. Ibu
sendiri yang membatik ulang. Menjadi seperti baru.
Batik Lasem juga dikenal sebagai batik pesisir
utara. Coraknya lebih egaliter, lebih bebas, dan lebih berwarna.
Cita rasa warna Tionghoa banyak berpengaruh ke
batik Lasem. Beda dengan batik Solo yang klasik, feodal, dan
ningrat.
Saya celingukan di dalam rumah besar itu. Tidak
tahu harus bertanya apa kepada siapa. Tiba-tiba suara keras memanggil nama saya.
Dari arah belakang. Saya amati siapa yang datang tergopoh-gopoh itu. Sepertinya
saya kenal: lupa namanya.
”Saya Rudy Hartono. Masak Pak Dahlan lupa,”
katanya.
Awalnya saya lupa. Sudah begitu lama tidak bersua.
”Oh, saya ingat. Anda pengurus barongsai kan? Kok ada di sini?” jawab
saya.
”Ini rumah saya, Pak. Rumah Merah ini sekarang saya
yang punya,” katanya. Wow.
”Anda orang Lasem?” tanya saya.
”Ya. Saya lahir di Lasem. Di rumah itu,” jawabnya
sambil menunjuk rumah lain. Yang bagian depannya dijadikan toko mebel dan
handphone.
Rumah lain itu menghadap ke Jalan Jatirogo. Di arah
seberang sate. Pantat rumah lain itu beradu dengan pantat Rumah Merah. Jadilah
rumah itu sambung-menyambung: satu pemilik, Rudy Hartono.
Tidak hanya dua rumah itu yang tersambung. Rumah
Merah yang di sebelah kanan Rumah Merah juga ia beli. Pun Rumah Merah satunya
lagi. Yang di kanannya lagi.
”Jadi, Anda membeli tiga rumah besar berjajar ini?”
tanya saya.
”Belinya bertahap. Saya kan bukan orang kaya,”
katanya.
Maka, jadilah tiga Rumah Merah di Jalan Karang Turi
itu menjadi satu kesatuan. Bagian belakangnya menyatu. Turis bisa masuk dari
rumah pertama. Bisa keluar di Karang Turi dari rumah ketiga.
Rumah yang di tengah dijadikan hotel. Sebanyak 18
kamar. Tanpa mengubah desain kamar aslinya.
Ia masih membeli satu rumah lagi. Di seberang Rumah
Merah itu. Untuk toko batik Lasem. Lalu, membeli satu kapling lagi di
sebelahnya: rumah yang sudah reot. Akan ia jadikan tempat parkir
turis.
Dulu saya sering bertemu Rudy Hartono. Saya
mengenalnya dengan nama Oei Sien Tjo. Ia ikut kejuaraan barongsai mewakili
Lasem. Di Surabaya. Dua kali. Ia ketua klub Tiongkok Kecil.
Waktu itu saya masih ketua umum barongsai
se-Indonesia. Saya baru berhenti tahun lalu. Setelah lebih 15 tahun di jabatan
itu.
Oei akrab dengan aktivis Barongsai Surabaya.
Setelah tamat SMA di Lasem, Oei kuliah di Surabaya. Di teknik sipil Universitas
Kristen Petra.
Setamat Petra, Oei bekerja di proyek Agung Auto
Mall Surabaya –sekarang dikenal sebagai Auto2000.
Saya tidak menyangka, Oei sudah begitu majunya.
Lebih salut lagi: ia begitu semangat membangun kampung
kelahirannya.
Ia merasa putra asli Lasem. Ayah, kakek, buyut,
canggahnya, semua lahir di Lasem. Pun generasi di atasnya lagi. Yang masih lahir
di Tiongkok adalah enam generasi terdahulu.
Oei sudah menjadi orang kaya. Tapi, bukan orang
yang kaya raya. Kecintaannya kepada Lasem yang membuat ia menanam uang di Lasem.
Yang secara bisnis tidak terlalu menghasilkan.
Kecuali kelak. Ketika Jalan Karang Turi sudah
dibangun dengan ciri khas yang kuat. Bukan sekadar diberi parit di pinggirnya
–dan aspal sejlirit di tengahnya.
Atau lebih kelak lagi: ketika sudah ada jalan tol
dari Semarang ke Kudus. Sambung ke Rembang. Sampai Surabaya.
Sementara ini Rudy hanya bisa banyak berharap.
Tapi, ia akan panjang umur –sabar menunggu harapan itu tiba: Lasem jadi pusat
wisata penting. Dengan sejarahnya, dengan batiknya, dengan keunikannya. Juga,
sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Indonesia –Gus Baha yang kini
terkenal sebagai ulama besar itu keturunan Lasem.
Di Lasem-lah ada peninggalan infrastruktur
penyelundupan candu di zaman itu. Yang lubangnya sampai ke sungai. Kini disebut
Lawang Ombo.
Juga, ada Monumen Perang Kuning. Ketika warga
Tionghoa dan Jawa bersatu melawan Belanda. Tahun 1700-an.
Ada pula kelenteng full dewa: Po An
Bio.
Begitu banyak bangunan peninggalan masa lalu. Besar
dan kecil. Termasuk sampai ke dalam gang-gang sempitnya.
Dari banyak kekayaan itu, baru sedikit yang
berhasil diselamatkan. Selebihnya masih seperti telantar.
Terlalu mahal bagi Pemda Rembang –salah satu
kabupaten termiskin di Jateng– untuk membangun keseluruhan Lasem.
Untungnya, Kementerian PUPR mulai turun tangan.
Terlalu sayang kalau Lasem telantar lebih lama lagi. (Dahlan Iskan)