AS-NATO MENYERAHLAH…! ; Media AS Bongkar Jaringan Rahasia Mata-Mata Amerika dan NATO Terlibat Perang Ukraina

0 views
Skip to first unread message

Chan CT

unread,
Jun 26, 2022, 8:18:58 PM6/26/22
to GELORA45_In

 

AS-NATO MENYERAHLAH…!
Pasukan Ditarik Mundur di Sievierodonetsk,
Ukraina Kibarkan Bendera Putih Kepada Rusia

JAKARTA – Ukraina nampaknya sudah mengibarkan bendera putih dalam perang melwan Rusia.

Hal itu ditandai dengan ditarik mundurnya pasukan Ukraina di Sievierodonetsk.

Bahkan Sekjen Nato menyebutkan bahwa perang akan diselesaikan di meja perundingan.

Sekjen North Atlantic Treaty Organization (NATO), Jens Stoltenberg menyatakan perang Rusia-Ukraina kemungkinan besar akan diselesaikan di meja perundingan.

Hal tersebut disampaikan Stoltenberg dalam wawancara kepada El Pais yang dirilis, Sabtu (25/6/2022).

Stoltenberg mengaku sekutu-sekutu NATO akan berupaya membuat Ukraina memiliki posisi tawar sekuat mungkin selama perang terjadi.

“Kemungkinan besar, perang (antara Rusia-Ukraina) ini akan berakhir di meja perundinga. Kami (NATO) bertanggung jawab untuk menyediakan Ukraina posisi sekuat mungkin dan membantunya tetap menjadi negara Eropa yang merdeka dan berdaulat,” kata Stoltenberg kepada El Pais via TASS.

Pernyataan Stoltenberg itu dirilis setelah pasukan Ukraina dilaporkan mundur dari Sievierodonetsk, kota yang menjadi medan pertempuran terpanas di kawasan Donbass belakangan ini.

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, pada Jumat (24/6/2022) kemarin, Kiev memerintahkan garnisun Sievierodonetsk untuk mundur mengindikasikan kemenangan pertempuran untuk pihak Rusia dan separatis Republik Rakyat Luhansk (LPR).

Menyusul jatuhnya Sievierodonetsk, Lysychansk menjadi satu-satunya daerah signifikan di Oblast (daerah setingkat provinsi) Luhansk yang masih dikuasai Ukraina.

Stoltenberg meyakini cara paling ampuh untuk menekan Rusia adalah terus mengirim bantuan militer ke Ukraina sekaligus memperkeras sanksi ekonomi terhadap Moskow.

“Cara terbaik untuk melakukannya (mendukung Ukraina) adalah menyediakan suatu bantuan militer dan ekonomi yang kuat (terhadap Ukraina) dan mempromosikan sanksi keras terhadap Rusia,” kata Stoltenberg.

Lebih lanjut, Stoltenberg mengesampingkan klaim Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bahwa Barat mengobarkan “perang total” lawan Moskow.

Pada akhir Mei lalu, Lavrov menuduh negara-negara Barat mendeklarasikan “perang total” karena sanksi yang meluas ke sektor ekonomi dan kebudayaan.

Jokowi ke Ukraina dan Rusia

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan bertolak ke Jerman pada Minggu (26/6/2022), untuk menghadiri KTT G7 di Elmau.

Dari Jerman, Jokowi akan menuju Ukraina dan Rusia untuk bertemu presiden kedua negara tersebut Volodymyr Zelensky dan Vladimir Putin.

Jokowi menjadi pemimpin Asia pertama yang mengunjungi wilayah konflik tersebut.

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, mengungkapkan kunjungan Jokowi adalah untuk menunjukkan kepedulian Indonesia terhadap krisis pangan yang diperburuk perang di Ukraina.

Jokowi, kata Retno Marsudi, juga mengatakan berupaya berkontribusi untuk terus mendorong spirit perdamaian antar kedua negara.

“Kunjungan Presiden menyoroti kepedulian (Indonesia) terhadap masalah kemanusiaan, mencoba berkontribusi untuk menyelesaikan krisis pangan akibat perang, serta dampaknya,” ungkapnya pada Rabu (22/6/2022), dikutip dari Kompas.com.

“Dampak perang dirasakan semua negara terutama negara berkembang dan berpendapatan rendah, Indonesia pun harus terus mendorong spirit perdamaian,” tambahnya.

Usai dari Ukraina dan Rusia, Jokowi akan langsung bertolak ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, untuk menindaklanjuti kerja sama di bidang ekonomi antar kedua negara.

Sementara itu media Rusia, TASS, menjelaskan Jokowi akan bertemu Vladimir Putin pada 30 Juni 2022.

Sumber dari Kremlin mengatakan kunjungan Jokowi ke Moskow akan menjadi “kunjungan yang sangat penting.”

“Ini akan menjadi kunjungan yang sangat penting. Kami sedang mempersiapkannya sekarang,” kata sumber itu.

“Presiden Joko Widodo akan mengunjungi Moskow pada 30 Juni.”

Indonesia adalah mitra penting, dengan Rusia telah mempertahankan hubungan politik dan ekonomi yang intensif, kata sumber Kremlin.

Tahun ini, Indonesia juga memegang jabatan kepresidenan Kelompok 20 bergilir dan akan menjadi tuan rumah KTT G20, tambahnya.

Putin telah diundang untuk berpartisipasi.

“Kami pasti akan pergi”, tetapi dalam format apa masih akan diputuskan nanti.

“KTT akan berlangsung pada 15-16 November, ada banyak waktu, kita lihat saja,” tandasnya. (Web Warouw)

 

MEMANG BIANGKEROK…!
Media AS Bongkar Jaringan Rahasia Mata-Mata Amerika
dan NATO Terlibat Perang Ukraina

JAKARTA – Sebuah jaringan rahasia mata-mata dan komando dari AS dan negara-negara sekutunya dilaporkan terlibat dalam perang di Ukraina. Mereka berusaha membantu Kiev, termasuk dengan memberikan intelijen.

Sementara itu, puluhan komando dari sejumlah negara NATO juga bekerja di wilayah Ukraina, demikian The New York Times (NYT) melaporkan pada akhir pekan ini, dengan mengutip para pejabat AS dan Eropa.

Menurut surat kabar itu, pasukan Ukraina begitu bergantung pada bantuan dari Amerika Serikat dan para sekutunya, termasuk jaringan komando dan mata-mata tersembunyi yang menyediakan persenjataan, intelijen, serta berbagai pelatihan. Media AS itu juga mengatakan, sebagian besar pekerjaan tersebut dilakukan di luar Ukraina, misalnya di pangkalan-pangkalan di Jerman, Prancis, dan Inggris.

NYT mengungkapkan, puluhan pasukan komando dari negara-negara NATO seperti Inggris, Prancis, Kanada, dan Lithuania juga bekerja di Ukraina.

Tak hanya itu, Badan Intelijen Pusat AS (CIA) secara diam-diam juga menggelar beberapa operasi di Ukraina, berbagi intelijen dari Washington DC. Padahal, pemerintahan Presiden Joe Biden sebelumnya mengklaim bahwa mereka tidak akan mengerahkan pasukan AS ke Ukraina.

Rusia meluncurkan operasi militer khusus di Ukraina sejak 24 Februari, setelah Republik Rakyat Donetsk dan Luhansk (DPR dan LPR) meminta bantuan untuk membela diri dari provokasi pasukan Kiev. DPR dan LPR adalah dua wilayah yang memisahkan diri dari Ukraina.

Rusia mengklaim, tujuan dari operasi khusus itu adalah untuk demiliterisasi dan “denazifikasi” Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, operasi itu juga untuk melindungi orang-orang yang menjadi sasaran “genosida” oleh rezim Kiev selama delapan tahun terakhir.

Kementerian Pertahanan Rusia sebelumnya juga menyatakan, selama berlangsungnya operasi tersebut hanya infrastruktur militer Ukraina yang akan menjadi sasaran.

Sejak awal konflik Ukraina, pihak Barat dan sekutunya telah memasok banyak persenjataan dan peralatan militer ke Kiev. Tak terkecuali Amerika Serikat dan Inggris, yang masing-masing telah menghabiskan sekitar 6,3 miliar dolar AS dan 2,5 miliar dolar AS untuk bantuan militer ke negara bekas Soviet itu.

Ditangkap Pasukan Rusia

Sementara itu kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Pasukan Ukraina yang menyerah dan ditahan tentara Rusia mengungkapkan kondisi mengejutkan, kekurangan makanan dan minuman, setelah mengalami pengepungan.

Pasukan yang ditawan di Gorskoye, wilayah Republik Lugansk mengatakan, sebelum menyerahkan diri, mereka ternyata dibiarkan tanpa komunikasi, makanan dan air minum.

“Mereka (komando militer Ukraina) meninggalkan kami tanpa komunikasi. Kami tidak dapat menghubungi batalion atau brigade. Radio padam. Kami tidak tahu di mana harus mengambil posisi dan apa tugas kami,” ujar seorang tahanan perang (POW) Ukraina dalam video yang dirilis Kementerian Pertahanan Rusia, seperti dikutip dari TASS 25 Juni.

“Kami berada benar-benar terputus, tidak ada makanan, tidak ada air, tidak ada komunikasi,” sambung tentara tersebut.

POW Ukraina lainnya mengatakan tidak ada jalan keluar lain selain meletakkan senjata mereka dan menyerah kepada Rusia.

“Kami berada dalam pengawasan penuh, tanpa melihat musuh. Jika kami tidak meletakkan senjata, kami sebenarnya akan tewas tanpa perlawanan. Keputusan dibuat untuk menyerah guna menjaga personel tetap hidup,” tutur tawanan tersebut.

Dia menambahkan, prajurit Ukraina segera diberi makan dan air minum setelah mereka menyerah.

POW Ukraina lainnya mengatakan, mereka telah dilemparkan ke dalam pertempuran tanpa pelatihan yang layak. Mereka diberi kesempatan untuk menembakkan 11 peluru dari senapan serbu sebanyak dua kali.

“Kami tidak memiliki pelatihan lagi,” salah satu dari mereka menekankan.

Diberitakan sebelumnya, juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Letnan Jenderal Igor Konashenkov mengatakan Hari Jumat, pasukan Rusia mengepung beberapa unit militer Ukraina, pasukan ‘Nazi’ sayap kanan (Batalion Azov) dan sekelompok tentara bayaran asing di sekitar wilayah Gorskoye dan Zolotoye di Republik Rakyat Lugansk.

Kelompok tempur Ukraina yang dikepung berjumlah sekitar 2.000 tentara berawak kurang dari 40 persen, pasokannya telah benar-benar dibekukan. Dalam 24 jam terakhir, 41 prajurit Ukraina meletakkan senjata dan menyerah, kata jenderal itu. (Web Warouw)

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages