
Pada hari Rabu pagi kemarin (13/7), Presiden
Tiongkok Xi Jinping melakukan kunjungan kerja ke Komunitas Guyuanxiang, Urumqi,
Daerah Otonom Uighur Xinjiang. Pada kesempatan itu, Xi Jinping berpesan kepada
pejabat agar mau turun ke bawah dan sedapat mungkin memenuhi permintaan
masyarakat ketika melakukan tugasnya.

Komunitas Guyuanxiang didirikan pada 2001. Kini di komunitas ini tercatat 1.750 kepala keluarga dengan populasinya 4.635 orang. Di antaranya 95 persen ke atas penghuni adalah warga etnis minoritas, dan oleh karena itu komunitas tersebut adalah sebuah tempat permukiman tipikal yang padat penduduk multi etnis. Komunitas Guyuanxiang adalah salah satu komunitas yang menyandang gelar teladan persatuan bangsa nasional.

Saat berkunjung ke komunitas tersebut, Xi Jinping mengutip sebuah metafora untuk menegaskan betapa pentingnya pekerjaan para kader komunitas, yang juga menunjukkan sebabnya dia turun ke bawah untuk memahami keadaan di komunitas penduduk.
Ia
mewanti-wanti agar pihak administrasi komunitas dengan sebaik-baiknya melakukan
tugasnya untuk melayani rakyat, agar massa rakyat berbagai etnis menempuh
kehidupan yang kian bahagia.

Xi Jinping pernah mengunjungi Xinjiang pada 8 tahun yang lalu. Pada perlawatan tersebut Xi Jinping mengatakan, adapun masalah Xinjiang, yang paling sulit dan yang paling menjangkau jauh adalah masalah persatuan antar etnis. Dalam seminar Komite Sentral PKT terkait pekerjaan Xinjiang pada September 2020, Xi Jinping menekankan perlunya terus memperkokoh persatuan antar etnis dengan bersandar pada kesadaran pembentukan komunitas senasib sepenanggungan bangsa Tionghoa.

Pada hari Rabu kemarin (13/7) Presiden Tiongkok
Xi Jinping melakukan inspeksi ke Museum Daerah Otonom Uighur Xinjiang. Dia telah
menyaksikan pertunjukan epik Manas dari etnis Kirgiz dan berbincang-bincang
hangat dengan para pewaris budaya tak benda Manas.

‘Manas’ bersama epik etnis Tibet ‘Raja Gesar’ dan epik etnis Mongol ‘Janggar’ dijuluki sebagai tiga epik Tiongkok yang terkemuka. Manas dan Gesar turut tercantum dalam daftar nama warisan budaya tak benda manusia di Konvensi tentang Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda UNESCO pada tahun 2009.

Xi
Jinping menunjukkan, warisan budaya seperti Manas tidak hanya menjadi harta
berharga bagi etnis minoritas tapi juga menjadi harta berharga bangsa Tionghoa,
hendaknya dilindungi, diwarisi dan dirawat dengan baik agar dapat
berkembang.

Museum Daerah Otonom Uighur Xinjiang dianggap sebagai galeri seni yang mengoleksi peninggalan sejarah dan budaya serta menunjukkan keunikan sejarah dan budaya Xinjiang. Dewasa ini, sebuah pameran bertajuk Pameran Peninggalan Sejarah Xinjiang sedang digelar di museum, pameran memamerkan 1.700 lebih barang peninggalan sejarah yang menunjukkan detail sejarah pertukaran dan asimilasi berbagai etnis bangsa Tionghoa, serta membuktikan bahwa Xinjiang adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah Tiongkok sejak zaman kuno.
Presiden Tiongkok Xi Jinping pada hari Kamis
kemarin (14/7) melakukan inspeksi ke kota Turpan, Daerah Otonom Uighur Xinjiang.
Ia telah menyaksikan pameran buah-buahan khas Turpan, mengenal perkembangan
industri khas anggur setempat dan keadaan perkembangan integrasi budaya dan
pariwisata setempat.
Kota Turpan merupakan kota sejarah dan budaya nasional yang pertama, dan dikenal sebagai ‘kampung halaman anggur’.
Tanah di lembah anggur sangat cocok untuk menanam anggur, sejauh ini, sudah tercatat lebih dari 100 jenis anggur seperti mare's milk sudah ditanam di situ. Warga setempat sepenuhnya mengandalkan keunggulan transportasi, budaya anggur dan adat kebudayaan, untuk sekuat tenaga mengembangkan industri pariwisata, hal ini secara tidak langsung telah menambahkan 3.000 lebih lowongan kerja.
Pada Hari Kamis sore (14/07) kemarin, Presiden
Tiongkok Xi Jinping mengunjungi kota Turpan untuk menginspeksi kota kuno Jiaohe
dan memahami keadaan pemeliharaan dan penggunaan peninggalan budaya.
Kota kuno Jiaohe terletak sejauh 10 kilometer di sebelah barat kota Turpan, total luasnya tercatat 37,6 hektar, sedangkan luas bangunannya tercatat 220 ribu meter persegi, kota kuno ini dikelilingi tebing terjal dengan ketinggian tertinggi mencapai 30 meter, merupakan kota arsitektur kuno yang terpelihara paling baik, paling awet dan berskala terbesar di dunia.
Kota kuno Jiaohe terletak di lalu lintas utama Jalur Sutra, dan di tempat ini, telah terjadi pertukaran berbagai macam kebudayaan. Kota kuno Jiaohe memperlihatkan kebangkitan dan kemerosotan peradaban Turban di masa kuno, pola pemerintahan perbatasan pada dinasti Tang, kebudayaan kota sepanjang Jalur Sutra, teknologi arsitektur, serat pertukaran dan penyebaran agama Buddha dan kebudayaan berbagai etnis mempunyai nilai yang tinggi di bidang politik, kebudayaan, sejarah dan kesenian.