You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to GELORA45_In
Kolom Resesi Seks dan Pertumbuhan Ekonomi China Beta
Perkasa - detikNews Selasa,
13 Sep 2022 13:05 WIB Foto:
Internet/ebcitizen.com
Jakarta
- Proyeksi
ekonomi China di masa depan terancam dengan kecenderungan anak muda yang tidak
mau menikah. Pada Oktober 2021, situs Insider mempublikasikan survei yang
dilakukan oleh sayap muda Partai Komunis China yang menunjukkan sekitar 44%
wanita muda di negeri itu enggan untuk memasuki jenjang pernikahan. Sementara
proporsi lebih kecil ditunjukkan responden laki-laki yang hanya 25%. Survei
dilakukan terhadap 2.905 anak muda yang belum menikah dan tinggal di perkotaan
dengan rentang usia 18-26 tahun.
Gejala
resesi seks sudah menjadi fenomena umum di kalangan kaum muda China. Kondisi ini
diperparah dengan hantaman pandemi Covid-19. Resesi ekonomi pada masa pandemi
memperparah resesi seks di China. Dikutip dari The Hindu, Biro Statistik China
pada 17 Januari 2022 melaporkan bahwa tingkat kelahiran di China pada 2021 hanya
7,52 per 1000 orang. Angka ini terendah sejak 1949, ketika Biro Statistik China
mulai mengumpulkan data jumlah penduduk. Sementara itu, pertumbuhan penduduk
alami pada 2021 hanya 0,034%, terendah sejak 1960. Tekanan ekonomi selama
pandemi membuat pasangan semakin enggan untuk memiliki anak.
Untuk
mengatasi resesi seks, sebenarnya pemerintah China pada Mei tahun lalu sudah
membolehkan setiap keluarga untuk memiliki tiga anak. Kebijakan ini untuk
mendorong pertumbuhan penduduk China. Kebijakan satu anak (one child policy)
pada 1979, membuat pertumbuhan penduduk China terus menurun yang berdampak pada
penurunan tingkat konsumsi dan pelemahan pertumbuhan ekonomi.
Pada
tahun 1950-an, sejumlah negara di Asia yang baru merdeka dihantui dengan jumlah
populasi yang besar. Untuk mendorong program pembangunan dan meningkatkan
kesejahteraan, pengendalian jumlah penduduk menjadi keniscayaan. Pada tahun
1950-an sebenarnya China sudah memperkenalkan program keluarga berencana (family
planning). Saat itu jumlah penduduk China sudah sekitar 540 juta
orang.
Pada
tahun 1960-an, fertility rate di China masih cukup tinggi yaitu sekitar 6,15.
Fertility rate atau tingkat kesuburan adalah jumlah rata-rata anak yang
dilahirkan oleh setiap perempuan pada masa reproduksi. Dapat disimpulkan, saat
itu rata-rata jumlah anak dalam satu keluarga adalah 6-7 anak.. Untuk menurunkan
jumlah penduduk, pemerintah China membuat kampanye "satu terlalu sedikit, dua
cukup baik, tiga terlalu banyak".
Program
pengendalian penduduk dilanjutkan pada 1971 dengan lebih tegas yaitu kebijakan
"dua anak". Program ini cukup berhasil menurunkan fertility rate, dari 5,4 pada
awal program berjalan menjadi 2,94 pada 1978. Namun, jumlah ini dirasa masih
cukup tinggi. Pasalnya, sejak 1974, jumlah penduduk China sudah mencapai sekitar
900 juta orang. Besarnya jumlah populasi yang tidak terkendali akan menambah
beban ekonomi dan menurunkan tingkat kesejahteraan.
Akhirnya,
kebijakan cukup ekstrem diambil pemerintah yaitu Kebijakan Satu Anak (one child
policy). Kebijakan ini diterapkan bagi pegawai pemerintah, penduduk, dan pekerja
di perkotaan. Kemudian diterapkan juga di pedesaan. Untuk mendukung kebijakan
ini, pemerintah memberi insentif finansial berupa uang cuti hamil hingga tiga
tahun awal dan kenaikan gaji 5-10%. Bagi pasangan yang hanya memiliki satu anak
juga diberi kemudahan dalam akses pendidikan, kesehatan, dan
perumahan.
Pasangan
yang ingin menambah anak harus dengan sejumlah persyaratan dan mendapat izin
dari pemerintah. Kebijakan satu anak ini diterapkan hanya untuk etnis Han, etnis
terbesar di daratan China. Penerapan kebijakan ini tidak diberlakukan bagi etnis
minoritas lantaran untuk menghindari konflik.
Bagi
pasangan yang memiliki dua anak akan mendapat sanksi sosial dan ekonomi seperti
denda, kesulitan dalam pembuatan akte kelahiran, dan hambatan karier jika
bekerja di lembaga pemerintah. Selain itu, pelanggaran kebijakan ini membuat
pasangan yang memiliki dua anak akan kesulitan mendapat bantuan pemerintah di
bidang kesehatan, perumahan, serta pendidikan. Kebijakan ini cukup mendapat
perhatian internasional lantaran disertai dengan sejumlah kontroversi seperti
tingkat aborsi dan sterilisasi yang tinggi (Settles dan Sheng, 2008).
Untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat, penerapan kebijakan satu anak diiringi dengan
liberalisasi di bidang ekonomi. Paduan kebijakan pengendalian penduduk dengan
liberalisasi ekonomi sangat jitu untuk menjadikan China raksasa ekonomi dunia.
Dalam 37 tahun selama periode 1979 hingga 2015, China mencetak rekor rata-rata
pertumbuhan ekonomi per tahun sebesar 9,69%. Dalam periode tersebut, hanya 3
tahun pertumbuhan ekonomi di bawah 7% yaitu pada tahun 1981, 1989 dan 1990.
Selebihnya selalu di atas 7%. Pendapatan per kapita melonjak sekitar 4.311% dari
sekitar 183,98 dollar AS menjadi 8.117,26 dollar AS.
Pendapatan
per kapita tidak sebatas menunjukkan kekuatan ekonom,i namun sebagai salah satu
indikator kesejahteraan penduduk suatu negara. Keberhasilan menggenjot
pendapatan per kapita harus dengan pengendalian jumlah penduduk sebagai faktor
pembagi pendapatan nasional. China sangat berhasil menekan jumlah penduduk.
Sejak 1992 fertility rate hanya 1,9 hingga mencapai angka terendah 1,5 pada
1999. Data terakhir dari Bank Dunia, fertility rate China pada 2020 hanya
sebesar 1,7. Sementara, pertumbuhan penduduk China sejak 1999 selalu di bawah
1%. Pada 2020, pertumbuhan penduduk hanya 0,3%.
Namun
di sisi lain, kebijakan satu anak banyak menyisakan persoalan sosial dan
ekonomi. Kini satu keluarga harus menopang empat orang tua tanpa bantuan saudara
kandung. Pasangan yang sudah renta di desa juga tidak ada yang merawat lantaran
satu anak mereka sebagian besar merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. China
juga mulai memasuki aging population. Pada 1979, jumlah penduduk berusia 65
tahun dan lebih hanya sekitar 4,5% dari total penduduk. Pada 2020, angka ini
mencapai 11,9%.
Sementara
usia produktif yaitu 15-64 tahun terus menurun. Pada 2010, kelompok usia
produktif 73,26% dari populasi, angka ini semakin rendah menjadi 70,32% pada
2020. Di sisi lain jumlah pengangguran meningkat. Sejak 1981 hingga 2001, angka
pengangguran selalu di bawah 4%. Sejak 2002, angka pengangguran sekitar 4%
hingga 2020.
Pertumbuhan
ekonomi juga sudah kurang moncer lagi. Pelemahan ekonomi di China sebenarnya
sudah terjadi sejak 2011-2012. Saat itu pertumbuhan ekonomi merosot dari 9,5%
menjadi 7,8%. Namun, dampak lebih kuat terasa pada tahun 2016 saat pertumbuhan
kian merosot ke angka 6%. Setelah itu pertumbuhan ekonomi China sulit untuk
pulih lagi.
Pertumbuhan
ekonomi yang terus menurun ditambah tingkat pengangguran yang semakin meningkat
membuat konsumsi domestik loyo. Kondisi ini mendesak China untuk merubah
strategi ekonomi. Sebelumnya, China sangat ambisius untuk menggenjot ekspor
untuk menguasai pasar internasional kini lebih memperkuat konsumsi
domestik.
Peningkatan
jumlah populasi diharapkan bisa memperkuat konsumsi domestik dan menggenjot
pertumbuhan ekonomi China. Kebijakan meningkatkan jumlah anak untuk mengatasi
resesi seks memang tidak instan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dalam
jangka pendek. Selain itu, dibutuhkan dukungan kebijakan dari sektor lain untuk
menata pola demografi agar kondusif bagi perkembangan ekonomi dalam jangka
panjang.