Permintaan Maaf Belanda dan Peluang Dekolonisasi Kebudayaan Islam Indonesia

7 views
Skip to first unread message

j.gedearka

unread,
Mar 26, 2022, 6:03:10 PM3/26/22
to gelor...@googlegroups.com, Sahala Silalahi



https://mediaindonesia.com/opini/480925/permintaan-maaf-belanda-dan-peluang-dekolonisasi-kebudayaan-islam-indonesia



Sabtu 26 Maret 2022, 05:05 WIB

Permintaan Maaf Belanda dan Peluang Dekolonisasi Kebudayaan Islam Indonesia

Adrian Perkasa Sekretaris PCINU Belanda, Mahasiswa Doktoral Universiteit Leiden Belanda, Staf Pengajar Departemen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga | Opini

  Permintaan Maaf Belanda dan Peluang Dekolonisasi Kebudayaan Islam Indonesia MI/Seno BELAKANGAN ini, perhatian publik Indonesia ataupun Belanda terhadap sejarah masa penjajahan atau masa kolonial bisa dibilang sedang meningkat. Di Indonesia, permintaan maaf Belanda melalui Perdana Menteri Mark Rutte atas kekerasan brutal yang dilakukan tentara Belanda pada 1945-1949 hangat diperbincangkan, baik di media massa maupun media sosial. Banyak respons, khususnya dari kalangan sejarawan, guru, dan para peminat sejarah terhadap isu tersebut. Pihak pemerintah Republik Indonesia tidak ingin terlalu terburu-buru memberikan tanggapan resminya. Di sisi Belanda, permintaan maaf Rutte itu merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian yang dilakukan beberapa lembaga riset atas fenomena kekerasan yang terjadi selama periode revolusi kemerdekaan Indonesia. Riset itu hanya merupakan sebagian kecil saja dari meningkatnya perhatian publik Belanda terhadap masa lalunya yang kelam sebagai negeri penjajah. Sebelumnya, beberapa buku terkait dengan periode revolusi banyak beredar di Belanda dan yang paling terpopuler ialah buku karya David van Reybrouck dengan judul yang sama, yakni Revolusi. Bidang kebudayaan Tidak hanya masa revolusi, pemerintah Belanda juga menyoroti perihal masalah warisan kolonialisme, khususnya di bidang kebudayaan. Seperti yang jamak diketahui bahwa terdapat berbagai peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang masih tersimpan di berbagai tempat di negeri Belanda. Peninggalan itu sangat beragam, mulai manuskrip, kitab, hingga artefak yang mencerminkan karya budaya Nusantara. Di masa penjajahan, terdapat banyak sekali karya budaya dari negeri jajahan yang dibawa ke Eropa. Berbagai macam jalan benda-benda itu sampai ke negeri ini, mulai mengambilnya langsung dari situs tempatnya berasal karena dianggap tidak lagi difungsikan sebagaimana mestinya hingga sebagai jarahan atau rampasan perang ketika rezim Belanda berupaya memperluas teritorinya. Situasi ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai wilayah jajahan Belanda lainnya, seperti di Suriname dan Kepulauan Karibia. Isu kepemilikan objek warisan budaya ke negeri asalnya, rupanya telah menjadi perhatian besar di negara-negara Eropa. Pada akhir 2017, Presiden Prancis telah memulai inisiasi di bidang tersebut dengan membentuk suatu komisi yang bertugas untuk membuat rekomendasi kebijakan bagi pemerintahnya. Tak lama setelahnya, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda membentuk komisi serupa hingga menghasilkan rekomendasi bahwa pemerintah Belanda bertanggung jawab mengembalikan objek warisan budaya yang diambil dari bekas koloninya apabila terdapat permintaan dari negara tersebut. Menyusul rekomendasi itu, baru-baru ini suatu tim peneliti kembali merilis hasil publikasinya tentang riset provenance/asal-usul objek warisan budaya yang ada di Belanda. Di dalam riset yang juga melibatkan tim peneliti dari Srilanka dan Indonesia itu, mereka secara konkret membahas berbagai permasalahan seputar sejarah dari beberapa objek budaya hingga kemungkinan pengembalian ke negara asalnya. Salah satu poin penting dalam riset ini ialah bagaimana pengetahuan terkait dengan asal-usul suatu objek warisan budaya yang diambil pada masa penjajahan bisa membuka ruang yang belum pernah diteroka sebelumnya, dalam menangani berbagai persoalan di masa lalu, termasuk ketidakadilan yang dilakukan terhadap kelompok tertentu. Poin itu penting apabila dikaitkan dengan permintaan maaf yang dilakukan pihak Belanda sebelumnya. Meski belum ada sikap resmi dari pemerintah, permohonan maaf dari Belanda itu merupakan kesempatan, khususnya bagi umat Islam di Indonesia, untuk lebih terlibat aktif dalam upaya dekolonisasi. Sebagaimana yang telah diteliti dalam studi-studi poskolonial, kemerdekaan politik sebuah bangsa tidak secara otomatis membebaskannya dari nilai-nilai kolonialis yang masih bercokol di berbagai bidang, dari sosial, ekonomi, hingga kebudayaan. Kondisi itu sesungguhnya telah diantisipasi para pendiri bangsa kita. Bung Karno menegaskan sebagai bangsa merdeka, Indonesia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam ekonomi, berdaulat dalam politik, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Minim representasi Dalam bidang kebudayaan, bisa dibilang posisi umat Islam masih terpinggirkan dalam arus utama dekolonisasi. Bagaimana tidak, berbagai hal yang diproduksi pada era kolonialisme terus-menerus direproduksi pada masa setelah kemerdekaan. Bahkan, terus berlangsung hingga hari ini, termasuk ketidakadilan dalam representasi Indonesia sebagai bangsa dengan pemeluk Islam terbesar di dunia. Marieke Bloembergen (2017), dalam kajiannya memberikan suatu ilustrasi umat Islam di Nusantara masih amat minim representasi dalam berbagai ruang-ruang kebudayaan, seperti museum, galeri, dan pameran sejenisnya sebagaimana terjadi di masa kolonial. Absennya Islam bisa dilihat dalam berbagai tampilan Nusantara yang kala itu bernama Hindia-Belanda, baik di Pameran Kolonial (Colonial Exhibition) maupun Pameran Dunia (World Expo). Kondisi serupa juga terjadi pasca-Indonesia merdeka, bahkan hingga saat ini. Dalam ruang pamer Indonesia yang ada di Museum Etnografi atau Volkenkunde, Leiden Belanda, artefak yang dipamerkan didominasi peninggalan masa Klasik, yakni unsur Hindu dan Buddha sangat kuat. Alih-alih mengetengahkan keberadaan komunitas muslim Indonesia, justru arca-arca pantheon Hindu dari kompleks Candi Singasari mendapat sorotan utama. Kondisi serupa tidak hanya terdapat di museum-museum yang ada di negeri Belanda. Di seberang benua, seperti di Inggris dan Amerika Serikat, dominasi pengaruh India jauh lebih kuat merepresentasikan Indonesia daripada warisan budaya Islam. Akibat dominannya pandangan seperti itu, bisa dilihat bagaimana hingga hari ini Indonesia, yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, justru absen atau minim representasi dalam khazanah pameran dunia Islam secara umum baik di museum-museum Eropa, Amerika, bahkan museum atau galeri terkemuka yang ada di Timur Tengah. Kegelisahan terhadap kondisi tersebut sesungguhnya juga telah muncul di berbagai kalangan di Indonesia. Terdapat berbagai inisiatif baik yang dilakukan lembaga pendidikan, intelektual, ataupun budayawan untuk berpartisipasi dalam upaya dekolonisasi kebudayaan sejak awal Indonesia merdeka. Dalam perkembangannya, bisa dilihat muncul beberapa institusi maupun figur-figur terkemuka yang kontribusinya tidak bisa diremehkan dalam wacana kebudayaan dewasa ini. Masalahnya kemudian, sering kali upaya dekolonisasi itu semata-mata melihat kondisi kolonialisme dalam perspektif oposisi biner antara yang terjajah dan yang dijajah. Padahal, sebagaimana diingatkan Frederik Cooper (2005), dalam melakukan interogasi atas kolonialisme, perspektif binarian hitam-putih hanya mengulang narasi-narasi sejarah yang telah lama dipakai. Terbukti bahwa narasi sejarah semacam ini tidak membawa kita atau masyarakat yang dulu terjajah pada posisi yang setara dengan bekas penjajahnya. Alih-alih membuat pihak yang dulunya objek menjadi subjek, yang kerap terjadi ialah pembacaan masa lalu yang ahistoris. Misalnya, menjadikan tokoh-tokoh yang dulunya dianggap sebagai musuh atau pengkhianat bagi bangsa penjajah sebagai pahlawan bagi bangsa yang telah merdeka. Atau, misalnya, dengan mencoba mencari wacana yang dianggap murni dari bangsa bumiputra sebagai antitesis dari wacana kolonial. Sebagai suatu ilustrasi, misalnya, upaya membentuk narasi tandingan atas wacana Islam Jawa yang dianggap merupakan warisan rezim akademik kolonial. Banyak di antara intelektual muslim Indonesia yang mencoba menggali berbagai khazanah budaya tulis maupun lisan yang dianggap murni berasal dari bangsa bumiputra atau dalam hal ini Jawa. Hal itu tentu saja merupakan upaya yang patut dihargai karena telah menyadari betapa pentingnya karya-karya itu, sebelumnya hanya dianggap tradisi lokal yang tidak memiliki makna signifikan atau kurang berarti dalam rekonstruksi ilmu pengetahuan modern. Sayangnya, apa yang dianggap asli, murni, atau bahkan arkaik oleh para intelektual ini, juga tak lepas dari hasil interaksi bangsa Jawa sendiri dengan bangsa Eropa pada mas
a kolonial. Upaya yang telah dilakukan itu tidak berarti salah, tetapi kurang memadai untuk menjawab persoalan-persoalan dekolonisasi secara utuh. Konsekuensi dari pembacaan masa lalu yang ahistoris itu, mencerminkan pendekatan apolitis terhadap fenomena yang terjadi pada era kontemporer. Sering kali kita, termasuk penulis artikel ini, mencoba merekonstruksi wacana kebudayaan Islam di Nusantara dengan mengabaikan apa yang terjadi di masa kolonial itu sendiri. Seakan-akan semua wacana kebudayaan yang diproduksi pada masa kolonial ialah murni produk Barat, tanpa sentuhan atau kontribusi dari bangsa kita. Harus lebih strategis Di titik inilah kita mengalami semacam ‘rabun dekat’ terhadap kondisi kolonial, yakni kita mengabaikan peran bangsa kita dalam proses produksi wacana kebudayaan di masanya. Rabun seperti ini membuat kita gagap untuk memahami berbagai wacana, struktur, hingga pranata terkait dengan keislaman hari ini, yang sesungguhnya merupakan hasil dari campur tangan para pendahulu kita. Sebagai contoh kecil, eksistensi Kementerian Agama yang jejaknya bisa dilacak pada masa kolonial sebagai Kantor untuk Urusan Bumiputra, atau pada masa Pendudukan Jepang sebagai Kantor Urusan Agama. Maka, alih-alih berkontribusi pada perubahan wacana ataupun representasi Islam di tingkat dunia, sering kali kita belum menyadari betapa banyaknya pekerjaan rumah terkait dengan dekolonisasi di lingkungan kita. Umat Islam di Indonesia kali ini harus lebih strategis dalam mengambil kesempatan setelah permintaan maaf yang dilakukan Belanda. Seperti juga yang disampaikan dalam berbagai rekomendasi kebudayaan bagi pemerintah Belanda, keterlibatan kelompok-kelompok terjajah pada masa kolonial, merupakan syarat mutlak bagi penelitian ataupun kerja sama kebudayaan di masa yang akan datang. Berkaca pada pendahulu, sebelumnya bangsa Indonesia melalui Komite Hijaz pernah berkontribusi besar dalam wacana kebudayaan dunia, yakni dengan menyelamatkan warisan budaya Islam dari ancaman penghancuran rezim Wahabi yang baru berkuasa di Mekah dan Madinah. Tentu, semangat komite itu harus diikuti generasi Islam Indonesia hari ini, khususnya dalam upaya dekolonisasi di segala bidang, termasuk di bidang kebudayaan. Kesempatan telah terbuka lebar, pertanyaannya sekarang, sudah siapkah kita?   TAGS: # Opini

Sumber: https://mediaindonesia.com/opini/480925/permintaan-maaf-belanda-dan-peluang-dekolonisasi-kebudayaan-islam-indonesia





Sunny ambon

unread,
Mar 27, 2022, 7:45:02 AM3/27/22
to j.gedearka, GELORA45, Sahala Silalahi
Kalau Belanda bisa meminta maaf perbuatan kolonialnya mengapa negara Indonesia yang selalu berkaok  berpancasila dan berpedoman pada agama suci tidak mau meminta maaf kepada rakyat yang waktu singkat menghabiskan sekian ratusan ribu nyawa mereka??

--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220326230305.977773d6daea9cfceab04c11%40upcmail.nl.

BILLY GUNADIE

unread,
Mar 27, 2022, 11:20:10 AM3/27/22
to ilmes...@gmail.com, j.gedearka, GELORA45, Sahala Silalahi
Pejabat neo majapahit...itu belajar dari penjajah ..menjajah Indonesia Timur...sumber Alam, kebudayaan ..
Dan otak yang Korup itu selalu telat...





On Sun., Mar. 27, 2022 at 7:45 a.m., Sunny ambon
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.

Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.

BILLY GUNADIE

unread,
Mar 27, 2022, 6:10:50 PM3/27/22
to ilmes...@gmail.com, j.gedearka, GELORA45, Sahala Silalahi
*PARA UNTOUCHABLE*
------------------
Ada cafe di kawasan Selatan Jakarta. Enggak jauh dari kawasan rumah pejabat tinggi negara. Dari luar tidak keliatan merek cafe. Ini tadinya rumah mewah yang diubah jadi cafe. Pemiliknya salah satu menteri Jokowi. Ruangan dalam rumah itu tidak diubah. Hanya fungsinya berubah. Kamar jadi meeting room. Ruang keluarga dan tamu jadi lounge. Teras bagian antara bangunan utama dan paviliun jadi tempat smoking room.

Tamu yang datang, hanya orang tertentu saja. Siapa tamunya? Hampir semua pejabat tinggi negara, seperti ketua DPR, MPR, DPR, MA, MK, BPK, Menteri dan lain lain yang doyan nongkrong di sini. Tempat mangkal direksi BUMN, ring satu Presiden, dubes asing. LSM, Elite ormas. Umumnya tamu datang atas undangan dari temannya sendiri.

Nah yang menarik…

Kalau anda ingin lihat betapa akrabnya mereka itu sama lain. Di TV keliatan mereka berseteru. Tetapi di cafe itu mereka sambil hisap cigar tertawa lepas. Lihat Rocky tertawa dalam canda dengan Ardian bareng Fahri Hamzah, Fadli zon, Ade Rosade. Liat Mas Sandi bicara santai dengan elite partai. Lihat keakraban elite partai PKS dan PDIP. Liat keakraban gubernur dengan para menteri dan anggota DPR.

Diatas panggung mereka berdrama saling bermusuhan. Tapi dalam kehidupan personal mereka sangat akrab dan saling berbagi tawa.
 “Nih yang bikin heboh minyak goreng di DPR.” kata salah satu orang menunjuk kepada yang lain 
“Lue tega amat teriak teriak di DPR” kata yang lain yang juga menteri.
“Gimana udah pantas gua dapat piala Oscar. “ Katanya. Yang lain ketawa.
“Minyak goreng selesai ganti dengan pawang hujan. “ kata yang lain. “ Cepat amat berlalu dramanya.”

Saya senyum kecut dengar mereka. Tahukah mereka, akibat ulah mereka rakyat terpolarisasi. Saling baku hantam di sosmed. Kadrun dan cebong terbentuk. Sementara mereka merasa tidak berdosa melihat rakyat kebingungan. Saya cepat sudahi minum kopi dan pulang. Mending nongkrong tempat lain saja.

Re-write  : *Erizeli Jely Bandaro*
---------
Keberanian Babo ber-testimoni ini cukup beresiko. Saya percaya itu nyata, pada skala kecil di lain tempat, saya juga pernah "nguping" mereka asik yang ghibah. 

Di situlah semua diatur sebelum "action". Siapa yang naik dan siapa yang sudah waktunya turun. Disitulah tempat negosiasi calon pimpinan parpol. Saya juga percaya sesungguhnya negara ini milik tak lebih dari 500 orang. Inilah negeri opera yang masih terpelihara dengan sistemik, dimana jutaan nasib rakyat "diatur" hingga jadi bahan obrolan.
Sambil ngopi.... Ya, sambil menghisap rokok.

Saya simpulkan saja : Gus Dur, BTP, Jokowi pada akhirnya hasil produk rekayasa mereka. Orang-orang baik dipaksa berkorban melindungi orang jahat. Selangkah saja melawan, bisa habis diinjaknya. Gus Dur dan BTP pernah mengambil resiko itu, dan Jokowi yang tetap bertahan dengan "compang-camping" di akhir masa jabatannya.

Noted :
Share seluas luasnya, meskipun tidak mampu berbuat apa-apa, setidaknya paham apa yang terjadi tidak sebatas "kulitnya"

_Dahono Prasetyo_
_Depok 25/3/2022_
On Sun., Mar. 27, 2022 at 11:20 a.m., BILLY GUNADIE
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages