Menkeu Sri Mulyani jelaskan tiga tantangan pemulihan ekonomi global
Skip to first unread message
Chan CT
unread,
Oct 30, 2021, 8:29:18 PM10/30/21
Reply to author
Sign in to reply to author
Forward
Sign in to forward
Delete
You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to GELORA45_In
Menkeu Sri Mulyani jelaskan
tiga tantangan pemulihan ekonomi global
Minggu, 31 Oktober 2021 06:41
WIB
Keterangan Pers
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Roma, Italia, Sabtu (30/10/2021).
ANTARA/HO-Biro Pers Sekretariat Presiden/Muchlis
Jr.
Jakarta (ANTARA) -
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan pemulihan ekonomi
global akibat pandemi COVID-19 di seluruh dunia saat ini tengah terjadi meski
tidak merata, salah satunya karena akses vaksin yang tidak merata di seluruh
dunia.
"Ada
negara-negara yang sampai hari ini bahkan jumlah vaksinasinya dari penduduknya
kurang dari 3 persen, di negara-negara Afrika. Rata-rata yang di negara-negara
miskin baru 6 persen dari penduduknya, sementara negara-negara maju sudah
melakukan vaksinasi di atas 70 persen atau bahkan mendekati 100 persen dan
mereka sudah melakukanboosting," kata Sri Mulyani dalam
keterangannya di Hotel Splendide Royal, Roma, Italia, Sabtu (30/10), seusai
mendampingi Presiden Joko Widodo dalam KTT G20 di La Nuvola.
Selain akses
vaksin yang tidak merata, kata dia, pemulihan ekonomi dunia juga terancam oleh
dua hal lain, yaitu terjadinya inflasi kenaikan energi dan disrupsi dari
suplai.
Menurut Menkeu Sri Mulyani, hal tersebut terjadi
di seluruh negara yang pemulihan ekonominya sangat cepat meski mengalami
komplikasi dalam bentuk kenaikan harga energi dan disrupsi suplai.
"Artinya apa?
Waktu permintaan pulih dengan cepat dan kuat, ternyata suplainya tidak
mengikuti," kata Sri Mulyani
Lebih lanjut, Menkeu menjelaskan bahwa kenaikan
energi yang terjadi sangat cepat karena investasi di bidang energi, terutama
yang non-renewableitu
sudah merosot tajam dihadapkan pada permintaan energi yang melonjak akibat
pemulihan ekonomi. Hal tersebut mendorong inflasi yang tinggi di berbagai
negara.
"Ini menjadi ancaman pemulihan ekonomi global.
Indonesia perlu juga tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya rembesan hal
tersebut," kata Sri Mulyani.
Karena Covid ini adalah ancaman nyata terhadap
perekonomian dunia, lanjut Menkeu, di dalam pembahasan antara menteri keuangan
dan menteri kesehatan negara-negara G20 disepakati untuk membangun membangun
sebuah mekanisme yang disebut pencegahan pandemi (pandemic preparedness).
"Hari ini
dunia tidak siap menghadapi pandemi. Nyatanya (pandemi) telah menyebabkan biaya
sampai 12 triliun dolar AS, 5 juta orang meninggal, dan lebih dari 250 juta
orang yang terkena pandemi ini. Maka, dunia harus menyiapkan lebih baik," ujar
Sri Mulyani.
Dalam KTT G20 kali ini disepakati akan
adajoint finance health
task force atau satuan kerja antara menteri keuangan dan menteri kesehatan
di bawah G20 yang tujuannya adalah untuk menyiapkan prevention, preparedness,
and response (PPR) dari pandemi.
Task
forcetersebut akan dipimpin oleh Menteri Keuangan
Indonesia dan Italia.
"Indonesia sebagai tuan rumah atau presidensi
mulai Desember dan Italia yang sekarang ini menjadi presidensi. Tentu peran
Indonesia menjadi penting karena Indonesia adalah negara yang besar dan kita
juga punya komitmen terhadap vaksinasi kita," kata Menkeu.