Bunuh Diri Sebagai Aksi Protes ( I )
Banyak cara digunakan massa rakyat untuk memanifestasikan perlawanan dan protes terhadap ketidak-adilan sosial, penghisapan, penindasan dan kesewenang-wenangan kelas pemegang kekuasaan anti-rakyat. Misalnya, turun ke jalan berdemonstrasi, mengadakan rapat-rapat umum, pemogokan, mogok makan dengan konsekwensi berat bagi kesehatan bahkan kematian. Dan yang paling menuntut keberanian adalah aksi bunuh diri.
Sikap orang terhadap berbagai manifestasi perlawanan dan protes ini tergantung kepada keberpihakannya. Mereka yang berpihak kepada yang berkuasa selalu mengejek, mencemooh dan mengecilkan arti penting dari protes-protes itu. Contohnya, anjing budukan revisionis Siauw Tiong Tjing (STT) menginter-pretasi seruan Wiji Tukul “Hanya ada satu kata …lawan “ dan poster “Saya Pejuang” di desa Wadas sebagai provokasi, tidak manusiawi, bahkan aksi bunuh diri. Dan saya, yang mempostingkan perlawanan petani Wadas, dia anggap “tidak punya otak”.
Saya belajar kepada orang-orang yang sudah membuktikan dirinya dalam prak-tek sebagai orang revolusioner sejati. Sidik Kertapati, penulis “Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 1945” menilai tinggi pemberontakan tani di Indramayu, 23 Oktober 1943 dan pemberontakan tani desa Sukamanah, Singaparna, 14 Febru ari 1944. Dengan parang, golok, dan arit, mereka menyerbu dan membunuh para penguasa Jepang. Pemberontakan itu mudah dipatahkan karena bersifat spontan, tanpa pimpinan dan aliansi yang tepat. Namun S. Kertapati sama seka li tidak mencemooh, apalagi menyalahkan atau melempar fitnah “provokator”, “tidak manusiawi” atau “bunuh diri”. Itulah bedanya orang revolusioner de-ngan pengkhianat remo seperti STT dalam menyikapi perlawanan rakyat terha- dap ketidak adilan dan kesewenang-wenangan para penguasa.
11 Juni 1963, Thich Quang Duc, seorang biksu buddha Vietnam membakar diri-nya sampai mati di satu persimpangan jalan yang ramai di Saigon, untuk mem-protes persekusi pemerintahan reaksioner dan korup Ngo Dinh Diem terhadap para penganut Budhisme.
Terdapat banyak faktor yang membawa seseorang melakukan bunuh diri. Pe-ngalaman traumatik, depresi serius dan penyakit mental biasa ditunjuk sebagai faktor pendorong bunuh diri. Namun kenyataan menunjukkan bunuh diri juga dilakukan untuk mengekspresikan kemarahan dan protes keras terhadap keti-dak adilan, penindasan, dan persekusi kelas penguasa.
Foxconn adalah sebuah multinasional Taiwan, pemasok kontrak elektronik yang beroperasi di Tiongkok. Beberapa sumber, antara lain BBC, Maret 2012, menyatakan Fosconn merupakan perusahaan swasta terbesar di Tiongkok yang mempekerjakan 1.4 juta buruh.
Sepanjang tahun 2010, 18 buruh Foxconn, berusia dari 17 sampai 25 tahun, melakukan aksi bunuh diri. 14 orang meninggal, 4 orang menderita luka-luka yang menyebabkan mereka lumpuh. Aksi bunuh diri ini merupakan sesuatu yang tak pernah terjadi dalam sejarah industri Tiongkok.

Buruh Foxconn protes kondisi kerja tak berperikemanusiaan dengan loncat dari gedung pabrik
Aneh, di zaman sosialisnya MTT yang selalu diejek oleh anjing budukan remo STT, tidak ada aksi bunuh diri buruh. Tampaknya salah satu “keunggulan” “sosialisme kakek Deng Xiaoping adalah lahirnya aksi bunuh diri sebagai protes terhadap ketidak adilan dan penghisapan di Tiongkok.
Salah satu dari empat buruh yang gagal bunuh diri adalah Tian Yu. Ia lahir pada tahun 1993, dari keluarga petani, di sebuah desa dekat kota Laohekou, di provinsi Hubei, Tiongkok tengah. Ia dibesarkan neneknya, karena ibu bapaknya bekerja sebagai buruh pabrik jauh dari desa mereka. Mereka terpaksa jadi buruh karena kehidupan sebagai petani tidak bisa lagi menghidupi 6 anggota keluar-ganya.
Tian Yu termasuk dalam 61 juta anak-anak kaum tani Tiongkok yang harus dikorbankan demi pembangunan megaproyek infrastruktur, perumahan dan mall-mall mewah yang mendorong pertumbuhan ekonomi dua digit yang sa-ngat dibanggakan kaum revisionis serta anjing-anjing jaganya. Namun, sesuai dengan prediksi, gelembung real estate meletus, kebangkrutan korporasi Evergrand menyeret korporasi property estate lainnya dan perusahaan supplier gu-lung tikar. Akibatnya buruh juga yang harus menanggung hilang pekerjaan.
17 Maret, 2010, kira-kira jam 8 pagi, setelah bekerja 37 hari di Fosconn, Tian Yu lompat dari tingkat empat asrama buruh di Shenzhen. Tiga tulang belakang, empat tulang pinggul patah yang menyebabkan dia lumpuh dari pinggang ke bawah. Pabrik Longhua adalah tempat kerja pertamanya dan mungkin juga yang terachir.
Tahun 1980, Shenzhen merupakan daerah ekonomi khusus pertama yang dibuka untuk penanaman modal asing. Sejak 1988, Foxconn membangun banyak pa brik di Tiongkok selatan.
Kondisi kehidupan dan kerja di pabrik Foxconn.
Di pusat perekrutan Foxconn, Tian Yu antri sepanjang pagi, mengisi formulir aplikasi pekerjaan; sebuah alat pembaca elektronik mengambil sidik jarinya; kartu penduduknya discan, dan periksa darah.
8 Februari, 2010, ia mulai bekerja sebagai buruh di jalur perakitan umum, dengan nomer F9347140. Sore hari itu ia diberi penjelasan tentang peraturan dan jam kerja yang berlaku di pabrik. Dia juga mendapat ‘Pedoman pegawai Foxconn”, penuh dengan semboyan untuk meningkatkan moral pegawai, misalnya “Segera songsong impian terindah Anda, raih kehidupan yang luar biasa. Di Foxconn, Anda dapat memperluas pengetahuan dan mengumpulkan pengalaman. Mimpi Anda berkembang dari sini hingga besok”.
Instruktur yang memberi orientasi kepada buruh bercerita tentang pengusaha Steve Jobs dan Bill Gates untuk menginspirasi buruh baru. Foxconn menyebar angan-angan menjadi kaya melalui kerja, dan kepercayaan bahwa sukses bisa dicapai melalui kerja yang rajin.
Pabrik Longhua merupakan basis manufaktur utama Foxconn. Buruh kerja siang dan malam. Ini adalah mata rantai pokok dalam jaringan produksi global. Perakitan dan pengiriman produk jadi ke konsumen dunia berlangsung 24 jam sehari, 365 hari setahun. Truk kontainer dan mesin pengangkat barang bergemuruh non-stop, melayani jaringan pabrik yang menghasilkan iPhone, iPad dan produk elektronik lainnya. Yu menjadi bagian dari 400.000 tenaga kerja Foxconn Longhua, yang sebagian besar, seperti dia, adalah buruh migran muda dari pedesaan, remaja berusia belasan hingga dua puluhan.
Jalur perakitannya ada di iDPBG (Ingrated Digital Product Business Group). Ia ti-ba terlambat pada hari pertama kerjanya karena tersesat di pabrik yang begitu besar. Waktu habis hanya untuk menemukan lokakarya iDPBG. Terdapat se-puluh zone dari A sampai H, J, dan L, yang dibagi lagi menjadi A1, A2, A3, L6, L7, J20, dan seterusnya. Dibutuhkan hampir satu jam untuk berjalan dari pintu gerbang utama selatan ke pintu gerbang utama utara, dan satu jam lagi dari pintu gerbang barat ke pintu gerbang timur. Anak tani berumur 17 tahun, pertama kali masuk pabrik, tidak mengerti akronim bahasa Inggris yang tertulis di mana-mana. Tian Yu bertanggung jawab menginspeksi layar kaca untuk meli-hat apakah ada goresan.
Jadwal Tian Yu: bangun jam 6:30 a.m, menghadiri rapat yang tak dbayar jam 7:20 , mulai kerja jam 7:40, makan siang jam 11, dan biasanya ia lewatkan makan malam untuk kerja lembur sampai jam 19:40 p.m. Harus lapor kepada kepala jalur 15 hingga 20 menit lebih pagi. Para kepala jalur menguliahi buruh untuk mempertahankan produktivitas tinggi, mencapai target produksi harian dan menjaga disiplin. Tian Yu merasa tak dimungkinkan menolak kerja lembur.
Selama jam kerja, pergi ke WCpun sangat dibatasi. Jalur perakitan bekerja 24 jam non-stop. Kerja 12 jam sehari, satu hari libur tiap dua minggu, tidak memungkinkan buruh menggunakan kolam renang atau jalan-jalan di daerah per-tokoan di kompleks yang luar biasa besarnya itu.
Terdapat 12 grup bisnis di Foxconn. Di antaranya, iDPBG (Grup Bisnis Produk Digital terpadu) dan iDSBG (Grup Bisnis Sistem Digital inovasi) yang secara eks-klusif melayani Apple 87 dalam pembuatan komponen dan perakitan akhir. Grup bisnis lainnya menyesuaikan produksi untuk Microsoft, IBM, Samsung, Amazon, HP, Dell, Sony, dan merek-merek premium lainnya. Mereka bersaing dalam 'kecepatan, kualitas, layanan teknik, efisiensi, dan nilai tambah' untuk memaksimalkan laba.
Model produksi di Foxconn didasarkan pada Taylorisme klasik. Proses produksi disederhanakan begitu ekstrimnya sehingga buruh tidak membutuhkan penge-tahuan khusus atau pelatihan untuk melakukan sebagian besar tugasnya. Teknisi dari departemen teknik industri secara teratur menggunakan stopwatch dan perangkat teknik terkomputerisasi untuk menguji buruh. Kalau mereka dapat memenuhi quota yang ditentukan, segera mereka tingkatkan target semaksimal mungkin.
Di jalur perakitan iPhone, seorang buruh menjelaskan bagaimana kerjanya diukur sampai detik yang tepat: ambil papan induk dari jalur, pindai logo, memasukkannya ke dalam tas anti-statis, label ditempel, meletakkan kembali di jalur. Tiap tugas membutuhkan waktu dua detik. Jadi tiap sepuluh detik dia selesai-kan lima tugas.
Ketika produksi naik, masalah serius akan timbul jika buruh tidak dapat memenuhi order dalam waktu yang sudah ditentukan. Di beberapa departemen di mana buruh biasanya mengambil istirahat 10 menit, mereka yang gagal meme-nuhi target produksi per jam tidak diizinkan beristirahat. Buruh baru, seperti Yu, berulang kali ditegur karena dianggap bekerja 'terlalu lambat', meskipun ia berusaha keras untuk mengikuti kecepatan kerja 'standar'. Yu tidak mengerti mengapa kepala jalur sering menyalahkan dia, padahal tidak ada kesalahan dalam pekerjaannya.
Disiplin dan Hukuman
Tembok pabrik dihiasi slogan dan kutipan prinsip kerja yang dianut Terry Gou, CEO Foxconn, seperti “perkembangan berarti penderitaan”; “kondisi keras adalah sesuatu yang baik”. Gou mendasarkan managementnya pada pengalaman militernya dan menekankan kepatuhan absolut dari atas ke bawah.
Di area pabrik, kamera CCTV dipasang hampir di mana-mana untuk mengawasi buruh dan semua yang terjadi. Ribuan petugas keamanan berpatroli di setiap gedung pabrik dan asrama. Akses ke semua gedung, departemen dan bengkel sangat ketat. Buruh harus melewati beberapa lapis pintu elektronik dan sistem inspeksi. Buruh tidak boleh membawa telpon genggam atau benda logam apa pun ke dalam bengkel. Jika ada knop atau kancing logam di pakaian, petugas keamanan akan memotongnya.
Hampir tidak ada hubungan sosial antara buruh. Percakapan dengan rekan kerja di lokakarya dilarang. Orang selalu dalam keadaan terburu-buru, bergegas antri makan siang dan makanpun dilakukan dengan cepat.
Teknik industri Foxconn bertujuan membuat semua operasi, hingga gerakan terkecil, yang dilakukan buruh, menjadi lebih rasional, terencana, dan terukur. Setiap buruh jalur perakitan mengkhususkan diri dalam satu tugas tertentu dan melakukan gerak berulang-ulang, dengan kecepatan tinggi, tiap jam, tiap hari, dan selama berbulan-bulan. Sistem produksi 'canggih' ini menghilangkan pera-saan senang dan puas akan hasil pekerjaan.
Saat ada seorang buruh yang dianggap bersalah dan karena itu harus dihukum, seluruh buruh di jalur itu, bisa lebih dari 100 buruh, tidak boleh meninggalkan tempat kerjanya. Buruh yang dianggap melakukan kesalahan dipaksa berdiri selama berjam-jam atau menerima penghinaan publik. Misalnya, dia harus membacakan pernyataan “otokritik”nya berkali-kali, dengan suara keras supa-ya orang yang diujung lokakarya pun dapat mendengarnya dengan jelas. Mere-ka yang ada diujung akan ditanya apa otokritiknya itu terdengar. Tak peduli air mata buruh mengalir karena merasa begitu terhina.
Hubungan sosial di Foxconn
Kebijakan Fosconn dalam mengatur jam kerja dan kehidupan buruh dibuat se-demikian rupa sehingga tidak memungkinkan terjalinnya hubungan sosial atau persahabatan antara sesama buruh. Rotasi jam kerja terus menerus membuat buruh tidak bisa istirahat dengan baik. Dan juga tidak memungkinan mereka memupuk persahabatan dan usaha saling membantu. Teman-teman sekamar diberi jam kerja yang berlainan sehingga jam istirahatnyapun berbeda. Perpin-dahan kamar juga dilakukan. Baru kenal sebentar dengan teman sekamar, di-pindah ke kamar lain dengan teman-teman baru.
Foxconn menaruh perhatian pada asal daerah buruh. Meskipun orang diharap-kan dapat berbahasa mandarin, namun di daerah orang menggunakan bahasa lokal atau dialek. Persamaan daerah asal memudahkan persahabatan. Justru inilah yang tidak diinginkan Foxconn. Oleh karena itu jarang sekali buruh yang berasal dari daerah yang sama ditempatkan dalam satu kamar.
Akibatnya buruh merasa terisolasi, tidak punya teman untuk curhat atau minta bantuan ketika ia membutuhkannya.
Sent from Mail for Windows
Saya belajar kepada orang-orang yang sudah membuktikan dirinya dalam prak-tek sebagai orang revolusioner sejati. Sidik Kertapati, penulis “Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 1945” menilai tinggi pemberontakan tani di Indramayu, 23 Oktober 1943 dan pemberontakan tani desa Sukamanah, Singaparna, 14 Febru ari 1944. Dengan parang, golok, dan arit, mereka menyerbu dan membunuh para penguasa Jepang. Pemberontakan itu mudah dipatahkan karena bersifat spontan, tanpa pimpinan dan aliansi yang tepat. Namun S. Kertapati sama seka li tidak mencemooh, apalagi menyalahkan atau melempar fitnah “provokator”, “tidak manusiawi” atau “bunuh diri”. Itulah bedanya orang revolusioner de-ngan pengkhianat remo seperti STT dalam menyikapi perlawanan rakyat terha- dap ketidak adilan dan kesewenang-wenangan para penguasa.
. Dan saya, yang mempostingkan perlawanan petani Wadas, dia anggap “tidak punya otak”.
Ha…ha.. ngatain orang TIDAK BISA MENANGKAP TULISAN ORANG LAIN DAN MEMUTAR BALIK… Untuk KESEKIAN KALIANYA JUSTRU DIRINYA SENDIRI YANG DIA BELEJETI SEBAGAI ORANG YANG TIDAK PUNYA OTAK… Kalimat di atas apa tidak jelas orang yang dia katain tidak punya otak adalah nenek yang sangat dia benci karena sudah bertahun-tahun memperlihatkan pengkhianatan dan pengabdian abspolut bagaikan anjing budukan piaraan kakek Deng Xiaoping????
Tunjukkan di mana dan kapan saya mengaku diri saya atau pasang merek M-L dan Maois???Yang selalu saya katakan adalah saya berusaha menerapkan MDH dan ajaran Mao. Justru dirinya sendiri yang petantang petenteng pasang merek ML dan menuntut pulang untuk bangun basis dan melakukan perang rakyat!!!
Siapa yang menyalahkan Sidik Kertapati? Nah, keliahtan lagi otaknya yang sdh bulukan tidak bias mengerti tulisan orang. Justru saya angkat S. Kertapati yang tahu menghargai perlawanan kaum tani walaupun itu perlawanan yang spontan dan tidak dipimpin dan beralinasi dengan tepat. Begitulah seharusnya orang YANG BUKAN REVISIONIS DAN BUKAN KONTREV dalam menilai perlawanan kaum tani dan penduduk desa Wadas dan seruan Wiji Tukul. Si anjing budukan remo STT, justru karena memang reaksioner, maka mencap poster dan seruan Wiji tukul sebagai tidak manusiawi, etc.
Si anjing budukan mengajukan contoh perjuangan tani yang sudah dipimpin Mao, YA JELAS BEDA SEKALI DENGAN PERJUANGAN TANI YANG MASIH BELUM DIPIMPIN OLEH TEORI REVOLUSIONER!!! Justru anjing budukan remo STT ini yang tidak punya otak karena mengharapkan perjuangan tani Wadas seperti perjuangan tani yang SUDAH DIPIMPIN OLEH TEORI REVOLUSIONER…SEHINGGA DAPAT MENETUKAN STRATEGI DAN TAKTIK PERJUANGAN!!!!Mana bisa disamakan???? Tapi, orang yang bukan reaksioner dan bukan remo, walaupun perjuangan tani itu bersifat spontan, akan selalu mendukung perjuangan tani . Di situlah contoh S. Kertapati yang mengangkat perlawanan tani yang dengan mudah dikalahkan karena spontan. Dia sama sekali tidak mencemooh atau melemparkan macam-macam cap yang menghina. Gobloknya anjing budukan makin kelihatan..Ya namanya juga anjing yang sudah 13 tahun hidup dan diambang kemampusan!!!
Sekarang saya dicap “menghasut bunuh diri”. Ha…ha.. semakin “kaya” saya dengan cap-cap yang digonggongkan anjing budukan ini. Yang saya beberkan adalah KENYATAAN DAN PRAKTEK bagaimana orang menggunakan bunuh diri sebagai expresi dari protes dan perlawanan… Karena memang sudah nggak punya otak, maka tulisan yang menceritakan kenyataan itu lantas dicap “menghasut bunuh diri”. Ha…ha.. dasar anjing budukan!
Anjing budukan ini tdiak pernah mengakui akan kekejaman penghisapan brutal yang diderita kaum buruh migran. Orang yang BUKAN REAKSIONER DAN BUKAN REMO, JUSTRU AKAN MELIHAT AKSI PROTES BURUH FOXCONN MEMBUKTIKAN BETAPA KEJAMNYA SISTIM KERJA DAN KEHIDUPAN BURUH SEHINGGA MEREKA TIDAK MELIHAT JALAN LAIN UNTUK MEMPROTES DAN MELAWAN KEKEJAMAN KECUALI DENGAN BUNUH DIRI!!!OLEH KARENA ITU BURUH YANG SUDAH SADAR SEPERTI BURUH JASIC, MENUNTUT KEBEBASAN MEMBENTUK SERIKAT BURUH INDEPENDEN!!! TAPI APA JAWABAN REZIM KAPITALIS, PENCULIKAN DAN PENJARA!!!
Penangkapan dan pemenjaraan terjadi juga dengan MENGZHU, buruh delivery yang berusaha mengorganisasi teman sesama buruh untuk membela hak-haknya… APA JAWABAN REZIM XI JING PING? PENANGKAPAN DAN PENJARA!!
Masih kurang jelas?? Pasti masih belum jelas bagi anjing budukan STT! Jawab dan lempar lagi cap-cap, biar tambah gamblang kelihatan “otak” anjing budukan yang sedang sekarat!!

ent from Mail for Windows
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/F51840BA32074383A2837529E2F1A16E%40A10Live.