SINAR HARAPAN - LEMBAGA Kerja Sama Ekonomi dan Sosial Budaya Indonesia-Tiongkok (LIT) menyelenggarakan diskusi yang mengangkat tema "Perkembangan Terakhir Hubungan Ekonomi, Sosial Budaya Indonesia-Tiongkok" di kantor Lembaga Indonesia Tiongkok, Jakarta Pusat pada Selasa 22 Maret 2022.
Perbincangan ini menghadirkan Duta Besar RI untuk Republik Rakyat Tiongkok Djauhari Oratmangun, Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani, Ketua Lembaga Kerjasama Ekonomi Sosial Budaya Indonesia-Tiongkok Sudrajat, serta mantan duta besar RI untuk Tiongkok Sugeng Rahardjo.
Hadir pula Penasehat Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Handaka Santosa, Perwakilan dari PERPIT Alek Sulistiyo, beserta para pengurus Lembaga Kerjasama Ekonomi Sosial Budaya Indonesia-Tiongkok (LIT).
Baca Juga: Perlambatan Ekonomi China Bisa Mengancam RI
China diprediksi mampu menggandakan ukuran ekonominya pada tahun 2035. Dengan perkembangan ekonominya saat ini, China diproyeksi melampaui AS sebagai ekonomi terbesar di dunia.
“Pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2021 sekitar 8 sampai 8,5 persen, ini adalah angka pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia saat ini, khususnya di masa pandemi,” ujar Djauhari Oratmangun dalam presentasinya saat memaparkan hubungan bilateral Indonesia dan China.
Manufaktur, jasa, dan pertanian adalah tiga penyumbang terbesar sektor ekonomi Tiongkok. Ketiga sektor ini mempekerjakan mayoritas penduduk China dan memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB.
Baca Juga: China Tetap Jalin Kerja Sama Dagang dengan Rusia
Penduduk China saat ini mencapai 1,448 miliar jiwa dan menjadi mesin raksasa, baik untuk perekonomian China sendiri maupun Indonesia sebagai mitra dagangnya. Saat ini China juga menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia dari sisi GDP.
“China menguasai global supply chain dan menjadi salah satu mitra dagang paling strategis yang dimiliki Indonesia,” jelas Djauhari lagi. Perdagangan antara ASEAN dan China telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2010, dari USD235,5 miliar menjadi USD 507,9 miliar pada 2019, mencakup 18 persen dari total transaksi perdagangan ASEAN.
Ukuran ini hampir empat kali lipat sejak berlakunya Perjanjian Perdagangan Barang ASEAN-China pada tahun 2005. “Saat ini ASEAN menjadi mitra dagang utama China. Per tahun ASEAN dan China memiliki transaksi mencapai 750 miliar USD (atau sekitar Rp10.672 triliun) melampaui jumlah perdagangan EU dan kawasan lainnya,” katanya.
Baca Juga: PM China Li Keqiang Konfirmasi Tahun Terakhir Menjabat
China juga menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di dunia dan bertransformasi menjadi masyarakat cashless payment. Saat ini China malah sudah memiliki ‘digital currency’ yang menjadi pilot project di beberapa tempat.
Akselerasi ekonomi China didukung oleh kebijakan ekonominya yang tak pernah berhenti dan membawa negara ini semakin berpengaruh dalam tatanan regional maupun global.
“Hal inilah yang membuat mereka bisa ‘leapfrogging’. Kontribusi ekonomi digital China terhadap GDP sudah 32 persen. Indonesia sudah sekitar 3 persen,” papar Djauhari.
Baca Juga: China Ajak RI Tingkatkan Penggunaan Mata Uang Lokal
'Leapfrogging' yang berasal dari kata 'leapfrog' menggambarkan China yang melewati tahapan pembangunan dan perkembangan ekonomi dengan jalur tradisional.
Sehingga, China mampu melompat langsung ke perkembangan ekonomi yang masif menggunakan teknologi terbaru. Atau, menjelajahi ‘jalur alternatif’ pengembangan teknologi melibatkan teknologi baru dengan manfaat serta peluang baru.
Lalu, bisakah Indonesia menyusul China? Mampukah RI mengikuti China untuk dengan proyeksi perekonomian saat ini?
Baca Juga: AS Peringatkan Perusahaan China Jika Siasati Sanksi Ekspor Rusia
Djauhari mengatakan ini bukan hal yang mustahil—Indonesia bahkan sudah ke arah yang benar. Indonesia dan China sejak tahun 2013 sudah menjalin status comprehensive strategic partner (CSP).
CSP seperti dikutip dari ISEAS menekankan pada comprehensive atau ‘komprehensif’ yaitu kerja sama semua dimensi, luas, dan berlapis-lapis. ‘Strategic’ atau strategis berarti hubungan jangka panjang dan stabil yang melampaui perbedaan ideologi dan sistem sosial.
Partnership atau ‘kemitraan’ atau kerja sama yang setara serta saling menguntungkan. Seperti dilansir dari ISEAS, saat ini di ASEAN, China menjalin CSP hanya bersama 3 negara ASEAN yaitu Indonesia, Kamboja, dan Malaysia.
Baca Juga: Impor China Disetop, Industri Batam Kesulitan Bahan Baku
“Indonesia diprediksi pada tahun 2025, transaksinya akan mencapai USD150 miliar, dengan angka itu kontribusi transaksi digital di Indonesia sudah mencapai sekitar 10 persen di GDP," katanya.
Jika sudah mencapai angka segitu, Indonesia sudah bisa ‘leapfrogging’ kata Djauhari. Karena sebenarnya China ‘leapfrogging’ sejak 20 tahun lalu. Salah satunya adalah ekonomi digital melalui Huawei, Alibaba, Tencent, dan lainnya.***

