Xi Jinping: Genggam Erat Nasib di Tangan Sendiri
Presiden Xi Jinping menghadiri upacara pembukaan konferensi tahunan
Forum Asia Bo’ao 2022 secara virtual pada Kamis pagi ini (21/4) dan menyampaikan
pidato pentingnya.
Xi
Jinping menekankan bahwa perdamaian dan kestabilan regional bukan berkat dari
Tuhan dan bukan pemberian dari negara mana pun, melainkan hasil upaya bersama
negara-negara regional. Saat ini, Lima Prinsip Hidup Berdampingan secara Damai
dan Semangat Bandung yang diprakarsai oleh negara-negara Asia semakin
menunjukkan makna nyatanya.
Semua pihak hendaknya berpegang pada prinsip-prinsip saling
menghormati, sama derajat dan saling menguntungkan, hidup berdampingan secara
damai, menerapkan kebijakan bersahabat rukun tetangga, menggenggam erat nasib
dalam tangan sendiri.
Xi Jinping menekankan, menggantikan zero sum game dengan
dialog dan kerja sama, menggantikan ketertutupan dan pengasingan dengan
keterbukaan dan sikap inklusif, menggantikan hegemoni dengan pertukaran dan
saling belajar, adalah pikiran dan pandangan Asia yang selayaknya.
Baik negara besar maupun kecil, baik di dalam maupun di luar
kawasan, seharusnya memperindah Asia dan bukannya mengacaukannya, hendaknya
bersama menempuh jalan pembangunan yang damai, bersama-sama menyusun rencana
kerja sama dan menang bersama, membangun keluarga Asia yang bersolidaritas dan
maju bersama.
Xi Jinping menekankan bahwa setiap unilateralisme dan egoisme
ekstrem pada dasarnya tidak dapat dijalankan di dunia masa kini, semua tindakan
pelepasan keterkaitan, pemutusan pasokan, dan penekanan ekstrem pada dasarnya
tidak benar, sedangkan berbagai tindakan yang membuat lingkaran kecil dan
memprovokasi konfrontasi dengan garis ideologis juga tidak benar.
Semua pihak harus melaksanakan pandangan tata kelola global
yang berdiskusi bersama, membangun bersama dan menikmati bersama, mengembangkan
nilai bersama umat manusia, memprakarsai pertukaran dan pembelajaran bersama
peradaban yang berbeda.
Hendaknya menjunjung multilateralisme sejati, dengan teguh
memelihara sistem internasional dengan PBB sebagai intinya, dan ketertiban
internasional yang berdasarkan pada hukum internasional. Khususnya negara besar,
harus memberi contoh, memprakarsai kesetaraan, kerja sama, kredibilitas dan
aturan hukum, menunjukkan citra sebagai sebuah negara
besar.