Christianto Wibisono (CW): Sabar
Pak, Presiden langsung menindak tegas. Hari Senin 16 November Kapolda Metro dan
Kapolda Jabar dicopot karena tidak tegas menghadapi massa di Petamburan tempat
hajat HRS yang mengklaim sebagai Imam besar turunan Nabi Muhamad. Soal politik
model ISIS ini kan dunia juga mesti hati-hati, wong Presiden Macron saja juga
harus hati-hati karena bisa diplintir jadi “perang agama kiamat sedunia”.
Bung Karno (BK): Saya dari atas
Nirwana sini merasa kagum dengan keberanian Nikita Mirzani yang membuktikan iman
setara Maria Magdalena dalam kisah Injil, meski formalnya Nikita Muslimat dengan
ibadah sedekah konkret menyumbang zakat untuk guru honorer di Sulawesi Rp2,5
miliar.
Baru beberapa hari lalu Museum
Tionghoa Tangerang membahas acara “kweepang” meruwat anak yang berpenyakitan
dengan ganti nama dan diangkat anak olehkerabat atau teman. Seperti saya dulu
nama awal asli Kusno jadi Sukarno.
Nama kadang-kadang memang bisa tidak
cocok memberatkan maka harus disesuaikan. Nah dalam hal Nikita ini saya Cuma
bertelepati denegan Algoritma Big Data.
Dia lahir 1986 jadi jauh dari
lengsernya Nikita Khruschev, pria PM Uni Soviet pengganti diktator Stalin yang
wafat 1953. Khruschev bertahap meniadi pimpinan kolektif sejak 1953 dan
baru pada 1958 konsolidasi menjadi PM sampai 1964. Ia yang melewati masa
konfrontasi AS Uni Soviet dengan menempatkan rudal di Kuba pada 8 Oktober 1962.
Maka terjadilah ancaman kiamat nuklir dunia ketika Kennedy mengultimatum Uni
Soviet untuk segera membongkar rudal yang dipasang ditarik kembali ke Uni
Soviet. Khruschev bersedia membongkar rudal di Kuba dengan imbalan AS
memindahkan rudalnya dari Turki ke Junani.
CW: Apa relevansi krisis rudal zaman
Kennedy Khruschev dengan duel Nikita-Rizieq Pak?
BK: Nikita pria lahir
15 April 1894, jadi Sekretaris I Partai Komunis Uni Soviet pada 14
Septembr 1953, sebagai primus inter pares dari troika pengganti Stalin yang
wafat 5 Maret 1953. Kemudian secara bertahap ia jadi Sekjen PKUS dan PM
sejak 14 Septmber 1953 sampai 14 Oktober 1964. Pada periode itulah Krhuschev
membongkar kekejaman rezim totaliter Uni Soviet dengan istilah De Stalinisasi.
Ini akan membuat hubungan Partai Komunis Uni Soviet tegang dengan Partai Komunis
Tiongkok yang mengecam politik Khruschev sebagai revisionism.
BACA JUGA