
SINARHARAPAN--Politisi
Rusia secara
serempak merayakan kejatuhan Boris
Johnson pada
Kamis, menyebut pemimpin Inggris itu sebagai "badut dungu" yang akhirnya
merasakan akibat karena mempersenjatai Ukraina melawan Rusia.
Johnson, tokoh
kampanye Brexit 2016 yang meraih kemenangan elektoral gemilang pada 2019 sebelum
memimpin Inggris keluar dari Uni Eropa, mengumumkan pengunduran diri pada Kamis
setelah dia ditinggalkan oleh para menteri dan sebagian besar anggota parlemen
Konservatif karena serangkaian skandal.
Kremlin menyatakan bahwa mereka juga tidak
menyukai Johnson.
"Dia tidak menyukai kami, kami juga tidak
menyukai dia," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov sesaat sebelum Johnson
berdiri di Downing Street untuk mengumumkan pengunduran dirinya.
Dalam
pidatonya, Johnson mengumumkan bahwa dia mengundurkan diri sebagai pemimpin
Partai Konservatif tetapi berencana untuk tetap sebagai perdana menteri sampai
penggantinya dipilih.
Johnson juga menyampaikan pesan kepada rakyat
Ukraina, berjanji bahwa Inggris akan "terus mendukung perjuangan mereka sampai
kapan pun".
Para pemimpin Rusia sangat tidak menyukai
Johnson, yang baru-baru ini mengatakan kepada rekan-rekannya bahwa dia ingin
tetap berkuasa lebih lama daripada Margaret Thatcher - musuh abadi mantan Uni
Soviet yang menjabat sebagai perdana menteri Inggris dari 1979 hingga 1990.
Taipan Rusia
Oleg Deripaska mengatakan di Telegram bahwa itu adalah "akhir yang memalukan"
untuk "badut bodoh" yang akan dikutuk oleh "puluhan ribu nyawa dalam konflik
tidak masuk akal di Ukraina ini".
"Badut itu telah pergi," kata Vyacheslav Volodin,
ketua majelis rendah parlemen Rusia.
"Dia adalah salah satu tokoh utama perang melawan
Rusia. Para pemimpin Eropa harus memikirkan ke mana arah kebijakan yang
diambil."
Bahkan sebelum Presiden Vladimir Putin
memerintahkan invasi 24 Februari, Johnson telah berulang kali mengkritik Putin -
menyebutnya sebagai kepala Kremlin yang kejam dan mungkin tidak rasional yang
membahayakan dunia dengan ambisi gila.
Setelah invasi, Johnson menjadikan Inggris
sebagai salah satu pendukung Ukraina terbesar di Barat, mengirimkan senjata,
menjatuhkan beberapa sanksi paling berat dalam sejarah modern terhadap Rusia dan
mendesak Ukraina untuk mengalahkan angkatan bersenjata Rusia yang kuat.
Dia telah dua
kali melakukan perjalanan ke Kiev untuk bertemu dengan Presiden Ukraina
Volodymyr Zelenskyy.
Maria Zakharova, juru bicara utama di kementerian
luar negeri Rusia, mengatakan kejatuhan Johnson adalah gejala kemunduran Barat,
yang menurutnya terbelah oleh krisis politik, ideologis dan ekonomi.
"Moral cerita
dari pesan ini adalah: jangan berusaha untuk menghancurkan Rusia," kata
Zakharova. "Rusia tidak dapat dihancurkan. Anda hanya akan mematahkan gigi Anda
sendiri - dan kemudian tersedak."
Dukungan Johnson terhadap Ukraina begitu kuat
sehingga dia dikenal sebagai "Borys Johnsoniuk" oleh beberapa orang di Kiev. Dia
terkadang mengakhiri pidatonya dengan "Slava Ukraini" - atau "Kemenangan untuk
Ukraina".
Rusia berulang kali menganggapnya sebagai badut
yang kurang siap yang mencoba bertarung jauh melampaui kemampuan Inggris yang
sebenarnya.
Zakharova dengan nada gembira menggambarkan
Johnson sebagai penulis mengenai kejatuhannya sendiri.
"Boris
Johnson terkena bumerang yang diluncurkan oleh dirinya
sendiri," katanya. "Rekan-rekan seperjuangannya telah
meninggalkannya."
Sumber: Antara