Banjir dan Kesalahan Berpikir

9 views
Skip to first unread message

j.gedearka

unread,
Feb 8, 2021, 11:47:38 AM2/8/21
to gelor...@googlegroups.com, Sahala Silalahi


--
j.gedearka <j.ged...@upcmail.nl>




https://news.detik.com/kolom/d-5365825/banjir-dan-kesalahan-berpikir?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom Kang Hasan


Banjir dan Kesalahan Berpikir


Hasanudin Abdurakhman - detikNews

Senin, 08 Feb 2021 14:12 WIB
0 komentar
SHARE
URL telah disalin
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Musim hujan nyaris identik dengan banjir di negeri kita. Berita soal banjir memenuhi ruang pemberitaan media massa. Banjir datang silih berganti ke berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Tanggapan penghuni kota, ya biasa saja. Kalau hujan, kan memang pasti banjir. Para pemimpin juga begitu cara berpikirnya. Banjir karena cuaca ekstrim, itu jadi kalimat populer sekarang.

Banjir sering kali terjadi oleh sebab-sebab yang sederhana. Di sebuah kota pemerintah membangun jalan beraspal. Air hujan yang tadinya diserap oleh permukaan tanah, kini tak lagi bisa diserap, karena permukaan aspal yang rapat. Kalau pakai logika sederhana, harus dihitung volume air yang tak terserap karena adanya aspal tadi, dan dibuatkan saluran sebesar volume tersebut, agar air bisa mengalir. Faktanya, sering terjadi di berbagai tempat, orang hanya membangun jalan tanpa saluran air.

Tentu saja ini tidak hanya soal jalan. Kawasan pemukiman, tadinya adalah lahan terbuka dengan pepohonan. Air hujan dulu jatuh ke permukaan tanah, perlahan meresap ke dalam tanah, menjadi air tanah. Sebagian mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Alirannya perlahan, ditahan oleh akar pepohonan. Ketika lahan itu berubah jadi kawasan pemukiman, tak ada lagi penahan air, dan air tak bisa meresap ke permukaan tanah.

Air hujan semua mengalir di atas permukaan yang tidak bisa menyerap air, berkumpul membentuk genangan, dan mencari saluran untuk mengalir menuju ke titik paling rendah. Masalahnya persis seperti soal jalan tadi, tak tersedia saluran yang memadai. Terjadilah genangan tinggi yang kita sebut banjir.

Banjir sering terjadi akibat akumulasi hal-hal konyol yang dilakukan oleh pelaku pembangunan, baik perorangan yang melakukannya secara kolektif, maupun oleh pemerintah yang melakukannya secara terstruktur. Ringkasnya, pembangunan dilakukan dengan mengabaikan logika sederhana. Artinya, dipikir dengan logika sederhana saja pun sudah tidak masuk akal. Apalagi kalau dipikir dengan ilmu tata kota, perencanaan, hidrologi, dan sebagainya.

Kenapa hal-hal semacam itu bisa terjadi? Sebabnya adalah karena kita punya masalah pola pikir yang mendasar. Atau lebih tepatnya, kita punya masalah mendasar, yaitu tidak berpikir. Mengapa, misalnya, pemerintah membangun jalan tanpa membangun saluran air di kedua sisinya? Biasanya yang menjadi fokus aparat pemerintah saat ada pembangunan seperti itu adalah bagaimana membuat bangunan itu tampak wujudnya, bukan bagaimana fungsinya. Selebihnya, yang mereka pikirkan adalah bagaimana mendapat bagian dari uang anggaran pembangunan jalan itu. Akibatnya, hal-hal logis dan sederhana tadi tidak terpikirkan.

Tidak jarang pula pembangunan dilakukan dengan melanggar ketentuan yang dibuat oleh pemerintah sendiri. Di kawasan yang seharusnya jadi ruang terbuka hijau, dibangun sesuatuyang menghilangkan fungsi ruang terbuka tadi. Wilayah-wilayah yang sudah ditetapkan untuk suatu keperluan melalui rencana tata ruang, diubah fungsinya.

Sementara itu anggota masyarakat secara pribadi juga tidak peduli. Ketika membangun, mereka tak memikirkan soal resapan air tadi. Di perumahan tempat saya tinggal, misalnya, pengelola estate sudah menetapkan ketentuan soal lahan yang mesti disisakan untuk resapan air saat membangun rumah. Tapi selalu ada saja yang mencari-cari cara untuk melanggarnya. Di tempat-tempat yang tidak dikelola estate, tentu situasinya lebih parah.

Ketika banjir terjadi, orang hanya mengeluh sesaat. Atau, saling ejek antarpendukung politikus. Banyak yang menganggapnya sekadar musibah, ujian Tuhan. Solusinya? Banyak-banyaklah berdoa dan minta ampun pada Tuhan.

Setelah banjir berlalu, sedikit orang yang peduli soal apa yang telah terjadi dan bagaimana mencegahnya. Boleh dikata tak banyak yang peduli. Artinya, tak banyak yang benar-benar membenci banjir. Tak banyak yang berpikir bagaimana mengatasinya, dan bagaimana kita mesti berkontribusi untuk itu.

Demikian pula dalam soal-soal lain, seperti kebersihan kota, kemacetan, ketertiban umum, dan sebagainya. Intinya adalah, kita hanya mengeluh saat terjadi sesuatu yang tidak kita sukai. Kita tidak menyadari bahwa kita berkontribusi sebagai penyebabnya. Kita pun hanya mengeluh saat kejadian, setelah itu tidak berpikir bagaimana menyelesaikan masalahnya.

Jadi, masalah kita sebenarnya jauh lebih mendasar dari soal kesalahan pembangunan menurut ilmu tata kota, atau hidrologi. Masalah kita adalah soal cara kita berpikir. Kita tidak sanggup mendeteksi masalah, dan tidak sadar bahwa sumber masalahnya ada pada perilaku kita sendiri.

Bagaimana menyelesaikan masalah yang sangat mendasar ini? Kuncinya ada di pendidikan dan kepemimpinan. Pendidikan yang baik seharusnya membentuk pola pikir yang analitis. Masalahnya, pendidikan kita juga sedang dibelit masalah. Pendidikan kita tidak menghasilkan pola pikir analitis tadi. Demikian pula soal kepemimpinan, belum banyak pemimpin yang sanggup berpikir, dan yang sanggup mengarahkan masyarakat untuk berpikir.

Apa boleh buat, banjir masih akan terus menjadi berita di setiap musim hujan.

(mmu/mmu)
banjir


0 komentar






Sunny ambon

unread,
Feb 8, 2021, 11:53:48 AM2/8/21
to j.gedearka, GELORA45, Sahala Silalahi

Salahkan saja pada iklim, sekalipun hutan dibabat dan dibakar, perut bumi dibikin lobang-lobang. Jadi bisa saja Allah murka, maka oleh karena itu terimalah resikonya.

--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210208174733.cd15ffe5d001cbef41fef511%40upcmail.nl.

BILLY GUNADIE

unread,
Feb 8, 2021, 11:59:14 AM2/8/21
to Sunny ambon, j.gedearka, GELORA45, Sahala Silalahi
Apakah membuktikan bahwa Allah tidak Adil.....? Yang ke rendem itu Orang biasa...yang luar biasa mah ga tau banjir itu kaya apa....cuma pikirannya.ko bisa ada Danau?....tempat hiburan rakyat Taman air......cuma airnya comberan...Dia tahan badan terhadap segala microorganism.....
Dari pada diem Di Rumah ...menikmati udara yang pengap.





On Mon., Feb. 8, 2021 at 11:53 a.m., Sunny ambon
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.

Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.

Chan CT

unread,
Feb 8, 2021, 8:47:27 PM2/8/21
to BILLY GUNADIE, Sunny ambon, j.gedearka, GELORA45, Sahala Silalahi
Itulah kesimpulan dari pemikiran Allah pencipta segala yang ada didunia ini, ...! Allah pencipta umat manusia dengan segala kebaikan dan keburukan, kejahatan yang ada, begitu juga alam sejagad didunia ini, termasuk bencana alam yang terjadi. Lalu, dengan mudahnya mereka menyimpulkan itulah kasih sayang Allah pada kita saat kebaikan menimpa, tapi begitu benana tiba bilang itulah HUKUMAN Allah pada kita atas DOSA yang dilakukan, ... setidaknya menyatakan UJIAN yang diberikan Allah pada kita! Hehehee, ...
 
Tapi, kalau kita ganti ALLAH sebagai HUKUM ALAM yang jernih, bencana alam terjadi sesuai dengan HUKUM alam, adalah akibat perubahan alam yang telah terjadi dijagad ini, baik itu perubahan alam alamiah maupun akibat ulah perbuatan manusia yang serakah! Akibat POLUSI udara yang makin parah, akibat perubahan eko-sistem yang terjadi pertembangan dan penebangan hutan, terjadilah berbagai macam bencana alam yang diderita umat manusia, ...! Jangan salahkan Allah penciptanya itu, tapi salahkan dan perbaikilah ulah manusia serakah itu saja! Setidaknhya perbaiki kerusakan-kerusakan yang telah terjadi, ... untuk hindari longsor gunung es, disisi lain menimbulkan hujan lebat dan longsor gunung-gunung lainnya, dan banjir disana sini, sedang dibelahan bumi lainnya menimbulkan kebakaran hutan dan gempa dahsyat, ...
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke mailto:gelora1945%2Bunsu...@googlegroups.com.
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2ApTEo04REAhZw9nX-%3DgRg_x80Rj2dfmZrmAV3f74nbxA%40mail.gmail.com.
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.

BILLY GUNADIE

unread,
Feb 8, 2021, 9:11:29 PM2/8/21
to Chan CT, Sunny ambon, j.gedearka, GELORA45, Sahala Silalahi
Kalau melihat Dari etymology nya...Kata Allah sudah ada pra Islam...
Sesuatu yang Maha kuasa.... Ga beda Sama Gusti.....Thian.....Dewa....Spirite
....Hindu mengatakan Supreme Being...
Bhattaraka....Batara Siwa..Dewa Shiva..

Kenapa selalu kerjanya menghukum...padahal Maha Asih...the.mercyful....
Setan... El-Jin...Systan....genderuwo....Di biarkan gentaysngan..? 
Apa susahnya kalau neraka dikunci...Dan buang kuncinya...?



On Mon., Feb. 8, 2021 at 8:47 p.m., Chan CT
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages