Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin dalam konferensi pers hari Senin kemarin (18/7) menjawab pertanyaan wartawan terkait wacana mantan penasihat keamanan nasional AS John Robert Bolton yang mengakui dirinya pernah terlibat dalam perencanaan kudeta di negara lain.
Wang Wenbin mengatakan, mantan pejabat tinggi tersebut menunjukkan sikap yang terang-terangan dan sangat sombong ketika menyinggung pengalamannya mendalangi kudeta di negara lain. Hal ini jelas merupakan subversi di negara lain sudah berakar sedalam-dalamnya dalam politik luar negeri AS.
Wang Wenbin menyatakan, Lindsey A O'Rourke Profesor Muda Universitas Boston AS, menulis dalam bukunya “Covert Regime Change : America's Secret Cold War”, dalam waktu 42 tahun antara 1947 sampai 1989, AS telah secara rahasia melakukan 64 kali aksi penggulingan kekuasaan dan 6 kali aksi subversi secara terbuka.
Seusai perang dingin, AS belum juga menghentikan aksi serupa. Selama bertahun-tahun ini, AS telah merencanakan pergolakan situasi politik di Amerika Latin, melakukan pergolakan politik di Timur Tengah yakni ‘musim semi Arab’ serta ‘revolusi warna’ di kawasan Eurasia.
Pejabat tinggi AS bahkan langsung turun ke jalan untuk mendukung pihak oposisi di negara lain melancarkan konfrontasi politik melawan pemerintah sah. Dari pengakuan Bolton tersebut terungkaplah wajah asli AS yang sudah biasa melakukan intervensi dan subversi di negara lain walaupun selalu menggembar-gemborkan ‘ketertiban internasional yang berbasis peraturan’. Apa yang disebut ‘peraturan’ maupun ‘ketertiban’ tak pelak hanyalah pelindung dan penjaga kuat yang dijalankan Bolton dan sesamanya, akan tetapi mutlak tidak bisa diterima rakyat sedunia.