
Pada hari Sabtu kemarin malam waktu Beijing (25/9), setelah ditahan secara sewenang-wenang selama 1.028 hari, Meng Wanzhou akhirnya dapat pulang ke tanah airnya dengan pesawat terbang pemerintah Tiongkok.
Tiga tahun lalu, AS secara arogan meluncurkan perang dagang, menjatuhkan sanksi kepada Huawei dan perusahaan teknologi Tiongkok lainnya, memperluas yurisdiksi lengan panjangnya ke Meng Wanzhou.
Tiga tahun kemudian, Meng Wanzhou pulang ke Tiongkok dengan selamat. Pada hari yang sama, Federasi Industri dan Perdagangan Seluruh Tiongkok merilis daftar 500 perusahaan swasta teratas Tiongkok pada tahun 2021, dan Huawei menempati peringkat pertama selama 6 tahun berturut-turut. Hampir pada saat yang sama, Departemen Perdagangan AS, yang menempatkan Huawei pada daftar entitas, merilis berita bahwa pihaknya berusaha untuk meningkatkan hubungan bisnisnya dengan Tiongkok dan bermaksud memimpin delegasi ke Tiongkok untuk mencari peluang bisnis.

Selama perjuangan susah payah yang berlangsung selama tiga tahun, Tiongkok selalu berdiri di sisi benar sejarah.
Tiongkok masih adalah Tiongkok, tetapi AS telah membuktikan melalui tindakan praktis bahwa menghambat Tiongkok sudah tidak efektif lagi.
Meng Wanzheng pulang ke Tiongkok, opini publik negara Barat tercengang.
Wartawan menggunakan teknologi big data dan knowledge Graph untuk menganalisis 208.746 laporan yang mengandung kata kunci “Meng Wanzhou” dari bulan Januari 2018 hingga September 2021. Hasilnya menunjukkan bahwa sebelum Meng Wanzhou kembali, sentimen positif media global terhadap kejadian ini hanya sebesar 5%. Dengan kata lain, opini publik global tidak optimis tentang hasil kasus Meng Wanzhou.
Hanya satu bulan yang lalu, persidangan kasus ekstradisi Meng Wanzhou oleh pengadilan Kanada sudah memasuki tahap akhir. Setelah mengenal data sebelumnya tentang hasil kasus terkait di Kanada, media asing membuat antisipasi bahwa kemungkinan pencabutan ekstradisi Meng Wanzhou hanya 1%.
Pengacara Shen Qian yang telah memperhatikan kasus Meng Wanzhou sejak lama memberi tahu wartawan bahwa “dari tahun 2008 hingga 2018, dari hampir 800 aplikasi ekstradisi di AS, hanya 8 ekstradisi yang akhirnya ditolak atau dibatalkan oleh Kanada.”
Maka, hasil hari ini benar-benar langka.
Menurut “naskah” opini publik Barat, jika Meng Wanzhou dibebaskan, harus ada prasyarat. Karena pada setengah tahun yang lalu, media AS telah merilis berita serupa dan mengatakan bahwa Departemen Kehakiman AS sedang bernegosiasi dengan pengacara Meng Wanzhou, asalkan Meng Wanzhou mengakui kesalahannya, Departeman Kehakiman AS dapat menunda atau membatalkan penuntutan terhadap Meng Wanzhou.
Sudah terbiasa menjatuhkan tuntutan yang belum pernah dilakukan, sehingga pada awalnya, pernyataan pengakuan bersalah dan pengajuan denda yang sangat besar oleh Meng Wanzhou sudah tertulis dalam laporan media Kanada dan AS mengenai kembalinya Meng Wanzhou ke Tiongkok. Namun, kemudian terbukti bahwa semua laporan tersebut salah, dan media Barat hanya bisa menggunakan “pengoreksian” untuk menutupi rasa malu mereka.
Koreksi CNN: Dalam laporan sebelumnya, Meng Wanzhou mengakui tuduhan yang dibebankan oleh AS. Pada hakikatnya, Meng Wanzhou tidak mengakui tuduhan tersebut.
Media Barat mengeluarkan laporan serupa karena mereka sudah terbiasa dengan perilaku hegemonik AS yang berinteraksi dengan negara lain dari posisi “kekuatan”.
Perjanjian penangguhan tuntutan yang dicapai oleh Departemen Kehakiman AS dan Meng Wanzhou adalah semacam penyelesaian di luar pengadilan. Departemen Kehakiman AS setuju bahwa pembela dapat menghindari penuntutan atau tindakan pemaksaan secara bersyarat setelah menandatangani perjanjian penuntutan yang ditangguhkan.
Permainan “mengaku bersalah untuk menukar kebebasan” tidak terulang lagi pada warga Tiongkok Meng Wanzhou.
Mengapa AS berubah? Karena sudah diketahui secara umum, bagi AS, kalau ada hal yang bisa diada-ada, pasti akan mengada-ada, tapi kapan AS dapat mematuhi prinsip, dia pasti akan terpaksa mematuhi prinsip.
Kembalinya Meng Wanzhou ke Tiongkok berkat kekuatan diplomasi kuat Tiongkok.
Wartawan memperhatikan beberapa rincian. Beberapa hari yang lalu sebelum Meng Wanzhou dibebaskan, di depan Sidang Dewan HAM PBB ke-48 wakil Tiongkok masih mendesak Kanada untuk segera mengoreksi kesalahan dan mencabut penahanan terhadap Meng Wanzhou.
Jauh pada tahun 2018, tak lama setelah Meng Wanzhou ditahan, Kementerian Luar Negeri Tiongkok secara darurat memanggil Duta Besar AS untuk Tiongkok dan Duta Besar Kanada untuk Tiongkok. Dalam dua pertemuan itu, Tiongkok memberikan kata-kata yang sama, “bersifat sangat buruk”.
Sebelum Meng Wanzhou pulang ke tanah air, staf Kedubes Tiongkok untuk Kanada secara khusus mengantarkannya ke Bandara, Dubes Tiongkok untuk Kanada pun ikut mendampinginya kembali ke tanah air.
Kepulangan Meng ke tanah air bukan hanya hasil usaha diplomat Tiongkok, tapi juga karena adanya Tiongkok dan rakyat Tiongkok yang mendukungnya.
Pada Juli tahun 2021, ketika Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman berkunjung ke Tiongkok, pemerintah Tiongkok telah mengeluarkan dua daftar dan menunjukkan 26 masalah yang harus diselesaikan AS, di antaranya termasuk pembebasan Meng Wanzhou. Hal ini belum pernah ada dalam sejarah hubungan Tiongkok-AS, juga telah memanifestasikan terus meningkatnya kekuatan dan daya kohesi Tiongkok.
Singkat kata, memberikan tekanan dengan apa yang disebut sebagai “kekuatan” tidak akan berjalan di Tiongkok pada masa kini, AS harus kembali ke jalur yang rasional.
Dalam pengumuman Kementerian Kehakiman AS, terdapat sebuah kata “Misleading”, pengumuman menganggap Meng Wanzhou “mengakui” dirinya telah “menyesatkan” badan moneter global.
Namun, setelah membaca pengumuman tersebut, pengacara Tiongkok Shen Qian yang selalu fokus pada kasus Meng Wanzhou menemukan bahwa yang diakui oleh Meng adalah fakta yang telah diuraikan dalam pengadilan sebelumnya, tidak ada kata-kata apapun yang berkaitan dengan pengakuan hukuman. AS sebenarnya mencari alasan demi dirinya sendiri.
Seribu dua puluh depalan hari telah berlalu, sampai detik terakhir, AS selalu ingin menghukum Meng dengan alasan “bersalah”, trik itu telah dilakukan AS jauh saat dilancarkannya perang dagang AS pada 3 tahun yang lalu.
Pada Juni 2019, Menteri Perdagangan AS menyatakan, dirinya tidak menemukan adanya gejala pelanggaran hukum oleh Huawei. Namun 6 tahun kemudian, AS malah secara rahasia meminta Kanada menangkap Meng Wanzhou.
Setelah dengan illegal menyiksa Meng selama satu bulan, pihak AS mengumumkan untuk menggugat Meng dan Huawei dengan alasan penipuan dan pencurian rahasia bisnis.

Mengapa perubahan terjadi begitu cepat?
Perkataan Presiden AS waktu itu, Donald Trump, mungkin adalah kata-kata yang krusial.
Apabila bermanfaat bagi kepentingan keamanan negara atau mendorong pencapaian persetujuan perdagangan Tiongkok-AS, dia bersedia mengintervensi kasus Meng.
Nyata sekali, kasus Meng adalah manipulasi politik, dan bukanlah kasus pengadilan. Disamping mengajukan ekstradisi, logika pemerintah AS semakin jelas.
Pada Mei 2019, pemerintah Trump mencantumkan Huawei dalam daftar badan riil, perusahaan AS dibatasi dalam menyediakan barang-barang kepada Huawei. Setelah itu, AS sebanyak 3 kali berturut-turut meningkatkan sanksi kepada Huawei, masing-masing pada bulan Mei 2020, Agustus 2020 dan April 2021.
Semakin terkuaklah intrik AS yang berusaha menyerang perusahaan iptek Tiongkok.
Namun hal berkembang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Pendapatan bisnis Huawei pada tahun 2020 naik 11,2 persen, dan pertumbuhan laba sekitar 10,4 persen. Penekanan AS terhadap perusahaan Tiongkok tidak berhasil.
Pada hari yang sama kepulangan Meng Wanzhou ke tanah air, ketika menerima wawancara Harian Wall Street, Menteri Perdagangan AS menyatakan dirinya akan mengupayakan perbaikan hubungan perdagangan dengan Tiongkok.
Dari mengenakan sanksi, sampai secara inisiatif melakukan kontak, tindakan AS nampaknya sedang berubah.

Pada kenyataannya, inilah yang ingin dilakukan pemerintah Biden, yaitu menciptakan citra AS yang semakin bertanggung jawab.
Saat Meng Wanzhou pulang ke tanah air, Joe Biden sedang memimpin KTT tatap muka pertama para pemimpin Mekanisme “Dialog Keamanan 4 Pihak” di Gedung Putih, dengan tema “Kerja Sama dan Pertukaran Iptek”.
Namun, warna dasar “kerja sama” tetap adalah konfrontasi.
Washington Pos dalam laporannya menunjukkan, walau pemimpin keempat negara tidak menyebutkan Tiongkok dalam pernyataan, tapi Tiongkok tetap menjadi latar belakang pertemuan.
AS selalu ingin menjadi penyusun peraturan. Hakikatnya, AS selalu adalah perusak peraturan. AS tidak dapat menjadi wasit peraturan internasional.
Dunia memerlukan keadilan, bukannya penindasan.
Setelah Meng Wanzhou pulang ke tanah air, media-media AS mulai menyampaikan sinyal positif dalam laporannya bahwa hal ini “mungkin dapat menjadi sebuah penghapus pertikaian antara Tiongkok dan AS”.
Pembebasan Meng Wanzhou berhubungan dengan perubahan gaya diplomatik Tiongkok, mencerminkan perubahan zaman dan tren.
Dilihat dari sisi kedua negara, sebuah survei yang diadakan Pusat Penelitian Pew AS menunjukkan, hanya 44 persen orang dewasa AS yang mengakui prestasi pekerjaan Presiden Biden. Sejak April lalu, keyakinan publik AS kepada pemimpin kongres dari Partai Demokrat menurun 11 persen.

Menurut survei yang diadakan Harvard di Tiongkok selama 10 tahun, kepuasan rakyat Tiongkok kepada PKT mencapai lebih dari 90 persen tiap tahun.
Dilihat dari segi jangka panjang, perang perdagangan yang dilancarkan oleh mantan pemerintah dan pemerintah AS sekarang tidak pernah berhenti. Tapi sejauh ini, target yang dinginkan pemerintah AS tetap tidak dapat tercapai.
Penekanan tidak dapat mencapai targetnya. Dalam waktu tiga tahun lalu, tujuan pengurangan defisit tidak tercapai. Menurut data statistik yang dikeluarkan Departemen Perdagangan AS, defisit AS meningkat 6,7 persen pada Juni lalu, atau mencapai 75,7 milyar Dolar AS, mencapai rekor tertinggi dalam sejarah.
AS tidak dapat menghalangi perkembangan ekonomi Tiongkok. Pandemi virus corona sekali lagi memanifestasikan bahwa ekonomi Tiongkok dapat berkembang dengan stabil dalam jangka panjang.
Ide diplomatik Tiongkok adalah menguntungkan setiap pihak, sedangkan ide AS adalah mengacaukan dunia. Dilihat dari tren masa depan, ide diplomatik Tiongkok telah memanifetasikan daya hidup yang melampaui zaman, tidak saja memperlihatkan kebudayaan dan permintaan kepentingan Tiongkok sendiri, tapi juga memenuhi permintaan berbagai negara dalam perkembangan dan pengintegerasian.
Dilihat dari peristiwa Meng Wanzhou, kita akan lebih memahami apa yang disebut dengan arus sejarah. Biarpun tindakan apa yang diambil AS, Tiongkok tetap dapat menempuh jalan perkembangannya dengan teguh, pembangkitan kembali bangsa Tionghoa tak akan diputarbalikkan.
Dalam Forum Zhongguancun tahun 2021 yang digelar pada beberapa hari lalu, Xi Jinping dalam pidatonya menunjukkan, “perubahan yang belum pernah terjadi dalam sejarah dunia 100 tahun lalu sedang dipercepat”. “Perubahan sedang dipercepat”, hal ini mempunyai makna yang spesial.
Siapapun tak dapat menghalangi tren besar dunia.
On Sun., Sep. 26, 2021 at 7:53 p.m., Chan CT<sa...@netvigator.com> wrote:
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/FBF293F4881D4E5E8F3FC8803DA774D9%40A10Live.