
SINAR HARAPAN--Sehari setelah pertemuannya dengan Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, tiga tokoh nasional --Soekarno, Mohammad Hatta dan Radjiman Wedyodingrat-- kembali ke Indonesia.
Dalam kepulangannya ini mereka didampingi oleh Dokter Soeharto, kelak jadi dokter pribadi Soekarno. Menurut catatan, mereka menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda, milik tentara Jeopang.
Pertemuan Tiga Serangkai dengan Panglima Tentara Jeopang di Asia bagian Selatan itu menghasilkan beberapa poin kesemapatan. Yaitu:
Pertama, pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.
Ketiga, pelaksanaan kemerdekaan akan segera dilakukan setelah semua persiapan selesai dilakukan.
Keempat, wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda.
Marsekal Terauchi juga mengatakan awalnya Jepang mengagendakan kemerdekaan Indonesia tanggal 24 Agustus. Namun setelah jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Terauchi mempersilahkan waktu yang tepat kepada para pemimpin Indonesia. “Kapan pun bangsa Indonesia siap, kemerdekaan boleh dinyatakan,” begitu kata Terauchi.
Pada akhir acara, Terauchi menyelamati ketiga tokoh bangsa dan memberikan jamuan minum teh dan makan kue-kue.
Dikutip dari blj.co.id, Jepang memang telah kalah, namuan pihaknya masih berupaya untuk menutupi kekalahannya yaitu dengan berupaya memperlambat penyebaran berita itu ke wilayah Asia.
Namun para operator telepon dan telegrap PTT dapat mengetahui berita penyerahan itu karena pesawat-pesawat penerima di Bandung tidak disegel. Telegram resmi dari Tokyo akhirnya diterima di Bandung pada tanggal 13 Agustus 1945.
Hal itu pun diteruskan melalui telegram yang dikirimkan kepada pernuda-pemuda Jakarta agar mereka mendesak pemimpin-pemimpin bangsa untuk mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Jika kemerdekaan tidak segera diumumkan, Indonesia akan kehilangan momentum yang mungkin tidak akan ada lagi.
Dikisahkan, pada tanggal 13 Agustus itu sejumlah pemuda berkumpul di Asrama Prapatan 10, tempat yang biasa digunakan para tokoh pemuda berkumpul. Mereka antara lain Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis.
Mereka berusaha menyudun teks proklamasi kemerdekaan yang akan diserahkan kepada Soekarno dan Hatta setelah kedua tokoh tersebut tiba kembali dari Vietnam.
Sementara itu, di Tokyo berlangsung pertemuan pada 13 Agustus antara Dewan Penasihat Militer dan kabinet Jepang. Mereka berdebat mengenai jawaban atas tanggapan Sekutu, namun menemui kebuntuan.
Sekutu yang kesal karena Jepang belum secara resmi menyerah, mengira bahwa tentara Jepang sedang menyiapkan sebuah “serangan banzai habis-habisan.
Akhirnya, Presiden AS Truman memerintahkan untuk dilanjutkannya serangan udara terhadap Jepang dalam intensitas maksimum supaya para pejabat Jepang tahu bahwa pihak Sekutu benar-benar serius agar Jepang dapat menerima usulan damai dari sekutu tanpa ditunda.
Pada tanggal yang sama, 13 Agustus 1945, sesuai dengan saran pakar operasi psikologis Amerika Serikat, pesawat-pesawat B-29 diberangkatkan untuk menjatuhkan selebaran-selebaran di atas Jepang. Selebaran-selebaran itu menjelaskan kepada ralyat Jepang tentang tawaran untuk menyerah dan sikap Sekutu. Selebaran-selebaran ini pun berdampak drastis terhadap proses pengambilan keputusan Jepang.