Cuplikan tulisan silakan simak.
***
Orang-Orang
Fundamentalis Katolik, Kristen, dan Kiri di Lingkaran
Jokowi
Posted on 25 April 2014
.
(Membongkar Peranan Jacob Soetoyo)
Oleh: M. Sembodo
….
Tentu banyak yang terperangah ketika Jacob Soetoyo bisa mempertemukan beberapa duta besar negara-negara ‘hiu’ dengan Jokowi dan Megawati. Siapa sebenarnya Jacob Soetoyo?
Jacob memang lebih dikenal sebagai pengusaha. Tapi, dalam konteks menjadi fasilitator pertemuan Jokowi-Mega dengan para duta besar tersebut, tentu kapasitasnya sebagai bagian dari CSIS [Centre for Strategic and International Studies]. Sudah banyak yang tahu bahwa CSIS merupakan lembaga pemikir Orde Baru yang memberikan masukan strategi ekonomi dan politik pada Soeharto. Tapi, yang belum banyak diketahaui adalah hubungan CSIS dengan organisasi fundamentalis Katolik bernama Kasebul [kaderisasi sebulan] yang didirikan oleh Pater Beek, SJ. Tentang apa dan bagaimana Kasebul itu, silakan baca tulisan saya di [[Tikus Merah]]
Pada awalnya, Kasebul didirikan untuk memerangi komunisme. Setelah komunisme [PKI] dihancurkan oleh Soeharto, tujuan Kasebul beralih melawan dominasi Islam. Pater Beek, seorang rohoniawan Jesuit kelahiran Belanda, melihat bahwa setelah komunis tumpas ada lesser evil [setan kecil], yaitu: Islam. Untuk menghancurkan setan kecil tersebut, Pater Beek menganjurkan kaum fundamentalis Katolik dalam Kasebul bekerjasama dengan Angkatan Darat.
Selain itu, guna menghadapi ancaman Islam perlu dibentuk lembaga pemikir yang bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah. Maka kemudian dibentuklah CSIS. Pater Beek mempunyai pemikiran sebagaimana diungkapkan Ricard Tanter:
“Visi [Pater] Beek pibadi atas peran Gereja, Gereja harus berperan dalam mengatur negara kemudian mengalokasikan orang-orang yang tepat untuk bekerja di dalam dan melalui negara.”[1]
Atas visi tersebut maka tugas dibebankan pada CSIS. Lembaga ini menurut Daniel Dhakidae merupakan penggabungan antara politisi dan cendekiawan Katolik dengan Angkatan Darat. Lembaga inilah yang kemudian memasok dan menjaga agar Orde Baru menerapkan negara organik versi gereja pra konsili Vatikan II.[2]
Siapa sosok yang berperan dalam pendirian CSIS? Sosok tersebut adalah Ali Moertopo. Selama ini dikenal sebagai kepercayaan Soeharto, tapi kedekatannya dengan Pater Beek belum banyak terungkap Ali pertamakali bekerjasama dengan Pater Beek dalam operasi pembebasan Irian Barat. Berdasarkan catatan Ken Comboy, saat itu tugas Ali sebagai perwira intelijen.[3] Pada saat yang bersamaan, Pater Beek juga berada di Irian Barat. Ia menyamar sebagai guru. Tugas sebenarnya dari Pater Beek adalah menjaga agar proses pembebasan Irian Barat tetap menguntungkan kepentingan Amerika. Tugas ini berhasil. Sebagaimana kita ketahui, sampai saat ini Freeport masih menguasai tambang emas di Papua.
Setelah CSIS berhasil dibentuk oleh Ali Moertopo, tugas pelaksa harian diserahkan pada 3 kader Kasebul: Jusuf dan Sofian Wanandi serta Harry Tjan Silalahi. Menurut Mujiburrahman, Jusuf dan Sofian Wanandi merupakan kader utama Kasebul yang dididik Pater Beek. Sewaktu mahasiswa dan pergolakan politik tahun 1965, keduanya menjadi bagian penting dari PMKRI [Pergerakan Mahasiswa Katolik Indonesia]. Sedangkan Harry Tjan Silalahi kader Kasebul yang ditempatkan di Partai Katolik sebagai sekretaris jenderal.[4] Tiga orang inilah yang hingga sekarang menahkodai CSIS. Lewat lembaga inilah kebijakan anti Islam dijalankan.
Pater Beek memang piawai dalam usaha menghancurkan Islam. Ia tidak hanya memakai orang Katolik seperti Jusuf Wanandi dan Harry Tjan untuk melakukannya, tapi juga memakai orang Islam sendiri. Ali Moertopo, misalnya, ia tumbuh dari keluarga santri, tetapi lewat CSIS dan Operasi Khususnya justru mengobok-obok Islam. Sebut nama lain seperti Daoed Joesoef. Ia seorang muslim asal Sumatera Timur, tapi berhasil digunakan oleh Pater Beek untuk membuat kebijakan yang merugikan umat Islam. Sewaktu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ia melarang sekolah libur pada hari Ramadhan dan siswi yang beragama Islam dilarang menggunakan jilbab.
Bahkan tidak hanya itu. Kader Pater Beek dalam Kasebul juga dilatih menyusup dengan pindah agama menjadi Islam. Sebut saja Ajianto Dwi Nugroho. Sewaktu masih mahasiswa di Fisipol UGM ia berpacaran dengan mahasiswa IKIP Yogyakarta [sekarang UNY] yang berjilbab. Sekarang ia menikah dengan janda beranak satu yang beragama Islam. Dan, Ajianto saat ini mempunyai KTP yang mencantumkan agamanya adalah Islam. Ajianto merupakan kader Kasebul generasi baru yang masuk dalam lingkaran jasmev pada era Pilkada DKI untuk memenangkan Jokowi. Sekarang ia bergabung dalam lingkaran PartaiSocmed dengan target menjadikan Jokowi sebagai presiden. Itulah kehebatan kader-kader Kasebul dalam menjalankan misinya.
Selengkapnya silakan simak di sini:
https://www.nahimunkar.org/orang-orang-fundamentalis-katolik-kristen-dan-kiri-di-lingkaran-jokowi/
***
Matinya Ajianto terkuak betapa bencinya pada tokoh-tokoh Islam, hingga dia kumpulkan foto tokoh2 Islam yang ia benci dengan komentar yang berisi alupan (dia senang kalau tokoh2 Islam itu tiada alias mati). Ternyata Ajianto justru lebih dulu mati.
Silakan simak.
***
[PORTAL-ISLAM.ID] Aktivis
sekaligus pendiri Seknas Muda Jokowi, Ajianto Dwi Nugroho, meninggal dunia pada
Rabu kemarin (18/5/2022).
Seorang tokoh loyalis Jokowi itu adalah sahabat dekat Gubernur
Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Ganjar datang ke rumah duka di Pondok Baru Permai k-9 Gentan,
Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah, untuk memberikan penghormatan terakhir. Ketika
Ganjar tiba, dia disambut tangis haru keluarga.
“Mas Ajianto ini teman saya sekolah. Beliau ini aktivis yang kalau
saya bilang ora duwe udel (tidak punya
lelah). Semangatnya luar biasa,” ungkap Ganjar setelah melayat, seperti dilansir
fajar.co.id.
Bagi Ganjar, Ajianto adalah salah orang yang berjasa dalam
hidupnya. “Beberapa kali Mas Aji bersama saya dalam banyak perjuangan,”
ucapnya.
Politisi PDIP itu bahkan selalu menjaga komunikasi dengan Ajianto
dan setiap Ganjar ke Jakarta. Keduanya selalu menyempatkan waktu untuk
bertemu.
Pertemuan terakhir Ganjar dengan Ajianto terjadi pada Desember
tahun lalu, saat acara Nitilaku UGM.
“Saya ketemu Desember kemarin, Mas Aji ini masih mrenges (tersenyum). Saya tahu beliau
menahan sakit, tetapi wajahnya menampilkan ketegaran yang menurut saya luar
biasa,” ujar Ganjar.
Di media sosial, jejak digital tokoh loyalis Jokowi ini diungkap
netizen.
Diantaranya postingan di akun facebooknya (31 Jan), Ajianto Dwi
Nugroho memposting kumpulan foto dengan caption tulisan:
“Sy tdk
membenci org, tetapi sy, merasa lebih baik bila org org ini Tidak
ada”
Dalam foto-foto itu diantaranya ada Habib Rizieq
Shihab, Habib Bahar, Munarman, Anies Baswedan, Hidayat Nur Wahid, Ustadz Adi
Hidayat, UAS, Din Syamsuddin, Aa Gym, Wakil Ketua MUI Anwar Abbas dll, hingga
Jusuf Kalla.
Sekarang, Ajianto Dwi Nugroho yang malah “Tidak ada” lagi di alam
dunia ini, berpindah ke alam kubur/ awal alam akhirat.
Dan semua manusia akan mempertanggungjawabkan sendiri-sendiri.
— Pocut Sarina (@CutSarina5) May 18,
2022
Sampai jumpa di pengadilan
akhiratpic.twitter.com/fNp7CP7BgQ
— Inka Putri Lestari (@Inkaputri81)
May 18,
2022
[PORTAL-ISLAM.ID] Kamis, 19 Mei 2022 SOSIAL MEDIA
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0001A0DB9C024B4DAAF2C93F06B4C350%40A10Live.